Agus Lenyot

Ketika Wartawan Harus Diatur

Posted in Jurnalisme, Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on Februari 14, 2012

Daripada mengurus dirinya, DPR lebih pusing atur orang lain.

Inilah yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat kita. Ceritanya begini: Badan Urusan Rumah Tangga, alat kelengkapan yang ngurus kebutuhan anggota Dewan bersama pimpinan DPR mengeluarkan peraturan tentang tata tertib wartawan. Namanya, Rancangan Peraturan DPR tentang Tata Tertib Peliputan Pers pada Kegiatan DPR. Keren memang. Tapi substansinya? Nanti dulu.

Wartawan di DPR bolehlah dikatakan bandel. Nyaris setiap tindak tanduk anggota Dewan tak lepas dari sorotan, termasuk kebijakan yang dirasa nyeleneh. Paling sering disorot misalnya soal mangkir sidang paripurna. Ini sudah terlalu sering sehingga anggota Dewan menjadi kebal. Yang lain misalnya ketika salah seorang anggota DPR kepergok nonton video porno.

Karena malu, dia pun mengundurkan diri sebagai anggota Dewan. Risiko yang tentu saja tidak ringan. Lain lagi ada pembangunan gedung DPR, renovasi ruang Banggar dan sederet kelakuan miring yang kerap dikritik wartawan. Pernah pula seorang anggota Dewan yang ketahuan berkunjung ke panti pijat. Apakah tujuannya murni melemaskan otos atau melemaskan yang lain, siapa yang tahu. Rasanya ini sudah cukup alasan bagi Dewan yang terhormat untuk tidak menyukai pekerja media.

Gerah? Pasti. Barangkali inilah yang menjadi alasan keluarnya tata tertib ini. Pimpinan Dewan memang membantah aturan ini akan membatasi gerak-gerik wartawan. Tapi siapa yang bisa berpikir positif jika keluarnya aturan ini nyaris bersamaan dengan gencarnya kritik kepada lembaga wakil rakyat ini?

Wartawan perlu diatur? Iya aku sepakat. Namun peraturan tentang wartawan sudah tertuang dalam kode etik jurnalistik. Setiap organisasi profesi sudah mengatur anggotanya meskipun harus diakui tetap saja banyak yang nakal. Tetapi mengatur bagaimana wartawan bersikap dalam peliputan, tentu bukan sebuah langkah yang elok juga. Apalagi kalau yang mengatur adalah lembaga yang penuh sasaran kritik.

Okelah aku sepakat di Dewan memang banyak wartawan yang tidak jelas medianya apa. Banyak yang mengaku wartawan tetapi nyatanya memeras narasumber. Kata seorang pimpinan BURT, ini menjadi alasan kenapa wartawan mesti ditertibkan. Menurutku tidak. Kode etik jurnalistik sudah mengatur bagaimana menghadapi wartawan yang memeras narasumber. Laporkan saja ke Dewan Pers!

Baiklah, banyak yang lucu dan menggelikan soal peraturan dan tata tertib tentang peliputan ini. Aku tidak akan uraikan seluruh pasal. Aku akan sarikan bagian yang menurutku penting dan wajib dikritisi. Salah satu aturan yang merepotkan dalam rancangan ini adalah kewajiban untuk memiliki Kartu Peliputan yang dikeluarkan oleh Sekretariat Jenderal. Bagiku klausul ini masih bisa diperdebatkan.

Wartawan yang meliput di DPR itu lintas kompartemen. Ada politik, hukum, ekonomi hingga kesejahteraan rakyat. Artinya, wartawan yang datang ke DPR tidak melulu akan orang yang sama setiap hari. Misalnya kementerian A akan mengadakan rapat kerja dengan Komisi B. biasanya, wartawan yang ngepos di kementerian A akan ikut meliput di DPR.

Tidakkah ini akan merepotkan wartawan dan Sekretariat Dewan itu sendiri? Tetapi yang paling lucu dari Kartu Peliputan ini adalah adanya surat pernyataan mengenai penghasilan sebagai wartawan di atas materai. Relevansi dan urgensinya apa? Konyol.

Ketentuan lain yang membingungkan adalah larangan penggunaan telepon saat rapat berlangsung. Padahal kita tahu sendiri, sebagian wartawan mengandalkan telepon genggam untuk merekam pernyataan narasumber, mengetik hingga mengirim berita. Bisa dibayangkan betapa repotnya wartawan jika ketentuan ini benar-benar diterapkan?

Ada juga aturan mengenai larangan melakukan siaran langsung karena bisa mengganggu rapat. What? Padahal selama ini, siaran langsung menjadi penting untuk melaporkan secara cepat isu-isu yang ada di DPR. Okelah, mungkin perlu diatur mengenai bagaimana teknis agar laporan langsung ini tidak mengganggu jalannya rapat. Kalau yang itu, aku sepakat. Tetapi jangalah melarang secara utuh. Ini juga bukan langkah yang bijak.

Salah satu kebiasaan wartawan sembari menunggu rapat adalah duduk lesehan di lantai. Nah, dalam peraturan disebutkan wartawan diharuskan duduk di tempat yang sudah disediakan. Bayanganku sih, wartawan mesti duduk rapi jail di balkon lantai dua.

Aku punya pengalaman, ketika duduk di balkon, banyak narasumber yang kabur begitu rapat usai. Apalagi narasumber yang terlibat suatu kasus atau perkara. Mereka kerap main kucing-kucingan. Wartawan mesti turun lewat tangga dan begitu sampai di ruangan, narasumber sudah bubar jalan. Repot? Pasti. Redaktur ngomel-ngomel. Hematku, biarkan saja wartawan duduk di lantai, tetapi diatur agar tidak mengganggu jalannya acara di Dewan.

Aturan lain yang terkesan lucu adalah mengenai persiapan peralatan liputan. Wartawan televisi diwajibkan harus sudah siap tiga jam sebelum sidang dimulai. Ini konyol. Pengalamanku meliput sidang di Dewan, nyaris tidak pernah ada sidang yang dimulai tepat waktu. Tidak pernah. Semuanya molor. Entah karena memang disengaja, yang pasti molornya ini seolah-olah dimaklumi dan dianggap bukan persoalan. Menjadi ironis ketika DPR mengharuskan wartawan menyiapkan peralatan jauh sebelum sidang yang pasti molor. Konyol kan?

Begitulah. Aku merasa anggota Dewan kelewat gerah dengan perilaku wartawan. Tapi secara tidak sadar mereka sedang membangun perang secara terbuka. Aturan ini seharusnya tidak perlu dikeluarkan. Buat saja aturan general yang harus ditaati oleh tamu atau pengunjung di Kompleks Parlemen. Jalankan aturan itu dan tindak tegas yang melanggar. Mudah kan? Tetapi mari kita lihat sampai sejauh mana bola ini akan bergulir…

Iklan

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. awitara said, on April 6, 2012 at 4:27

    otokritik yang bagus. baru belajar jadi jurnalis, semoga dituliskan tips2 untuk menjadi pewarta yang memiliki mental yang bagus. 🙂

    salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: