Agus Lenyot

Jalan Pintas di Pulau Dewa

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Desember 24, 2011

Jalan tol memang solusi pintas di Bali. Tapi bukan langkah bijak di masa depan.

Itulah yang saya bayangkan kemarin pagi. Maklum linimasa sedang gegap gempita oleh pembangunan jalan tol pertama di Bali. Apalagi untuk tweeps yang berdomisili di Bali. Heboh. Ada yang mendukung tapi tidak sedikit pula yang menolak. Sikap saya pribadi menolak pembangunan itu. Sikap ini jelas. Saya tidak percaya dengan penambahan ruas jalan akan membantu kemacetan di pulau ini.

Tapi apa mau dikata, toh meski suara sumbang soal penolakan, pembangunan jalan mulus. Lenggang kangkung. Maklum, Pulau Bali tak hanya milik warga Bali. Bali lebih sering jadi pagar ayu Indonesia di mata dunia. Etalase semu yang ironisnya lebih banyak pada posisi tak
berdaya.

Solusi kemacetan di Bali, atau lebih tepatnya di Denpasar dan Badung, bukan dengan membangun jalan tol. Tidak. Saya sama sekali tak sepakat. Solusi jangka pendek iya. Kemacetan di Bali adalah ekses. Nah, yang dilakukan hari ini hanya mengobati akibat. Kita lupa, ada sebab di hulu yang seharusnya dicarikan penyelesaian.

Baiklah, daripada disebut mengkritik tanpa memberikan solusi, saya akan berikan beberapa alternatif. Persoalan ini tak hanya terjadi di Bali tetapi di seluruh kota kelas menengah di Indonesia. Agak klise tapi justru tidak dilakukan oleh pemerintah daerah. Silakan didebat untuk mencari jalan keluar terbaik.

Kemacetan itu tentu saja karena ada banyak kendaran pribadi, roda empat dan dua. Ini belum ditambah kendaraan travel dan bus pariwisata. Sementara kita tahu lebar dan panjang ruas jalan di Bali sangat terbatas. Kepadatan ini mesti ditambah dengan rendahnya disiplin pemakai jalan. Klise kan?

Lalu apa yang harus dilakukan? Tentu saja, pemerintah harus membangun transportasi publik yang terintegrasi, nyaman dan terjangkau (harga). Terintegrasi maksudnya daya jelajah angkutan itu menjangkau asal pengguna dan mencapai lokasi tujuan. Alasan paling rasional kenapa seseorang mau memakai angkutan umum adalah ketepatan waktu dan biaya yang lebih rendah. Menjadikan Nusa Dua sebagai destinasi adalah pilihan tepat bagi saya. Wilayah ini ada banyak pekerja dengan jam kerja pasti. Lainnya, lokasi ini tidak memerlukan mobilisasi tinggi.

Akan lebih bagus lagi misalnya, pengelola Trans Sarbagita bisa mengajak, angkutan umum untuk menjadi kendaraan umpan. Kendaraan ini bisa menjelajahi gang-gang sempit atau ruas jalan yang tidak dijangkau oleh bus Sarbagita. Kelihatannya simple tapi memikirkan skema ini
membutuhkan pemikiran matang.

Trans Sarbagita memang langkah yang bagus meski sangat terlambat. Kemacetan sudah keburu hadir. Tapi skema yang ditawarkan, jika semua rute sudah selesai, bisa menjadi solusi jangka panjang. Saya berharap, pengelola Trans Sarbagita meniru pengelola Trans Jakarta dalam beberapa hal.

Misalnya menyediakan lahan parkir di setiap terminal hulu. Tentu tiidak mudah karena akan membutuhkan lahan baru, tapi ini bisa dicoba. Misalnya membuat gedung parkir bertingkat. Investasi awal selalu membutuhkan banyak biaya. Tetapi harus tetap diingat, pemerintah hadir untuk melayani, bukan menguasai apalagi mencari keuntungan. Saya harap, pemerintah daerah mau berkorban banyak dana untuk kemaslahatan orang banyak (cieeh bahasanya).

Sembari membenahi kebijakan transportasi secara komprehensif, pemerintah harus berani mencabut pemakaian bahan bakar bersubsidi. Skema ini ditujukan kepada pemilik kendaraan pribadi. Tahap awal bisa dikenakan kepada pemilik mobil dengan kapasitas mesin tertentu. Setelah itu secara bertahap diterapkan ke semua pemakai kendaraan pribadi. Tak terkecuali sepeda motor.

Pada akhirnya yang berhak memakai bahan bakar bersubsidi hanya kendaraan barang atau kendaraan umum. Hanya kendaraan plat kuning. Lalu bagaimana dengan kendaraan plat merah? Suruh mereka pakai BBM non subsidi! Selama ini, subsidi BBM sebesar hampir Rp 30 triliun lebih banyak dinikmati oleh kelas menengah ke atas.

Buat saya lebih adil dan bijaksana jika nilai itu dipakai untuk mensubsidi angkutan umum. Angkutan umum seharusnya berpendingin, lega dan aman. Selain itu, subsidi diharapkan membuat angkutan umum bisa lebih terjangkau oleh masyarakat bawah dan menengah. Apa yang nantinya angkutan umum hadirkan? Kenyamanan, ketepatan waktu dan harga. Lebih arif bukan?

Buat saya, jika transportasi umum sudah bagus dan terjangkau, memiliki kendaraan pribadi adalah pilihan sadar. Beda dengan sekarang, masyarakat memilih memakai kendaraan pribadi karrena tidak ada alternatif lain. Pakai angkutan, biayanya mahal. Sumpek dan panas. Belum kreditan motor yang aje gile murahnya. Apalagi ditambah dengan bahan bakar yang relatif murah karena disubsidi pemerintah.
Pemiliknya harus tahu bahwa mereka akan dihadapkan pada bahan bakar yang mahal. Mereka juga akan dihadapkan pada pajak kendaraan yang mencekik. Jika ingin murah, pemerintah tinggal bilang: silakan naik angkutan yang kami sediakan!

Kebijakan lain yang diterapkan pelan-pelan misalnya pengenaan pajak progresif bagi kendaraan pribadi. Pajak ini bisa berdasarkan tahun produksi, kapasitas mesin atau daya tampung. Semakin mewah semakin mahal pajak yang mesti dibayar. Metode ini tidak akan membuat pemerintah kehilangan pendapatan kan?

Tidak ada jalan pintas memang untuk memperbaiki kesemrawutan ini. Ibarat orang sakit, pemerintah hanya memberikan obat. Tetapi pemerintah lupa mengajak masyarakat untuk mencegah penyakit. Dia lupa menyuruh masyarakat untuk berolahraga dan menjaga pola hidup.

Bali sudah terlalu ringkih. Jangan mau dibodohi lagi atas nama kepentingan ekonomi pariwisata. Apalagi pujian semu pemerintah pusat!

Iklan
Tagged with: ,

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. imadewira said, on Desember 29, 2011 at 4:27

    SETUJU…!!!

    Tentang transportasi umum itu juga sudah pernah saya tulis di blog saya.

    Kalau boleh saya tambahkan disini, bila perlu agar kendaraan umum bisa sampai dengan tepat waktu di tujuan serta aman dan nyaman, tambahkan polisi pengawal seperti halnya pejabat2 yang mau lewat itu. Masak mereka pakai pengawal tapi kendaraan umum tidak? Jalan ini kan milik rakyat, bukan milik pejabat..

    *pasang tampang gregetan

  2. andri11 said, on September 24, 2012 at 4:27

    Pendapatnya maksa banget…. terlalu banyak mikir negatif.. akhirnya dia sendiri yang jadi negatif..

    Tulisannya juga sama sekali gak pakai data, cuman sekedar analisis kosong saja.. khas mahasiswa geblek…

    Kacau deh… pantesan negeri ini gak maju-maju… generasi mudanya bego-bego kayak gitu…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: