Agus Lenyot

Kecewa dengan Produk Blackberry dan Berryndo

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on April 22, 2012

Tanggal 15 Oktober tahun lalu aku membeli Blackberry 9700 alias Onyx di Berry Solution, Roxy. Garansi resmi selama 2 tahun dari Berryndo. Pilihanku untuk membeli Blackberry bukan karena gaya-gayaan. Tapi memang, hampir sebagian besar koneksi saya memakai Blackberry. Pilihanku terhadap tipe ini sederhana saja, keypadnya nyaman dipakai. Berbeda dengan tipe Curve dan Gemini, yang menurutku, sangat keras dan tidak saat dipakai untuk mengetik.

Sebulan setelah membeli produk ini semua berjalan baik-baik saja. Fitur yang paling sering aku gunakan tentu saja push email. Layanan ini menjadi salah satu alasan utama kenapa akhirnya aku memilih untuk menggunakan Blackberry. Tempatku bekerja mengharuskan mobilitas tinggi lewat layanan surat elektronik. Aku sungguh terbantu dengan keunggulan layanan push email ini.

Sejak membeli Blackberry ini, aku juga langgana internet full service XL Axiata. Sering hilang sinyal, bahkan suatu kali pernah tiba-tiba koneksi BIS terputus tanpa sebab. Dengan paket full service aku sebenarnya bisa menggunakan dengan Blackberry ini dengan maksimal. Tapi ya itu, kadang waktu untuk mengoperasikan Blackberry ini sangat kurang.

Fitur utama jualan produk ini, Blackberry Messenger justru malah jarang aku gunakan. Tidak seperti orang yang senang ngobrol lewat BBM, aku termasuk jarang menggunakan fasilitas ini. Aku nyaris tidak pernah ngobrol berpanjang-panjang dengan fasilitas ini. Paling kalau BBM, aku ngobrol dengan redaktur dan kawan. Itupun jika sedang ada perlu. Sejak membeli, aku juga belum pernah melakukan broadcast message. Sederhananya, aku menggunakan Blackberry ini untuk pekerjaan.

Oia, selain email, aku juga menggunakan fasilitas ini browsing sebagai pilihan utama. Maklum, pekerjaanku mengharuskan selalu terhubung dengan dunia internet setiap saat. Fasilitas lain yang sering aku gunakan pada Blackberry yang aku miliki adalah Ubersocial dan Twitter for Blackberry. Jadi, kalau diurutkan berdasarkan prioritas, maka urutan penggunaan Blackberry ini adalah push email, browsing, twitteran terakhir BBM-an.

Namun kenyamanan ini mulai terganggu sejak memasuki bulan ketiga. Blackberry ini mulai rewel. Masalah pertama yang muncul adalah kamera yang tidak bisa dipakai. Meski aku bukan orang narsis, tetap saja kamera ponsel kubutuhkan sewaktu-waktu. Apalagi ini barang baru, aku merasa berhak mendapatkan pelayanan baik dan produk terbaik. Aku merasa sudah bayar mahal untuk membeli produk ini.

Akhirnya aku membawa ponsel ini ke Berryndo, di Roxy. Mereka menjanjikan, service paling cepat selama lima hari dan paling lambat tiga minggu. Oke, aku terima. Toh ini demi kebaikan ponselku juga walaupun aku harus kehilangan efisiensi layanan push email. Tak sampai dua minggu, ponselku berhasil diperbaiki. Kamera kembali normal.

Nah, sejak inilah ponsel ini mulai bermasalah. Sekitar pertengahan Januari, ponselku tiba-tiba mati mendadak. Tidak tahu sebabnya apa. Pokoknya mati mendadak. Aku sudah cari-cari cara lewat google untuk menghidupkan dan ternyata tidak menemukan hasil. Akhirnya dengan terpaksa aku kembali membawa ponsel ini ke Berryndo di Roxy. Kembali aku menjalani prosedur yang sama. Disuruh menunggu paling cepat lima hari dan paling lama tiga minggu.

Oke, karena masih mendapatkan garansi, aku merelakan ponselku kembali di rawat inap. Setelah dirawat inap selama dua minggu, ponsel ini kembali normal. Sejak saat ini, aku sangat hati-hati memperlakukan ponselku. Sayangnya, mereka, pihak Berryndo tidak pernah memberikan penjelasan mengapa ponselku sering rusak. Apakah karena kesalahan pabrikan atau karena kesalahan pemakaian.

Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini: aku merasa teknisi Berryndo tidak becus melakukan service. Aku berpikir, ketika ada kerusakan seharusnya semua diperbaiki secara normal. Tapi entah, kenapa sejak diperbaiki pertama kali, Blackberryku menjadi penyakitan. Aku tidak ingin menuduh. Tapi aku curiga, teknisi Berryndo tidak kapabilitas memperbaiki. Blackberry yang aku beli menjadi contoh kuat.

Kecurigaanku semakin menguat ketika tiba-tiba LCD menjadi blur. Brengsek. Ini akan menjadi ketiga kalinya ponsel ini diservice. Suatu periode yang lumayan sering untuk sebuah ponsel yang berumur enam bulan. Dengan dongkol, aku kembali membawa Blackberryku ke pusat service di Roxy. Kembali aku menjalani prosedur yang sama. Disuruh menunggu paling cepat selama lima hari dan paling lama tiga minggu.

Untuk masalah ini, ponselku diperbaiki lumayan cepat, ‘hanya’ lima hari. Tapi yang membuat kecurigaanku bahwa teknisi Berryndo tidak becus, tidak memiliki kapabilitas dan amatiran adalah pemasangan LCD ponsel. Aku awalnya tidak menaruh curig, tetapi setelah membandingkan dengan ponsel lain, ada celah menganga yang lumayan mengganggu pada pemasangan LCD. Karena aku memerlukan ponsel ini dengan segera, aku mengabaikan ‘cacat’ ini. Ponsel ini bisa beroperasi dengan normal.

Tetapi masalah pada ponsel ini ternyata belum berhenti. Kurang lebih dua minggu setelah kerusakan terakhir, ponselku kembali mati total hari ini. Tanpa sebab, tiba-tiba saja dia mati. Sebenarnya aku sudah bosan memperbaiki handphone ini. Tapi karena memerlukannya, aku masih tetap bersabar untuk memakainya. Nanti kalau ada kesempatan libur, aku kembali menjalani proses yang sama. Disuruh menunggu selama paling cepat lima hari dan paling lama tiga minggu.

Ada banyak kerugian yang aku alami. Pertama, aku rugi waktu dan tenaga. Kalian tahu Jakarta kan? Kemacetan dan waktu yang dibutuhkan untuk bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain. Rumahku di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Roxy ada di Jakarta Pusat. Paling tidak butuh waktu selama hampir 2 jam untuk mencapai lokasi ini. Itupun jika tidak macet.

Kedua, aku rugi materi. Datang ke Roxy perlu uang. Minimal untuk angkutan umum. Belum lagi dengan paket Blackberry full service yang aku pakai. Jika ditotal, aku sudah kehilangan waktu selama 33 hari pemakaian. Jika dikalkulasikan, artinya aku sudah kehilangan satu bulan waktu berlangganan senilai hampir Rp 100 ribu.

Ketiga, aku rugi di garansi. Semakin banyak waktu yang dipakai untuk menginap, waktu garansi semakin berkurang. Jika sebelumnya aku dijamin dengan garansi selama 24 bulan, maka ini sudah berkurang 33 hari bukan?

Sebenarnya kecewa. Tapi apa mau dikata, inilah nasib konsumen Indonesia. Untuk membeli ponsel baru aku tak punya uang. Sementara di kartu garansi, tidak ada opsi penggantian baru. Artinya, memang pelanggan Berryndo diwajibkan siap-siap untuk kehilangan waktu, tenaga dan materi.

Iklan

13 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Dian Purnama said, on April 22, 2012 at 4:27

    Uhm…. memang sih kalo gadget sudah pernah diperbaiki sekali aja, rentan banget rusak lagi. Entah kenapa ya… apa memang para teknisinya ngga capable.

    • cara mengobati jantung koroner said, on Mei 1, 2012 at 4:27

      bener banget, penyakitnya kaya suka kambuh gitu…

    • anang said, on Juli 4, 2012 at 4:27

      Pernah ke roxy garansi BB, ternyata gugur karena kesalahan pengguna, harus sedia pergantian LCD 350.000 sama Mainboard 900.000, lebih baik cancel, ternya aku coba kutik sendiri belikan LCD hanya dengan 180 ribu sudah OK, teknisnya gimana tuh roxy…

  2. Cahya said, on Mei 6, 2012 at 4:27

    Kalau dari RIM saya dengar malah tidak memberikan garansi resmi lebih lama dari 3 bulan. Kalau garansi 24 bulan katanya datang dari distributor, makanya mereka jual mahal untuk menutupi penggantian komponen BB yang memang cepat rusak. #gosip.

  3. dila said, on Agustus 24, 2012 at 4:27

    Percaya atau tidak…saya punya 4 BB, dua non garansi (javelin n onyx2), dua garansi TAM (bold n monza)… Justru yg non garansi yg awet..yg garansi malah penyakitan…itu artinya apa?…hhhahahaha… :)). *nyesel lengserin keanak yg non garansi..:p

  4. Jefry said, on Desember 25, 2012 at 4:27

    Sebagai konsumen kita harus pandai2 meneliti apa yang akan kita beli agar tidak merugi di nanti2..

  5. wayan coeklexz said, on April 12, 2013 at 4:27

    ternyata bb kebanyakan kamera yg bermasalah

  6. pandebaik said, on Juni 17, 2013 at 4:27

    Satu lagi pelajaran yang berharga… *syukur blom pernah nyentuh BB :p

  7. nothing said, on Juli 24, 2013 at 4:27

    aku cs service centre blackberry,,pengalaman saya kerja sihh terkadang user juga yang rese hp jatuh gak mau ngaku,,ngotot2 pengen garansi biar ga kena biaya #fakta

    • nothing juga said, on Oktober 24, 2013 at 4:27

      csnya ngga becus lebih banyak… oknum pelanggan yang seperti ini hampir bisa dihitung jari. Setiap berganti CS, omongannya beda… kalo dipikir, nyesel banget udah beli BB… Kecewa Berat! Setuju kalo dibilang BB, Blakberry BURENGSEK!!!

  8. android canggih said, on Oktober 12, 2013 at 4:27

    Android memang canggih…serasa memiliki komputer versi mini, semuanya ada, semua hal bisa dilakukan. I love android.

  9. arie serion said, on Februari 2, 2014 at 4:27

    aq jg kcewa bgt sma bb yg aq belli, ,,mnding beli Android dri pda bb

  10. Ridho said, on Juli 16, 2014 at 4:27

    Sma kawan,q juga nyesel banget sumpah,q do’ain semoga perusahaan bbnya lenyap dari muka bumi

    Jual nama tinggi doang kualitas bawah 😢😡😬


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: