Agus Lenyot

Kamseupay, Gelar dan Mereka yang (Tak) Peduli

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Januari 9, 2012

Penghibur sejati, bisa membuat kita tertawa terbahak-bahak hanya karena satu kata.

Itulah yang dilakukan Marissa Haque. Lontarannya, Kamseupay, membuat kita melongo. Dari bahasa mana itu? Aku membaca blognya. Rupanya di situlah kata berbau agak Melayu itu ditulis. Dengan emosi kentara. Kamseupay mendadak tenar. Dia menjalar dan merembet di linimasa. Konon, kosakata ini pernah populer pada era 1980-an. Lewat media yang bernama twitter, kata ini kita kenang. Kita tertawakan.

Kamseupay ditujukan kepada seorang perempuan cantik, Dee Kartika. Aku tidak paham siapa dia. Tapi dia sering berbalas kicau dengan beberapa selebtwit cowok. Cewek cantik memang lebih gampang memikat. Di bio-twitter, dia menulis dirinya dengan berbagai macam jabatan. Aku kira dia orang yang hebat dan terkenal.

Marissa Haque aku tahu sedikit-sedikit. Dia artis jaman dulu. Barangkali dia populer ketika aku belum lahir. Seperti mereka yang sudah kehilangan popularitas, kini dia bersama sang suami yang rocker, mencari kembali kejayaan itu lewat kontes politik.Dia sempat membuat kehebohan saat menulis tentang Vina Panduwinata. Sebelumnya, dia sempat berseteru dengan Ratu Atut, Gubernur Banten itu.

Jika baca tulisan di blognya, khususnya yang mempopulerkan Kamseupay, kita tak percaya dia telah menyelesaikan pendidikan doktor. Ampun deh, kacau betul. Pertanyaan untuk yang peduli, bagaimana dia menyusun skripsi, tesis dan disertasi? Kedua perempuan ini rebut perhatian pembaca di garis waktu beberapa saat lalu.

Berterima kasihlah kepada J.C.R Licklider. Suatu ketika di tahun 1962 dia berkata, interaksi sosial dapat dilakukan melalui sebuah jaringan komputer. Revolusi itu hari ini, membawa ke kita ke dunia lain dari sebuah perangkat sebesar telapak tangan.

Seperti virus, perang linimasa ini menyebar dengan cepat. Menjadi perbincangan hangat hingga hari ini. Kita berbincang bukan karena kita peduli. Justru sebaliknya. Kita tak peduli. Mencari sekaligus menertawakannya. Kita butuh hiburan. Aku merasa beruntung twitter mengenalkan begitu banyak kebodohan. Kita tergelak karenanya. Begitulah, kekonyolan yang dilakukan mereka yang populer, selalu menyenangkan. Agak sedikit kurang ajar. Maaf.

Soalnya tak hanya itu kemudian. Pertengkaran di dunia maya selalu menimbulkan gema. Kita yang dalam posisi pasif sekalipun ikut mendengar gema itu. Ada yang dituding tidak lulus doktor. Kemudian muncul tudingan balik: ada gelar palsu. Aku bukan stalker. Tapi, tudingan ini membuat aku membuka beberapa akun yang susah payah melakukan ricek. Sekadar verifikasi. Aku tidak sepenuhnya percaya. Toh, pada akhirnya aku tahu: gema akan mengecil dan mati dengan sendirinya.

Aku berharap mereka yang begitu gandrung pada gelar pernah membaca Socrates. Filsuf berwajah buruk rupa yang sepanjang hidupnya dihabiskan dengan berdialog. Waktunya habis hanya untuk menjawab pertanyaan. Jubahnya itu-itu saja. Di berkelana di sepanjang jalan di Athena, kota yang berjasa besar melahirkan peradaban.

Jangan bayangkan dia memakai jas berharga ratusan juta. Meskipun mendapat kekayaan dari sang ayah, seorang pematung yang murung, Socrates memilih untuk tidak menggunakannya. Beruntung, Socrates memiliki murid yang setia. Plato. Dia tekun mencatat apa yang dikatakan sang guru. Meski tanpa gelar, kita tahu Socrates adalah filsuf besar yang pernah lahir di muka bumi.

Tapi begitulah, sebagian dari kita menempatkan gelar dalam kalkulasi matematika. Atau dalam hitungan ekonomi. Muaranya untung rugi. Kita lebih senang dengan kilau artifisial. Media yang memaksa kita demikian. Menjadi populer, kaya dan jabatan adalah kewajiban. Orang lalu memburunya dengan berbagai cara. Kita maniak dengan hasil akhir.

Untuk jadi kaya, orang tak malu untuk korupsi, memeras atau menipu. Untuk populer, orang tak ragu menjadi plagiat, menjilat ke kiri dan kanan. Untuk memperebutkan jabatan tinggi, orang rela membeli ijazah. Calon legislator beberapa melakukan ini. Mudah-mudahan ada yang tak kita lupa; setiap perbuatan memiliki konsekuensi sosial. Sekaligus moral.

Aku tidak tahu berapa dari kita yang bersekolah untuk mengejar ilmu atau gelar. Pun untuk menggabungkan keduanya. Bersekolah untuk mendapatkan gelar apakah salah? Tentu tidak. Namun, ketika dikembalikan ke hakikat, gelar itu sekadar simbol. Di depan atau di belakang nama. Yang jamak terlupa, kita alpa membagi apa yang ada di kepala.

Orang, dengan pamer gelar untuk kebanggaan semu, akan menjadi sampah peradaban. Tanpa karya nyata, gelar tak berarti apa-apa. Sekadar hiasan kartu nama atau pajangan di figura. Waktu akan menyapu dan membakar mereka dalam ingatan. Hangus tanpa sisa. Mereka hanya dipuja oleh penjilat yang rakus. Oportunis yang gelap mata. Ketika kematian datang, orang memilih tak acuh.

Pahlawan sejati sering lahir dari ruang-ruang senyap. Gelap dan jauh dari hingar kehidupan. Kegelapan itulah, yang mungkin, membawa Priskilla Smith Jully. Terlahir sebagai tuna netra, praktis hanya gelap yang dia tahu. Kegelapan itu, seperti yang sering aku tulis, tidak menakutkan. Dia hanya menyesatkan. Priskilla lalu terjerumus menjadi preman, peminum dan perokok. Dia frustasi.

Tetapi, keajaiban adalah pintu yang menyerahkan diri. Dia berjumpa dengan seorang laki-laki. Dan jatuh cinta. Cinta, selalu membuat kita berbuat hal-hal mustahil menjadi nyata. Kekuatan cinta mendorong manusia melakukan sesuatu di luar logika. Bersama sang lelaki, Priskilla menampung anak jalanan dan mengayominya. Tanpa gelar, tanpa ijazah pendidikan yang memadai, aku harus angkat topi atas apa yang dia lakukan. Priskilla menjadi salah satu pahlawan versi Kick Andy. Dia menjadi pelita. Banyak yang serupa tapi luput dari media. Dari kita.

Sejarah hanya akan mencatat mereka yang berkarya. Bekerja untuk peradaban. Aku tahu ada banyak yang rela berbagi. Tak peduli dengan atribut. Tak peduli pada kekuasaan. Mereka berbagi meski tak pernah diindahkan. Mereka konsisten berjuang untuk kemanusian, untuk peradaban dan kemuliaan manusia. Hormatku setinggi-tingginya kepada komunitas-komunitas ini. Dari pikuk Jakarta, sepinya pegunungan Papua hingga lembutnya semilir angin di Laut Banda. Mereka yang bekerja tanpa peduli gelar. Dengan rendah hati.

Ada yang memilih menjadi baik. Ada yang memilih pura-pura baik. Keduanya hadir di ruang yang sama. Mereka hanya dibedakan oleh ketulusan. Iya, kita krisis ketulusan, terutama mereka yang berada di puncak…

Iklan
Tagged with: ,

10 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. cahpamulang said, on Januari 9, 2012 at 4:27

    http://youtu.be/_NHmY9QdGeI Kamsepupay deh loh lenyot banget seh

    • kadekdoi said, on Januari 10, 2012 at 4:27

      tahu arti lenyot tuh apa?
      CERDAS!! :p

  2. Max said, on Januari 10, 2012 at 4:27

    Not a fan of both MH nor Socrates, but I love the part of “mereka dibedakan oleh ketulusan”. Sums it all.

  3. sofi said, on Januari 10, 2012 at 4:27

    terkadang gw gregetan, itu bunda icha banyak banget sih bikin blog, mbok yah dirapiin gitu aja bikin satu situs resmi dia, udah gitu trkadang blognya ga tertata rapi (>_<)

    overall gw suka tulisan ini yah d(^__^)b

  4. kamseupay said, on Januari 12, 2012 at 4:27

    Setahu saya, MH memang tidak pernah lulus pendidikan Doktor di IPB. Pernah kuliah doktoral memang benar. Tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana studi lingkungan. Kalaupun benar sudah lulus pendidikan doktor, maka rekam jejaknya akan sangat gampang ditelusuri. Misalnya, disertasi dia seharusnya dapat ditemukan di Repository IPB dan namanya pasti tercantum di salah satu daftar wisudawan/wati IPB. Demikian juga paper ilmiah yang dipublikasikan di salah satu jurnal semestinya bisa ditemukan. Yang membuat saya tersenyum, dia mengaku disertasinya memperoleh nilai “A”. Setahu saya, di IPB, disertasi yang berbobot 12 SKS itu tidak diberi nilai. Hanya diberi status “Lulus” atau “Tidak Lulus” saja.

  5. Ca Ya said, on Januari 16, 2012 at 4:27

    dan saya makin bingung dgn segala macam urusan MH hahahha :))

  6. kamseupay said, on Januari 17, 2012 at 4:27

    Ternyata MH memang melakukan ujian terbuka doktor pada tgl. 17 Jan 2012.
    Ref: http://showbiz.vivanews.com/news/read/280737-raih-gelar-doktor-marissa-janji-perbaiki-diri

    Kalau begitu, kenapa sebelumnya dia sudah menggunakan gelar Doktor ya? pantesan saja diragukan … 😀

    Isu yang saya dengar, dalam proses pendidikan doktoral di PSL IPB, MH memang pernah hampir didepak karena melakukan kesalahan fatal pada saat ujian pendahuluan. Tapi dia diberi kesempatan untuk mengulang seluruh proses penelitian disertasinya. Nampaknya dia berhasil melakukannya.

  7. Niki said, on Maret 17, 2012 at 4:27

    Bagus tulisannya 🙂

  8. Lafi Munira said, on Juli 5, 2012 at 4:27

    Reblogged this on aku dan bintang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: