Agus Lenyot

Mengapa Kecelakaan Sukhoi Menjadi Amat Dekat…

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on Mei 11, 2012

Sukhoi Superjet 100 ketika bersiap terbang dari Halim Perdana Kusuma

Rabu senja, 9 Mei 2012. Aku menerima surat elektronik di milis kantor diatas Kopaja 19 menuju Blok M. Seorang kawan di milis bertanya, apakah kantor mengirim orang ke Halim? Dahiku berkerut. Firasatku langsung nggak enak. Seketika aku langsung ketik kata kunci “pesawat Sukhoi” di mesin pencari dan langsung menemukan judul berita: Pesawat Sukhoi Hilang Kontak.

Sebelumnya, di pagi di hari yang sama, seorang redaktur di kompartemen nasional meneruskan sebuah undangan untuk liputan di Halim jam 9 pagi. Dalam undangan juga disebutkan permohonan maaf karena undangannya mendadak. Aku dalam perjalanan menuju Karawang pagi itu. Entah mengapa, tidak ada yang hirau dengan undangan ini. Tapi seingatku, semua reporter di kompartemen nasional sudah memiliki agenda masing-masing. Tidak ada yang meneruskan agenda ini ke desk ekbis, setidaknya lewat milis. Mungkin inilah sebab penugasan tak terdistribusi ke salah satu reporter. Sesuatu yang akhirnya kami syukuri hari itu.

Aku tidak tahu siapa yang biasanya ditugaskan untuk liputan terbang gembira macam begitu. Tapi ketika terakhir kali ada agenda perkenalan pesawat baru di Halim Perdanakusuma, akulah yang berangkat ke sana. Pada 18 April, Airbus Military, datang ke Indonesia. Pesawat buatan Spanyol semacam memamerkan produk terbaru mereka.

Aku ketika itu hadir. Tentu saja tidak lewat undangan resmi. Otomotis namaku juga tidak terdaftar di list undangan. Rasanya banyak wartawan juga yang serupa denganku. Kalau dalam bahasa sesama jurnalis: kami dapat pantulan. Acara ketika itu adalah menunggu pesawat, jumpa pers dan sesi tanya jawab. Normal. Acara selesai sekitar jam 1 siang. Aku juga sempat keliling-keliling di dalam pesawat angkut tempur itu.

Saat makan siang, seorang panitia menawarkan ikut joy flight alias terbang gembira ke wartawan, termasuk aku.

“Berapa lama?” Aku bertanya.

Panitia menjawab, “Paling lama satu jam.”

Aku sempat berpikir sebelum akhirnya mengiyakan tawaran itu. Oleh panitia aku diberi semacam tiket dan resmi terdaftar pada manifest penerbangan. Tapi menjelang keberangkatan, aku berpikir ulang. Maklum, aku harus mengikuti liputan di tempat lain. Jika ikut terbang, aku takut agenda berikutnya yang harus kuikuti tidak terkejar.

Beberapa saat menjelang lepas landas, aku memberitahu panitia bahwa tidak ikut terbang gembira itu. Aku mengembalikan tanda manifest. Aku tidak tahu, apakah namaku sudah dicoret. Aku menduga, ini bisa menjadi salah satu penyebab kenapa daftar manifest di pesawat Sukhoi Superjet 100 berubah-ubah. Saat itu, hanya ada beberapa wartawan yang ikut dalam terbang gembira. Apalagi, panitia sudah mewanti-wanti, tidak boleh ada pengambilan gambar selama penerbangan. Wartawan televisi dan foto langsung balik kanan.

Aku mengenal, Ismie Sunarto, salah satu penumpang Sukhoi itu. Aku mengenalnya saat bertugas di DPR. Ketika aku sudah tidak lagi liputan di DPR, aku juga beberapa kali bertemu dan bertegur sapa ketika ketemu di tempat liputan. Ketika aku mendengar dia menjadi salah satu penumpang, aku coba kontak lewat pesat Blackberry. Tapi hingga saat ini, pesan itu tidak pernah sampai.

Aku merasa, kejadian jatuhnya pesawat Sukhoi merasa amat dekat secara psikologis. Sama seperti ketika dulu, aku meliput kasus pembunuhan putrid pejabat di Bali. Aku juga merasa dekat. Sama-sama mahasiswa dan anak kos. Aku bahkan bela-belain datang ke pengabenannya meski sekalipun aku tidak pernah ketemu dengan korban.

Dalam kasus Sukhoi ini, sebagai kawan seprofesi, aku juga bisa berada di tempat yang sama dengan Ismie. Aku pernah liputan acara serupa dan hampir mengikuti penerbangan gembira. Aku termasuk orang yang selalu senang dengan ketinggian dengan pesawat terbang. Sekali lagi, aku bersyukur undangan acara terbang gembira itu telat datang ke kantor.

Kematian mungkin akan datang dengan cara yang berbeda. Tetapi dia tahu bagaimana membuat seseorang begitu berharga…

Foto diambil dari Sergey Dolya

Iklan

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kadekdoi said, on Mei 11, 2012 at 4:27

    …..semoga selalu dalam lindunganNya…..
    spechless….turut merasakan bagaimana perasaan keluarga dan org2 terdekat dr para penumpang sukhoi….semoga segala proses disana bs diselesaikan dg sebaik-baiknya….
    iya aku jg sempat pangling..beberapa kesempatan lalu km cerita lg liputan di halim….tp aku coba positif thinking saja..
    memang semua pekerjaan selalu menggandeng risikonya, siapapun org terdekat harus belajar menerima dg iklas…
    makasi uda bersabar atas kebawelanku nanyaa ini itu…
    cuma pingin tahu kabar atau sekedar bertegur sapa 😉
    semangat kerjaaa! aku selalu nunggu telp/sms/email mu di jeda waktu mu….. semangat kriwil!

  2. imadewira said, on Mei 15, 2012 at 4:27

    Saya membayangkan betapa sedihnya para keluarga korban. Ya sudah takdir, semoga mereka diberikan ketabahan.

  3. pengobatan tradisional asam urat said, on Mei 16, 2012 at 4:27

    Turut berduka cita atas meninggalnya para korban pesawat jatuh Sukhoi…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: