Agus Lenyot

Tanpa Agama Kita Bisa Berbuat Baik Kok…

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Agustus 16, 2012

Jujur saja, aku sebenarnya tidak tertarik pada isu agama. Tetapi, beberapa kali meliput salah satu kandidat Gubernur DKI Jakarta, aku sebut saja, Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli, membuatku terpaksa ikutan berkomentar perihal ini.

Aku bukan orang yang taat beragama. Agama yang aku anut, Hindu, setidaknya itu yang tercatat di kartu penduduk, bukanlah hasil kontemplasi panjang nan melelahkan atau dilakukan bertahun-tahun. Aku menerima agama ini karena ketika lahir, tidak punya pilihan lain selain memeluk agama ini. Aku mewarisi agama ini dari leluhurku. Ketika sudah punya kemampuan untuk memilih, aku tetap memeluk agama ini. Sebabnya sederhana saja, belum memiliki alasan untuk pindah agama.

Pilkada DKI dengan segala dinamikanya memaksaku untuk ikutan berkomentar soal agama dan perilaku penganutnya.

Tentu saja, tidak perlu aku ceritakan panjang lebar bagaimana ihwal soal isu agama dan suku ini muncul dalam Pilkada DKI. Kita ketahui, Joko Widodo berpasangan dengan Basuki Purnama alias Ahok yang beretnis Cina dan beragama Katolik. Kita ketahui pula, Jokowi unggul pada putaran pertama Pilkada DKI, jauh diatas calon inkumben.

Inilah, yang kukira, asal muasal kenapa isu SARA menjadi hangat dalam pesta demokrasi ini. Diskusi ini kemudian menghangat di beberapa media, termasuk kontroversi Rhoma Irama saat memberikan ceramah di Jakarta Barat. Awalnya, aku tidak begitu terganggu dengan isu ini. Menjelaskan asal muasal calon, termasuk agama dan etnis adalah hal yang wajar menurutku. Tentu saja, jika disampaikan dalam tendensi netral. Tetapi yang terjadi semua dibicarakan dalan tendensi negatif.

Kebetulan, aku beberapa kali mendengar ceramah pemuka agama di sejumlah masjid di Jakarta Barat. Aku menganggapnya itu sebagai kegiatan internal. Sama seperti ketika orang ceramah di pura atau gereja. Aku sebenarnya tidak ingin mendengar. Tetapi karena disampaikan dengan pengeras suara yang ajubile kerasnya, mau nggak mau, ceramah itu terdengar di kepalaku. Aku mengelus dada.

Betapa kata-kata ‘kafir’ atau ‘murtad’ digunakan untuk menyebut salah satu pasangan kandidat tertentu. Tentu saja, ini diikuti dengan bermacam asumsi negatif seandainya Jokowi dan pasangannya terpilih sebagai pemimpin DKI Jakarta. Aku tidak berani menuliskannya, sebab kalimat-kalimat yang digunakan dalam ceramah tersebut teramat kasar.
Aku hanya tidak menyangka, jika kalimat itu bisa terucap dari sebuah tempat yang dianggap suci.

Sebenarnya, aku tidak terlalu peduli dengan isi ceramah itu. Aku merasa, ayat-ayat suci agama tertentu mungkin memang mengajarkan demikian. Cuma karena disampaikan dengan volume suara berlebih, orang lain di luar lingkungan tempat ibadah mau nggak mau ikutan mendengarnya. Ini membuatku berpikir, “Oh ternyata tempat suci itu juga menjadi tempat untuk menjelek-jelekan orang lain.”

Aku berharap pemikiranku salah dan ini hanya efek dari Pilkada DKI. Orang, mungkin lebih memilih dipimpin oleh yang seiman meskipun tetap dibelenggu kemiskinan. Meskipun kemacetan dan kejahatan terus merajalela tanpa ada solusi yang berarti dari pemimpin yang seiman. Yang penting pemimpinnya satu iman. Persetan akan ada perubahan yang lebih baik atau tidak. Kadang-kadang, pada titik inilah logika orang beragama tidak bisa kupahami.

Aku teringat dengan ucapan Gus Dur yang intinya kurang lebih begini, kalau kamu berbuat baik untuk orang lain, maka orang lain tidak akan peduli agamamu apa. Ucapan Gus Dur menjadi begitu relevan dalam pemilihan gubernur Jakarta. Tidak peduli siapapun yang jadi gubernur, kalau ternyata dia bisa membuat kota ini jadi lebih baik, kenapa tidak dia saja yang dipilih?

Aku juga kadang-kadang jengkel sendiri dengan perilaku orang yang beribadah, termasuk di Bali, tempat aku menghabiskan masa kecil. Saat persembahyangan, misalnya, seenak saja menutup jalan mengalihkan lalu lintas ke gang-gang sempit. Padahal, mereka yang melintas belum tentu hafal jalan tikus. Di Jakarta pun aku sering mengalami hal seperti ini. Kalau agama mengajarkan orang untuk menghormati, ini menurutku adalah ironi.

Bagaimana mungkin peribadatan harus mengganggu aktivitas orang lain. Apalagi yang bertugas mengatur lalu lintas bukan main galaknya. Aku mungkin anomali, tetapi mereka yang mengaku beragama, harus memperhatikan nasib anomali sepertiku. Yah, jika itu juga agama mengenal yang namanya toleransi.

Aku akhirnya merenung. Aku tidak (akan) menganggap agamaku paling benar. Setiap orang boleh beranggapan iman mereka yang paling benar. Dengan catatan, sekali lagi dengan catatan, tidak menyerang orang lain dan mengatakan yang lain salah sehingga harus diinjak-injak atau dimusnahkan. Ini terjadi di Indonesia. Beribadah boleh, tidak ada yang melarang, asal tidak menggangu aktivitas orang lain yang kritis (atau sinis?) melihat agama sepertiku.

Melihat lokasi pura-pura di Bali khususnya, aku merasa, pemuka agama dahulu tahu bahwa beribadah adalah kegiatan privat yang tidak perlu dipamerkan kepada banyak orang. Jangan heran, tempat suci di Bali umumnya terletak di lokasi-lokasi sunyi yang tak terjangkau dan jauh dari keramaian. Mencapainya butuh pengorbanan. Bayangkan betapa susahnya dulu membuka jalan untuk membuat Pura Uluwatu. Sekali lagi, ini bukan pembelaan terhadap Hindu karena kenyataannya hari ini, banyak persembahyangan agama Hindu menutup jalan seenaknya. Banyak orang lain terganggu pastinya.

Aku selalu merasa, untuk berbuat baik, kita tidak perlu paham terlalu dalamlah soal agama. Ya, ini pikiranku, dan aku bisa saja berbeda dengan orang lain. Sederhana saja, kita tidak boleh memukul orang lain, karena kita tahu dipukul itu sakit. Kita tidak boleh mencuri karena kita tahu, kehilangan sesuatu yang kita miliki itu tidak menyenangkan. Sangat sederhana. Ada nilai-nilai universal yang kita bisa rasakan sendiri tanpa perlu hafal ayat-ayat suci.

Sinisme terhadap orang beragama aku lakukan juga karena mereka selalu melakukan sesuatu yang kontradiktif. Rajin beribadah, tetap saja korupsi. Rajin beribadah, tetap saja menyuap polisi. Rajin sembahyang, tidak jadi jaminan untuk tidak mengambil hak orang lain, termasuk menyerobot jalur bus way dan trotoar. Makanya, aku sering sinis, melihat orang begitu keluar dari rumah ibadah, konvoi dengan menggunakan sepeda motor terus teriak-teriak tentang kemaslahatan umat. Lalu bagaimana aku bisa dipercaya. Atau teriak-teriak lantang tentang moralitas malah ketahuan di panti pijat habis ngewek.

Beragama itu tentu saja (seharusnya) mengajarkan kebaikan dan cinta kasih. Namun, ada juga yang tidak beragama tetapi berbuat baik dan menyebarkan cinta kasih. Bukankah keduanya sama.

Btw, kalau kolom agama di KTP diganti jadi kolom zodiak kayaknya lebih asyik yah? Intinya sih gitu…

Gambar dari sini

Iklan
Tagged with: ,

14 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Adi Widana (@AdWid) said, on Agustus 16, 2012 at 4:27

    nice post kang, ijin share 🙂

  2. Motoroda said, on Agustus 17, 2012 at 4:27

    Sungguh yang salah bukan agamanya, tapi pengikutnya.

    Yang ku pahami yang beragama belum tentu beriman. Yang banyak saat ini orang munafik, perkataan tak sesuai dengan perbuatan, Kafir (menolak) ayat yang ada di kitab suci. diingkari.

    Jadi tak ada jaminan yang beragama di akhirat masuk surga. Berapa biji coba umat nabi nuh (noah) yang beriman setelah ia berdakwah beratus tahun? Ibrahim? Yusuf? Isa?

    Beragama tak dijamin masuk surga (kekal didalamnya) dan terhindar dari api neraka (kekal didalamnya).

    Apalagi yang tak beragama. Baik saja tidak cukup. bahkan paman nabi Muhammad yang turut membelanya pun tak bisa ditolong nabi kelak di hari akhir.

    Baik itu Wajib. Tapi baik saja tak cukup.
    salam.

  3. otong said, on Agustus 20, 2012 at 4:27

    semoga yang menulis ini bukan orang Atheis

    • akbar said, on Mei 2, 2014 at 4:27

      lah emang kenapa kalo orang atheis? apa salah ya jadi orang atheis? bukan nya agama itu privasi seseorang jadi terserah dong mau atheis atau apalah, yang terpentingkan bukan agama nya, asal kan dia gak merugikan orang lain kan gpp bang 🙂

  4. A.A N.B Kesuma Yudha (@bgskesumayudha) said, on Agustus 22, 2012 at 4:27

    Simpel. dan memang seharusnya simpel untuk dimengerti. 🙂
    Ijin share ya…

  5. imadewira said, on Agustus 27, 2012 at 4:27

    Bahkan menurut saya, tidak beragama pun tidak apa2 kan.

    Btw, apa sih bedanya orang beragama dan tidak beragama. Bagaimana kita membedakan antara orang yang memeluk agama tertentu dan tidak beragama sama sekali. Apakah dengan sembahyang kita sudah disebut beragama, apakah dengan mencantumkan agama A di KTP kita sudah disebut beragama. Apakah kalau seandainya saya mengaku tidak memeluk agama apa pun maka saya akan di penjara?

    Ah, seharusnya agama itu jadi urusan manusia dengan Tuhan saja. Yang penting tidak mengganggu orang lain. Simpel.

  6. […] Foke Pertanyakan Motivasi Jokowi jadi Cagub, Jokowi: Karir Harus …Tanpa Agama Kita Bisa Berbuat Baik Kok… […]

  7. Wati Anggraeni said, on Maret 8, 2013 at 4:27

    alangkah lebih baiknya perdalamlah ilmu agama lalu di aplikasikan dlm kehidupan sehari2.

    MEMANG percuma org yg ahli ibadah tetapi tetap korupsi. Namun kita juga tetap ikuti sisi baiknya, yaitu ibadahnya. & kita hanya membenci tindakan korupsinya.

    #Jadi salah jika tanpa agama kita bisa baik, karena agama adalah petunjuk kita.

    #coba kita lihat zaman purba sebelum mengenal agama, apakah KEHIDUPAN MEREKA BAIK?

    • akbar said, on Mei 2, 2014 at 4:27

      maaf mbak saya mau tanya, emang zaman sekarang ama zaman purba apa beda nya sih? trus daru mana saya bisa tau kalo kehidupan sekarang ini lebih baik dari zaman purba duluu 🙂

    • renorake said, on Januari 23, 2016 at 4:27

      tampaknya mba Wati berasal dari zaman purba, so beliau tahu bagaimana keadaan zaman purba… hehehe

  8. Karin said, on Maret 18, 2013 at 4:27

    Setubuh..!!! eeh.. salah setujai.. eeh.. salah lagi.. se7

  9. Agnostik said, on Juni 17, 2013 at 4:27

    saya setuju,

  10. hayat said, on Mei 28, 2014 at 4:27

    90% saya setuju dengan anda, tulisan anda sangat bagus, tp saya mau kasi masukan ya, menurut saya berbuat baik itu harus tapi bergama juga harus, dan agama yang paling benar adalah islam, coba kita hidup mencontoh ahlak nabi, selalu berpedoman pada hadis nabi dan alquran, pasti akan indah dan damai

  11. renorake said, on Januari 23, 2016 at 4:27

    izin share kawan. salam damai!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: