Agus Lenyot

Selamat Ulang Tahun, Kadek Doi!

Posted in Kata-kata Kita by Wayan Agus Purnomo on Agustus 29, 2012

Eh, ini sekaligus hadiah ulang tahun aja ya….

Sebuah cerita tentang kita, jarak yang membentang dan waktu yang terentang.

“Perempuan berasal dari Venus dan laki-laki berasal dari Mars. Keduanya lalu memutuskan terbang ke bumi,” tulis John Gray. Awalnya memang menyenangkan dan segalanya terasa menakjubkan. Hubungan dua anak manusia yang berbeda selalu mempesona. Sampai suatu ketika, kata John Gray, mereka mengalami mimpi yang aneh. Mungkin karena atmosfer bumi, Gray berasumsi.

Aku tidak tahu apa yang dibayangkan Gray sebenarnya tentang hubungan dua anak manusia. Barangkali, hipotesis ini lahir dari pemikiran sederhana. Tetapi hubungan perempuan dan laki-laki, apalagi dalam wilayah asmara, tidak sesederhana yang kita kira.

Hingga suatu ketika saat bangun pagi, perempuan dan laki-laki menyadari satu hal: mereka kehilangan memori tentang siapa dan darimana mereka berasal. “Sejak itulah konflik terus terjadi antara perempuan dan laki-laki,” kata Gray.

Itulah kita hari ini.

Teks ini ditulis dalam buku, yang menurutku legendaris: Men Are from Mars and Women Are from Venus. Kutipan yang selalu dijadikan pegangan untuk mengandaikan bagaimana laki-laki dan perempuan berbeda dalam banyak hal. Perempuan mengandalkan rasa, tetapi laki-laki mengedepankan logika. Hal jamak, yang kita sepakati bersama-sama. Aku menemukan buku ini dalam tumbukan buku bekas di salah satu sudut kota yang berdebu. Di kota yang tak putus menumbuhkan penat.

Aku selalu berkata, perbedaan adalah jalan Tuhan yang diturunkan pada manusia, pada kita. Perbedaan diciptakan agar kita mengenal satu sama lain. Tugas kita, setidaknya menurutku, bukan untuk menyamakan perbedaan itu. Tugas kita adalah bagaimana mengharmonisasi perbedaan dalam perputaran yang abadi.

Abadi?

Iya. Karena perbedaan tetaplah perbedaan berjalan mengiringi langkah kehidupan kita. Sejauh apapun kita memaksa untuk sama, sifat berbeda akan selalu tetap ada. Sekejap, ada bara api yang memercik harmoni itu. Manusia selalu ketakutan karenanya. Karena itu perbedaan dianggap sumber derita. Sebagian lalu memaksa ada upaya-upaya penyeragaman, sama rata-rata, sama rasa dan sama rupa.

Ini yang selalu aku tolak.

Perbedaan adalah jalan Tuhan yang selalu hadir dalam setiap peradaban.

Peradaban lalu menghadapkan kita pada kebetulan-kebetulan yang menyiksa. Kadang kita menyebutnya keajaiban. Kebetulan ini membutuhkan sikap. Aku menyebutnya pilihan, yang lucunya, mengharuskan ada pengorbanan. Pilihan ini lalu memaksa kita untuk bijaksana, memilah dan memilih. Lalu apa yang akan menyelesaikannya? Waktu dan usia. Kekuatan inilah yang akan menentukan seberapa kuat kita bisa menempa diri.

Waktu adalah alat ukur. Setidaknya untuk menghitung usia manusia. Ketika waktu ditarik telentang, apakah dia akan berubah menjadi jarak? Entahlah. Aku tidak tahu. Tetapi semakin jauh jarak yang akan kita tempuh, semakin lelah kita berjalan. Bukankah usia pun serupa. Mungkin ada kemiripan walau tetap tak sama.

Ketika kita rentangan ke belakang, masa silam, kita akan bercumbu dengan kenangan. Bukankah kenangan itu adalah kombinasi waktu dan jarak di masa lalu? Karenanya aku bersepakat, nostalgia adalah rasa pedih yang paling mulia. Kita tertawa atas siksa di waktu yang lama. Karena kita tahu, ingatan tak sepanjang yang kita sangka.

Setidaknya ada yang percaya, usia dianggap linier dengan kedewasaan. Waktu, yang tadi aku sebut sebagai alat hitung sekaligus alat ukur tadi adalah prosesnya. Aku tidak menganggapnya sepenuhnya benar. Tetapi aku juga tidak menganggapnya sepenuhnya salah. Dewasa itu terjadi karena ada banyak masa terlampaui. Ada fase-fase dimana kita bisa merenung dan berpikir tentang hidup dan kehidupan. Tidak semua manusia memang melakukannya. Sebab ada banyak kanak-kanak yang terperangkap dalam tubuh dewasa.

Banyak orang takut menjadi tua. Bukan hanya karena buruknya rupa, tetapi karena tua dianggap dekat dengan kematian. Kematian, aku sebut saja sebagai rahasia semesta yang datang tak terduga. Manusia, sejatinya bisa memilih dan menentukan kapan kematian itu tiba. Misalnya, bisa memilih mati muda jika bersedia. Manusia memang tidak tahu, dia akan mati dengan cara apa. Tetapi dia sebenarnya bisa memilih, bagaimana cara kematian menghampiri dirinya.

Hanya saja, karena kita tidak tahu seperti apa kehidupan setelah kematian, banyak orang yang ketakutan terhadapnya. Karena kematian dianggap sebagai jurang pemisah antara kenyataan dengan utopia, maka banyak orang yang menangisinya. Kematian sudah dianggap sebagai sesuatu yang muram. Naluri kita selalu berkata, perpisahan itu menyakitkan, apalagi dengan mereka yang tak akan kembali.Hingga kini tak ada lagi yang berani mati dengan gagah berani. Karena apa? Karena kita tidak tahu apa yang terjadi di sana.

Apakah ada hidup sesudah mati? Karena kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan setelah mati, maka banyak orang menghindarinya. Memusuhinya meskipun ada yang pura-pura mensyukurinya dengan mengutip ayat-ayat suci. Kematian lalu menjadi menakutkan bagi mereka, yang raga dan ruh masih utuh dalam satu tubuh.

Karena itulah menjadi tua dianggap dekat dengan kematian. Kita lalu ramai-ramai menghindarinya. Padahal, seperti aku bilang di awal, kematian sebenarnya bisa kita pilih. Termasuk ketika ingin mati hari ini. Toh, kita tetap takut padanya. Seperti kita takut pada ketidakpastian. Namun, ketika sudah waktunya dia bersandar, kita tak akan bisa menghindar.

Waktu selalu punya dua sisi. Sisi pertama, dia adalah penyembuh yang sempurna. Sisi kedua, dia penyebab kita menjadi amnesia. Untuk peroleh sisi kedua, waktu tidak pernah datang sendirian. Dia selalu datang bersama teman yang, mungkin tak selalu, setia. Dia bernama jarak.

Sekali lagi, itulah yang terjadi pada kita hari ini.

Serupa perjalanan, itulah jarak dan waktu. Dia hadir di antara kita menjadi penyela, mungkin juga pencela. Banyak yang menghindar dan memilih berhenti karena takut pada kemungkinan. Kita tidak bisa menebak apa yang menimpa kita meskipun sudah mempersiapkannya sematang mungkin. Perpisahan bisa saja hadir di tengah-tengah.

Tetapi, aku percaya, mereka yang berani melawan keduanya adalah orang-orang yang merdeka, percaya diri dan berani. Kita adalah bagian dari mereka yang berdiri tegak di antara mereka-mereka yang meringkuk dan menyerah pada ketakutan. Kita adalah bagian dari mereka yang berani melawan ketidakpastian dan menciptakan keajaiban dalam dunianya sendiri. Mungkin aku berlebihan, tetapi setidaknya itulah yang aku percaya hari ini.

Jarak dan waktu memang menyiksa jika berada di posisi yang tidak sepihak dengan kita. Kita harus melawannya. Aku selalu berucap, mungkin kita tak kuasa mengalahkannya, tetapi saling menguatkan akan membuat beban menjadi lebih ringan. Pun untuk saling mengingatkan. Kita ingin selamat sampai tujuan akhir kan.

Selamat ulang tahun, Sayang.

Selamat merayakan bertambahnya usia dengan semangat kebenaran akan selalu menang melawan ketidakbaikan.

Semoga kebaikan datang dari segala penjuru.

Iklan

6 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Cahya said, on Agustus 30, 2012 at 4:27

    I just can say… “so sweet…

  2. happy said, on Agustus 31, 2012 at 4:27

    selamat ulang tahun Doi 🙂

  3. kadekdoi said, on Agustus 31, 2012 at 4:27

    Makasi ya kekasihku :* kecups

  4. kadekdoi said, on Agustus 31, 2012 at 4:27

    Reblogged this on RUMAH DIKSI and commented:
    Terimakasih kekasih :’)

  5. Gung Ws said, on September 11, 2012 at 4:27

    ini blognya siapa sih, komentarnya isinya Doi aja :p
    eh..eh, aku udah update blog we..mampir nae ke gung.ws


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: