Agus Lenyot

Navicula, Indonesia Bangga Karenanya

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Agustus 3, 2012

Navicula ke Kalimantan

Kebanggaan Navicula bukan hanya milik Bali, tempat mereka lahir. Tetapi ini kebanggaan Indonesia di tengah masa suram republik hari ini.

Aku mendengar Navicula berhasil memenangkan kompetisi Rode Rocks dari twitter beberapa waktu lalu. Kompetisi ini diikuti oleh band dari berbagai negara. Navicula menang berdasarkan voting lewat internet. Mereka akan mereka albumnya di Record Plant Studio, Hollywood. Konon studio ini merupakan studio legendaries. Aku manggut-manggut saja karena tidak mengerti.

Soal kemenangan Navicula, aku tidak kaget. Indonesia merupakan salah satu pemegang lisensi Trending Topic World Wide. Ada dua nama setidaknya yang menjadi barometer TTWW dari Indonesia yaitu Raditya Dika dan Poconggg. Aku merasa, twitter sudah selayaknya menyematkan lisensi TTWW kepada dua selebtwit ini. Buatku, kalau sampai Navicula kalah, berarti ababil Indonesia memang tidak memiliki masa depan. Syukurlah, band idolaku ini menjadi pemenang.

Aku mengenal Navicula saat mereka manggung di ulang tahun salah satu fakultas di Udayana. Kebetulan, adik sepupuku termasuk orang yang menggemari mereka. Aku kala itu, yang diseret oleh adikku itu, mau tak mau ikut mendengarkan. Ternyata aku menyukainya. Beberapa lagu, akhirnya akrab di telingaku. Perjalanan waktu membawaku banyak bergaul dengan orang-orang dekat atau setidaknya sering beririsan dengan Navicula.

Itulah yang akhirnya terjadi. Aktivitas organisasi yang aku geluti dulu, termasuk pers kampus dan organisasi eksekutif di kampus membuatku terjebak lingkaran setan aktivis di Bali. Kenapa aku menyebut aktivis dan lingkaran setan karena dua hal. Pertama, penyebutan lingkaran setan karena orangnya hanya itu-itu saja. Dalam setiap event kreatif di Bali, hampir pasti mereka inilah yang menjadi biang keladinya.

Kedua, aku menyebut aktivis karena ruang lingkup mereka amat beragam dalam memperjuangkan (oke, bahasanya terlalu berat) banyak hal. Entah lingkungan (ini paling sering) atau hal lain yang berhubungan isu sosial. Apalagi band ini memang banyak mengangkat isu lingkungan dalam setiap lagunya. Pada lingkaran inilah pertautanku dengan Navicula sering terjadi. Navicula sering menjadi bintang tamu dalam acara kampus atau event kreatif di Bali.

Aku punya pengalaman unik dengan Navicula. Suatu ketika, kalo nggak salah pertengahan 2009, saat terjadi bencana alam di Padang. Organisasi mahasiswa yang aku pimpin ingin mengadakan penggalangan dana. Kami, waktu itu aku dan sahabatku Ruben bingung siapa pesohor yang bisa kami ajak untuk manggungg menarik massa.

Kami yang sedang nonton konser di Simpang Teuku Umar melihat Navicula manggung. Bersama Ruben, aku mendekati Robi, sang vokalis. Sok kenal aja. Kepada Robi, aku bilang soal rencanaku tentang acara penggalangan dana. Sedikit pesimis sih. Maklum, aku nggak yakin mereka bisa mengumpulkan personel dalam waktu singkat. Apalagi rencana penggalangan dana ini harus berlangsung keesokan harinya. Tak tahunya, Robi menyanggupi. Bahkan dia berjanji semua personel akan hadir. Aku girang bukan kepalang.

Besok, jadilah Navicula manggung di kampusku. Di depan Lab Bahasa dengan peralatan seadanya. Penontonnya nggak banyak hanya ada sekitar 30 orang dalam acara itu. Paling banyak memang teman-teman Fakultas Teknik, mungkin tempat Navicula banyak mendapatkan gigs. Meski tidak dihadiri banyak penonton, mereka tetap manggung dengan total. Inilah yang membuat semakin respek dengan mereka.

Ada kejadian unik sesudah konser ini. Telepon seluler Robi, Nokia butut ternyata jatuh di tempat penggalangan dana (entahlah, apakah telepon ini masih dipakai hingga hari ini). Aku yang dilapori perihal penemuan ini oleh kawan langsung membawa pulang. Bingung mencari kontak mereka, aku menemukan kontak Dadang atau yang di Navicula di sebut Dankie di handphoneku. Aku ceritakan soal ponsel Robi dan berjanji meneruskan info ini ke sang pemilik.

Begitulah, besoknya Robi nelpon aku dan meminta waktu untuk ketemu. Pas ketemu, sebagai ucapan terima kasih dia ngasih aku album terbaru mereka saat itu: Salto. Meski aku sudah punya, tetap saja pemberian ini menjadi begitu istimewa. Hahaha. Dasar. Selebihnya, pertemuan dengan Robi lebih banyak terjadi saat mengikuti berbagai diskusi yang dilakukan di Bali sebelum aku menetap di Jakarta.

Di antara semua personel Navicula, hanya Dadang yang kukenal baik. Dia menjadi leader di band folks yang sedang naik daun, Dialog Dini Hari. Kebetulan cewekku dekat dengan mereka karena pernah bantu sejumlah pementasan Dialog. Sisanya, personel Navicula, aku kenal sepintas lalu saja.

Dulu mereka gagal konser bareng Bon Jovi di London karena dikalahkan oleh Gugun Blues Shelter. Di Bali, Navicula mengalahkan band jutaan penggemar, Superman Is Dead. Meskipun sudah berjuang total, termasuk dukungan Jerinx, makhluk dengan sejuta die harder, saat voting, Navicula tetap gagal berangkat ke Inggris. Tapi, dengan konsistensi dan kualitas mereka, rekaman di Amerika Serikat adalah harga yang pantas mereka terima. Aku tidak akan mengulas satu per satu album mereka. Lihat saja di Youtube. Kalian cerna lirik mereka secara pelan-pelan dan rasakan kedalaman maknanya.

Aku selalu merasa, seperti band indie lain, Navicula adalah generasi yang muak dengan kemunafikan di republik ini. Tapi harus aku akui, Navicula banyak menaruh perhatian pada isu lingkungan. Dalam setiap konsernya, Robi tidak hanya bernyanyi. Dia juga banyak berbicara tentang isu politik, ekonomi, sosial budaya dan tentu saja lingkungan.

Video klip yang membawa mereka menang ke Hollywood judulnya Metropolutan. Temanya masih tentang lingkungan. Tentang kemuakan mereka terhadap kesemrawutan dan polusi di ibukota Jakarta, tempat aku mencari nafkah kini. Googling aja deh kalau mau liat videonya.

Selain ke ke Hollywood, Navicula juga memenangkan kompetisi Planetrox dan mewakili Indonesia di Envol et Macadam di Kanada. Navicula akan membawa kampanye penyelamatan orang utan serta isu-isu krusial tentang lingkungan. Seharusnya ini menjadi kesempatan emas bagi mereka untuk membawa kampanye lingkungan di Indonesia ke level yang lebih tinggi.

Terus inti dari tulisan ini apaan? Hehe. Nggak ada sih. Cuma mau bilang, kalo aku kenal dengan personel Navicula. Katrok ya? Iye tahu.

Iklan
Tagged with: ,

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kadekdoi said, on Agustus 3, 2012 at 4:27

    eh uda dengar lagu Robi yang tolak tas kresek, tiap belanja ke mini market kalau inget lagu ini belanjaan langsung masuk ransel ga usah diplastikin 😉 hehehe, btw congrats Navicula 😀 selalu keren dan menginspirasi untuk jadi kreatif!

    • gung ws (@gungws) said, on Agustus 7, 2012 at 4:27

      aku malah kurang suka yg tolak tas kresek itu…hehe
      favoritku: aku bukan mesin, modern mantra, zat hijau daun…
      pertama liat dadang dirumahnya roby..ngeri nok..sumpah takut! :))

  2. dodi permana said, on Agustus 4, 2012 at 4:27

    lagu AKU BUKAN MESIN membuatku menjadi kreatif, dan ingin menjadi penguasa ehhh……. pengusaha yang menguasai dunia ha….haaa.haaaa menjadi boss kelapa sawit biar orang hutan tidak punah PISS, ketawa lagi ha……..haa…..ha..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: