Agus Lenyot

Mencintai Indonesia, Mencintai Keragaman

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Juni 30, 2012

Jika ingin belajar tentang Indonesia, kalian bisa datang ke desa ini: Candikusuma.

Desa itu jauh dari hiruk pikuk ibukota, berada di Jembrana, kabupaten terbarat Provinsi Bali. Jarang disebut dalam hiruk pikuk pariwisata. Tetapi sudah jamak diketahui, kabupaten Jembrana memang beragam karena multietnis. Aneka suku ada di kabupaten ini. Jangan pernah mencari desa ini di peta. Tetapi jika kalian datang ke Bali lewat pelabuhan Gilimanuk, kalian akan melewati desa ini.

Desa ini, selayaknya Indonesia, penduduknya amat heterogen. Beragamnya penduduk tidak hanya dari sisi pekerjaan tetapi juga suku dan agama. Sebagai daerah pesisir, Candikusuma sangat terbuka menerima sesuatu yang baru. Masyarakat hidup rukun dan jauh dari keriuhan politik sebagaimana layaknya gegap gempita bangsa ini.

Secara garis besar, desa ini terdiri dari tiga agama, Hindu, Islam dan Kristen. Ketiganya hidup selaras dan berdampingan. Masyarakat Islam lebih banyak berprofesi sebagai nelayan dan swasta. Sedangkan pemeluk agama Hindu lebih banyak menjadi petani. Rasanya, selama belasan tahun aku tinggal di sana, tidak pernah ada konflik yang disulut oleh isu suku dan agama. Harmoni dijalankan tanpa paksaan.

Pura bisa berdampingan dengan masjid dan gereja. Lantunan azan tidak pernah membuat masyarakat terganggu. Begitu juga saat masyarakat Hindu menjalankan ritual upacara. Semua berlangsung alamiah penuh kedamaian. Kami meyakini, toleransi bukan teori belaka. Kami percaya toleransi adalah kenyataan yang tak perlu dipaksakan apalagi dibuat-buat dalam keragaman.

Yang membuat desa ini menjadi semakin istimewa adalah saat pemilihan kepala desa secara langsung periode terakhir. Diakui atau tidak, kedekatan agama atau suku menjadi faktor penentu kemenangan seseorang dalam pemilihan yang demokratis, apalagi yang mengandalkan suara terbanyak. Tapi itu tidak berlaku di desa kami.

Sejak Agustus 2007, kepala desa yang memimpin administrasi pemerintah dan dipilih secara langsung adalah seorang Kristiani. Pemilihan ini berlangsung tanpa gejolak. Tidak ada hembusan isu agama untuk memancing keriuhan politik skala mikro. Hingga hari ini, kami tetap menghormati seorang minoritas yang menjadi pemimpin diantara dua suku mayoritas. Hal yang rasanya akan sulit ditemui di daerah lain karena kentalnya sentimen etnis.

Fakta ini semakin meyakinkanku, desa kami sangat menenggang perbedaan termasuk menghormati minoritas. Buat kami perbedaan adalah kekayaan yang harus dijaga, keindahan yang harus dipertahankan dan kerukunan yang mendamaikan.

Kebetulan, perjalanan hidup membuatku harus bergaul dengan berbagai macam suku bangsa. Saat aktif di pers kampus di sebuah universitas negeri di Bali, aku bergaul dengan berbagai suku dan agama. Ada teman dari Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Sumatera. Kehidupan kampus juga membuatku mengenal beberapa kawan dari Indonesia Timur seperti Flores, Ende hingga Papua. Saat itulah, aku merasa beruntung mengalami masa kecil yang penuh toleransi. Aku tidak gagap lagi dengan pergaulan yang dinamis dan penuh dengan perbedaan.

Tetapi keyakinan terhadap tenggang rasa dan toleransi ternyata tidak dimiliki oleh semua orang. Semakin dewasa, ternyata keberagaman yang aku rasakan sejak kecil perlahan mulai meluntur. Di Bali, sentimen pendatang dikobarkan melalui semangat Ajeg Bali. Diawali meledaknya Bom Bali I pada 12 Oktober 2002, pendatang terutama dari Jawa dianggap sebagai biang masalah. Pelaku Bom Bali yang sebagian besar suku Jawa, kemudian menjadi pembenaran. Pendatang dianggap sebagai salah satu perusak kedamaian di Pulau Dewata.

Konflik diam-diam maupun terbuka sangat terasa. Harmoni yang aku rasakan seolah-olah hanya menjadi kesemuan belaka karena suatu waktu bisa meledak jika ada penyulut. Dalam skala kecil, aku merasakan betul konflik itu. Sentimen dan anti pendatang mudah ditemukan dimana-mana. Pergaulan kemudian gampang dikotak-kotakan berdasarkan asal dan etnis. Hal yang sebenarnya aku sesali. Beruntungnya, Bali tidak mengalami konflik bahkan perang seperti di daerah lain seperti Poso, Sampit, Aceh hingga Papua.

Semakin dewasa, konflik atas nama agama atau perbedaan keyakinan bukan makin surut tetapi semakin menjadi. Di Taman Yasmin, Bogor, gereja disegel meskipun sudah memiliki kekuatan hukum. Masjid saudara kita penganut Ahmadiyah dibakar hanya karena dianggap berbeda dari kebanyakan. Orang bisa saling tebas hanya karena perbedaan keyakinan.
Tidak hanya itu, peraturan daerah berbau agama dipaksakan berlaku sama rata kepada semua pihak. Sentimen mayoritas terhadap minoritas sengaja dipelihara untuk kepentingan jangan pendek seperti pemilihan kepala daerah. Pembantaian dibenarkan atas nama pembelaan kepada agama padahal yang kita sakiti adalah kawan kita sendiri. Di Jakarta tempat aku bekerja sekarang, kondisi intoleransi juga mudah ditemui. Aku merasa, kita mudah kehilangan kemanusiaan.

Dengan berbagai fakta tentang Indonesia itu, aku tercenung dan merenungi lirik lagu band folk asal Bali Dialog Dini Hari. Lagu mereka berjudul Aku Adalah Kamu mengajarkan kepada kita, sebenarnya kita lahir dari rahim yang sama. Salah satu penggalannya liriknya seperti ini:

Tanah yang kuinjak sama sepertimu. Langit yang kujunjung sama sepertimu. Aku tak berbeda darimu. Udara yang kau hirup, kuhirup juga. Dingin yang kau rasa, kurasakan sama. Aku tak berbeda darimu. Kendati doa terucap beda. Anugerah yang sama kita terima…

Lirik lagu ini mengingatkanku pada kondisi Indonesia. Tiba-tiba aku teringat dengan Candikusuma. Desa dimana aku menghabiskan masa kecil hingga remaja. Aku pikir, kita bisa belajar dari sana. Aku tidak ingin mengatakan, desa ini yang paling Indonesia apalagi yang paling demokratis.

Aku juga tidak mengklaim inilah satu-satunya tempat dimana toleransi masih dijunjung tinggi. Tetapi pengalaman selama hampir 18 tahun tinggal di sana menunjukkan, desa ini kukuh memegang toleransi di setiap denyut kehidupan. Aku yakin masih banyak tempat serupa di Indonesia yang jauh dari publisitas dan hingar bingar media.

Kita memang dilahirkan dengan agama beraneka rupa, dengan doa beraneka nada dan kulit beraneka warna. Kita semestinya belajar dari sana. Belajar mencintai Indonesia dari hal-hal sederhana. Karena kita lahir di bumi yang sama. Karena kita Indonesia. Rasanya tidak perlu malu untuk berbeda…

Iklan
Tagged with: ,

6 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. imadewira said, on Juli 2, 2012 at 4:27

    Khusus tentang pandangan pada penduduk pendatang, bagi saya pribadi saya tetap menganggap sama mereka dengan penduduk asli. Tapi bagaimana pun juga, kita tetap harus waspada terhadap orang asing, baik orang Indonesia atau pun bule. Pengalaman Bom Bali benar-benar membuat trauma. Wajar saja kalau orang Bali lebih waspada dan awas pada orang asing.

    Jadi perlu dibedakan antara pendatang dan orang asing yang tidak kita kenal jelas.

  2. Yedi said, on Juli 9, 2012 at 4:27

    Bagaimana pendapat anda tentang Ahmadiyah yang dianggap telah menghina Islam, seperti adanya fatwa MUI? Apakah umat Islam salah bila mengajak Ahmadiyah untuk kembali kepada Islam, bahkan dengan menggunakan kekerasan seperti di Cikuesik Banten?

    • Agus Lenyot said, on Juli 9, 2012 at 4:27

      Lalu, apakah Tuhan ‘kalian’ menganjurkan kekerasan agar orang kembali ke ‘jalan yang benar’ versi kalian?

  3. modern classic furniture said, on Juli 16, 2012 at 4:27

    bagus neh artikelnya…mengingatkan kita untuk bertoleransi antar sesama…:)

  4. amstrong indonesia said, on Oktober 8, 2012 at 4:27

    trimakasih buat pelajarannya
    keragaman indonesia patut kita cintai

  5. Rayhan Dafdy said, on Oktober 29, 2012 at 4:27

    Sangat menarik sekali artikel anda, Saudaraku…lupakah kita dengan tulisan yg ada pada pita Burung Garuda?….Itulah Indonesia…Indonesia yang unik dengan kelebihannya yang unik yaitu keragamannya. seandainya kita tidak beragam, apakah cerita Indonesia akan menarik?. Salam hormat saudaraku sebangsa dan setanah air


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: