Agus Lenyot

Sedikit Mitos tentang Profesi Wartawan

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on Januari 22, 2012

Banyak yang salah sangka tentang pekerjaan wartawan.

Begitulah, sesuatu yang berkilau di luar kadang pengap di dalam. Termasuk profesi wartawan (iya, AJI mengkategorikan wartawan sebagai kerja profesional). Saat kecil, kakekku bilang kalau mau sering muncul di televisi dan jalan-jalan ke luar negeri jadilah wartawan. Faktanya? Tidak sepenuhnya benar.

Dulu, mungkin ya, menjadi wartawan bisa jadi adalah profesi bergengsi. Bayangkan saja, media cetak terbatas. Kalau mau bikin, perlu segala ijin. Sementara, televisi juga tak banyak. Makanya, kita hafal sampai sekarang penyiar berita macam Desi Anwar dan Dana Iswara. Portal-portal berita nyaris nggak ada. Wartawan juga otomatis tidak sebanyak sekarang.

Tapi, saat ini, ada ribuan surat kabar, aneka majalah, tabloid dan portal berita. Belum termasuk kemunculan stasiun televisi baru. Hadirnya media juga linier dengan kebutuhan wartawan. Padahal, sekolah jurnalistik di Indonesia tak banyak jumlahnya. Akibatnya bisa ditebak kan bagaimana kualitas jurnalis dan jurnalisme kita? Aku sendiri menjadi bagian dari itu.

Oke, balik lagi ke soal mitos wartawan. Iya, banyak yang menyangka jadi wartawan akan sering jalan-jalan keliling Indonesia atau ke seluruh dunia. Kalau dikatakan sering, mungkin tidak. Tapi kalau disebut sesekali itu benar. Kalau mau lebih rutin keliling Indonesia jadilah ajudan Ketua DPR. Dia pasti lebih sering jalan-jalan ke luar negeri.Faktanya, wartawan itu pekerjaan menunggu. Menunggu konferensi pers, menunggu sidang atau menunggu pemeriksaan selesai.

Kalau ada waktu, mainlah ke KPK. Kalian akan menemukan banyak wartawan bergelimpangan menunggu pemeriksaan saksi atau tersangka. Ironisnya, mereka-mereka yang diperiksa justru lebih banyak diam. “Silakan tanya ke penyidik.”, “Sudah saya jelaskan semuanya.” atau “Sudah ya sudah ya.” adalah jawaban paling ditemui wartawan.Sial kan? Sudah nunggu 10 jam, jawaban yang didapat cuma seperti itu. Itulah kerja wartawan di KPK.

Di pengadilan juga begitu. Jadwal sidang tidak jelas. Mulainya jam berapa, agendanya apa kadang tidak pasti. Ya wartawan mesti nunggu daripada bobol berita. Yang menyebalkan, sidang tiba-tiba dibatalkan padahal wartawan sudah menunggu lama. Ini sering terjadi. Nggak usah marah. Di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, aku malah pernah nunggu sejak jam 10 pagi. Ngenesnya, sidang baru jam 9 malam. Bayangin aja, betapa garingnya menunggu selama itu.

Di DPR, masih agak mendingan. Di gedung ada ratusan wartawan. Mulai yang medianya jelas hingga wartawan abal-abal. Tapi, di DPR ada ratusan sumber berita meskipun semuanya kategori talking news. Kalau kata salah satu redaktur di media tempat aku bekerja, jurnalisme ludah. Tapi kita tinggal pintar-pintar mainkan isu saja. Kalau sedang masa sidang, bahan malah terlalu banyak sehingga tidak tergarap. Yang agak susah kalau liputan di DPR pas masa reses. Anggota kebanyakan ada di dapil masing-masing. Kalau beruntung ya bisa nelpon sekadar konfirmasi. Tapi kalau lagi apes, ya siap-siap aja sepi berita. Tuh kan, tetap saja wartawan mesti nunggu suara anggota Dewan.

Satu lagi kalau kerjaan wartawan menunggu adalah konfirmasi. Di media tempat aku bekerja, prosedur standar adalah selalu konfirmasi ke orang yang diberitakan. Baik itu lewat telepon, BBM atau sms. Dan harus disambangi dimanapun dia berada. Beberapa waktu terakhir, salah seorang ketua partai dihantam isu korupsi. Ketua partai ini beberapa kali menjadi headline. Aku diminta redaktur untuk konfirmasi ke rumahnya.

Sudah tiga kali aku ke rumahnya di Jakarta Timur. Di komplek militer angkatan laut. Ketiga-tiganya gagal. Jawaban penjaga rumah standar. “Bapak tidak ada di rumah, tidak tahu kapan pulang.”, “Bapak tidak bisa diganggu.”, atau “Bapak tidak mau menemui wartawan.” Berbagai usaha sudah pernah aku lakukan. Ngaku kirim paket, pura-pura nyasar hingga jujur berterus terang. Dan semuanya: GAGAL!

Pada kunjungan kedua, aku malah dikibulin sama sekali. Aku datang jam 5 sore. Penjaga rumah bilang bosnya pergi ke luar rumah sejak pagi. Aku sih mencoba bertahan dan ngajak penjaga rumah ngobrol ngalor ngidul. Jam 9 malam, ada seorang gadis keluar rumah. Pas aku tanya, dia ngaku ngajar les anak si ketua partai. Aku tanya sekali lagi, apa si Bapak ada di dalam, dia dengan polos menjawab, “Ada di dalam rumah tuh.” Asu tenan!

Begitulah rutinitas wartawan. Jadi jangan bayangkan wartawan itu tiap hari jalan-jalan ke luar daerah atau luar negeri. Justru yang lebih sering jalan-jalan itu anggota DPR. Dibayarin dan dikasih uang saku pula. Kalau wartawan ya muter-muter di dalam kota. Terutama yang liputan di pos metropolitan. Nah, yang ini juga pekerjaannya menunggu. Kecuali ada peristiwa kebakaran, demonstrasi atau pembunuhan. Paling tidak, mereka tidak lagi dalam posisi menunggu tapi mencari berita di lapangan.

Sesekali wartawan memang ikut rombongan pejabat kalau kunjungan kerja. Itu juga nggak rutin. Harus giliran atas ajakan dari instansi bersangkutan. Yang mungkin agak sering ikut keluar daerah ya wartawan istana. Ngikut bos besar, Presiden! Jadi, jangan membayangkan, wartawan sekarang itu kerjaannya jalan-jalan melulu. Beruntungnya pekerjaan ini, kita ketemu banyak orang setiap hari. Itulah kenapa wartawan yang mau belajar, wawasannya bertambah luas karena dipengaruhi perspektif banyak orang.

Soal hidup enak wartawan juga masih bisa diperdebatkan. Gaji misalnya. Hmmm. Meski tiap hari gaulnya sama pejabat, belum tentu level pendapatan sama. Suatu ketika aku baca di Kompas. Gaji penjaga pintu air di Jakarta besar mencapai Rp 2,5 juta. Sopir busway juga hampir Rp 5 juta. Tanya wartawan, berapa gaji pokoknya. Padahal, semuanya memiliki tanggung jawab terhadap banyak orang.

Kalau dua profesi pertama menyangkut nyawa, wartawan menyangkut nama baik dan juga implikasi panjang. Artinya, wartawan juga menyangkut hajat hidup orang lain. Sekali saja ditulis jelek, namanya akan busuk di tengah masyarakat. Pernah tahu kan anggota Dewan dari PKS yang kedapatan nonton film porno saat sidang DPR? Karir politiknya habis cuma gara-gara pemberitaan. Profesi ini memang berimplikasi panjang sehingga perusahaan media juga membayar dengan layak.

Begitulah, yang meriah di luar kadang memang kelam di dalam. Tulisan Anton Muhajir tentang profesi wartawan menarik juga untuk dibaca. Tapi, profesi memang bukan semata uang atau materi. Tentu saja, kepuasan kerja juga menjadi penting. Profesi hanya minta dihargai dengan layak dan cukup. Tidak perlu berlebihan. Bagi saya dan kita semua…

Iklan

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. a! said, on Januari 23, 2012 at 4:27

    maka, salutlah buat kamu yg bisa melawan ganasnya jakarta dg jadi wartawan tetap, nyot. menurutku itu bagian yg ada baiknya ditempuh jika memang pengen berkarir. kalo aku sendiri tak tertarik jadi penggede media, makanya tak merasa perlu. 😀

    • Agus Lenyot said, on Januari 23, 2012 at 4:27

      huahuahauaha, bukan mau menjadi penggede media mas, cuma pengen membangun etos kerja. cita-cita sih bukan jadi penggede media, tapi pemilik media. kalau sekarang berwirausaha sendiri, yah kayaknya terlalu muda aja jadi bos. :p

  2. pandebaik said, on Januari 25, 2012 at 4:27

    Tulisannya keren. tapi ngomong”soal Wartawan di lingkungan Pemkab, ada juga loh tipe wartawan yang nodong”… kadang mereka menawarkan porsi iklan di medianya dengan harga sepakat dan tetap ngotot meski sudah dikatakan gag ada pos anggarannya, kadang ada juga yang terang”an bilang “pak, saya blom makan siang loh…”
    Bahasa”isyarat kayak gitu lantas membuat saya kerap bertanya”ini wartawan atw pengemis sih ? he…

  3. yodhar said, on Februari 1, 2012 at 4:27

    Hai nyot, tulisan bagus. Aku dulu juga sebel liputan di PN. Nunggu lama, sidang malah batal. Belum dapat berita pula. Dooh.

  4. Jefry said, on Maret 1, 2013 at 4:27

    jika dinilai antara dulu dan sekarang kualitasnya juga berbeda jauh dan yang lebih mirisnya pengemaasan berita seakan – akan sudah seperti infotainmen yang seringkali diperbesarkan dan disorot secara membabi buta..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: