Agus Lenyot

Perlu Belajar Ramah Pada Pesepeda

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Mei 12, 2012

Salah satu lajur sepeda di Denpasar

Amsterdam, konon menjadi kota teramah bagi pesepeda setelah Oregon, AS dan Copenhagen, Denmark. Hampir setengah lalu lintas kotanya dipadati oleh hilir mudik sepeda. Kota yang mulanya sebuah perkampungan nelayan di mulut Sungai Amstel ini sukses mempromosikan sepeda sebagai kebutuhan hidup.

Amsterdam berhasil mengajak penduduknya sadar hidup sehat, tak sekadar gaya hidup. Jalur sepeda diperluas, nyaman dan memberikan rasa. Jangan heran, pesepeda di Amsterdam bisa melenggang santai tanpa takut diseruduk atau diklakson keras-keras pengendara lain.

Kota ini juga membangun 10 ribu parkir sepeda di stasiun kereta. Parkir banyak dibangun di pinggir sungai Amstel dan dipadati ribuan sepeda setiap harinya. Tapi kota ini bukan tanpa masalah. Pencurian sepeda mencapai angka 80 ribu setiap tahun. Konon, pemerintah Amsterdam punya program pencegahan pencurian yang dirancang linier dengan populasi sepeda.

Aku membaca fakta ini dari internet sebab aku belum pernah ke sana. Aku menduga ini menjadi alasan mengapa Amsterdam menjadi 12 besar kota dengan kualitas hidup terbaik di dunia versi survey Mercer . Indikatornya antara lain kesehatan (polusi udara dan pelayanan transportasi). Kondisi dan komitmen Amsterdam membangun fasilitas sepeda tentu memegang peran penting.

Aku ingin membandingkan dengan apa yang aku alami. Di kampungku, sebuah desa di kabupaten terbarat Pulau Bali, kegiatan bersepeda mulai ditinggalkan. Waktu kecil, terutama saat SD dan SMP, bersepeda adalah rutinitas bukan cuma gaya hidup. Ke sekolah, ke kebun hingga jalan-jalan ke desa tetangga. Beranjak gede, ketika motor mulai mudah dikredit, secara perlahan sepeda ditinggalkan. Kini bocah-bocah belasan tahun sudah tak lagi mengendarai sepeda, tetapi lebih senang memakai sepeda motor.

Tren memakai sepeda justru bergeser ke kota. Di Denpasar misalnya, muncul banyak peminat sepeda seperti sepeda ontel, gunung atau lipat. Tapi ya itu, kegemaran bersepeda masih hanya sebatas tren, gaya hidup dan kegiatan rekreasi. Bersepeda bukan menjadi alat transportasi utama untuk bekerja, bersekolah dan beraktivitas. SMA Negeri 3 Denpasar, sekolah yang melarang siswanya memakai sepeda motor (artinya harus naik angkot, jalan kaki, dan bersepeda) juga menghapus kebijakan ini.

Dukungan pemerintah terhadap pesepeda sebenarnya sudah lumayan. Jalur sepeda dibangun, meski hanya berupa pengecatan lajur tanpa ada pembatas yang memberikan perlindungan. Selayaknya demokrasi di jalan raya, pesepeda adalah salah satu entitas paling lemah di jalan raya. Di Jakarta, tempat aku tinggal kini, nasib pesepeda tak jauh berbeda.

Tanpa perlindungan berarti, hak pesepeda mudah diserobot haknya oleh kendaraan pribadi. Mereka kerap harus menyingkir dari penguasa jalanan: sepeda motor dan kendaraan pribadi. Tak jarang, jalur sepeda ‘dikuasai’ untuk parkir kendaraan pribadi.

Menurutku, pemerintah harus serius melindungi hak pesepeda (dan pejalan kaki tentu saja). Jika ingin menghemat pemakain bahan bakar, pesepeda harus dilindungi hak-haknya. Tak hanya pemerintah, gedung perkantoran juga membangun infrastruktur untuk pesepeda. Misalnya, tempat parkir yang aman dan kamar mandi yang nyaman. Maklum, kita adalah negara tropis dengan curah matahari ekstra tinggi. Ketika tiba di kantor, pesepeda tidak ingin bekerja dalam keadaan gerah, kan?

Ini adalah tantangan bagi semua pemangku kepentingan. Tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Belanda, rasanya, layaknya politik etis tidak keberatan untuk berbagi. Tinggal, apakah pemerintah dan kita serius untuk membenahi infrastrukturuntuk persepedaan. Bukan hanya sebuah tren sesaat yang kemudian meredup pelan-pelan…

Gambar diambil dari sini

Iklan
Tagged with: , ,

9 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Cahya said, on Mei 12, 2012 at 4:27

    Yah itu juga boleh, asal tidak jadi raja jalanannya saja. Baik pengendara sepeda ataupun kendaraan bermotor, kalau sudah melenggang seenak perutnya, tetap saja ndak enak dilihat :(.

    • Agus Lenyot said, on Mei 13, 2012 at 4:27

      hahaha. Benar juga ya? Emang kada orang kita kalau sudah dikasi ruang lebih suka belagu :p

  2. slaksmi said, on Mei 13, 2012 at 4:27

    Well, Amsterdam sekarang lebih hiruk pikuk termasuk pesepedanya. Di Belanda itu ada ucapan, “kalau bisa naik sepeda di Amsterdam, pasti jagoan”. 🙂

    • penuliscemen said, on Mei 16, 2012 at 4:27

      di Indonesia “kalau bisa nikung metromini baru jagoan” Mbak.. hihihi

      • slaksmi said, on Mei 18, 2012 at 4:27

        Sepakat (walaupun bahaya). 😀

  3. imadewira said, on Mei 15, 2012 at 4:27

    Jangankan pada pesepeda, kepada pejalan kaki saja kita tidak ramah. Buktinya, lihat saja bagaimana kualitas trotoar di jalanan saat ini.

  4. penuliscemen said, on Mei 16, 2012 at 4:27

    Kalau disini jalur pejalan kaki pun sering dijajah, apalagi sepeda

  5. windydrensdy said, on Mei 17, 2012 at 4:27

    sedikit usul, mungkin lebih baik ambil contoh Groningen (cycling city nomer satu di belanda dan di dunia).. atau yg lain yg lebih ramah sepeda. Amsterdam itu ramainya luar biasa lho, saya sendiri ga berani sepedaan disana, terlalu berbahaya apalagi di tengah kotanya. mungkin krn capital city dan belanda terkenal sama sepeda jd yg disebut2 amsterdam hehhehe.
    cuma masukkan, anyway, nice article 🙂

  6. akriko said, on Mei 25, 2012 at 4:27

    saya yang termasuk sering bersepeda, sangat merasakan kondisi tersebut, apalagi jalan didesa tidak ada jalur kusus sepeda.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: