Agus Lenyot

Belajar Kincir ke Negeri Tulip

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Mei 8, 2012

Kincir angin di Belanda

Aku tiba-tiba saja teringat untuk menuliskan pengalaman ini: sejumlah kincir setinggi 30 meter, menjulang dan berdiri kokoh. Beberapa sudutnya berkarat. Di sekelilingnya, rumput liar tak terawat mulai meninggi. Sudah hampir satu setengah tahun kincir angin ini rusak tanpa perawatan. Itu adalah nasib tujuh dari sembilan kincir angin ini di Bukit Puncak Mundi, puncak tertinggi di Nusa Penida, Bali akhir tahun lalu. Hingga hari ini, kondisinya tak jua kunjung membaik.

Kincir ini mampu menghasilkan daya sebesar 80 kilowatt. Proyek ini diresmikan oleh Presiden SBY sebulan jelang Konferensi Dunia tentang Perubahan Iklim di Bali Desember 2007. Sayang, sejak akhir 2009, beberapa unit kincir ini menampakkan gejala nggak beres. Beberapa komponen mulai mengalami kerusakan termasuk sistem operasinya.

Sejak pertengahan 2010, tujuh dari sembilan unit resmi mati suri. Tak ada itikad perbaikan hingga hari ini. PLN beralasan, ada beberapa komponen yang harus didatangkan dari luar negeri. Kincir ini membuktikan, kita jamak lebih senang dengan proyek seremonial nan gagah-gagahan tapi abai dengan perawatan dan keberlanjutan. Padahal warga sekitar mengakui, kehadiran kincir ini membantu menstabilkan listrik yang selama ini sering byar pet. Sekadar informasi, di Pulau Nusa Penida belum semua desa dialiri listrik PLN.

Aku teringat dengan nasib kincir-kincir angin ini saat mencoba membandingkannya dengan Belanda. Negeri ini, konon (karena aku belum pernah ke sana) hampir 70 persen wilayahnya di bawah permukaan laut . Seperti namanya, Nederland diambil dari kata neder yang artinya rendah. Nederland artinya tanah rendah. Pada titik inilah kincir angin memegang peranan penting. Untuk memperbesar wilayahnya, pantai di tepi barat dikeruk dan dibendung. Kincir angin digunakan untuk mendorong air ke lautan agar wilayah menjadi lebih luas.

Aku ingin mengatakan, Belanda dengan segala keterbatasan luas wilayah dan bentang alam berhasil memanfaatkan potensi yang dimiliki. Padahal negeri ini luasnya hanya sepulau Madura. Garis pantainya tentu saja tidak sepanjang kita. Tapi mereka bisa. Kini, kincir angin di Belanda multifungsi. Tidak hanya untuk membendung air, juga berguna untuk pertanian, industri dan pariwisata. Kincir angin menjadi penegas identitas: Negeri Kincir Angin.

Lalu kenapa Indonesia tidak melakukan hal yang sama? Itulah yang aku bayangkan saat datang ke Puncak Mundi. Bukan untuk menyamai identitas tentu saja. Tetapi pemanfaatan potensi negeri. Kita punya 95.181 km panjang garis pantai (keempat terpanjang di dunia) dan lebih dari 17.000 ribu pulau. Kita negara maritim, angin berhembus sepanjang tahun dan pasti potensinya jauh lebih tinggi dibandingkan Belanda.

Pulau-pulau kecil, yang tidak terjangkau aliran listrik, seharusnya bisa memanfaatkan ini. Tujuannya agar kita tidak lagi bergantung pada bahan bakar fosil. Selain mahal, bukankah bahan bakar fosil tidak ramah lingkungan. Masyarakat, terutama di pesisir yang selama ini hanya menikmati listrik saat malam hari bisa menghasilkan listrik secara mandiri. Negeri ini, rasanya cukup kaya untuk menyediakan apa yang bisa kita olah. Persoalannya, maukah kita berbenah diri seperti Belanda?

Buatku, komitmen memanfaatkan sumber energ terbarukan bukan lagi sekadar jargon dan pemanis di bibir. Belanda sudah membuktikannya. Negeri mungil yang pernah menjajah kita selama berabad-abad itu bisa menjadi contoh. Rasanya tidak perlu malu untuk berguru kincir ke hingga ke Negeri Tulip…

Gambar dicopot dari sini

Iklan

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kadekdoi said, on Mei 9, 2012 at 4:27

    pas dulu diajak ke bendungan palasari di negara, jembrana kok aku ngerasa lagi jalan-jalan ke belanda…hahaha…..ada bangunan di atas air jugaa disaanaa..tapi tak terawat dengan begitu baik ya… 😦
    betuuul…banyak hal yang bisa kita pelajari dari negeri kincir angin ini….
    *list wish –> belanda! 😀
    eh…untuk latihan mari nyemiil keju duluh 😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: