Agus Lenyot

Apa Pentingnya Menjadi Warisan Budaya Dunia?

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Mei 24, 2012

Sawah di Jawtiluwih

Mungkin judul itu terdengar sinis. Tapi aku berharap sebagian membacanya sebagai sikap kritis.

Aku membaca soal ditetapkannya subak sebagai World Herritage versi badan PBB UNESCO beberapa waktu lalu. Aku tidak mengikuti dengan seksama berita itu. Membaca sekilas saja. Maklum, ucapan sang Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan diucapkan hari Sabtu, saat aku benar-benar malas membuka portal berita.

Sehari setelah mendengar berita itu seorang kawan yang meminta kontak budayawan dari Bali yang bisa ditanya tentang subak. Aku memberi nomor seorang professor di Fakultas Pertanian Universitas Udayana yang aku ketahui paham tentang subak. Lainnya, aku meminta dia, kawanku itu, menanyakan pendapat Putu Setia, wartawan Tempo yang kini menjadi sulinggih di Bali.

Aku tidak kaget, senang apalagi girang bukan kepalang mendengar ditetapkannya subak sebagai warisan budaya dunia. Maklum, aku kadang tidak terlalu silau dengan berbagai penghargaan yang diberikan kepada Bali. Kadang, gelar itu membuat kita jumawa, meninabobokan lalu lupa bahwa Bali, pulau yang sangat aku cintai itu, rentan dengan kehancuran. Penghargaan itu sudah selayakanya memberikan manfaat kepada sang penerima: subak. Atau setidaknya petani subak. Tapi apa yang mereka dapat dari penghargaan itu?

Usulan beberapa lokasi di Bali sebagai warisan budaya dunia sudah aku dengar sejak beberapa tahun lalu. Ada Subak Jatiluwih di Tabanan, Pura Besakih di Karangasem, Taman Ayun di Badung dan daerah aliran sungai Pakerisan, Gianyar. Keempatnya memang punya keunikan masing-masing. Pemandangan dahsyat, yang rawan dengan perubahan akibat hegemoni pariwisata.

Aku membaca tulisan Anton Muhajir di Bale Bengong. Bahwa yang (mungkin) ditetapkan sebagai warisan budaya dunia sebenarnya adalah sawah terasering lengkap dengan sistem irigasi di Jatiluwih. Subak sendiri, nasibnya sudah mengenaskan. Perlahan tapi pasti dia digerus kepentingan yang namanya pariwisata. Dipertahankan untuk dipertontonkan, tetapi tidak dilindungi. Tulisan ini barangkali punya kekhawatiran yang sama: lalu apa setelah menjadi warisan budya dunia? Aku menuliskan judul ini dalam tweetku beberapa hari lalu.

Dulu, sekitar tahun 2007, aku sempat ngobrol dengan seorang petani di Jatiluwih. Saat itu mereka bilang, ada kebijakan pelarangan menjual tanah kepada orang di luar desa Jatiluwih. Aku senang mendengarnya. Itu bisa menjadi proteksi awal untuk menghindari kehancuran lingkungan akibat pembangunan hotel atau vila. Aku berharap kebijakan itu masih diterapkan hingga hari ini.

Aku menyimak serial tweet Putu Setia beberapa saat setelah kehebohan soal subak. Termasuk membaca kekhawatiran beliau tentang nasib subak dan Museum Subak. Ada tweet yang menggelitik: petani disuruh menjadi penjaga kawasan hijau tetapi pajak tanah semakin meningkat dari tahun ke tahun?

Perlindungan macam apa yang diberikan oleh pemerintah padahal tetangga mereka bisa membangun ruko, menyewakan dan memperoleh manfaat ekonomi dari tanah yang mereka punya? Entahlah. Di Denpasar, alih fungsi lahan terjadi besar-besaran tanpa ada yang peduli. Petani dibiarkan merana dengan harga pupuk tinggi, hasil panen yang tak menentu serta permainan harga yang menyakitkan.

Sebagai anak petani, aku tahu betul bagaimana petani lebih sering pada posisi di pinggir ketimbang harus menjadi pemain utama dalam kebijakan. Sekali lagi, mereka sering mengalah pada pariwisata. Sesuatu yang menghidupi Bali tapi kadang membuatku benci setengah mati. Petani di Bali lebih sering menjadi boneka untuk menyenangkan para wisawatan atas nama pariwisata.

Aku berharap, penghargaan ini membuka mata kita semua. Penghargaan ini kita syukuri, iya. Tetapi lebih penting bagaimana petani dan entitas subak memperoleh manfaat konkret terkait pelestarian subak ini. Kita tidak boleh silau dengan penghargaan. Apalagi yang cuma memberikan kebanggaan semu. Sekali lagi, Bali yang aku cintai, rentan dengan kehancuran atas nama eksploitasi ekonomi….

Gambar diambil dari sini

Iklan

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. pariarjun said, on Mei 24, 2012 at 4:27

    Saya baru saja membaca koran Bali Post tentang Subak….memang Subak dijadikan warisan budaya dunia, namun realita di lapangan??? banyak subak yang tinggal nama dan sejarah karena begitu pesatnya alih fungsi lahan di Bali. Lahan yang seharusnya untuk pertanian sekarang banyak yang beralih fungsi menjadi pemukiman, kawasan industri, dll. Kalau ini tidak ditanggulangi segera, Saya yakin Subak akan menjadi warisan budaya dunia, dalam artian warisan budaya sejarah, tinggal sejarahnya saja…tinggal nama. Saya tidak pesimis, tapi itulah realita yang terjadi di lapangan….

  2. Cahya said, on Mei 24, 2012 at 4:27

    Subak pun kemudian, meski diwariskan, akan hanya menjadi kenangan… #demikiankah?

  3. penuliscemen said, on Mei 26, 2012 at 4:27

    Ikut sedih mendengar hal ini. saya cuma berharap pemerintah lebih memperhatikan ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: