Agus Lenyot

Salah Kaprah Bahasa Indonesia

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on Januari 24, 2012

Bahasa yang terdengar lumrah kadang justru yang salah.

Baiklah, kali ini aku ingin berbagi tentang pelajaran Bahasa Indonesia. Aku termasuk orang yang menaruh perhatian lebih terhadap bahasa. Maklum, aku bekerja di sebuah media. Tahu sendiri kan, kekuatan media adalah kemampuan mengolah kata-kata. Salah satunya ya penggunaan bahasa.

Tadi pagi kebetulan dapat unggahan dari redaktur bahasa. Ada beberapa salah kaprah terkait penggunaan kata setelah kutipan, terutama bagi teman-teman jurnalis. Aku ingin sarikan dan bagi di sini. Mudah-mudahan berguna.

Kata yang sering kita pakai untuk mengakhiri kutipan adalah ujar (ujarnya), tutur (tuturnya), kata (katanya) dan ucap (ucapnya). Ini adalah kata benda. Sementara ada beberapa kata dasar non benda yang sering dipakai untuk mengakhiri kutipan. Misalnya tegas (tegasnya), terang (terangnya), jelas (jelasnya), beber (bebernya), pungkas (pungkasnya), dan tutup (tutupnya). Akhiran kutipan yang berasal dari kata non benda ini tidak dipakai di media tempatku bekerja.

Salah seorang redaktur bahasa menyatakan, bentukan kata ujar, ucapnya, tuturnya merupakan padanan dari kata dia berujar, dia berucap dan dia bertutur. Bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk salah kaprah seperti terangnya, pungkasnya, tutupnya, tegasnya, bebernya, jelasnya, lanjutnya, tambahnya dan paparnya. Sebab, tidak ada bentukan kata seperti ini: dia berterang, dia berpungkas, dia bertututp, dia bertegas, dia berbeber, dia berjelas, dia berlanjut, dia bertambah dan dia berpapar (masuk akal :p).

Agar menjadi ejaan yang benar sebaiknya untuk kata-kata yang salah kaprah itu dijadikan kalimat aktif. Misalnya, dia memungkasi, dia menerangkan, dia menegaskan atau dia menegaskan. Oia, salah satu akhir kutipan yang lumayan sering disalahgunakan adalah ungkapnya. Bahasa Indonesia tidak mengenal kata dia berungkap atau dia mengungkap. Bahasa Indonesia mengenal kata, dia mengungkapkan.

Ada cara mudah untuk mengetahui sebuah kata masuk kata benda atau tidak. Jika bisa didahului dengan kata β€œtidak” maka kata itu tidak bisa dikategorikan sebagai kata benda. Misalnya, tuntas, pungkas, tegas, jelas, terang dan tandas (tidak tuntas, tidak pungkas, tidak tegas, tidak jelas, tidak terang dan tidak tandas). Artinya, kata-kata itu bukanlah kata benda.

Aku juga termasuk sering memperhatikan tanda pagar #bahasa akun @antonemus di twitter. Pemilik akun ini merupakan wartawan lepas di Bali sekaligus pengelola portal jurnalisme warga di Bali. Dari tanda pagar ini kita akan sering menemukan beberapa kata lumrah yang ternyata salah kaprah.

Aku sebut saja, carut marut yang seharusnya karut marut, tolak ukur yang harusnya tolok ukur, jaman seharusnya zaman, dan aktifitas seharusnya aktivitas. Kata dasar yang berakhiran huruf f jika mendapat akhiran akan berubah menjadi v, misalnya kreativitas dan sportivitas. Banyak orang menulis tidak bergeming untuk menyebut tidak bergerak. Padahal makna kata geming itu adalah diam saja alias tidak bergerak. Atau misalnya kata acuh yang artinya peduli. Orang sering mengatakan tak acuh untuk menyatakan dia peduli.

Yang juga sering salah pakai adalah pedestrian. Banyak dari kita, termasuk media memakai kata ini untuk merujuk pada tempat orang berjalan kaki. Padahal, kata ini artinya pejalan kaki. Sementara jalurnya disebut pedestrianline, sidewalk. Dalam bahasa disebut trotoar.

Yang agak mutakhir adalah penggunaan kata linimasa untuk mengganti timeline atau kicau untuk tweet. Bisa jadi karena Indonesia merupakan negara dengan lalu lintas kicauan terbesar di dunia sehingga mesti segera dicari padanannya. Selain itu, ada juga istilah sabak sebagai pengganti tablet (perangkat elektronik). Maklum, tablet juga digunakan untuk merujuk istilah obat-obatan berbentuk pil. Barangkali ada kawan yang mau berbagi tentang penggunaan bahasa yang sering salah kaprah?

Begitulah, aku pikir bahasa Indonesia memang bahasa yang asyik. Jauh lebih keren daripada Bahasa Melayu. Tak heran, perkawanan bahasa Indonesia sangat luas, tak hanya dengan bahasa asing. Dia bergaul dengan 700an bahasa daerah yang amat variatif. Jelas saja, serapan kata-kata baru juga amat beragam dan dinamis.

Kita, sebagai generasi muda, tak perlu malu berbahasa Indonesia. Aku sendiri tidak anti bahasa asing. Bahkan aku mempelajarinya juga
sebagai bagian dari komunitas global, termasuk pernah kursus dengan biaya mahal. Tetapi jika memang bersiap sebagai bangsa yang besar dan disegani, buatlah orang asing yang tertarik dengan bahasa kita. Jangan hanya kita yang bayar jutaan rupiah untuk belajar bahasa asing.

Tidak selamanya kan kita mau dijajah?

Iklan

25 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kadekdoi said, on Januari 24, 2012 at 4:27

    kalo ibuk ku baca ini, pasti dia suka bgt πŸ™‚

  2. a! said, on Januari 25, 2012 at 4:27

    hanya satu kata, TOP!

    ada beberapa “kata” yg justru aku baru tahu. begitu pula dengan penggunaannya. kita memang terbiasa menggunakan kata-kata yg sudah biasa tapi kadang sebenarnya kita tak tahu benar apa maknanya. begitu dicek, eh, trnyata beda makna.

    mungkin kita bisa saling bahu membahu (tsah!) agar kita tak semakin keliru. mari lanjutkan. πŸ˜€

    *menjura untuk lenyot yg semakin aduhai..

    • Agus Lenyot said, on Februari 5, 2012 at 4:27

      Masih ada perbedaan pemahaman mas kalau soal lumrah dan tidak. Kata beberapa orang, bahasa kan soal kesepakatan-kesepakatan, kalau misalnya yang salah diterima oleh banyak orang, bukankah itu yang pada akhirnya menjadi benar :p

  3. mu said, on Januari 25, 2012 at 4:27

    mendarat!!
    akhirnya baca juga blognya bli Wayan,hahaha…
    eniwei, mentang2 dah dapet ceramah khusus langsung ditulis aje nih soal yg satu ini,buahaha…

    anak yg rajin (nulis blog). lanjutgan!

    • Agus Lenyot said, on Februari 5, 2012 at 4:27

      Rajin nulis blog tapi nggak rajin nulis berita. πŸ˜€

  4. Cahya said, on Januari 25, 2012 at 4:27

    Salah kaprah itu diterima umum, yang protes ya yang tidak umum, lha? :lol:.

    • Agus Lenyot said, on Februari 5, 2012 at 4:27

      Barangkali ini titik perdebatannya, kita akan pakai yang sudah disepakati bersama-sama atau yang memang benar tapi belum tersosialisasi? πŸ™‚

  5. rioseto said, on Januari 28, 2012 at 4:27

    susyahnya orang jawa barat, tulisan ‘v’ dan ‘f’ dilafalkan ‘p’ dan sebaliknya.. he.he, anehnya menyebut skuter ‘vespa’ bisa dia! πŸ˜€

    • Agus Lenyot said, on Februari 5, 2012 at 4:27

      Saya yang bukan orang Sunda aja sering salah mas πŸ™‚

  6. Ni Made Sri Andani said, on Januari 29, 2012 at 4:27

    thanks pencerahannya, Gus..

  7. Agung Pushandaka said, on Januari 30, 2012 at 4:27

    Bahasa, yang salah menjadi (seperti) benar karena jamak digunakan dalam keseharian. Bukan begitu? πŸ™‚

  8. aprian said, on Januari 30, 2012 at 4:27

    Harusnya ini masuk dalam pelajaran bahasa indonesia. Eh atau sudah masuk ya? πŸ˜€

  9. kishandono said, on Januari 30, 2012 at 4:27

    Terima kasih atas pelajarannya mas (kalimat ini sudah benar atau belum ya?)

    • Agus Lenyot said, on Februari 5, 2012 at 4:27

      Sama-sama. Sesuai EYD sih kurang titik mas πŸ˜€

  10. pandebaik said, on Februari 5, 2012 at 4:27

    Saya termasuk salah satu yang suka dengan pelajaran kosa katanya om Antonemus, dan yang paling menarik itu pas ybs menjelaskan soal Carut Marut itu.
    Btw, ada juga yang jujur saja saya baru tau bahwa tak acuh bukannya tak peduli… dan tak bergeming itu bukannya diam. hahaha…

    Lanjut lagi Gus, mantap benar tulisanmu

    • Agus Lenyot said, on Februari 5, 2012 at 4:27

      Makasi Bli. Aku juga pemantau rubrik-rubrik bahasa dan belajar banyak dari sana meski masih sering kepleset juga πŸ˜€

  11. mas stein said, on Februari 8, 2012 at 4:27

    terima kasih ilmunya mas, terutama yang penggunaan kata setelah kutipan

  12. awitara said, on April 6, 2012 at 4:27

    setelah kutipan seringkali saya pusing memilih. tenyata seperti itu. ulsan yang lain seharusnya terus dituliskan dalam blog ini. πŸ˜‰

  13. Dirgahayu « transkrip said, on April 9, 2012 at 4:27

    […] peduli. Padahal kata acuh itu memiliki arti peduli. Ini, ada tautan yang bisa jadi referensi. Buka di sini dan di […]

  14. Fibri Santosa said, on Juli 1, 2012 at 4:27

    Kta ‘bergeming’ kayakx juga sering disalahgunakan/disalahartikan…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: