Agus Lenyot

Sandal Jepit dan Perlawanan Itu

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Januari 7, 2012

Kekuasaan dan kesewenang-wenangan harus dilawan.

Suatu ketika di tahun 1793 di sudut kota Paris. Satu kelompok berpidato dalam sidang. Mereka berkata, “Kamilah kaum yang miskin dan berbudi. Kami tahu siapa kawan kami, mereka yang melepaskan diri dari sistem feodal, mereka dijuluki kaum anarkis.” Revolusi Prancis pecah sesudahnya.

Pada kita hari ini, perlawanan itu datang dari sandal jepit. Kasta terendah juga termurah dari semua bentuk alas kaki manusia. Tapi, untuk sejenak dia menjadi primadona. Ribuan sandal jepit dikumpulkan menjadi simbol perlawanan. Lucu sekaligus ironis.

Seorang bocah di Sulawesi Tengah dituduh mencuri sandal yang tidak bisa diyakini benar tidaknya. Pemiliknya, seorang polisi berpangkat brigadir. Pangkat yang juga menjadi buah bibir belakangan ini. Entah karena putri jelita pemantau lalu lintas yang digandruingi di linimasa. Mungkin juga karena seorang pasukan elit yang menghentak layar kaca karena lagu India.

Polisi menjadi perbincangan. Lebih tepatnya sasaran makian dan hujatan. Alat negara yang dikatakan koruptif dan penyiksa dengan popor senjata. Perwira muda, klimis dengan gadget terbaru. Perwira tinggi dengan rumah mentereng dengan kekayaan menumpuk. Kita tahu, tugas polisi adalah mengejar maling. Pada saat yang kita dibuat ragu. Mampukah mereka mengejar maling dengan perut tambun, rambut tersisir rapi dan kulit muka bersih tanpa noda. Polisi, yang seharusnya menjadi pelayan dan pengayom sipil, tetap awet dengan karakter sang saudara tua. Kejam.

Simpati dan antipati datang bersamaan karenanya. Seperti sebab akibat yang tak melepas satu sama lain. Karena dia memukul seorang anak, bocah tanggung yang sedang beranjak remaja. Kita penat dengan tingkah polisi yang pongah. Kita terharu mendengar seorang nenek rela menyewa angkot hanya untuk mengantar sandal jepit. Polisi bergeming. Tidak ada kata tersinggung. Karena nurani yang sudah mati? Mungkin.

Perlawanan selalu lahir dari ruang murung. Muram dan gelap. Dia datang dari tempat yang tak terduga. Anak-anak muda kritis diculik karena berani berpikir beda. Perlawanan, sekecil apapun itu, selalu akan dibungkam oleh kekuasaan yang korup.

Rosa Luxemburg pernah bercerita tentang Revolusi Rusia pada awal 1900-an. Rosa, seorang perempuan dan keturunan Yahudi di perbatasan Polandia Rusia. Dia menyelesaikan sekolah di Jerman bersamaan dengan tingginya tensi di Partai Sosialis Demokrasi Jerman. Muncul sebuah perdebatan revisionis. Rosa mengkritik revolusi malu-malu di Jerman. Dia menjadi simbol perlawanan.

Rosa tak ragu mendebat Lenin soal nasionalisme. Dia menyerukan pemogokan, perlawanan kelas pekerja. Revolusi Rusia pecah tak lama setelahnya. Pada suatu malam di tahun 1919, dia ditangkap tentara Jerman. Sepanjang jalan mungkin dia berteriak akibat penyikasaan. Kematian mendekat padanya. Kepalanya remuk dihantam popor senjata. Dia meninggal setelah diberondong dengan peluru. Mayatnya dibuang ke sungai.

Perjuangan selalu memilih korban. Sayangnya, dia memilih mereka yang menjadi tokoh. Aku teringat Munir dan Marsinah. Keduanya mati dengan cara yang tragis. Wiji Tukul, aktivis cum seniman karismatik itu tak tentu rimbanya hingga kini. Puisinya memerahkan telinga mereka yang berkuasa. Syubah Asa, jurnalis Tempo pernah menulis “Ada kematian dengan cara biasa, ada kematian dengan cara tak biasa. Keduanya sama harganya, meski daya kejutnya bisa berbeda.”

Ya, daya kejut inilah yang membedakan akhir hidup mereka. Mereka simbol. Ikon perjuangan. Jasad mereka memang sudah tak ada. Tapi, jiwa mereka masih terasa. Keberanian, seperti bara api, masih menghangatkan. Wiji Tukul hilang. Puisinya didendangkan oleh yang mereka yang gandrung dengan keadilan. Hingga hari ini.

Keberanian seperti halnya ketakutan, itu menular. Ketakutan, layaknya kecemasan adalah sebuah bara api. Bisa meledak jika terdesak. Yang sering terlupa, siapa yang akan menularkan? Kita terlalu sering terlena pada keberanian individu. Tapi kita gagal menjadikannya keberanian bersama. Karena itu mungkin revolusi Indonesia selalu menunggu esok hari.

Tiba-tiba aku teringat dengan Nyai Ontosoroh. Dia, yang kehilangan Annelies, berkata kepada Minke, kekasih gadis remaja mempesona itu. Nyai Ontosoroh berkata, “Kita sudah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya..” Kemapanan yang sombong memang harus dilawan. Walau hanya dengan diam…

Iklan
Tagged with: ,

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. imadewira said, on Januari 10, 2012 at 4:27

    *menyimak

  2. tank top said, on Januari 13, 2012 at 4:27

    menarik tulisnnya…

  3. baju bali said, on Januari 19, 2012 at 4:27

    Kemarin dapat email untuk tanda tangan digital mendukung gerakan sandal for justice …. berikut linknya jika ada teman teman yang ingin berpartisipasi… geram memang melihat tingkah polisi yang tidak mau disalahkan apapaun alasanya ( dari dulu ) . semoga ada perubhana dengan gerakan ini . Minggu lalu juga dibahas di TV ONE oleh bang karni…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: