Agus Lenyot

Dua Tahun Penuh Cerita

Posted in Kata-kata Kita by Wayan Agus Purnomo on Januari 4, 2012

Awalnya hanya sebuah kata. Lalu berakhir dengan cerita.

Dua tahun memang bukan waktu yang panjang. Selama dua tahun ini terlalu banyak hal terjadi. Mungkin juga banyak yang terlupa. Terlewat karena hari yang selalu beranjak dengan tergesa. Bergegas karena tak pernah mau menunggu.

Lucunya, mata kita tak pernah bertatap setiap hari ini. Ujian? Bisa jadi iya. Kemungkinan? Itulah yang sebenarnya. Aku ingin mengutip EndahnRhesa: meskipun berjauhan, kita sebenarnya sedang menatap bulan yang sama. Dengarkan lagu, Wish You Were Here. Kita berjumpa di sana dan mendendangkan lagu yang sama.

Aku tidak tahu apa atau siapa yang menjadi awal. Buatku itu tidak penting. Aku harap, yang menjadi akhir adalah kita. Ya, kau dan aku. Tujuan yang jalannya kita ringkas bersama. Apakah kata ini terucap hanya untukmu seorang? Tidak. Dulu juga aku mengatakan hal yang sama kepada orang lain. Tapi ada pembeda-pembeda antara kamu dengan mereka. Sebab aku percaya pada optimisme.Sepertinya mereka tidak dan akhirnya kami bubar di tengah jalan. Optimisme itu aku taruh di pundakmu, di bahu kita.

Dulu pantai pernah menjadi saksi. Mengejar temaram diantara karang kokoh yang menyakitkan kaki kita. Entah karena bodoh, nekat atau konyol. Kita tersesat di perjalanan. Di pematang sawah, di bawah bintang dan batas kehidupan. Aku tahu, kamu ingin berlari. Tapi, kegelapan itu tidak menakutkan. Dia hanya menyesatkan. Tugas kita mencari setapak jejak yang tertinggal oleh mereka. Pesanku dalam getar, berjalanlah pelan-pelan. Temukan arah dan tujuan seterjal apapun jalan di depan. Kita berhasil bukan?

Seperti yang sering aku katakan, keajaiban akan menghampiri. Meskipun harus kita tebus dengan ketakutan yang tak pernah usai. Malam itu keajaiban adalah seorang lelaki tua yang kita lupakan namanya. Seorang Bapak, dengan tergopoh membawa kita ke jalan pulang.

Waktu berputar dengan konstan. Biasa-biasa saja. Itu-itu saja. Tapi kehidupan tentu tidak selalu datar. Ada lekuk yang harus ditelusuri. Ada celah sempit yang kadang membuat kita terperosok. Ada bukit yang harus ditukar dengan keringat. Pula air mata. Pun harapan yang kita taruh di depan langkah kita. Tidak jauh memang. Entah kenapa, untuk menjejakkan kaki di titik itu, kita perlu mengeja waktu. Membaginya dalam tahap-tahap pencapaian. Dia tak berpihak pada kita? Tentu saja tidak. Ada kerja keras yang mesti kita tebus. Aku lupa, sudah berapa air mata yang kamu tumpahkan. Saat itu terjadi, aku ingin terdiam di kejauhan yang berjarak.

Apa yang menyatukan kita? Masa depan? Atau sebuah kemungkinan? Ah, lebih pas kita menyebut dia harapan. Kita disatukan mimpi-mimpi yang sama. Seperti Lintang. Dia punya mimpi yang membuat dia bergairah. Meski dipaksa menyerah pada keadaan, mimpinya memaksa kita untuk mendongak. Menatap jalan tak lurus dengan persimpangan yang memaksa kita untuk menepi.

Kepala kita berbeda. Itu aku sadari betul. Apa perlu disamakan? Tentu tidak. Aku tidak suka keseragaman. Seperti polisi yang selalu takut pada atasan atau seorang kopral yang mati tertunduk di depan jenderal. Keseragaman itu bentuk penghinaan pada kreativitas. Simbol ketakutan dan perbudakan. Perbedaan adalah jalan Tuhan. Bentuk perlawanan terhadap kemapanan dengan cara yang sederhana. Bukankah karena berbeda hidup menjadi semakin berwarna. Sekaligus bermakna.

Aku selalu menyimak ceritamu. Cerita tentang perbedaan yang membuatmu teguh, ceria dan menyenangkan. Aku yakin kamu sudah membaca tulisanku tentang wanita cerdas. Kalau belum, bacalah. Jika sudah, bacalah sekali lagi. Temukan, pada kata mana aku tuliskan tentang dirimu. Satu saja pintaku, jangan mudah menangis di depanku karena tanda-tanda alam.

Aku suka, kamu mulai mendengarkan ceritaku. Hey, aku tahu juga, di belakangku kamu mengejek diam-diam. Menjulurkan lidah. Mendelikkan matamu yang bulat dan berbinar indah. Bukan karena aku salah, tapi kamu tidak bisa menerima kebenaranku. Yang pelan-pelan menjadi kebenaran kita bersama.

Tidak penting bagiku. Kebenaran adalah milik setiap orang. Berjalanlah dengan kebenaran yang kamu yakini. Aku tak akan memaksa. Jika dipaksakan pada satu kebenaran, aku takut, itu hanya sebuah bentuk tunduk pada ketakutan. Pesanku, tetaplah kokoh meskipun sebaris ombak menyeret kakimu ke lautan. Berbalik saja pelan-pelan. Jemput pasir hitamu di depanmu lalu berpeganglah pada pohon bakau di pinggir pantai itu.

Aku ingin bercerita tentang jarak. Iya, sesuatu yang menakutkan kita. Sekaligus akar terhada pohon tua bernama kerinduan. Jarak adalah tantangan. Apakah rasa, yang kasat itu, harus menguap karena alat ukur yang ditentukan manusia? Sejauh ini, aku percaya tidak. Keyakinan serupa juga mesti ditanamkan di kepalamu yang keras itu.

Aku berharap kau ingat saat kita menepi di garis waktu. Diantara kepenatan dan letih kehidupan. Ah, barangkali kita harus berterima kasih pada bangsa Romawi. Mereka memahat waktu dalam deretan batu sehingga bisa dihitung dengan angka. Ucapkan terima kasih pada media yang dengan lihai membuat kita selalu luruh dalam kepura-puraan. Lalu kita percaya setiap awal membawa harapan. Ucapkan terima kasih Numa Numae Pompilus, seorang Romawi yang mengubah imajinasi tentang tarian langit.

Bisa jadi itu yang membawamu datang malam itu. Dengan kaki pinjang dan wajah kuyu. Aku tahu kau sangat lelah. Terbang bersama burung baja untuk menjemput senja yang terbuang percuma. Diantara pikuk keriuhan malam kita melepas satu pelukan. Hangat.

Percikan cahaya dan warna warni pelangi di langit gelap kita berbagi tentang tawa. Air matamu mengalir pelan. Ketakutan terhadap jarak yang begitu dekat. Apakah karena aku menjadi tak terjangkau? Oh, bukan. Aku memandangmu diantara pintu kaca yang muram. Dalam sebuah dekapan, kita tahu arti kepercayaan. Bahagia itu sederhana. Sangat sederhana.

Di antara jingga yang menerobos pintu kereta, aku mengantarmu kembali ke rumah itu. Gubuk tak reot yang menjanjikan kedamaian. Setelah itu, kita berkutat dengan kerinduan yang menyiksa sekaligus meneguhkan. Jarak adalah teka-teki kosakata yang diciptakan oleh semesta. Tugas bukan untuk menangisinya. Diamkan saja. Berputar-putarlah pelan untuk menjemput hari depan yang tak pernah kita duga.

Dua tahun, memang tidak akan cukup satu cerita.

Iklan
Tagged with:

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kadekdoi said, on Januari 4, 2012 at 4:27

    🙂

  2. .gungws said, on Januari 5, 2012 at 4:27

    hmm..essay ya? *manggut2*

  3. […] Hadiahnya, Happy 2nd Anniversary 🙂 Advertisement LD_AddCustomAttr("AdOpt", "1"); LD_AddCustomAttr("Origin", "other"); […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: