Agus Lenyot

Pacaran dan Perbedaan Itu

Posted in Kata-kata Kita by Wayan Agus Purnomo on Februari 4, 2012

Kita berada di titik yang berlawanan dan mencoba bertemu di tengah-tengah.

Seorang kawan lama datang bercerita. Dia berkata begini: sepemahamanku, kebanyakan perempuan ketika bertemu laki-laki, sejak sepuluh menit pertama dia sudah tahu laki-laki itu akan jadi pacarnya atau tidak.

Kawan ini perempuan. Seperti kaum ini pada umumnya, dia misterius. Susah ditebak. Tentu saja ini pandangan laki-laki. Isi kepala perempuan susah diketahui. Sampai dia mengatakannya. Sedihnya, apa yang dikatakan belum tentu terucap dengan kejujuran yang sempurna.

Perempuan itu rumit. Seperti sodoku, perempuan senang ditebak. Dikira-kira. Dan sedikit puja-puja. Bagi mereka itu tanda perhatian. Tugas laki-laki adalah menyodorkan pilihan dan perempuan tinggal memilih. Lalu lelaki dipaksa berandai-andai. Perempuan selalu senang jika laki-laki penasaran pada dirinya. Itu, kata temanku yang lain. Perempuan juga. Lucunya, kami, kaum laki-laki adalah petualang yang senang memecahkan teka-teki. Laki-laki memang selalu punya naluri untuk menaklukan. Ini kataku.

Saat ini, aku sedang membaca buku lama, Men are from Mars and Women are from Venus. Buku ini sudah lama kudengar, tapi baru kali ini aku membacanya langsung. Aku mendapatkannya di tumpukan buku bekas di Blok M Square. Buku karya John Gray ini menarik.

Buku ini banyak menceritakan tentang perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Entah cara memandang sesuatu, memikirkan hal tertentu atau menyelesaikan persoalan. Sederhananya: laki-laki dan perempuan diciptakan berbeda. Selalu berbeda dan memangh akan berbeda. Karena itu, dia diciptakan untuk menjadi berpasangan. Tujuannya untuk saling melengkapi.

Karena itulah, buatku perbedaan itu sesuatu yang indah. Katakanlah ketika kita bicara tentang tipikal laki-laki dan perempuan. Misalnya, tentang sudut pandang. Bagi sebagian perempuan, laki-laki yang romantis itu adalah puitis, bisa main gitar, wajah menawan dan bernyanyi dengan sempurna.

Sebagian perempuan memandang lelaki sejati itu adalah yang tegap, berwibawa, dan kebapakan. Ada pula yang suka dengan yang manja, lembut dan melankolis. Namun ada juga yang menyukai laki-laki yang urakan, santai dan bertenaga. Kombinasi ini tidak statis. Mungkin saja, ada beberapa laki-laki yang memiliki sisi ini bersama-sama.

Laki-laki juga juga begitu. Ada yang suka perempuan anggun, lembut dan keibuan. Tapi tak sedikit yang suka perempuan agresif, liar dan sedikit nakal. Begitulah, keberagaman itu selalu menyediakan pilihan. Tetapi pada dasarnya, semua orang menyenangi sesuatu yang cantik atau ganteng. Istilahnya first impression. Tidak mutlak, tapi lumayan menentukan. Tapi yang harus diingat, sejelek apapun kita, selalu ada peluang untuk mendapatkan pasangan. Berita baik buat kaum jomblo 🙂

Pacaran itu bagiku bukan untuk menyatukan perbedaan dua jenis manusia ini. Sama sekali tidak. Pacaran itu adalah harmonisasi dua sifat yang berlawanan. Seperti nada gitar, bas, piano dan drum. Jika semua bermain gitar tentu tidak terlalu indah, kan. Tetapi jika perbedaan bunyi itu digabung jadi satu, dengan nada, tempo dan irama yang selaras, perbedaan itu akan terlihat dan terdengar menyentuh.

Perbedaan itu tidak perlu dipaksakan, apalagi dipaksakan menjadi sama. Iya, biarkan saja dia ada, dan kita bertanya seberapa tenggang kita terhadapnya. Tidak selalu bertabrakan, tetapi juga selalu sama rata. Tetapi menjadi indah dipadu padankan.

Aku pernah mikir, laki-laki dan perempuan yang terlalu banyak persamaan justru tidak pas untuk pacaran apalagi nikah. Lebih baik mereka bersahabat. Teman sejati sampai mati. Tapi pilihan ini mungkin tidak diambil oleh sebagian besar orang. Ada yang motivasi pacarannya aman-aman saja. Salah satunya ya tidak berani mengambil risiko untuk menenggang perbedaan. Tak salah. Itu pilihan.

Semakin banyak perbedaan yang berhasil kita tenggang, makin banyak pula pengetahuan yang bisa kita tukar. Peluang untuk berbagi juga semakin tinggi. Kita bisa tertarik dengan topik pasangan meski itu bukan minat kita. Pacar senang SM*SH kita senang The Beatles. Kasus ini mah karena perbedaan umur dan latar belakang. Kasus ini banyak dalam berbagai jenis. Tapi betapa menariknya jika dengan perbedaan itu kita tetap sejiwa. Kalau dengan berbeda kita bisa nyaman, apalagi dengan persaman-persaman yang kita punya. Tsaaah.

Begitulah, pacaran dan pernikahan itu bukan hasil akhir. Keduanya adalah proses menuju titik keseimbangan karena perbedaan pun tak akan pernah berakhir. Seperti naik ayunan. Kita berjalan pelan ke tengah menuju titik keseimbangan. Sampai kita menyadari kehilangan sesuatu yang berharga…

Iklan

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. pandebaik said, on Februari 5, 2012 at 4:27

    Saya baru tahu bahwa kami begitu banyak memiliki perbedaan saat sudah melewati yang namanya pernikahan. Tapi tidak ada rasa menyesal dengan semua itu, karena bagaimanapun juga seperti katamu diatas, ada banyak hal yang bisa dibagi dan perlu dipahami. Saya penyuka Gadget dan lebih betah duduk manis didepan laptop, sedang istri seorang penyuka keluarga dan lebih betah duduk mendampingi atau bahkan bekerja…

    Yang dibutuhkan dalam setiap hubungan hanyalah satu persamaan. Cinta pada pasangan…

    • Agus Lenyot said, on Februari 5, 2012 at 4:27

      Hihihihi, Bli Pande harus berbagi nih soal menjaga hubungan. Atau sudah ada tulisan tentang tips-tips itu?

      • imadewira said, on Februari 21, 2012 at 4:27

        Setuju, ayo jangan nulis gadget aja bli, tulis tips menjaga keharmonisan keluarga juga, hehehe..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: