Agus Lenyot

Merayakan Lebaran di Jakarta

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Agustus 19, 2012

Aku cuma penasaran dengan suasana Lebaran di Jakarta.

Gambaran kota yang sepi di televisi saat Hari Lebaran memaksaku untuk bangun sedikit lebih pagi. Aku ingin membuktikannya. Kebetulan, aku mendapat tugas liputan dari redaktur untuk mereportase suasana jalanan Jakarta. Jadilah, aku sudah siap berangkat sejak jam 6 pagi. Tepuk tangan dulu deh!

Sejak beberapa hari terakhir, suasana Jakarta memang lebih lengang. Kemarin saja misalnya, Bogor Jakarta bisa aku tempuh kurang dari 30 menit. Padahal kalau hari biasa bisa sampai dua jam lebih. Jalanan yang biasanya dipenuhi kendaraan plus klakson yang tak kunjung henti kini terasa berbeda. Jalanan menjadi lebih beradab.

Aku perlahan-lahan menyusuri jalanan menuju Blok M, Jalan Sudirman hingga berakhir di Stasiun Kota. Hari ini, suasana berbeda terasa makin kuat. Aku bisa berkendara dengan santai tanpa hirau dengan suara klakson dan ketergesaan. Jakarta rasanya akan lebih nikmat jika setiap hari seperti ini.

Aku tidak tahu, suasana sepi ini apakah karena Lebaran tepat jatuh di hari Minggu atau memang jalanan di Jakarta selalu begini setiap Minggu? Ah, mungkin karena kombinasi keduanya.

Di Kota Tua, aku sempat berhenti. Tiba-tiba aku teringat dengan pangkalan truk tempat aku mencari uang pada zaman sekolah dulu. Aku memutuskan ke sana dan menemukan Jalan Tongkol, tempat aku mencari uang untuk membeli baju dan sepatu baru. Ah, untuk sesi nostalgia ini aku ceritakan dalam tulisan yang berbeda saja.

Pikiranku, kapan lagi bisa menyusuri jalanan Jakarta dengan senikmat ini. Aku muter-muter saja nggak tentu arah sampai akhirnya terdampar di Ancol.

Tiba-tiba pikiranku terlintas ke korban kebakaran. Ah, bagaimana ya nasib mereka. Akhirnya, aku memutar arah dan memutuskan ke Tambora. Rasanya, kalau bukan suasana Lebaran, nggak mungkin akan melewati rute yang sehari-hari biasanya kayak setan. Macetnya nggak nahan. Tetapi karena hari ini suasananya berbeda, ya aku jalanin saja.

Di Tambora, aku sudah menduga akan menemukan wajah-wajah putus asa. Maklum, mungkin bagi sebagian orang Lebaran bagi sebagian orang mungkin momen untuk berkumpul dengan keluarga di kampung halaman. Tetapi bagi sebagian penduduk Tambora, khususnya yang menjadi korban kebakaran, pilihan untuk pulang kampung atau memakai uang untuk memperbaiki rumah adalah pilihan dilematis. Inilah yang ingin aku tulis dalam liputanku.

Jadilah aku menelusup ke kampung-kampung, diantara celah sempit pemukiman padat penduduk ini. Menyusup diantara bau got yang menyengat dan jemuran yang memusingkan. Aku menemukan orang-orang yang merayakan Lebaran dibawah rumah yang hanya beratapkan terpal. Jangan bayangkan ada ketupat dan opor ayam yang serba nikmat. Ada makanan kecil dan air bersih saja sudah syukur.

Beberapa orang yang aku temui meminta bantuanku agar kesulitan mereka disampaikan lewat media massa. Aku sih mengiyakan saja karena memang pekerjaanku untuk itu. Sudah hampir dua bulan berlalu, banyak rumah yang belum berdiri seperti sedia kala. Hanya beratap terpal dan berdinding triplek. Dan ini dihuni oleh beberapa kepala keluarga.

Begitulah, ada yang merayakan hari raya dengan sukacita tetapi ada juga yang merayakannya dalam duka. Keduanya sama. Merayakan hari kemenangan bersama-sama dalam nuansa yang berbeda.

Aku sendiri? Hmm. Entahlah, hari raya serasa tak berarti apa-apa.

Iklan

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. imadewira said, on Agustus 27, 2012 at 4:27

    Btw, saya tidak peduli apa agama kita. Tapi boleh kan kalau saya mengucapkan “Mohon maaf lahir dan bathin” kepada pemilik blog ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: