Agus Lenyot

Menjadi Sarjana Itu Istimewa (2)

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Desember 27, 2011

(Lanjutan dari bagian sebelumnya)

Meraih gelar sarjana adalah pencapaian terbesarku tahun ini. Pergulatan panjang selama enam tahun.

Dia bertanya padaku.

“Mau kemana, Dik?”

“Daftar SPMB, tetapi sepertinya sudah telat.”

“Cari jurusan apa?”

“Hukum.”

“Syarat-syarat sudah lengkap?”

Aku mengangguk. Aku memang sudah menyiapkan nilai raport dan foto-foto untuk kelengkapan berkas. Aku memandang dengan wajah heran.

“Sudah bayar?”

Aku menggeleng.

Dia menyeretku. Menarik tanganku untuk mengikutinya. Bodohnya, aku menurut saja. Dia membawaku ke pintu rektorat bagian belakang. Sejenak dia berbincang dengan seorang petugas. Dia kembali dengan selembar formulir berwarna biru (kalau tidak salah). Dia meminta uang sebesar Rp 110 ribu. Aku merogoh kantong dan uang langsung berpindah ke tangannya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi.

Aku berteriak dalam hati. Gembira tentu saja. Formulir akhirnya kudapat. Di halaman rektorat, dia memberiku map berwarna merah, pensil dan penghapus.

“Lima ribu.” Aku menyorongkan uang 10ribuan. Aku tidak meminta kembalian.

Apakah persoalan selesai. Tidak kawan. Cobaan masih berlangsung.

Aku menuju ke ruang tengah rektorat. Di sana ada maket kampus Bukit Jimbaran. Beralaskan kaca bening tebal. Disanalah aku mengisi lembar pendaftaran dengan pensil. Yang pernah daftar SPMB pasti tahu berapa banyak isian yang mesti dibulati dengan pensil. Halaman yang diisi tidak hanya satu sisi. Ada dua sisi dengan bulatan sama banyak. Perjalanan masih jauh.

Wajahku berkeringat. Aku lap pelan-pelan. Tegang karena diburu waktu sekaligus takut membuat kesalahan. Aku berharap agar titik keringat tidak jatuh di lembar isian komputer. Segala macam tetek bengek ditanyakan. Dari nama sendiri hingga keluarga dan penghasilan orang tua. Halaman pertama sukses kulewati. Aku balik ke halaman berikutnya. Kembali aku mengisi bulatan-bulatan itu. Sampai pada beberapa isian terakhir, aku beristirahat untuk mengambil nafas.

Iseng-iseng aku melihat-lihat pensil. Niatnya sih melihat merk. Pada titik inilah kejutan kedua di hari Sabtu terjadi. HB!! Aku tidak percaya. Jadi setelah mengisi ratusan bulatan, aku mengisinya dengan pensil yang salah. Aku membaca petunjuk. Isilah dengan pensil 2B. Aku terhenyak. Keringat semakin mengucur deras.

Aku menoleh jam dinding. Jarum pendek berada di tengah-tengah angka 10 dan 11. Aku melontarkan pertanyaan bodoh kepada kawan di sebelah.

“Apakah mengisinya harus dengan pensil 2B?”

Dia mengangguk tanpa menoleh. Oke, dia juga masih sibuk dengan pekerjaannya.

Aku berjalan, setengah berlari, ke ruang panitia dan menjelaskan kondisiku.

Seorang ibu menjawab, “Beli aja lagi formulirnya.”

Damn! Aku melangkah gontai. Waktu itu ingin saja meremas lembar isian yang aku isi dengan pensil yang salah. Bli Tut memandangku dengan iba. Sepertinya, aku memang tidak diijinkan kuliah. Masih beruntung aku tidak pingsan atau meraung-raung kesetanan. Tapi sisi malaikatku berkata, barangkali ini menjadi ujian seberapa kuat tekadmu.

Baiklah, masih ada waktu. Pelan-pelan aku menghapus semua isian di lembar tadi. Aku hapus satu persatu. Hati – hati agar tidak robek atau rusak. Kalian bisa bayangkan sendiri, menghapus isian lembar komputer. Melelahkan. Aku sudah frustasi. Sisi putih hatiku tetap setia menyemangati. Kawan di sebelah sudah selesai. Dengan malu-malu aku bertanya, bisakah aku pinjam pensil? Dia mengangguk dan berlalu. Dia juga memberikan rautan dan penghapus. Aku mengucapkan terima kasih. Dalam hati tentu.

Aku kembali mengisi bulatan dengan pensil yang benar. Kali ini tidak perlu lagi melihat pertanyaan dan petunjuk. Tinggal mengikuti bekas bulatan yang sudah terhapus. Lebih gampang dan cepat memang. Tapi dengan kondisi psikis yang berantakan sejak pagi, pekerjaan ini menjadi sangat berat. Seperti mendaki jalan terjal dan berbatu dalam kondisi kaki patih. Beruntung, Bli Tut setia menyemangati dan membelikanku minum. Kalau dikenang sekarang, aku tertawa membayangkan kondisiku saat itu.

Aku kembali melirik jam dinding. Jarum pendek sudah melewati angka 12. Beberapa calon mahasiswa lain sudah pulang. Hanya tinggal beberapa saja yang tersisa. Aku melanjutkan pekerjaan. Inilah yang dinamakan hati-hati. Terburu-buru tapi biar tetap benar.
Dalam hati aku sudah pesimis setengah mati. Aku takut gara-gara salah memakai pensil tadi. Terpikir di benakku, apakah komputer bisa membaca bulatan yang aku isi? Aku pasrah, berusaha melakukan yang terbaik yang aku bisa. Kalau memang tidak diterima, aku percaya semesta punya kehendak lain terhadapku.

Dan selesailah aku mengisi semua isian. Aku menoleh ke samping. KOSONG. Ternyata semua sudah pulang. Aku berlari ke loket pendaftaran. Ada seorang bapak yang masih memilah berkas. Aku berkata kepada bapak itu, apakah masih bisa mendaftar. Dia jawab bisa. Setelah membubuhkan tandatangan dan beberapa persyaratan terakhir, resmilah aku menjadi calon peserta SPMB. Lega.

Apakah penderitaan berakhir sampai di sini? Tidak kawan-kawan.

Sore itu juga aku kembali ke Negara.

Pilihan jurusanku Cuma satu. HUKUM. Aku tidak menggunakan pilihan kedua. Aku cukup percaya diri, meskipun tidak pernah ikut persiapan tes macam SPMB. Sejak SMA, seperti aku katakan di awal, tidak ada niat sedikitpun untuk kuliah. Alhasil, aku juga tidak pernah menjamah atau berusaha ikutan try out tes penerimaan mahasiswa baru. Modalku benar-benar kosong.

Dari seorang kawan aku meminjam beberapa buku pelajaran IPS. Soal IPA tidak terlalu aku khawatirkan. Pelajaran Tata Negara, Sejarah dan Sosiologi yang aku takutkan menjadi batu sandungan. Aku memerlukan waktu dan asupan bahan. Minimal, aku tidak terlalu buta dengan soal-soal yang akan kuhadapi.

Waktu itu, ujian SPMB dilaksanakan tanggal 6-7 Juli 2005. Lokasi ujianku di Fakultas Pertanian Bukit. Aku berangkat pagi-pagi sekali. Nah, kawan-kawan, saat itulah petaka berikutnya terjadi.
Ceritanya begini. fantasiku tentang dunia kuliah banyak dipengaruhi oleh sinetron televisi. Aku berpikir, kuliah tidak lagi diikat dengan aturan-aturan konservatif tentang tata cara berpakaian. Mahasiswa tidak lagi mesti berpakaian ini dan itu. Di televisi, aku melihat orang kuliah begitu santai. Pengalaman ini memaksaku, jangan pernah percaya pada sinetron!

Itulah yang kubayangkan ketika berangkat pagi-pagi ke Bukit. Aku dengan santai memakai kaos oblong dan sandal jepit. Iya, benar-benar sandal jepit dan kaos oblong plus jins butut. Maklum saja, kondisi keuangan tidak memungkinkan memang untuk membeli pakaian serba mahal. Apa yang kupakai saat itu termasuk pakaian terbaik yang aku punya. Nomor ujianku, aku masih ingat ujungnya: sekian sekian – 00741. Posisi dudukku di pojok depan kiri. Berhadap-hadapan persis dengan meja pengawas.

Aku dengan santainya menyilangkan kaki. Istilah Bali, gejir-gejir. Masuklah pengawas bermuka angker itu. Pandangannya langsung tertumbuk di muka kakiku. Dia melotot.

“Kamu tidak membaca tata tertib ujian?”

Saya tidak menjawab. Muka saya bingung.

“Kamu tidak baca jika harus berpakaian sopan?”

“Saya tidak tahu, Pak.” Muka saya memelas. Keringat dingin sudah mulai menetes. Tantangan psikis yang buruk untuk memulai ujian.

“Saya keluarkan kamu!” Wajah peserta lain ikutan tegang. Aku tidak berani melirik ke belakang.

“Saya mohon bisa ikut ujian, Pak. Saya baru datang dari Jembrana. Saya tidak tahu harus memakai sepatu dan baju berkerah.” Saya memohon. Sedikit frustasi.

Dia mengancam. “Kalau besok kamu masih pakai pakaian seperti itu, saya keluarkan kamu dari ruang ujian!”

Akhirnya, berhasillah aku melewati ujian ini. hasilnya? Tentu saja bisa ditebak.

Inilah salah satu alasan kenapa menjadi sarjana menjadi begitu istimewa. Perjuangan untuk meraih status mahasiswa tidak mudah. Berat dan berliku. Di kampungku tidak banyak yang bisa mencicipi bangku kuliah. Aku termasuk beruntung. Status sosial keluargaku naik. Paling tidak, aku membawa kebanggaan bagi mereka.

Lalu apakah, karena ini saja? Tentu saja tidak. Pahit getir aku rasa tak hanya saat meraih status mahasiswa. Ada banyak cerita. Di Akademika, di tempat kos atau saat aktif di organisasi kemahasiswaan hingga mengerjakan skripsi. Pahit saat dijalani. Tetapi menyenangkan ketika terlewati dan indah ketika dikenang.

Kejadian ini terjadi kurang lebih enam tahun yang lalu. Detailnya masih terekam dengan begitu jelas. Saat-saat itulah yang mengubah jalan hidupku. Barangkali jika frustasi, aku sudah hidup di jalanan. Bergelut dengan sopir-sopir lain jurusan Jakarta-Bali. Pelacuran di sepanjang Pantura, penjaja seks di sepanjang rel kereta di Jakarta Utara, gadis Indramayu nan bohai dan beberapa pemilik warung makan yang sayang padaku.

Kini, gelar sarjana mengubah segalanya. Karen itulah dia begitu istimewa…

Iklan
Tagged with: ,

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. via said, on Desember 27, 2011 at 4:27

    Pdhal sdh pernah dgr cerita ini lgs drmu ya nyot, tp membaca lg kisahmu ttp aja sll membuat terharu, kagum, dan salut pdmu manusia kriwil #pinjamistilahdoi wkwkwkw

    • Agus Lenyot said, on Desember 27, 2011 at 4:27

      Hahahaha. Begitulah semesta membawa kita. Dia selalu punya rencana dengan kemungkinan-kemungkinan mengejutkan 🙂

  2. Christian Adiputra (@ChrisAditra) said, on Desember 27, 2011 at 4:27

    Great story to read. Plotnya pas. Awesome. 🙂

  3. lodegen said, on Desember 28, 2011 at 4:27

    ceritaku mirip spt kamu, cuma ak berharap ketrima pilihan 2 sastra inggris. sampe skrang msh nyesel

  4. okawidasmara said, on Januari 18, 2012 at 4:27

    perjuangan yang penuh bulatan tekad om, perjuangan yang hampir sama dengan yang aku alami hanya ceritanya yang berbeda.. 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: