Agus Lenyot

Catatan dari Bontang

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on Juni 16, 2012

Pesawat Aviastar berkapasitas 21 orang termasuk pilot dan awaknya 🙂

Cerita ini pengalaman kali pertama naik pesawat kecil. Perjalanan ke Bontang kali ini menyenangkan dan tidak terlalu melelahkan. Dulu akhir 2009, pernah singgah sebentar ke kota ini ketika pergi ke Sangatta, Kutai Timur. Tapi ya itu lewat jalan darat nan lama dan melelahkan. Hitung saja: dari Balikpapan ke Samarinda sekitar 3 jam. Dari Samarinda ke Bontang itu perlu waktu sekitar 3 jam. Itupun kalau ngebut. Kalau mau agak santai, perjalanan bisa lebih lama lagi.

Tapi kemarin, aku ke sana dengan pesawat. Waktu tempuhnya dipangkas hanya menjadi 40 menit. Seru. Deg-degan juga. Maklum, tumben naik pesawat mungil. Pesawat capung. Agak norak jadinya.

Dulu, waktu kecil naik pesawat cuma jadi mimpi di siang bolong. Maklum, anak kampung yang dibesarkan di gunung. Kalau dulu melihat pesawat melintas, aku yang bocah akan dadah-dadah berlarian mengejar pesawat sampai suaranya hilang. Tidak sendiri memang. Tetapi bersama anak kampung lain. Apalagi kalau helikopter yang terbang rendah. Apakah semua bocah pernah mengalami fase ini? Aku berharap sih iya. Biar nggak aku saja yang mengalami fase norak kayak gini.

Kenorakan bocah-bocah kampung tengik itu makin jadi karena kami nggak hanya berlarian mengejar pesawat di langit tetapi sambil menengadahkan minta uang. Nah lho? “Idih pis idih pis!” Itu yang kamu ucapkan. Artinya minta uang. Aku tidak mengerti kenapa kami, bocah kampung tengik, bisa berpikiranminta uang ke penumpang pesawat. Barangkali ini penyakit kutukan bocah kampung.

Kami sih berharap penumpang pesawat akan melemparkan uang dari pesawat. Hal yang akhirnya aku ketahui mustahil saat dewasa. Wong jangan melemparkan uang, buka kaca atau pintu jendela aja nggak mungkin. Norak kan? Iya. Waktu kecil, yang aku tahu penumpang pesawat itu hanya Pak Harto. Maklumi juga, kami adalah bocah yang besar di era Orde Baru.

Tapi semakin dewasa, mimpi masa kecil itu justru terwujud. Naik pesawat nggak hanya jadi mimpi. Dia nyata. Dulu sih karena ikut organisasi kampus. Sekarang naik pesawat karena kerja dan karena kerinduan. Karena sudah terlalu sering naik pesawat aku malah kadang sudah tidak merasa senang lagi. Maksudnya, kegembiraannya sudah tidak setinggi saat awal-awal dulu. Kesenangan kalau naik pesawat pulang adalah kerinduan yang terbayar. Bahkan, kadang aku merasa lebih banyak takutnya. Gemetar. Apalagi kalau menjelang lepas landas dan mendarat. Lebih banyak merasa seram ketimbang senang.

Nah, kali ini pengalaman naik pesawat sedikit berbeda. Ceritanya aku diminta kantor untuk datang ke sebuah acara peresmian perusahaan bahan peledak di Bontang. Aku sudah stress duluan mikir bakal melewati jalan darat seperti pengalaman sebelumnya. Beruntung panitia berbaik hati menyewakan pesawat carter untuk kami para wartawan. Pesawat baling-baling dengan kapasitas 21 penumpang termasuk dua pilot dan satu awak pesawat di bagian belakang.

Karena baru, aku girang bukan kepalang. Antara senang dan cemas. Senang, karena pesawat kecil pasti nggak mungkin terbang tinggi. Aku jadi bisa menikmati pemandangan. Cemas karena, biasalah aku terlalu sering mendengar bagaimana pesawat kecil jatuh di pegunungan. Tapi, ekspektasi yang berlebihan mengalahkan ketakutanku. Sederhananya, ketakutan itu dilawan oleh kesenangan.

Pesawat yang kutumpangi adalah Aviastar. Nomor penerbangan lupa (atau memang nggak ada ya?). Pokoknya lupa. Jangan bayangkan tiketnya seperti maskapai swasta yang dicetak lengkap dengan waktu berangkat. Tiketnya persis tiket bus yang aku naiki kalau ke Jawa. Hanya ada nama yang ditulis pakai pulpen tanpa jam penerbangan apalagi tempat duduk. Udah gitu aja. Aku mikir, berarti tempat duduknya rebutan nih.

Hal norak selanjutnya saat menemukan sesuatu yang baru adalah foto-foto. Meski nggak terlalu doyan foto, aku juga pengen punya gambar. Jadilah sebelum naik pesawat semua penumpang foto-foto sebelum masuk kabin. Hal yang aku syukuri. Ternyata yang norak bukan aku saja. Hampir semua penumpang juga melakukan hal yang sama.

Kenorakan berikutnya adalah saat masuk aku diberi bungkusan warna kuning. Aku langsung mengambil tanpa memperhatikan isinya. Sumpah, aku kira itu adalah semacam permen yang dibagikan ke penumpang. Aku mikir, wah canggih juga ya pesawat kecil pakai ngasih permen macam Garuda Indonesia. Aku baru ngeh di atas kabin (yang memang milih kursinya berebutan) kalau yang dibagikan tadi bukan permen tetapi
penutup telinga. Sialan, hampir aja kutelan.

Penutup telinga berwarna kuning semacam permen ini ternyata sangat berguna untuk meredam suara pesawat yang bergemuruh. Tanpa itu, aku merasa kupingku akan berdenging sepanjang waktu. Oia, hal norak yang aku pikirkan lagi adalah mengenai baling-baling. Karena dekat jendela, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana baling-baling ini berputar dengan cepat. Pikiran burukku, “Bagaimana kalau baling-baling ini lepas?”

Aku sengaja memilih kursi di dekat kokpit. Pengen tahu seperti apa sih bentuk kokpit yang dalam bayanganku selalu canggih. Tapi lag-lagi bayanganku meleset. Kokpitnya kecil saja. Ada GPS yang kayaknya bukan bawaan pesawat. Ada juga penunjuk radar. Selebihnya aku tidak tahu. Kokpit Cuma muat untuk dua orang. Aku tidak sempat memperhatikan nama pilot ini. Seingetku, kedua pilot ini tidak menyebutkan nama mereka, hal yang biasanya dilakukan pilot pesawat yang aku tumpangi. Yang pasti, satu pilot memakai tato kalajengking di tangan kirinya. Aku pikir, dahsyat betul ini pilot.

Yang membuat aku semakin deg-degan adalah saat mulai take off. Si pilot bertato kalajengking ternyata masih membaca buku manual. Ya, bener-bener baca. Setan nih. Jangan-jangan pilot magang. Apakah semua pilot seperti ini? Cemas sih. Tapi ya udahlah, nyawa kita di tangan mereka berdua. Dipercayakan saja. Aku tidak punya pilihan lain.

Selebihnya ya sama saja. Pesawat naik pelan-pelan. Kerasa sih ringan dan pelan. Pilot sempat ngomong sebentar kalau perjalanan dari Balikpapan ke Bontang akan ditempuh dalam waktu 40 menit, kecepatan 132 kilometer per jam dan ketinggian 7.000 kaki. Artinya, pesawat ini tidak tinggi-tinggi amat terbangnya.

Ternyata benar. Dari atas pesawat, aku bisa melihat dengan jelas hutan Kalimantan yang sudah bolong dimana-mana. Ada danau berwarna hijau bekas tambang. Dimana-mana ada bekas galian. Sepertinya bekas pertambangan batubara. Aku sih tidak kaget karena aku sudah sering melihat fotonya. Tapi karena melihat langsung, aku ngenes juga.

Nah, saat mendebarkan itu pas mendarat. Aku tidak melihat tanda-tanda ada bandara ketika pesawat mulai menurunkan ketinggian dan kecepatan. Yang ada aku malah melihat pemukiman. Makin dekat bumi, goyangan pesawat makin kencang. Kerasa benar dihempas ke kiri dan kanan. Aku merasa sedikit tegang. Saat landing, pesawat juga tidak menurunkan kecepatan. Landing begitu saja dengan kecepatan tinggi. Kampret, bikin cemas saja. Berbeda rasanya naik pesawat berbadan besar. Syukurlah, akhirnya kami selamat sampai di Bandar Udara milik PT Badak.

Di Bontang sehari doang karena keesokan harinya rencananya balik ke Balikpapan. Naik pesawat sejenis. Mudah-mudahan ada pengalaman yang berbeda. Perjalanan kali ini adalah perjalanan bersih. Nyaman dan terlalu mulus. Tantangannya nggak banyak jadi nggak banyak cerita sepanjang jalan.

Yeaah. Selamat datang Kalimantan. Pulau yang merenggut nyawa ayah saya…

Bannya agak kempes :))

Ini penutup telinga yang aku kira permen. Norak cuy…

Nah, ini tiket pesawatnya. Nama ditulis tangan dan tanpa nomor kursi..

Kalo ini satu-satunya bandara yang pakai nama binatang kayaknya :))

Iklan
Tagged with: , ,

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. agus said, on Juni 21, 2012 at 4:27

    pernah naik susi air engga mas

  2. ben faiz said, on Juli 20, 2013 at 4:27

    itu bukan baca manual, tapi baca cheklist mas

  3. Ni made ayu purnami said, on Juli 21, 2013 at 4:27

    Kykx seru tuh.. patut dicoba jg….

  4. imah said, on Agustus 16, 2015 at 4:27

    Yg bikin ngakak ya pengalaman masa kecilny yg klo ad pesawat diliatin smpe suarany ilang n klo liat coper lewat ketiak2 minta uang. Sama2 angun kita mas (anak gunung). Kesampaian naik pesawat jg tujuan borneo. Wkwkwkwkwka 😀 😀 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: