Agus Lenyot

Anti Fans

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Mei 7, 2012

Kreasi antifans

– Tuhan yang tidak pernah ngapa-ngapain pun kadang dibenci –

Aku membaca tentang kisah anti fans Super Junior di Majalah Tempo pekan ini. Aku tidak tahu banyak tentang boyband asal Korea ini. Fansnya galak-galak. Kebanyakan terdiri dari remaja dan ibu-ibu. Yang aku pikirkan, karena personelnya banyak pasti ribet bagi honor manggung.

Saat banyak orang mengelu-elukan boyband ini, sebagian orang justru membencinya. Dari artikel yang aku baca, jelas ini bukan ketidaksukaan biasa tetapi sudah mengarah pada kebencian. Seorang antifans mengatakan, ELF, fans Suju nyolot-nyolot. Ada juga yang merasa jijik karena personelnya pernah berciuman di atas panggung. Aku sih geli membayangkannya.

Kebencian terhadap selebritis menurutku agak aneh. Apalagi sampai membentuk klub. Sebagian kecil bahkan ada yang melembaga dan seakan-akan serius mengobarkan kebencian. Misalnya yang aku baca di artikel itu, antifans girlband Korea, Sonyeo Sidae (SNSD). Kelompok pembencinya menamakan diri STAND (Strong Till All Nine Disapear). Bahkan ada yang skala STAND International. Hebat yak?

Begitulah, popularitas memang selalu mendatangkan dua sisi. Ada yang memuja, ada pula yang membenci setengah mati. Di Indonesia, waktu zaman ngetop-ngetopnya Pee Wee Gaskins, juga muncul komunitas Anti Pee Wee Gaskin. Mereka dibilang sok artis, sombong dan homo. Di Facebook, fanpage Anti Pee Wee Gaskins disukai lebih dari 89ribu orang. Mereka tidak hanya membenci, tetapi datang ke konsernya. Tujuannya cuma satu, mencaci maki, menurunkan mereka dari panggung dan mempermalukan sang superstars.

Aku sebenarnya tidak paham juga kenapa ada orang yang sedemikian bencinya sama orang lain. Kalau tidak suka karena penampilan, sombong dan diucapkan dalam hati sih(atau setidaknya di jejaring sosial) masih bisa dimaklumi. Maklum, selebritis kadang memang sombong dan belagak. Wajar jika sebagian ada yang nggak suka. Namun jika ada yang ampe bela-belain bikin kelompok, kemudian datang berbondong-bondong ke acara mereka, aku nggak habis pikir. Sakit!

Aku barangkali maklum, jika antifans muncul karena ada yang diperebutkan. Dalam klub sepakbola misalnya. Kebencian terhadap klub lain jamak terjadi. Dan ini menurutku bisa dipahami. Sebabnya apa, mereka memperebutkan satu hal; trofi. Lha, kalau fans musisi, apa yang diperebutkan? Pasar?

Pendukung AC Milan dan Inter Milan wajar sering berantem. Mereka satu kota. Mereka punya sejarah yang kuat. Tak heran fans mereka saling bermusuhan, bahkan sampai muncul fans garis keras. Contoh lain kedua klub dengan rivalitas tinggi adalah Barcelona dengan Real Madrid, Liverpool dan Everton, Roma dengan Lazio, Juventus dengan Torino atau di Indonesia derbi paling keras adalah antara Persija dengan Persib Bandung.

Kedua klub punya fans fanatik, garis keras dan kadang-kadang berperilaku tidak masuk akal. Tapi yang dipertaruhkan oleh kedua fans ini jelas: harga diri. Boleh kalah dari tim lain, asal tidak dengan partner derby. Inilah yang menyulut kebencian terhadap rival.

Aku sendiri mengidolakan Barcelona. Tetapi tidak sampai membenci Real Madrid. Paling hanya sampai pada tahap senang jika mereka kalah dan sirik jika mereka juara. Mendukung ini juga buat lucu-lucuan saja di linimasa. Karena sejak kehadiran twitter, pertandingan sepakbola tidak hanya panas di stadion tetapi juga di twitter. Asyik aja saling ejek. Tapi ya itu, setelah selesai pertandingan biasa saja. Pernah sih memang nggak bisa tidur karena tim idola kalah. Yah, namanya juga suka, pasti dong pernah patah hati karena dikecewakan. Yang pasti nggak sampai bunuh diri.

Aku kadang tidak mengerti kenapa orang sampai benci, bahkan seolah-olah ada dendam kesumat kepada orang lain. Apalagi untuk mereka yang tidak pernah berinteraksi langsung dan dikecewakan. Entah darimana kebencian itu tumbuh. Ya seperti antifans yang aku contohkan di atas. Aku sih memilih untuk tidak peduli kepada kebencian seperti ini. Selama itu tidak mengganggu hidup kita, ya dibiarkan saja.

Aku teringat dengan kata-kata ini. Entah siapa yang mengucapkan: Manusia mungkin butuh seribu alasan untuk membenci seseorang. Tetapi mencintai orang lain rasanya satu alasan saja sudah lebih dari cukup.

Gambar dari sini

Iklan

7 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kadekdoi said, on Mei 9, 2012 at 4:27

    aku mau bikin fans club doimania ah,….. *siulsiul* #nyengir

  2. imadewira said, on Mei 10, 2012 at 4:27

    Kalau di bidang musik, kayaknya emang sedikit ndak masuk akal ya.

    Sedangkan kalau di sepakbola, saya sendiri mendukung MU sejak tahun 2001/2002. Sejak itu sampai sekarang prinsip saya masih sama, yaitu buat seru-seruan aja. Ya seperti walek-walekan twitter itu. Karena apa serunya nonton sepakbola tanpa ada tim yang kita dukung.

  3. uni said, on Juni 1, 2012 at 4:27

    memang ga masuk akal orang2 yang sampai segutunya jd antifans,….
    hidupnya hampa n ga ada kerjaan kali…hehe

    • oopa said, on September 17, 2012 at 4:27

      ktika seseorang merasa benci k pda ssuatu qw rsa wjar!

      coz,qw jga antis!

      • sheilaa said, on Mei 8, 2013 at 4:27

        Benci sih wajar, yang nggak wajar itu kalau sudah berlebihan.

  4. Pupput said, on Mei 18, 2013 at 4:27

    Ketiga para fens itu salah apakah anda yg merasa anti fens benar ,:D

  5. meilya syifa said, on Agustus 24, 2013 at 4:27

    sehendaknya kita menghargai orang lain kalau kita juga mau dihargai oleh orang lain


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: