Agus Lenyot

Kenapa Aku Muak Kepada Mereka

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Juli 31, 2012

Ada banyak tenda dan posko bantuan di Pekojan, Tambora Jakarta Barat. Tapi dua tenda yang menarik perhatianku. Satunya bernuansa kotak-kotak dengan gambar Jokowi dan pasangannya. Ada juga bendera Partai Gerindra. Lokasinya sangat strategis, di depan rel kereta api dan mencolok dibandingkan posko bantuan lain. Satunya bernuansa biru dengan ajakan mencoblos Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli. Di tenda ini, keriuhan untuk memilih Fauzi Bowo terasa.

Sebenarnya, bantuan dari partai politik (untuk mempermudah kita sebut saja partai politik) bukan hal baru saat terjadi bencana alam. Lumrah malah. Tetapi entah mengapa, kedua posko ini mengusik pikiranku. Itu pula yang membuat tertarik untuk membuat feature mengenai kedua posko bantuan ini ke media tempat aku bekerja.

Bencana, tentu datang tidak dinyana serta tidak diharapkan kehadirannya. Tetapi berebut simpati untuk meraih kursi kekuasaan jamak dilakukan oleh partai politik. Aku sering melihatnya di tipi, apalagi menjelang pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah. Mereka berebutan mencari perhatian publik.

Meskipun mereka, aku bertanya kepada dua orang penjaga posko, tidak ada unsur pamrih, aku selalu menangkap kesan ada imbal balik yang mereka harapkan. Minimal, mereka ingin mengatakan kepada publik, “Kami lho perhatian kepada warga yang terkena bencana.”

Aku membayangkan, jika kebakaran terjadi sebelum pemilihan kepala daerah Jakarta, tentu akan lebih banyak posko kebakaran dengan embel-embel partai politik. Aku yakin, semua calon gubernur akan berlomba-lomba menunjukkan kepedulian palsu. Aku tidak tahu apakah rakyat merasa muak dengan kehadiran mereka. Kalau aku pribadi, sih tentu saja muak. Hehehe.

Inilah kenapa aku membenci partai politik. Meskipun aku juga tidak memungkiri banyak pengurus partai yang benar-benar bekerja dan mengabdi untuk masyarakat. Tapi mencari orang partai politik seperti ini ibarat mencari kutu di rambut Edi Brokoli. Susah cui. Itulah aku lebih sering punya asumsi buruk kepada partai politik. Kehadiran mereka hanya saat mereka perlu simpati dan dukungan publik. Begitu dapat momen, seperti bencana alam, mereka seakan-akan menunjukkan merekalah yang paling bekerja untuk rakyat.

Padahal, menurutku yang awam politik, mendapat simpati dan dukungan rakyat sebenarnya tidak susah-susah amat. Misalnya, aku mencontohkan, partai politik menunjukkan peran di tengah kesulitan sosial. Dalam musibah kebakaran misalnya, seharusnya ini menjadi ajang bagi partai politik untuk menunjukkan kepedulian dengan sungguh-sungguh.

Bukankah salah satu fungsi partai adalah komunikasi politik? Syaratnya, mereka konsisten bekerja. Tidak hanya memanafaatkan momentum pilkada untuk meraih simpati. Tapi melakukan aktivitas yang berguna untuk masyarakat sepanjang tahun. Dengan konsep macam begini, partai politik tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk politik uang dan semacamnya. Bahkan, aku akan rela menyumbang untuk menghidupi partai politik jika mereka benar-benar sungguh-sungguh bekerja kepada kita.

Saat ini, kita merasakan kehadiran partai politik hanya jelang pilkada atau pemilu. Lainnya, bullshit! Partai politik hanya semacam kumpulan omong kosong yang mengisap masyarakat. Partai politik hanya menjadi sekumpulan anjing lapar yang ingin menggeroti tulang bernama anggaran negara. Mereka tak lebih dari itu. Partai politik adalah kutu. Wajib disemprot dengan Baygon!

Itulah kenapa aku juga tidak rela melihat pejabat-pejabat, termasuk PNS memakai mobil mewah, makan di restoran mahal atau tinggal di komplek mentereng. Muak. Mereka tidak pernah bersungguh-sungguh bekerja untuk kita. Mereka hanya mementingkan perut mereka sendiri. Lihat saja, urusan apa yang benar di republik ini jika diserahkan kepada aparatur sipil? Nggak ada! Sama sekali.

Aku sesungguhnya, amat legowo melihat gubernur, bupati atau anggota DPR hidup mewah jika mereka serius bekerja kepada kita. Serius mengabdikan diri untuk rakyat. Hidup enak dan layak adalah harga setara untuk mereka yang tak pernah lelah untuk bekerja. Tapi hari ini? Mana ada. Ini mungkin pangkal kemuakan kita mereka.

Gambar dari sini

Iklan

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. imadewira said, on Agustus 16, 2012 at 4:27

    Jujur saja, saya juga sudah men-cap jelek partai politik. Politik sepertinya hanya membawa keburukan bagi masyarakat. Entah bagaimana seharusnya politik yang benar. Tapi yang saya lihat, sepertinya butuh uang berlimpah disana.

  2. Adi Widana (@AdWid) said, on Agustus 16, 2012 at 4:27

    sayangnya, masih banyak orang yang otaknya ‘tercuci’ untuk mendukung sebuah partai politik tertentu, yahh diiming-imingi duit tentunya. walau engga semua ya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: