Agus Lenyot

Catatan dari Kaki Bukit Pasir Wangi

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on Juni 24, 2012

Asyik kan pemandangannya?

Hidup perlu dikejutkan dengan hal-hal tak terduga. Jika dia tak datang tiba-tiba, kitalah yang perlu membuatnya.

Itu yang aku lakukan. Hidup harus memiliki daya ledak dan sedikit kejutan tak terduga. Aku merasa rutinitas di Jakarta membuat hidup kehilangan gairah. Tsaah. (Batuk dikit. Ehm!) Kemacetan dan pekerjaan membuatku terkungkung pada ‘zona nyaman’. Iya, zona nyaman yang sebenarnya tidak nyaman-nyaman banget. Jakarta dengan segala hiruk pikuknya. Rencana untuk menyepi dari rutinitas dan hiruk pikuk kota ini aku rencanakan seminggu sebelumnya. Tidak tahu kemana. Tetapi aku memastikan, aku harus merealisasikannya. Melakukan sesuatu tak terduga dan tanpa rencana.

Kejutan yang paling memungkinkan adalah melakukan perjalanan. Aku sempat bertanya beberapa tempat alternatif kepada beberapa kawan. Paling minim, aku sudah meriset beberapa tempat yang ingin aku kunjungi tanpa rencana pasti ini. Ada beberapa pilihan: Garut, Sukabumi, Kepulauan Seribu atau Taman Nasional Ujung Kulon.

Keempatnya belum pernah aku kunjungi. Aku juga tidak tahu cara ke sana. Agar tidak tersesat, aku bertanya pada kawan yang mengerti. Aku juga bertanya pada google. Seenggaknya bertanya pada mereka tidak menjadikanku tersesat konyol di tengah jalan. List lagu di ponsel juga sudah aku ubah: hapus lagu berbau galau dan isi dengan classic rock, reggae dan country. Minimal aku tidak mati kebosanan di perjalanan. Lagu reggae sengaja aku siapkan karena mereka selalu bersemangat sehingga membuat hati riang. Bob Marley, John Denver, Bon Jovi, dan Cold Play aku pilih menjadi teman sepanjang perjalanan kali ini. Lagu galau nyempil satu: Aero Smith, I Don’t Wanna Miss a Thing. Hahaha.

Hingga tadi malam, ketika pertandingan Piala Eropa Jerman lawan Yunani berakhir, aku belum memutuskan akan pergi kemana. Begitu pertandingan usai, aku langsung berkemas. Mandi di pagi buta. Memasukkan sebuah buku, Partikel Dewi Lestari, dua potong baju, dan laptop. Jalan kaki keluar kosan, naik angkot hingga aku tiba di Terminal Lebak Bulus. Sampai di sini, Kepulauan Seribu langsung dicoret dari daftar.

Sesubuh ini berada di terminal, mengingatkanku saat dulu pernah tidur di terminal. Terminal dan penghuninya, buas dengan mereka yang berwajah bingung. Tahun 2006, ketika aku melakukan perjalanan sendirian dari Bali ke Jakarta, aku pernah melakukan hal gila di terminal. Setidaknya menurutku. Waktu itu, aku ikut pelatihan pers mahasiswa di Cirebon. Modal cekak dan sedikit nekat. Acara pelatihan usai, dari Cirebon aku berangkat ke Jakarta. Uang di tangan ketika itu tinggal 400 ribu. Aku belum beli tiket pesawat pulang ke Bali (Hal yang aku tidak mengerti, kenapa aku mesti datang ke Jakarta dulu, padahal bisa naik bus langsung ke Bali).

Diantar seorang panitia, aku berangkat dari Cirebon sekitar jam 6 sore. Kalau tidak salah, aku naik bus Luragung Jaya. Merenung sepanjang jalan dengan perasaan dag dig dug tidak karuan. Pertama kali ke Jakarta sendirian. Sebelumnya selalu bersama sopir, tempat aku jadi kernet. Aku buta arah dan tujuan. Jakarta adalah kota yang asing. Satu hal yang aku tahu, bus akan sampai di Terminal Pulogadung.

Sampailah aku di Pulogadung jam 12 malam. Bingung. Dan wajah orang bingung adalah santapan empuk calo Pulogadung. Aku tidak bisa menyebutkan tujuanku. Maklum, aku sama sekali tak paham Jakarta kala itu. Tercetuslah sebuah tempat yang aku tertawakan: Tanggerang. Jawabanku ini membuat calo-calon berebutan mengerubungiku. Tasku ditarik dan dipaksa oleh calo. Sempat bentak-bentakan, aku akhirnya lepas dari calo sialan ini dan terdampar di pos polisi terminal. Kini aku baru tahu, Pulagadung dan Tanggerang lokasinya amat jauh. Hahaha.

Saat itu pikiranku cuma satu: Bandara Soekarno Hatta. Kepada polisi, aku permisi numpang tidur di pos. Aku merasa lebih aman. Tapi polisi nggak mengijinkan. Alasannya, bangku kosong yang akan aku pinjam untuk tidur akan dipakai anak buahnya. Aku disuruh ke Terminal Rawamangun karena Damri ke bandara berangkat dari sana. Aku pergi naik ojek.

Bayangan seram anak kampung (aku) tentang Jakarta berputar-putar di kepalaku. Apalagi dengan berbagai berita yang pernah aku baca: tukang ojek merampok dan membunuh penumpangnya. Fiuh. Makin nggak karuan. Tetapi, keterdesakan kadang membuat orang melakukan seuatu yang tidak masuk akal. Mau gimana lagi, aku harus pergi. The power of kepepet. Hahaha. Aku naik ojek ke Rawamangun. Siap menghadapi kemungkinan terburuk: berkelahi dengan si tukang ojek kalau dirampok. Ternyata, fantasiku berlebihan. Si tukang ojek baik, mengantarku ke Rawamangun baik-baik dengan ongkos 15 ribu perak. Syukurlah, aku nggak perlu berubah jadi power ranger.

Sialnya, aku baru tahu, kalau Damri ke bandara berangkat paling awal jam 4 pagi. Tidak ada pilihan lain, jadilah aku menginap di terminal. Aku seharian belum mandi. Makan terakhir aku lakukan siang hari sebelumnya. Tidak berani beli makan karena takut uang kurang buat beli tiket pesawat plus pajak bandara yang waktu itu masih 30ribu. Sembari menahan lapar sekarang aku menggigil kedinginan tidur di atas ubin. Aku sempat ijin ke tukang jaga pos terminal numpang tidur karena mau berangkat ke bandara. Diijinkan asal tidur di luar, tidak di kursi. Beres! Yang penting nggak kena hujan.

Kesialan belum usai. Baru aja merem sebentar, dinihari entah jam berapa, ada razia gepeng. Muka dekil karena nggak mandi dan kelaparan memang membuatku memang amat mirip gepeng. Petugas Tramtib membentakku segera bangun dan menyeret masuk ke sekumpulan gepeng. Sialan. Bau banget. Dengan muka memelas aku menjelaskan kalau aku mau ke bandara hendak pulang ke Bali. Mereka nggak percaya. Aku bingung. Aku mengeluarkan senjata yang akhirnya jadi penyelamat. Kartu mahasiswa. Beruntung, si petugas Tramtib percaya dan mengijinkan aku tidur lagi. Fiuuuh. Lalu bagaimana sampai di Bali? Haha. Nanti diceritakan di sesi yang berbeda saja.

Buset, selingannya banyak amat. Sori, nostalgia dikit. Balik lagi ke perjalananku kali.

Eh sampai mana tadi?

Oia, Lebak Bulus. Itulah yang ingin aku lakukan sekarang. Pergi ke tempat yang sama sekali tidak aku tahu dan tidak pernah aku kunjungi sebelumnya. Di Lebak Bulus, aku melihat bus pertama yang akan berangkat adalah tujuan Garut. Waktu sudah menunjukkan jam 5 pagi. Baiklah, sepertinya itu yang menjadi tujuanku. Yes, berangkatlah ke Garut. Kemana? Entahlah. Seapes-apesnya, aku tinggal bertanya kepada kawan sekantor yang asli sana. Tol Cipularang aku lewatkan karena sudah terlalu sering lewat ke sana. Aku menugaskan Bon Jovi untuk nyanyi sepanjang perjalanan. Dia bersedia tanpa kupaksa. Leher sakit. Pesan moral kali ini adalah: sebaiknya membawa kawan seperjalanan yang asyik untuk mengobrol.

Beruntung, selepas tol Cipularang, di Cileunyi aku bersebelahan dengan seorang cewek. Ngakunya sih anak Komunikasi Unpad 2011 asli Garut. Iseng aja ngobrol daripada bengong. Nggak sempat kenalan karena langsung ngobrol begitu saja. Dari dia, aku bertanya kemana saja aku bisa berwisata di Garut. Oleh si cewek, (dari BBnya yang dia pegang, aku intip namanya Nindyta bla bla la), aku ditunjukkan beberapa tempat wisata di Garut. Salah satunya Cipanas. Teman sekantorku juga sempat berkunjung ke sana sebelumnya dan memperlihatkan foto-foto. Bukan ide yang buruk menurutku. Tapi aku belum memutuskan apakah akan ke sana.

Di Terminal Garut, perut keroncongan dan harus cari makan. Murah euy, 6 ribu dapat seekor ikan mas goreng. Aku bertanya ke petugas, kemana bisa cari penginapan. Dia nunjukkin Cipanas atau Semarang (serius, aku dengarnya Semarang). Semarang? Jawa Tengah. Enggak deh. Makasih. Kejauhan Pak! Aku akhirnya naik angkot ke Tarogong.

Naiklah angkot aku ke Tarogong. Sebenarnya kalau dari Jakarta, kita bisa langsung turun di pertigaan ini. Tinggal bilang aja sama sopirnya. Ke arah Cipanas tinggal naik angkot warna cokelat muda. Untung, temanku bersedia nganter muter-muter cari penginapan. Di Cipanas, suasananya tidak terlalu asyik. Aku merasa tidak terlalu klik. Ada air hangat tapi nggak desa-desa banget. Ramai. Lagian juga udaranya tidak terlalu adem.

Temanku menawarkan alternatif tempat lain: Samarang. Woaaalah, ternyata yang ditawarkan oleh petugas terminal tadi adalah Samarang, bukan Samarang. Pesan moral pada sesi ini adalah: aku harus membersihkan kuping sesampainya di rumah.

Berangkatlah kami mencari penginapan ke Samarang, lebih tepatnya Darajat, Pasir Wangi. Aku tidak tahu ke arah mana Samarang ini dari Garut. Yang pasti Samarang ini letaknya agak jauh dari kota Garut. Sejam perjalanan kalau naik motor. Jalanan sudah mulus. Aku sempat tanya ke penduduk, jalanan konon diperbaiki oleh PT Chevron, Pertamina dan Pemerintah Garut. Kalau punya uang lebih juga bisa menginap di Kampung Sampireun dan Mulih ke Desa. Cuma, kata temenku, bayarnya pakai dollar.

Jika berangkat dari Terminal Guntur di Garut, kita harus dua kali ganti angkot. Sekali naik angkot ke arah Panunjuk berwarna putih kombinasi hijau. Bilang aja ke Samarang dan turun di terminal sekaligus pasar. Dari pasar Samarang ini bisa naik angkutan pedesaan berwarna cokelat muda ke Darajat. Ongkosnya murah kok, masing-masing 5 ribu perak.

Darajat letaknya di kaki gunung. Aku tidak tahu gunung apa. Mirip sama Bedugul kalau di Bali. Dingin tetapi ada air panas. Belerang. Ada pengembangan pertanian tetapi belum jadi sepenuhnya. Kebanyakan masih berupa tanah gembur yang belum ditanami. Hanya ada pupuk kandang yang ditaruh begitu saja di tanah-tanah kosong itu. Potensi panas bumi sudah dikembangkan menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi oleh Chevron dan Pertamina.

Di Darajat, ada beberapa alternatif penginapan dengan harga per malam 300 ribuan. Kalau hari biasa bisa lebih murah. Ada juga villa yang sewanya sampai sejutaan lebih. Penginapan tidak banyak tidak lebih dari tujuh biji.

Aku menemukan penginapan yang asyik, di atas bukit dengan pemandangan yang ciamik. Penginapan Darajat Jaya. Sempat berebutan dengan seorang ibu. Aku akhirnya bisa mendapatkan kamar menghadap langsung gunung. Aku sudah membayangkan akan disuguhi pemandangan ciamik besok pagi. Si ibu dan ‘keponakannya’ mendapat kamar di pinggir jalan. Harga penginapanku 200 ribu semalam ditambah ngasi tips ke seorang pemuda yang nunjukkin penginapan tadi. Total bayar 225ribu.

Penginapan sih biasa saja. Cuma ada satu spring bed ukuran single, plus selimut. Selimutnya tebal banget. Tidak ada handuk apalagi peralatan mandi. Aku malah nggak mandi sama sekali selama dua hari. Nggak kuat dinginnya cuy. Aku menyadari pentingnya selimut tebal ini saat melewatkan malam. Meskipun sudah tidur memakai celana panjang, baju dan jaket plus selimut, dinginnya menusuk kulit. Brrrh…..

Dengan harga segitu, lumayanlah menurutku. Kesannya mahal karena aku sendirian. Ada sejumlah pemandian air hangat dan wahana mirip waterboom yang sebenarnya bisa dicoba. Dari pemuda yang aku kasih tips, wahana ini dimiliki oleh penduduk lokal. Aku tidak tertarik mencoba. Pertama karena dingin. Kedua karena tidak bawa celana ganti. Aku hanya bawa satu jins yang kupakai ini. Kalau mau coba masuk ke wahana bayarnya murah kok, sekitar 15 ribu. Aku juga sempat tengok-tengok ke dalam. Gratis, karena si pemuda brandalan desa ini.

Tetapi, persoalan belum selesai. Dari Jakarta, aku hanya bawa uang 300 ribu. Untuk beli tiket Primajasa ke Garut seharga 35 ribu plus makan dan angkot. Tadi dipakai bayar penginapan 200 ribu. Uang yang dikantong kayaknya nggak cukup. Aku baru ngeh, sepanjang jalan nggak melihat ada ATM BCA. Stupid! Kenapa tidak ambil duit di Garut aja. Terpaksa aku turun dari Darajat ke wilayah yang agak ada pemukiman, 30 menit perjalanan naik motor. Beruntung aku menemukan ATM BRI di pertigaan yang aku sebut Panunjuk.

Oia, kebanyakan penumpang angkutan pedesaan ini kebanyakan angkutan pedesaan adalah petani dan pedagang. Semuanya menggunakan BAHASA SUNDA!!! Aku sama sekali nggak ngerti apa yang dibicarakan. Terasing. Persis kayak alien. Kalau orang pakai Bahasa Jawa, aku masih ngerti walaupun nggak bisa ngomongnya. Tetapi ngomong Sunda. Ampun deh. Nggak ngerti. Ngomongnya pelan-pelan.

Naik angkutan pedesaan selama 45 menit ke pemberhentian terakhir di Darajat. Kalau aku baca beberapa plang, ini masuk kecamatan Pasir Wangi, Garut. Ternyata, angkutan pedesaan ini nggak sampai di penginapanku. Ada dua pilihan, naik ojek atau jalan kaki. Aku memilih yang pertama. Jalan kaki bukan ide yang bagus. Selain jauh dan berbukit-bukit, ini akan menghabiskan tenaga. Nanti aku malah terkapar di tempat tidur. Bayarnya murah kok, 5ribu perak.

Karena niatnya mau nulis, aku mencari lokasi yang paling enak. Jalan-jalan sebentar, aku menemukan saung. Asyik, menghadap lembah dan gunung. Lumayan bisa menyelesaikan beberapa tulisan termasuk tulisan ini. Pemandangannya cihuy. Jadilah aku ngetik tulisan ini di saung sembari menelan ludah karena ada orang pacaran di saung sebelah.

Si pemuda brandes juga sempat bilang, kalau mau penghangat ruangan juga bisa dipesankan. Aku awalnya bingung dengan istilah ini. “Ya masa betah malam-malam sendirian kedinginan.” Sialan. Dia cerita, sering bawa cewek-cewek untuk nemenin tamu. Biasanya anak SMA di sekitaran Garut. Harganya? Hahaha. Sepanjang malam akhirnya aku pakai untuk menulis. Entah sajak. Entah puisi. Asyik memang jika menulis untuk menyenangkan diri sendiri.

Aku juga sempat ke kawah belerang. Ada dua kawah, tetapi aku hanya mengunjungi yang pertama. Lokasinya masih agak ke atas lagi sekitar 3 kilometer dari pusat desa. Tempatnya hutan tetapi sudah banyak petani yang bercocok tanam. Tanaman di sini kebanyakan sayuran dan tembakau. Si pemuda yang mengantarkan aku wanti-wanti agar tidak terlalu lama di belerang. Beracun. Aku langsung pergi saat sudah mulai mual. Sempat jalan-jalan ke instalasi Chevron, termasuk naik ke menara pemantau. Si pemuda brandes bengong liat kelakuanku memanjat menara setinggi 25 meter.

Begitulah. Dua hari yang menyenangkan. Alam yang asyik, udara yang sejuk dan pikiran yang segar kembali. Lumayanlah bisa mengurangi kepenatan ke Jakarta. Aku balik Minggu siang saat bus-bus besar masuk ke Darajat. Sepertinya desa ini akan menjadi desa yang berkembang.

Hidup harus dinikmati dengan kejutan-kejutan…

Tiket bus dari Lebak Bulus ke Garut. 35 ribu!

Saung. Cocok untuk menyendiri 🙂

Pemandangan di depannya asyik nih…

Ini penginapannya 🙂

Salah satu wahana di sana. Cocok untuk liburan bersama keluarga.

Kawah belerang.

Papan petunjuk. Silakan baca sebelum turun.

Baca ini!

Awas sengatan lebah!

Salah satu instalasi Chevron.

Mengintip di sela-sela pepohonan 😀

Ini pemandangan dari kamar hotel 🙂

Mudah-mudahan gambar ini tidak merusak keindahan seluruh foto dan cerita :p

Iklan

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kadekdoi said, on Juni 24, 2012 at 4:27

    culik aku mas…culik! ajak kesanaaaa huwaaa…
    kabutnya keren :’)

  2. obat sakit kanker payudara said, on Juni 24, 2012 at 4:27

    bawalah pergi contaku, ajak kemana kau mau,.,,,

    wah pengen ke sana,,,

  3. jaka said, on Juni 28, 2012 at 4:27

    wahh pasti ceweknya cakep yang diajak ngobrol tuh,, hhihihi/

  4. nadiananda said, on Juni 28, 2012 at 4:27

    Baca artikel ditambah ngemil Gorengan plus cabe nya.. Mantepp sangadh.. Jadi Semangat..!! 😛


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: