Agus Lenyot

Menjadi Sarjana Itu Istimewa (1)

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Desember 27, 2011

Meraih gelar sarjana adalah pencapaian terbesarku tahun ini. Pergulatan panjang selama enam tahun.

Bagi sebagian orang, bisa jadi lulus kuliah adalah kewajaran. Sesuatu yang sudah seharusnya terjadi ketika waktunya. Tahapan yang sudah seharusnya dilewati. Tetapi buatku, berhasil mengenakan toga adalah suatu kebanggaan. Kemenangan melawan ego. Bukan saja karena rentang waktu yang aku butuhkan. Ini adalah pembuktian diri. Di depan keluarga dan kawan-kawan lain. Ada macam-macam pahit getir yang harus kutempuh sejak awal hingga akhir kuliah.

Enam tahun tentu bukan waktu yang singkat. Terlalu lama malah untuk seukuran mahasiswa di seangkatanku. Saat aku wisuda, seorang kawan angkatan bahkan sudah menamatkan studi master. Malu? Tentu saja tidak.

Aku termasuk belasan orang yang masuk kloter terakhir kelulusan. Ratusan kawan lain lulus dengan waktu normal, 4 tahun. Ada yang lebih cepat. Ada pula yang lebih beberapa bulan. Kalau dirata-rata, angkatanku termasuk kategori normal. Kecuali aku dan beberapa kawan. Kami terlalu asyik dengan dialektika. Bisa jadi karena tak peduli pada gelar. Sebagian lagi terjebak dalam dunia kerja. Sisanya memang malas. Sampai hari ini, beberapa kawan seangkatan masih berjuang untuk meraih sarjana.

Aku masih ingat, sekitar tujuh tahun lalu, sama sekali tidak ada pikiran masuk dunia kuliah. Ketika pengumuman kelulusan SMA, aku dilanda kebingungan hebat. Pertama, aku diminta untuk ikut seleksi polisi. Aku tidak terlalu sreg dengan profesi ini. Bayanganku, setiap pagi aku akan berdiri di depan sekolah menyeberangkan siswa-siswa. Profil ini aku dapat dari polisi muda yang bertugas di sekolahku dulu.

Alasan kedua, tidak ada yang akan membiayaiku untuk kuliah. Maklum, sejak kakek meninggal, praktis sekolahku hanya ditanggung paman. Padahal, pamanku hanya seorang sopir truk Jawa-Bali. Sementara nenekku, yang membiaya kebutuhan di luar sekolah hanya seorang pedagang penganan tradisional Bali. Sesekali juga dia membuat banten. Karena merekalah aku bisa menamatkan SMA. Realistis saja, aku tidak ingin menambah beban keuangan mereka.

Saat SMA, prestasiku tidak menonjol meski juga tidak bisa dikatakan jelek-jelek amat. Pernah mewakili sekolah di lomba tingkat provinsi meski tidak pernah meraih juara. Di kelas ada yang otaknya lebih encer. Kalau distratifikasi, aku termasuk kelas menengah ke atas. Cerdas kagak, bodoh juga kagak. Sebagian besar waktuku saat SMA hanya dihabiskan di tempat game PS atau bermain bola. Bermain bola tidak hanya sepulang sekolah, tetapi di sela-sela jam pelajaran. Nyaris tidak pernah ada alokasi khusus untuk belajar.

Jelang kelulusan SMA, teman-temanku mulai sibuk mencari tempat kuliah. Ada yang tes sampai Jogja dan Malang. Pilihannya Universitas Gajah Mada dan Universitas Brawijaya. Ada yang memantapkan diri menjadi polisi atau masuk militer. Sisanya, ikut PMDK di Universitas Udayana dan IKIP Singaraja. Yang lain memantapkan diri masuk ke dunia kerja. Aku sendiri tidak memiliki rencana apa-apa. Waktu itu yang terpikirkan, sambil menunggu pendaftaran kepolisian, aku kerja jadi kernet truk pamanku. Hitung-hitung sambil mencari bekal agar tidak lagi bergantung pada orang di rumah. Lumayan daripada menjadi pengangguran. Tamatan SMA di kampungku sudah termasuk hebat.

Saat selesai ujian akhir, praktis teman-teman sudah memiliki kesibukan masing-masing. Saat itulah indahnya masa SMA berakhir. Tidak ada lagi waktu untuk bercanda. Semuanya sibuk menata dan menyiapkan masa depan. Mencari tempat kuliah adalah langkang awal. Aku mungkin sedikit berbeda. Jeda waktu menunggu pengumuman kelulusan aku gunakan untuk ngernet. Pikiranku waktu itu, kalau tidak lulus tes kepolisian, sopir truk bukan pilihan buruk. Toh, uang yang diterima tidak jelek-jelek banget. Lumayan kalau sekadar buat hidup bagi seorang bujangan. Selama jeda ini, aku sempat ngernet beberapa rit.

Aktivitas ini berhenti sejenak karena harus kembali ke sekolah. Mendengarkan pengumuman kelulusan. Ketika berkumpul kembali, semua kawan-kawan mengabarkan sudah diterima di kampus yang didambakan. Yang sudah pasti datang dengan wajah sumringah. Yang belum, masih deg-degan. Aku sendiri hanya tersenyum pahit. Ketika ditanya dimana kuliah, aku jawab tidak kuliah. Waktu itu, seorang guru matematika berkata padaku, sayang banget jika kamu tidak kuliah. Carilah beasiswa!

Saat pulang ke rumah, aku merenung. Masa sih harus terdampar sepanjang waktu di Jalur Pantura? Menghabiskan masa muda hingga tua di jalanan. Jiwaku sedikit berontak. Diam-diam aku berangkat ke Denpasar. Uangku saat itu, hanya sekitar 1,3 juta. Hasil keringat jadi kernet selama satu bulan. Lumayanlah untuk bisa bertahan hidup. Tujuanku ke kos kakak, meminta pertimbangannya.

Saat itu Jumat, 1 Juli 2005. Pamit kepada nenekku dengan alasan hendak main ke rumah teman. Sambil liburan akhir pecan. Berangkat sekitar jam 2 siang dari kampung, aku sampai di Denpasar jam 6 sore. Tersesat. Sebagai anak kampung, pergi ke Denpasar tidak rutin aku lakukan. Aku tidak hafal dengan jalan. Beberapa harus nyasar ke lokasi yang tidak perlu. Apalagi terlalu banyak jalan satu arah. Syukurnya, setelah Tanya kiri kanan, aku bisa mencapai lokasi tujuan.

Bersama kakakku, aku melihat iklan di Bali Post (atau Denpost (?) aku lupa) tentang Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru di Udayana. Pengumuman itu menyebutkan, kalau tidak salah, batas waktu pembayaran pendaftaran atau pembelian formulir SPMB adalah tanggal 1 Juli 2005. Artinya hari ini. Mati aku! Ternyata terlambat. Bank sudah tutup dan besok adalah Sabtu.

Harapanku merosot ke titik terendah. Sepertinya memang sudah nasib untuk tidak kuliah. Kakakku menawarkan masuk program ekstensi jika memang waktu pendaftaran sudah habis. Pilihan ini kutampik karena tahu biaya yang dibutuhkan pasti jauh lebih besar. Sementara aku datang ke Denpasar tanpa sepengetahuan keluarga.

Aku mikir, barangkali kernet adalah takdirku. Malamnya, aku tidur dengan perasaan kosong. Harapan untuk meraih sekolah lebih tinggi pupus sudah. Aku berniat kembali ke Negara saat itu juga, tetapi kakakku melarang. Dia menyarankan agar aku datang saja ke Kampus Udayana di Bukit, Jimbaran besok. Siapa tahu masih ada formulir pendaftaran. Aku tahu, itu hanya cara membujukku agar tidak pulang dengan kondisi kecewa.

Keesokan harinya, bersama pacar kakakku, Bli Tut, aku melaju ke Bukit. Memikul sedikit harapan. Kami berangkat pagi-pagi benar. Berharap agar tidak terjebak kemacetan di jalan menuju Jimbaran. Pikiranku sudah kemana-mana. Memikirkan rencana sampai di kampung. Seperti apa kehidupanku nanti saat menjadi kernet dan kemungkinan naik pangkat menjadi sopir. Atau paling banter mengisi hari-hari dengan bermain voli, hobi yang kini sudah kutinggalkan. Hanya itu.

Kami tiba di Bukit. Rektorat Udayana ramai benar. Aku lihat orang-orang sibuk mengisi formulir pendaftaran. Harapanku kembali jatuh. Aku berpikir, mereka yang sudah punya formulir saja, masih melewati banyak tahapan. Apalagi aku yang bayar formulir saja tidak. Iseng-iseng aku bertanya kepada seseorang, bagaimana cara mendapatkan formulir. Dia jawab, “Mesti bayar dulu di BNI Gajah Mada.” Final!

Asa sepertinya sudah nggak ada. Aku bersama Bli Tut balik badan, kembali ke parkiran. Aku melangkah gontai sementara Bli Tut membesarkan hatiku. Dia menepuk-nepuk pundakku. Aku mengambil helm dan Bli Tut menghidupkan sepeda motor. Aku tidak memperhatikan seseorang yang berjalan mendekat. Dia mencolek bahuku.

Orang inilah yang mengubah perjalanan hidupku.
(Bersambung ke bagian 2)

Iklan
Tagged with: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: