Agus Lenyot

Tentang Skripsi dan Hari-Hari yang Telah Pergi

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Desember 29, 2011

Pada dasarnya, skripsi adalah pertarungan melawan komitmen diri pribadi

Aku menyelesaikan skripsi hampir setahun. Tidak mudah. Apalagi proses berhimpitan dengan dua pekerjaan lain saat itu. Menjadi koresponden sebuah media nasional dan mengurus event organizer. Toh hambatan terbesar sebenarnya bukan itu. Mandeknya skripsi justru muncul karena niat dan keinginan yang fluktuatif.

Skripsi mulai aku kerjakan saat semester 10. Terlalu tua memang. Meskipun, mata kuliah ini sudah tercantum di lembar kartu rencana studi sejak semester 7. Keasyikan berdinamika di organisasi membuat pengerjaan skripsi molor-molor. Padahal, dulu aku ingin mematahkan mitos, aktif di organisasi tidak identik dengan lulus lama. Aku gagal membuktikan ini. Ini bukti, persoalan skripsi adalah soal niat.

Tanggal bersejarah nih 😉

Judul skripsi yang aku ajukan sempat ditolak. Kontennya tentang hukuman mati. Topik ini kupersiapkan sejak semester awal. Bahan yang kupersiapkan juga matang, termasuk beberapa jurnal terbitan luar negeri. Sayang sekali, materi ini, menurut dosenku, sudah diambil oleh mahasiswa lain. Aku kecewa. Padahal, aku yakin bisa membuat skripsi yang bagus dengan bahan yang kupunyai.

Aku sempat frustasi dan melarikan diri dengan pekerjaan lain. Tetapi kesadaran untuk lulus selalu mengingatkan. Aku kembali membuat outline. Aku sadar semesterku semakin besar. Setiap pagi, aku terbangun dengan keringat dingin. Tidur dimulai dengan perasaan tidak mengenakkan. Belum lagi pertanyaan “Kapan lulus?” muncul dimana saja. Tidak hanya teman-teman sepermainan tetapi juga keluarga di kampung. Ini menjadi teror baru buat hidupku #TuhanBersamaMahasiswaSemesterTua

Pernah suatu ketika, saat mabuk jamur tahi sapi, aku merenung. “Ngapain bersenang-senang sementara waktu lulus semakin tak pasti.” Teman-temanku membayangkan menjadi tentara dalam Perang Vietnam. Aku tahu, mereka pasti berpangkat kopral sehingga harus membayangkan perang saat mabuk jamur. Meskipun efek jamur ini membuatku tertawa sepanjang malam, dalam hati aku sebenarnya meringis. Paginya, aku cuci muka dan memantapkan diri untuk mulai mengerjakan skripsi.

“Tidak boleh menunda lagi.” Pikirku.

Inspirasi akhirnya datang menghampiri. Aku mengangkat materi tentang aspek pidana Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Bersyukur, judul ini diterima oleh kampus. Menunggu SK judul skripsi sudah seperti menunggu lahirnya anak pertama. Dia keluar meski aku sudah gelisah setiap datang ke kampus dengan kondisi tak nyaman.

Aku berpikir, tidak perlulah membuat skripsi yang ideal. Cukup asal jadi dan lulus. Tapi, naluri perfeksionis selalu ada. Sebabnya begini. Suatu ketika, Ngurah Suryawan, kawan di Pers Akademika datang bercerita. Dia mengabarkan, skripsinya akan segera terbit menjadi buku. Aku iri. Tekadku, kenapa aku juga tidak.

Niat ini kuurungkan. Selain soal kemampuan, aku dihadapkan tenggat waktu yang mepet. Aku berpikir dua kali untuk meniru langkah Bli Ngurah. Apalagi topik yang aku angkat termasuk materi baru. Aku tidak terlalu yakin dosen pembimbing dan penguji akan paham alur pikirku. Ya sudah, buatlah skripsi dengan kemampuan maksimal. Skripsi harus baik agar bisa menjadi kenangan seumur hidup.

Beruntung, aku mendapatkan pembimbing I yang kooperatif. Dia tidak terlalu mempermasalahkan penulisan, metode dan rumusan masalah. Dua kali pertemuan, aku berhasil mendapat tandatangan persetujuan lolos ke pembimbing berikutnya. Pada pembimbing kedua inilah ujian sesungguhnya terjadi. Aku menyerahkan bab pertama skripsi yang sudah di-acc pada awal Oktober. Saat itu, dosenku bilang akan membaca skripsiku terlebih dulu. Aku bilang oke.

Kembalilah aku pada kesibukan lain, yakni liputan dan bermain-main tak jelas juntrungannya. Oia, sekadar info, dosenku ini termasuk yang susah ditemui di kampus. Harus dicari ke rumah jika hendak bimbingan. Intinya, dosen ini tidak menyenangkan jika menjadi pembimbing.

Sampailah aku pada bulan Februari. Aku baru sadar, sudah empat bulan lebih aku tidak menghubungi dosenku ini. Suatu ketika, aku menunggunya di kampus. Gugup. Ada rasa takut. Seoran kawan memberi tips, siap-siap ngaku salah jika didamprat. Saat jumpa, segera saja kupasang muka memelas.

“Saya mau bimbingan, Pak.”

“Lho, kamu masih mau bimbingan? Saya pikir kamu sudah lulus.” Jdar!

Sejak saat itulah kebulatan tekadku diuji. Dosen ini seperti hendak sengaja mengulur-ulur waktu. Dia enggan menoleh skripsiku. Ditunggu di kampus, dia suruh datang ke rumah. Saat kudatangi ke rumahnya, dia malah pergi ke kampus. Perjuanganku mesti gigih. Aku tidak ingin menghabiskan kuliah lebih dari 12 semester. Siang malam aku datang ke rumahnya. *Terima kasih buat Kadek Ridoi yang sudah setia menemani malam-malam ke rumah dosen ini* Beruntung, dia akhirnya luluh juga melihat tekadku.

Tetapi kawan, ujian terhadap niat tak hanya datang dari pembimbing.
Datang ke kampus sebagai anak semester tua itu sama sekali tidak menyenangkan. Apalagi kawan-kawan seangkatan sudah lulus semua. Pergi ke kampus seperti anak hilang. Seperti siklus, kita menjadi seperti anak semester baru. Kondisi ini benar-benar tidak membuat nyaman secara psikologis.

Pertanyaan, “Kapan lulus?” yang pada semester 7 atau 8 menjadi lelucon, pada titik ini terdengar sangat garing dan menyebalkan. Skripsi dan kelulusan adalah masalah sensitif. Cara tepat untuk menghilangkan selera makan. Jika salah mengelola emosi, topik ini justru membuat kita tambah down. Aku berpikir, aku mesti melawan ego, menghilangkan rasa malu datang ke kampus. Pun, jika aku tidak ke kampus hari ini, besok pasti akan datang. Aku berpikir, untuk apa menunda ketidakpastian.

Godaan lain saat mengerjakan skripsi adalah pekerjaan alias uang dan hobi. Aku merasakan betul itu. Godaan ini datang bersamaan dengan niat menulis skripsi. Saat niat mengerjakan skripsi sudah mantap, tawaran pekerjaan dengan bayaran menggiurkan datang. Maaf, yang pertama harus mengalah. Tersisih demi sesuap nasi. Apalagi untuk anak rantau sepertiku.

Selain uang, hobi juga menjadi penghalang mengerjakan skripsi. Entah mengapa, keinginan untuk beraktivitas dengan hobi ini selalu datang saat niat mengerjakan skripsi datang. Tentu, saja skripsi harus mengalah. Hobi yang lumayan bandel adalah godaan maen Play Station. Sesuai prinsip mahasiswa tengik, kuliah jangan sampai mengganggu hobi. Hal-hal inilah yang menjadikan skripsiku harus dikerjakan setahun.

Barangkali kenapa anak rantau punya kecenderungan lama mengerjakan skripsi karena tidak ada yang meneror setiap sampai rumah. Beda dengan mahasiswa rumahan yang ada yang diawasi oleh orang tua. Kawan lain bahkan berkata, setiap sendirian di depan komputer, godaan untuk mengerjakan skripsi justru datang dari tayangan bokep. Gedubrak!

Untunglah, niat untuk lulus terus aku pancangkan. Pikirku kala itu, jika lulus, sepertinya kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan lengkap dengan gaji akan lebih bagus. Daripada mendapat uang seperti sekarang, yang besarnya memang lumayan, tapi akan stagnan nilainya. Aku juga tidak ingin mengecewakan keluarga. Lulus juga menjadi modal awal di depan calon mertua.

Dan itulah yang membawa aku bisa menjadi sarjana. Mengalahkan godaan. Saat dinyatakan lulus ujian, aduhai senangnya. Perjuangan selama enam tahun tidak sia-sia. Menyenangkan. Minimal, salah satu beban dipundak bisa terlepas. Itulah yang terjadi. Jika tidak mampu mengalahkan ego, bisa jadi aku masih berbaring di tempat tidur saat ini. Malas-malasan menikmati zona nyaman yang tak pasti.

Lulus itu menyenangkan. Apalagi sudah semester 12.

Prinsipnya, mengerjakan skripsi bukan soal bisa atau tidak. Tapi apakah ada ketulusan niat atau tidak. Mudah-mudahan berguna buat yang sedang menyusun skripsi…

Iklan
Tagged with: ,

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kadekdoi said, on Desember 29, 2011 at 4:27

    :’)

    hahaha..kenangan sepanjang perjalanan bikin aku kangen masa-masa pantat keram naik motor dan menghadapi macetnya Badung menuju ke rumah dosenmu. Tanpa Donat Mahal, tanpa Siap betutu akhirnya skripsi itu jadi juga,
    nyanyi bareng teriak-teriak di jalanan, 🙂
    ngambul karena dikacangin pake headset,
    nyesek bahas masa lalu,
    dikerjain si genit atau bracun yang bisa gembos di tengah jalan
    ketawa ga jelas bahas fashion orang yg lewat
    sampe nongkrongin warung depan rumah dosenmu yang ga pernah bosan menceritakan anaknya yang baru saja sarjana *berulangkali setiap kita ke rumah dosenmu,hihihi konyol (tapi mungkin ibu itu bangga bgt anaknya bisa sarjana juga)

    memang perjuangan itu yang membuat skripsimu jadi sangat ‘Berasa’

    ditunggu tulisan menariknya tentang ujian skripsi, yudisium dan wisudanya yang dipenuhi kejutan-kejutan abnormal……… 😉
    yuu rook duuud 😀
    #semangat!

  2. imadewira said, on Januari 3, 2012 at 4:27

    Itu kayaknya tulisan yang benar-benar dari hati dan penuh realita *halah

    Tapi skripsi emang harus begitu, kita ndak bisa menyalahkan dosen yang sulit dicari. Kita ndak bisa menyalahkan orang lain atas lamanya kita ndak lulus.

    Apalagi yang kayak saya dulu, emang sih lulus dengan tepat waktu, skripsi dapet A, lulus sarjana dengan predikat cumlaude, begitu bangganya dan rasanya lega. Tapi ternyata itu hanya sebuah awal dari perjuangan. Perjuangan di dunia kerja tak kalah ganasnya.

    Masa kuliah dan skripsi ternyata adalah sebuah proses pendewasaan diri, proses merubah diri dari ababil menjadi lebih stabil, hehe.

    Btw, selamat kawan..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: