Agus Lenyot

Kenapa Pacaran Harus Saling Mengekang?

Posted in Kata-kata Kita by Wayan Agus Purnomo on Januari 3, 2012

Aku justru ingin menyatakan sebaliknya: pacaran seharusnya saling membebaskan.

Kenapa? Bagiku, ini karena hubungan akan terbentur pada dua kemungkinan. Pertama, karena ada kemungkinan akan putus. Kedua, karena akan langgeng terus dan berlanjut ke jenjang lebih serius.

Adalah lucu buatku jika pacaran harus diikuti segala macam larangan terhadap pasangan. Larangannya macam-macam: tidak boleh bergaul, tidak boleh berkegiatan, atau tidak boleh berorganisasi. Prioritas waktu pertama, untuk pacar. Kedua untuk pacar. Ketiga buat pacar. Beberapa kawan, setelah pacaran harus menghilang dari pergaulan karena ‘sibuk pacaran’. Lihat, ternyata pacaran itu menjadi semacam kesibukan. Lucu.

Buatku, ini semacam gegar budaya. Lama menjomblo, belasan tahun, tiba-tiba pacaran. Jdar! Kaget dengan situasi ini. Sebagian waktu dihabiskan bersama pasangan. Lupa dengan kawan-kawan lama. Satu dua kawan mengalami ini. Kebahagiaan kadang memilih ada yang dikorbankan. Pengorbanan itu tidak seharusnya dilakukan dengan larangan.

Tapi kalau pacaran ada batasan, iya. Sepakat. Batasan ini berbeda dengan pembatasan. Pacaran itu menyatukan dua kepala berbeda. Harus ada persepsi yang disamakan. Apalagi terhadap pilihan yang berkonsekuensi bagi kedua belah pihak. Ada batasan-batasan yang harus dijaga agar tidak menyakiti pasangan.

Berbeda dengan jomblo yang tidak memiliki tanggungjawab perasaan pasangan. Memiliki pacar pasti ada tanggungjawab berbeda. Untuk batas tertentu, mencapai kebahagiaan dengan pasangan memang membutuhkan pengorbanan. Ingat, batasan berbeda dengan larangan atau pembatasan. Batasan bersifat pasif alias diam. Batasan lebih mengutamakan kesadaran, himbauan yang muncul dari kontrol diri. Sementara larangan atau pembatasan, ada pemaksaan dari pihak lain. Ada semacam hukuman yang menunggu jika dilanggar.

Aku tidak suka melarang pasangan. Kenapa? Segala macam larangan hanya akan membuat kita tidak berkembang secara psikis dan intelektual. Balik lagi soal dua alasan yang aku kemukakan. Jika putus, aku tidak ingin membuat (mantan) pasangan terasing dari pergaulan. Tidak ingin dia kehilangan teman hanya karena aku larang ini itu. Itulah kenapa, aku lebih senang dia mengembangkan diri sesuai minat dan kemampuan. Bergaulah dengan sebanyak mungkin orang. Tetapi selalu ingatkan dia, ada batasan yang harus dijaga. Ganjen boleh, asal jangan kelewatan :p

Beberapa orang takut pasangannya menjadi pusat perhatian. Bisa jadi karena pasangannya cantik (ganteng), cerdas dan berprestasi. Orang macam ini tidak pantas pacaran dengan Dian Sastrowardoyo. Ketakutan ini bisa jadi muncul karena ada ketidakpercayaan diri. Bagi yang tidak cerdas, ketidakseimbangan harus disesuaikan dengan menurunkan grade. Caranya, ya larang pasangan untuk mengembangkan kapasitas diri. Buat dia terkungkung agar tak lagi menjadi pusat perhatian.

Tapi bagi yang cerdas, ketidakimbangan ini akan ditutupi dengan kerja cerdas agar bisa berdiri pada posisi sejajar. Menyenangkan bukan, jika berkompetisi bersama pasangan untuk menunjukkan prestasi terbaik? Kalau pada akhirnya putus, paling tidak kita tidak menghambat seseorang untuk berprestasi karena larangan-larangan konyol.

Tentang kemungkinan kedua; berlanjut ke arah yang lebih serius. Menikah misalnya. Pasti jauh lebih membanggakan punya istri atau suami cerdas daripada sebaliknya. Bukankah salah satu indikator standar diri adalah pasangan kita. Apa yang kita pilih, menunjukkan seberapa tingginya selera kita. Ada yang senang barang antik. Ada yang senang produk mutakhir. Keduanya memiliki nilai tinggi. Seperti itulah saat memilih pasangan. Selalu ada nilai-nilai imajiner yang secara tidak sadar kita patok. Pada prinsipnya, tidak ada yang senang dengan barang rongsokan. Begitu pula dengan memilih pasangan.

Jika dia berkegiatan untuk menunjukkan eksistensi diri kenapa harus dilarang? Potensi diri bukankah harus digali sebaik-baiknya selagi masih bisa. Bebankan tanggungjawa kepada pasangan, ada batasan yang harus dijaga. Kalau merasa minder, lakukan sesuatu. Tunjukkan bahwa kita juga berkualitas. Kalau tidak berkualitas secara fisik, ya berkualitas secara intelektual. Syukur-syukur bisa menggabungkan keduanya. Bukan lalu menutup diri bersama-sama dengan pasangan dalam tempurung.

Itulah, kenapa aku masih heran dengan gaya pacaran yang saling mengekang. Pacaran itu menyenangkan. Indah. Bukan bermaksud menggurui. Hanya berbagi pengalaman. Pacar yang baik itu bisa menjadi teman, kakak, adik sekaligus orang tua. Komplet! Dan bukan untuk menutup diri dengan dunia luar. Ingat, yang ada di sekitar kita tidak sedang ngontrak!

Iklan
Tagged with:

8 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. via maheswari said, on Januari 3, 2012 at 4:27

    jeg setuju nyot….

  2. isnaini kharisma said, on Januari 3, 2012 at 4:27

    bliiii,,aq suka banget sama tulisan kamu yang ini,,
    berkarya terus ya bli 🙂

  3. imadewira said, on Januari 4, 2012 at 4:27

    Kayaknya masalah kekang-mengekang pada masa pacaran adalah masalah klasik, sebagian besar pasangan mungkin pernah merasakannya.

    Menurut yang pacaran 9 tahun sebelum akhirnya menikah sekitar 3 tahun yg lalu, yang lebih diperlukan adalah kesepakatan dari kedua belah pihak. Tidak masalah saling mengekang asalkan itu memang kesepakatan mereka berdua dan dijalankan dengan ikhlas tanpa ada rasa terpaksa. Tapi kalau salah satu merasa terkekang sendiri dan tidak ingin dikekang, berarti sudah saatnya dibuat kesepakatan lain.

  4. yuilyana said, on Januari 4, 2012 at 4:27

    Nice story,, n blessed

  5. nonadita said, on Januari 9, 2012 at 4:27

    Menjadi single yang bebas untuk terbang lebih baik daripada menjadi kekasih yg terus dikekang :mrgreen:

  6. Yunaidi Joepoet said, on Januari 9, 2012 at 4:27

    Mencintaimu bukanlah mengekangmu dalam sangkar-sangkar cemburu, mencintaimu adalah membiarkanmu lepas menukik dan terbang menggapai impianmu. Kelak kalau cinta kita satu, hati kita tak akan lari kemana.

    Saya jadi ingat wanita yang dicemburui habis-habisan sama kekasih psiko-nya. Bahkan untuk membuka pertemanan saja, cap-nya sadis saya dianggap berusaha mencumbui sang kekasih. Ada gitu hitler yang hidup sampai sekarang 🙂

  7. thama said, on Januari 29, 2013 at 4:27

    hedehh rumit2… thks

  8. Tenten said, on September 5, 2014 at 4:27

    Hmm.,cwo gw bgt dah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: