Agus Lenyot

Perempuan Tua yang Tak Lelah Mencari Keadilan

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Januari 14, 2012

Menyerah pada keadaan bukan pilihan yang bijak.

Suatu malam di tahun 1968.
Matanya baru terpejam. Lelah sudah bergemuruh di sekujur tubuh. Penat dengan mudah membawanya terlelap, dalam sekejap. Sayup-sayup telinganya mendengar suara gaduh. Pukulan benda keras menghantam kayu. Suara popor senjata yang beradu. Dia terjaga, mengerjapkan mata. Kesadarannya belum pulih benar.

Perlahan, dia beringsut dari tempat tidur. Di ruang tamu, dia melihat sang ayah sudah siaga. Matanya awas. Lelaki tua itu menempelkan telunjuk di bibirnya. Pertanda diam. Gedoran pintu tak berhenti. Mereka saling pandang. Tegang. Pintu dibuka. Tiga senapan laras panjang langsung menunjuk hidungnya. Dia dibawa ke mobil yang menunggu di halaman depan. Gerakan 30 September sudah hampir tiga tahun berlalu. Riuhnya masih terasa hingga malam itu.Titik itulah yang mengubah hidupnya.

Detik dan detail penangkapan itu diceritakan Raden Nani Soemarni padaku di rumahnya, di Plumpang, Jakarta Utara beberapa waktu lalu. Umurnya masih 27 kala itu. Kebetulan aku diminta menulis kisahnya oleh media tempatku bekerja. Dia bercerita dengan riang gembira. Aku menikmatinya, perempuan tua ini masih segar. Usianya sudah 71 tahun. Sambil menyeruput te hangat dan kue cokelat, aku mendengar ceritanya dengan seksama. Dia banyak tertawa. Aku sesekali menimpali ceritanya.

Baiklah, kalau belum tahu siapa Raden Nani Soemarni atau Nani Nurani, aku beri ulasan. Nani adalah mantan penari di Istana Presiden di Cipanas. Dia menggugat pemerintah Indonesia. Selama 7 tahun dia ditahan di penjara Bukit Duri. Tuduhannya, terlibat Lembaga Kebudayaan Rakyat. Dakwaan yang tak pernah dibuktikan dalam sidang pengadilan.

Pertengahan 1975, dia bebas. Seperti eks tahanan politik lain, dia kehilangan kemerdekaan. Wajib lapor dan gelar eks tapol. Sempat bebas dari wajib lapor, peristiwa Tanjung Priok kembali membuat dia melakukan kewajiban ini. Negara memasung haknya selama puluhan tahun. Kini, hak ini yang dia minta ganti kepada pemerintah. Nominalnya tak main-main, hampir Rp 7 miliar.

“Saya serius dengan tuntutan ini,” kata dia. Penjara banyak mengubah jalan hidupnya. Dia pernah mati rasa. Kehilangan harga diri. Keluarga. Juga cinta. Itulah yang dia rasakan. Meski tidak disiksa, Nani merasa negara telah menghukumnya dengan kejam. Ketika bebas, semua orang takut berjumpa dengannnya. Hanya segelintir yang berani bertandang dengan terus terang.

Tujuh tahun dia tidur beralaskan beton dan makan nasi ala kadarnya. Ketika bebas, Nani merasa rendah diri. Dia dilarang ke luar negeri dan hak untuk mencari pekerjaan dipasung. Paling kejam negara secara sadar memberi label kepadanya: eks tapol.

Bertahun-tahun dia merasa terkungkung dalam ketidakpastian. Beruntung, dia bertemu dengan sejumlah anak muda yang optimis di LBH Jakarta. Bersama mereka Nani memilih tidak menyerah pada keadaan. Ada keadilan yang diperjuangkan. Pun hak yang hendak dia rebut dan tegaknya keadilan. Dia memperjuangkan KTP seumur hidup. Perlawanan datang sejak tingkat kecamatan. Beruntung, Mahkamah Agung memenangkan gugatannya. Dia sedikit lega.

Ada banyak orang yang mengalami peristiwa macam Nani. Ada yang nasibnya lebih baik. Tapi tak sedikit yang nasibnya jauh lebih buruk. Ditangkap, disiksa, diasingkan, lalu bebas dan menerima cemooh dari masyarakat. Yang lebih tragis, harus ditebas dengan sebuah pedang dan mayatnya dilempar begitu saja di sungai.

Dalam buku Sekali Peristiwa di Banten Selatan, Pramoedya menulis, “Kebenaran itu tidak turun dari langit, tapi ia harus diperjuangkan agar menjadi benar, dalam keadaan apapun.”

Kebenaran, seperti halnya keadilan, ada harganya. Nani sedang menukarnya sekarang…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: