Agus Lenyot

Kenapa Lebih Suka Kita Ketimbang Kami?

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Mei 9, 2012

Bergenggaman tangan!

Inilah kesalahan bahasa yang paling sering dilakukan, khususnya dalam bahasa lisan.

Kami berarti aku dan beberapa orang tetapi tidak termasuk lawan bicara. Sedangkan kita berarti aku, beberapa orang lain termasuk lawan bicara. Secara sederhana begitulah kira-kira. Kalau mau makna yang lebih jelas, silakan buka Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tetapi penggunaannya kedua kosakata ini sering kita salah kaprahkan.

Kita, ya aku dan pembaca semua, lebih sering memakai kata ‘kita’ ketika seharusnya memakai kata ‘kami’. Misalnya, polisi sering bilang begini, “Kita akan tindak tegas oknum yang melanggar hukum!” Nah, seharusnya dalam kalimat tersebut yang digunakan adalah kata ‘kami’ bukan ‘kita’. Lucunya, media sering mengutip mentah-mentah macam begitu dan memasukkan jadi kutipan langsung di tubuh berita.

Di media tempatku bekerja, aku diajarkan untuk mengubah kesalahan elementer macam begini. Ubah saja kalimat itu menjadi, “Kami akan tindak tegas oknum yang melanggar hukum!” Tidak mengubah makna kan? Justru membetulkan kesalahan lisan dalam tulisan.

Wartawan seharusnya perlu memperhatikan hal begini. Banyak media yang mengutip mentah-mentah omongan narasumber tanpa membetulkan kalimatnya. Padahal kita tahu sendiri, bahasa lisan seringkali belepotan dan tidak beraturan strukturnya. Tidak semua orang mampu berbicara dengan runut. Sebaiknya, pengucapan lisan tidak ditulis mentah-mentah. Media bisa membetulkannya menjadi lebih terstruktur tanpa mengubah maksud si narasumber. Ini, menurutku, jarang dilakukan oleh banyak media.

Aku sendiri, termasuk sering salah kaprah menggunakan kata ‘kami’ dan ‘kita’. Mungkin sebagian besar dari kita memang melakukan kesalahan serupa. Kadang itu aku lakukan dengan sengaja. Kadang pula memang kadung sudah jadi kebiasaan. Aku coba mencari-cari sebabnya. Kenapa kita sering banget menggunakan kata ‘kita’ ketimbang ‘kami’?

Buatku, ‘kita’ itu lebih mendekatkan aku dengan lawan bicara. Ada rasa bahasa di sini. Rasa yang persuasif. Dalam konteks gembira, misalnya, penggunaan kata kita membuat rasa bahasa akan lebih mengajak lawan bicara merasakan kegembiraan yang sama. Dalam konteks menceritakan kesesihan juga begitu. Menggunakan ‘kita’ membuat aku merasa lebih mudah mengajak lawan bicara turut menjadi bagian dari kesedihan itu.

Aku jadi merasa lebih dekat dengan lawan bicara saat memakai ‘kita. Aku ingin mengajak lawan bicara untuk merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan atau aku alami. Barangkali inilah alasan kenapa banyak orang menggunakan kata ‘kita’ saat berbicara dengan orang yang tidak terlibat dalam konteks yang dia ceritakan.

Bandingkan dengan penggunaan kata ‘kami’. Diksi ini mengesankan ada jarak yang (seolah-olah) dibangun oleh si pembicara dengan lawan bicara. Ada sekat yang sengaja dibentangkan untuk membentengi diri. Aku juga merasa kata ‘kami’ menimbulkan kesan arogan yang ditimbulkan. Entah kenapa. Barangkali hanya kesanku saja.

Barangkali, inilah yang menurutku mengapa kita lebih senang memakai kata ‘kita’ ketimbang ‘kami’. Bahasa bagian dari komunikasi untuk membangun pengertian yang didasarkan pada kesepakatan-kesepakatan. Suatu ketika, ketika kesalahan sepakat kita pakai secara terus-menerus, bisa jadi hal itu akan menjadi benar. Meskipun kita tahu itu salah…

Gambar diambil dari blog ini

Iklan

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Cahya said, on Mei 9, 2012 at 4:27

    Mungkin karena kita memang suka pakai kata “kita” – kalau ada salah, bisa sama-sama diajak kompromi meski tidak pernah saling berhubungan :D.

  2. kadekdoi said, on Mei 9, 2012 at 4:27

    mungkinkaaah…kita kan slalu bersama… *nyanyi sama cowok ganteng seanteroo jagat*

  3. imadewira said, on Mei 10, 2012 at 4:27

    Penggunaan kata “kami” yang menurut saya aneh adalah dalam pembuatan surat-surat resmi, contohnya di kantor saya. Beberapa kali saya melihat redaksi surat yang menggunakan kata “kami” yang menurut saya harusnya menggunakan kata “saya”, karena surat itu ditulis oleh seseorang. Lain halnya jika surat itu merupakan surat yang ditulis mewakili sebuah kepanitiaan atau instansi.

  4. pengobatan tradisional asam urat said, on Mei 10, 2012 at 4:27

    Kita lebih berasa kebersamaan yang setara daripada kami yang merendah,,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: