Agus Lenyot

Bagi Sebagian Orang Jakarta Itu Mimpi

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Desember 26, 2011

Setidaknya itulah yang kurasakan dulu. Maklum, sebagai anak kampung yang jauh dari pusat kota, gambaran tentang Jakarta hanya bisa aku dapat di televisi. Dan semuanya serba berkilau. Pikiran sederhanaku mengatakan, segala macam keindahan hanya ada di ibukota. Ilusi itu mengendap begitu kuat dalam ingatan masa kecilku.

Baiklah, sepertinya aku perlu ceritakan dimana aku tinggal dan besar. Kampunku namanya Moding. Kampung kecil tapi pluralis di Bali bagian barat. Kalian tidak akan bisa temukan nama ini di peta manapun. Listrik saja baru masuk ke kampungku tahun awal 1990-an. Taman kanak-kanak saja aku belum kala itu.

Masih terbayang saat gulungan kabel besar masuk ke kampungku. Satu persatu truk membawa tiang listrik beton abu-abu. Bagiku, itu adalah peristiwa bersejarah. Mungkin saja di Jakarta orang sudah bermain internet. Atau bisa jadi di belahan bumi lain, orang sudah memikirkan nuklir atau bertamasya ke planet lain. Tapi di kampungku, listrik baru saja menyala.

Tentu saja ibukota dalam televisi serba indah. Artis sinetron yang cantik dan ganteng. Pakaian yang terlihat wah. Rumah dan mobil serba mewah. Beberapa sinetron yang menemani masa kecilku hingga remaja misalnya Noktah Merah Perkawinan, Tersanjung, dan Deru Debu. Pilihan stasiun televisi sangat sedikit. Juga sedikit film Warkop DKI. Dari tayangan itu, gambaran indah tentang Jakarta ternyata membekas begitu hebat.

Sampai suatu ketika, keajaiban itu datang. Maaf, barangkali terlalu berlebihan jika aku menyebutnya keajaiban. Tapi inilah yang kurasakan. Pamanku, yang biasa kupanggil Pak Tut, adalah sopir truk Jakarta Bali. Dia kenyang pengalaman. Tanyakan kecamatan apa di ruas Pantura, dia pasti tahu. Dari beliaulah keajaiban itu terjadi.

Waktu itu aku baru saja terima raport, naik ke kelas 5 (dapat juara pertama lho!), pertengahan tahun 1997. Setahun sebelum huru hara Jakarta terjadi. Sebagai hadiah, aku diajak ke Jakarta. Jangan bayangkan aku liburan seperti keluarga bahagia. Aku diangkat sebagai additional kernet truk. Jdeeng! Aku senang dan berdebar-debar. Rasanya seperti dibelikan baju baru di hari raya. Berangkatlah kami ke Jakarta, berdua saja.

Tentu saja tak perlu kuceritakan panjang lebar bagaimana pahitnya naik truk fuso selama tiga hari dua malam dari Bali ke Jakarta. Tapi yang pasti, salah satu momen yang paling kuinget adalah melihat Paiton saat malam. Mencengangkan. Kilau lampu di pinggir laut sunggu membuatku takjub. Melihat Paiton menjadi hal wajib jika kalian bepergian via Pantura!

Oia, apa perlu kuceritakan saat itu muatan pamanku adalah susu Indomilk kadaluarsa? Tanggal kadaluarsa sih masih beberapa hari lagi. Paman menyelundupkan beberapa susu kental manis (yang hampir kadaluarsa) untuk menemani perjalanan kami. Dicicip bersama roti tawar. Jadilah kami pesta susu. Herannya, kami tidak mati keracunan. Sehat dan segar bugar sepanjang jalan.

Perjalanan ini menyenangkan. Apalagi saat masuk jalan tol. Wuiih jalan bebas hambatan. Ini hebat! Saya menoleh ke kiri dan kanan. Mengagumi setiap bentuk kendaraan yang berpapasan dengan truk pamanku. Apalagi kalau melihat bus yang penuh penumpang. Asal kalian tahu, aku penggemar bus. Buku tulisku sejak SD selalu penuh dengan gambar bus.

Aku yakin pamanku keheranan melihat tingkahnya yang seperti monyet lepas dari kandang. Tapi apa peduli, bisa naik mobil di jalan tol adalah prestasi buatku. Ini harus kuceritakan pada temen-temen sekelas nanti. Sedikit naif.

Saat yang paling kutunggu tentu saat masuk ke wilayah Jakarta. Mulutku ternganga. TOL CIKAMPEK! Aku jadi berdebar-debar sendiri. Seperti apa rupa Jakarta yang hanya aku lihat di televisi. Dan pemandangan itu terhampar di depan mata. Belingsatan aku nanya nama-nama gedung. Istilah Balinya SENGAP. Kalau kalian pernah memperhatikan sapi melihat ombak, seperti itulah reaksiku dulu.

Tak henti-hentinya bibirku berdecak melihat mobil-mobil mewah di jalanan. Kemacetan saat itu terasa menyenangan. Karena saat itulah aku bisa memandang segala jenis mobil lekat-lekat. Apalagi saat melintasi jalan layang. Benar-benar pengalaman dahsyat. Malamnya, aku nggak bisa tidur, tersenyum sendiri. Anak kampong yang bisa ke Jakarta. Hanya sekian orang di kampungku yang bisa mewujudkannya.

Aku bahkan tidak peduli saat kami harus tidur di kolong jalan layang. Mandi dengan air yang tidak karuan warnanya. Atau makan di warung yang dikerubungi lalat. Aku masih inget, tempat pangkalan truk pamanku di dekat pelabuhan Sunda Kelapa. Sopir truk menyebutnya Tongkol. Satu-satunya hiburan malam saat itu adalah mengunjungi Pasar Ikan. Atau sesekali melihat pelacuran kelas tengik di sepanjang rel kereta.

Tentu saja yang membuat aku tersenyum sendiri adalah gedung tinggi. Skyscraper. Gedung pencakar langit. Saat pulang ke kampung, kawan-kawan sekelas menyambutku dengan heboh. Teman-teman memintaku bercerita seperti apa Jakarta. Aku bercerita apa yang aku lihat. Tentu saja dengan sedikit bumbu. Teman-temanku berdecak kagum. Aku makin bangga dan disegani.

Saat ini, sedikitpun tidak ada niat untuk bisa tinggal di Jakarta. Sebagai anak desa, kadang-kadang cita-citaku sederhana, cukup makan hari ini. Pekerjaan sebagai supir truk adalah cita-cita realistis. Meskipun, sepanjang perjalanan, paman selalu menyuruhku untuk bercita-cita tinggi. “Pengalaman sebagai kernet truk bisa kamu kenang jika kelak menjadi orang sukses,” kata dia. Jika tidak suksespun, “Anggap saja ini pengalaman untuk belajar menghadapi kerasnya hidup.”

Ucapan ini sering aku renungkan. Semakin besar, ketika pergaulanku semakin luas, cita-cita menjadi sopir truk kutinggalkan. Aku bermimpi tidak lagi terbelenggu dengan kampungku. Aku bertekad melepaskan ikatan-ikatan ruang untuk dengan kenyamanan pedesaan. Aku punya cita-cita lain.

Sampai akhirnya aku tiba pada hari ini. Aku terdampar di Jakarta. Tidak lagi seperti saat mahasiswa yang ke Jakarta hanya untuk beberapa hari saja. Kini aku setiap hari ada di sini. Kemacetan tidak lagi menyenangkan. Mobil mewah tidak lagi berbuah kekaguman. Hari ini ternyata aku melihat Jakarta dengan berbeda. Aku mesti bergulat dengan itu semua. Seperti bintang, Jakarta hanya indah jika dilihat dari kejauhan. Ilusi layar kaca tak seindah kenyataan di depan mata.

Tapi, barangkali aku beruntung mengenal Jakarta. Sebagian teman-temanku di Bali bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di kota ini. Aku yakin, jutaan orang memiliki kenyataan serupa. Aku diajak untuk bersyukur. Aku berharap, Jakarta hanya menjadi pijakan sebelum mencapai tujuanku selanjutnya…

Iklan
Tagged with:

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kadekdoi said, on Desember 26, 2011 at 4:27

    kepulauan pasifik! 😀

  2. nonadita said, on Januari 9, 2012 at 4:27

    Untuk yang tidak nyaman bergelut dengan kemacetan tiap hari, tentu Jakarta masih merupakan mimpi… Mimpi buruk tepatnya :mrgreen:


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: