Agus Lenyot

Zona Nyaman Itu Adalah…

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Juli 23, 2012

Aku sempat menuliskan topik ini sebagai kicauan beberapa waktu lalu.
Beberapa hari lalu seorang sahabat lama datang bercerita. Biasalah, keluh kesah seorang wanita apalagi kalau bukan tentang asmara. Asmara berarti laki-laki meski ada sebagian kecil memilih jenis yang sama.

Kawan ini bercerita tentang jatuh bangun hubungan amasra. Dari hari ini hingga prospek masa depan dia bersama sang laki-laki. Aku mendengarkan dengan seksama sembari mengetik berita.

Intinya, sahabatku tahu bahwa suatu hubungan akan menemukan titik suram suatu ketika nanti. Aku menyebutnya, hubungan tanpa masa depan (yah seperti aku dan Dian Sastro). Mungkin kawanku punya bahasa berbeda. Dia galau memikirkan itu hari ini. Karena itu, dia ragu apakah mau putus atau meneruskan hubungan. Di titik inilah, zona nyaman itu tersebut.

Pembicaraan rehat sekejap.

Kawanku termenung.

Aku merenung.

Pembicaraan sempat terhenti saat redakturku memanggil. Ada berita yang belum terselesaikan. Sebentar saja, sebab kami terlibat lagi pembicaraan yang menyenangkan.

Bagi sebagian orang zona nyaman itu mungkin diartikan sebagai suatu fase dimana seseorang menjadi begitu betah berada dalam fase tertentu. Berada dalam sangkar emas yang berkilau dilihat orang lain tapi merintih di karena terkurung dalam sekat-sekat.

Dalam lingkungan kuliah misalnya, zona nyaman dulu dianggap sebagai fase cari aman. Sering aku mendengar nada sinis macam begini, “Udahlah, ngapain ikut demo. Mending kuliah yang benar, lulus lalu cari kerja.” Dulu, aku juga sering sinis terhadap mereka yang berpikiran seperti ini. Aku sering berdiskusi, mengajak kawan-kawan yang tidak berorganisasi, karena dianggap buang-buang waktu, untuk aktif dalam dinamika kampus. Aku sering mengatakan, “Ayolah, mahasiswa. Keluar dari zona nyamanmu.”

Obrolan dengan kawanku itu membuat aku berpikir, apa itu zona nyaman. Apa iya, zona nyaman itu betul-betul membuat kita nyaman sampai kita enggan beringsut keluar? Apa zona nyaman seperti ketika hujan turun lalu kita berada di kamar tidur dilengkapi selimut tebal dan segelas kopi hangat?

Beberapa kali merenung dan menimang-nimang.

Sampai suatu titik aku merasa, zona nyaman itu berada di ruang yang berkebalikan seperti aku pikir sebelumnya. Sebagian mungkin zona nyaman itu adalah sesuatu yang benar-benar membuat kita nyaman, senang dan lebih bergairah menjalani hidup. Sebagian lagi, mungkin zona nyaman berada di sisi yang berlawanan.

Beberapa sahabat lama, perempuan tentu saja, mengeluhkan hubungan asmara dengan pacarnya. Ada yang dicuekkin. Ada yang merasa hubungan tidak memiliki masa depan. Ada yang merasa dipersalahkan melulu. Aku mendengarkan sembari merenung. Berpikir. Perempuan ternyata memiliki dimensi yang teramat kompleks. Susah dipahami. Bahkan ketika kita sudah mengenalnya bertahun-tahun (#curhat).

Balik lagi ke soal zona nyaman. Pada titik inilah, aku merasa zona nyaman sahabatku ini adalah pacaran. Aku tidak tahu bagaimana kuantitas dan kualitas hubungan sahabatku itu. Aku tidak bertanya lebih jauh. Tetapi dari sekelumit cerita yang dia ceritakan, sebagian besar dari dinamika pacaran aku rasa tidak berada pada kondisi yang membahagiakan.

“Berani nggak kamu meninggalkan zona nyaman itu?” Aku bertanya.
Tentu saja yang aku maksud zona nyaman adalah ‘hubungan pacaran’ itu. Kawanku tidak memberi jawaban tegas. Aku tahu, dia memilih untuk tetap bertahan dalam hubungan tanpa masa depan seperti bahasaku itu.
Begitulah, zona nyaman bagiku adalah ketidakmampuan kita beranjak pada posisi hari ini.

Posisi yang membelenggu dan mengikat kita dan memaksa kita untuk tetap berada pada lingkaran itu. Padahal, selalu tersedia pilihan, “Kenapa tidak mencari yang baru?” Lepas dari hubungan yang ‘tanpa masa depan’.

Kita kadang susah mengalahkan ketakutan, termasuk lepas dari hubungan asmara, bergerak ke titik nol alias jomblo. Itu bukan pilihan yang menyenangkan. Tetapi keberanian itu akan membuat kita punya lebih banyak pilihan. Beberapa kawan juga mengalami problem yang sama. Sudah berkali-kali disakiti, tetap saja tidak mau berhenti pacaran. Lha, kawin saja belum. Atau sudah berkali-kali ketahuan selingkuh, masih aja dikasih hati.

Gimana tidak laki-laki (perempuan juga sih) tidak ngelunjak? Takut memutuskan hubungan karena sudah nyaman pada status. Padahal, kalau kita tidak berani berhenti, kita tidak akan pernah tahu bahwa ada ribuan cowok jomblo ngenes yang jauh lebih baik dari orang yang tiap hari membuat kalian menangis tersakiti. Berani memulai pilihan untuk bergerak ke titik nol adalah hal lain. Jika tidak, kita hanya punya satu pilihan: hubungan pahit yang harus tetap dijalani. Hubungan pahit inilah, menurutku, zona nyaman sahabatku itu.

Di ruang dan waktu yang berbeda zona nyaman juga ada. Misalnya ketika menjadi karyawan perusahaan besar karyawan dengan gaji lumayan. Ada yang bekerja di perusahaan ternama mengeluh meskipun gajinya setinggi langit. Entah terbelenggu jam kerja, otoritas atasan hingga keseragaman. Kita merasa punya potensi diri dan bisa melakukan lebih jika diberikan ruang untuk berkreativitas.

Tetapi, kita selalu takut untuk keluar dari perusahan dengan nama besar dan mulai merintis. Aku pun mengalami fase ini. Kita ingin keluar dari pekerjaan dan menjadi mandiri. Namun, ada ketakutan yang selalu menghantui. Takut gagal. Takut tidak bisa makan dan hidup senyaman hari ini.

Padahal, kita belum dunia yang bisa kita raih jika keluar dan berdiri di kaki sendiri. Bukankah lebih baik menjadi pilar di rumah yang rapuh daripada menjadi debu di istana orang lain? Atau pernah kan dengar istilah, daripada menjadi tikus di kandang macan lebih baik menjadi macan di kandang tikur.

Begitulah, zona nyaman itu adalah ketakutan kita sendiri…

Iklan
Tagged with:

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. gung ws (@gungws) said, on Agustus 7, 2012 at 4:27

    sama nyot… hubunganku dengan Dian Sastro juga gitu… *duduk termenung di sofa*
    intinya, jangan ngeluh, nikmati saja…tiap orang punya peran kok..dan semua orang boleh iri sama orang lain..yg diiriin boleh bangga :))
    sekian..nyundul si orange ah..

  2. imadewira said, on Agustus 16, 2012 at 4:27

    Ingat jaman AADC *lho…

    Zona nyaman adalah ketika kita tidak berani mencoba yang baru. *dan saya sering begitu 😦

  3. heri said, on Oktober 6, 2012 at 4:27

    zona nyaman? la kalau berada di sangkar emas cuman bisa dipuja, tapi di dalam hatinya tidak bebas itu bener bener keluar dari zona nyaman bahkan tidak nyaman sama sekali, itu bukan termasuk bukan masuk zona nyaman


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: