Agus Lenyot

Apa Agamamu?

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Mei 5, 2012

Suatu ketika, seusai liputan di sebuah hotel. Seorang kawan baru, bertanya.

“Asli Bali, Yan?”

Yan, adalah kependekan dari Wayan. Aku sengaja memakai nama ini di Jakarta. Bukan bermaksud primordial, tapi nama ini membuatku lebih gampang diingat.

“Iya.”

“Hindu dong?” Temanku bertanya.

Aku terdiam sejenak. Aku tidak tertarik untuk ngomongin agama. Apalagi untuk seseorang yang baru berkenalan 15 menit yang lalu.

“Kalau di KTP sih Hindu.” Aku menjawab. Temanku bengong. Tidak ada penjelasan apa-apa lagi.

Iya, di KTP sih agamaku memang Hindu. Di rumah juga aku masih beragama Hindu, termasuk melakukan ritual-ritual ala Hindu. Hindu Bali tentu saja. Tapi, ketika jauh dari rumah, aku nyaris tidak pernah sembahyang ala Hindu.

Tidak mudah memang menjelaskan bagaimana relasiku dengan agama. Barangkali aku Hindu. Tapi bukan Hindu yang taat. Kadar kehinduanku nggak tinggi-tinggi amat. Aku tidak tahu kenapa. Sembahyang jarang. Ke pura, selama di Jakarta juga tidak pernah. Aku punya cara sendiri untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.

Suatu ketika, seorang pejabat di suatu kementerian bertanya begini, “Wayan masih ke Pura kan?” Aku hanya cengar-cengir.

Aku tidak peduli orang rajin sembahyang atau tidak. Aku juga tidak peduli ada suara azan keras-keras. Oia, sekadar informasi, rumah kosku, yang terletak di lantai dua, saat ini persis di depan sebuah masjid. Corong speaker, aku pernah mengeceknya dengan datang ke masjidnya langsung, persis mengarah ke kamarku. Suara azan terdengar keras. Terganggu? Aku memilih tidak peduli.

Kosku sebelumnya, bersebelahan dengan gereja. Sebuah gereja kecil memang. Tidak banyak. Jemaatnya puluhan. Setiap Sabtu, nyaris selalu ada latihan persiapan untuk kebaktian Minggu. Suara musik memang tidak keras. Sayup-sayup saja. Tapi ketika hari Minggu, suara musiknya lumayan keras. Kenapa aku bilang lumayan? Karena mampu membangunkanku dari tidur. Aku berpikir positif saja. Artinya aku disuruh bangun lebih pagi. Terganggu? Sekali lagi, aku memilih tidak peduli.

Lalu apa arti agama buatku?

Aku tidak pernah meribetkan urusan agama. Santai saja. Tuhan mungkin menciptakan kitab suci sebagai panduan untuk mencari-Nya. Tapi kalau kita punya panduan dan keyakinan yang berbeda, kenapa tidak? Toh kalau tujuan kita sama, berbeda cara tak kenapa. Aku sering mengejek begini kepada orang yang fanatik beragama, “Tuhanku nyantai kok. Tuhan sampeyan aja yang ribet.”

Seisi rumah sudah tahu bagaimana liberalnya aku. Termasuk urusan Tuhan. Seperti aku bilang, kalau di rumah, aku masih sembahyang ala Hindu. Termasuk ke pura. Tujuanku bukan untuk bertemu dengan Tuhan (seperti aku bilang di awal, aku bisa mencapai Tuhanku dengan cara apa saja dan kapan saja). Tetapi biar nenekku nggak ngomel. Aku tidak ingin menyakiti hatinya. Maklum, orang tua selalu cerewet untuk urusan ini. Daripada bikin ribut, aku memilih untuk mematuhi perintahnya untuk sembahyang. Hitung-hitung, aku menyenangkan orang yang aku sayang. Bukankah itu esensi beragama? Toh aku juga melakukannya tidak dengan terpaksa.

Di pura, atau sanggah (pura keluarga), aku merasa damai. Aku punya waktu untuk merenung. Makanya, aku tidak terlalu suka datang ke pura yang ramai, berdesak-desakan lalu ujung-ujungnya ngomel. Lha, apa makna sembahyang kalau seperti itu? Buatku, datang ke pura adalah untuk menemukan ketenangan dan kejernihan pikiran. Dan aku mendapatkan ini tidak hanya dengan ke pura. Mendengarkan lagu juga bisa mendatangkan ketenangan dan kejernihan berpikir. Tidak ada bedanya kan?

Selain itu, aku tidak percaya ada kaitan agama dengan surga. Aku bukan orang yang percaya-percaya amat dengan surga. Aku sering berpikir,apakah ada kehidupan setelah mati. Apa iya ada? Sampai sekarang, tidak ada yang bisa membuktikannya. Aku memilih menjaga jarak.

Makanya, aku selalu lucu dengan orang yang beragama dengan iming-iming surga. Lalu kalau berbuat jahat masuk neraka. Menurutku logika ini aneh. Lagian, kita juga tidak tahu seperti apa wujud surga. Ada nggak transportasi publik di sana? Kalau keman-mana jalan kaki, capek cui. Iya kalau surga besarnya sekelurahan. Kalau besarnya sebumi? Repot kan. Lalu, kalau surga kayak minimarket atau mal, bolehlah aku tertarik. Pengen apa-apa selalu ada. Kalau surga cuma hamparan tanah kosong, apa iya kita sanggup bertahan? Jangan-jangan kita malah mengutuk surga. Lha, mau ngapain di surga?

Menurutku, kita berbuat baik, karena berbuat baik itu menyenangkan. Kita membantu orang, karena dibantu saat susah itu meringankan. Sederhana kan? Kita diajari tidak berbuat jahat agar orang tidak berbuat jahat kepada kita. Aku lebih memilih percaya pada hukum karma. Hukum karma itu ajaran agama? Oh no. Itu sesuatu yang bisa dirasakan. Sesuatu yang sangat simple. Tanpa beragama pun, orang akan tahu logika sederhana macam itu.

Ssst, aku kasih tahu ya. Kalau kalian mau surga yang agak lapang, mari beragama Hindu. Surganya lapang. Lega. Nggak perlu desak-desakan. Nggak perlu berebutan. Kenapa? Karena di sini kita mengenal reinkarnasi. Orang datang silih berganti. Nggak sesak. Hehehe.

Sekali lagi, agama itu hanya satu panduan. Orang bisa memilih dengan panduan yang berbeda. Tidak ada yang mutlak. Kalau ada agama yang gampang dilecehkan, cih, ya lemah amat yak agama itu? Apalagi kalau perlu dibela segala. Nggak ada bedanya dong dengan dedek-dedek chubby poni miring. Eh, dedek poni miring aja belum tentu minta dibela. Demikian….

Iklan
Tagged with: ,

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. imadewira said, on Mei 5, 2012 at 4:27

    Agama itu panduan, sepakat. Dan hubungan antara Tuhan dan manusia itu pribadi, ya itupun kalau manusianya percaya bahwa Tuhan itu ada.

  2. Cahya said, on Mei 6, 2012 at 4:27

    Wah, kalau saya tahu apa itu agama, pasti saya tidak akan mengenakannya :D.

  3. budiastawa said, on Mei 6, 2012 at 4:27

    Agama hanyalah jalan atau panduan seperti yg dikatakan bli Gung Wira. Tapi tidak semua agama mengajarkan Karmaphala dan Reinkarnasi yan. Setahu saya, konsep hukum karma dan reinkarnasi ada pada ajaran Hindu dan Buddha.

    He he he, saya nggak bisa membayangkan bagaimana surga yang tidak ada proses reinkarnasinya. Pasti sesak banget ya? Tidak ada proses daur ulang atau ujian ulang turun ke bumi, xi xi xi.

  4. Onta Bercadar said, on Mei 6, 2012 at 4:27

    “Sekali lagi, agama itu hanya satu panduan. Orang bisa memilih dengan panduan yang berbeda. Tidak ada yang mutlak. Kalau ada agama yang gampang dilecehkan, cih, ya LEMAH AMAT YA AGAMA ITU? APALAGI KALAU PERLU DIBELA SEGALA. Nggak ada bedanya dong dengan DEDEK-DEDEK CHUBBY PONI MIRING. Eh, dedek poni miring aja belum tentu minta dibela. Demikian….”

    Agama apa ya yang harus dibela, sampai ada ormasnya?? Bwahahahahahahahahahahaha…

  5. dude said, on September 5, 2012 at 4:27

    jalankan Dharma Hindu dan lakukan apa yang mesti kita lakukan untuk

    mencapai Generasi Hindu yang mumpuni.

    kebangkitan-hindu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: