Agus Lenyot

Seperti Cinta Lama Bersemi Kembali

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on Agustus 31, 2012

Si Beracun mendapat perawatan ringan di bengkel

Tentu saja ini bukan soal cerita tentang mantan pacar. Hehehe. Ini soal sepeda motor yang sudah lama tak aku kendarai. Si Beracun.

Si Beracun, Supra X keluaran tahun 2003 adalah motor ketiga saya.

Sepeda motor pertama adalah sepeda dua tak lawas Suzuki keluaran tahun 1963. Sepeda ini warisan kakekku. Motor lawas itu aku kendarai sejak kelas 1 SMP hingga jelang kelas 3. Aku masih ingat, rela berangkat subuh-subuh memakai sepeda motor butut itu biar nggak ketemu anak sekolah. Maklum, anak SMP (aku) gengsinya masih tinggi saat itu. Hampir dua tahun aku mengendarai motor butut ini.

Motor berganti karena dibelikan yang baru. Supra biasa keluaran 2001. Tapi nasib motor ini tak lama, seingteku saat kelas 1 SMA, motor ini dijual karena paman saya nabrak gerbang tol di Gresik.

Cerita lengkap sepeda motor ini aku ceritakan di tulisan yang berbeda saja.

Setelah itu, praktis aku nggak punya kendaraan. Ngekos di Negara, dekat SMA 1 Negara, kota kecil 100 kilometer arah barat Jembrana. Tak ada kendaraan. Mau main terbatas karena jarang ada angkot. Masa setahun itu hanya dipakai untuk diem di kos, menghitung kendaraan yang lewat (iya, aku pernah melakukan itu saking nggak kerjaan) dan membaca buku seharian.

Setahun kemudian, paman akhirnya berbaik hati membelikan sepeda motor. Hasil panen rambutan di kebun. Jadilah si Beracun ada di tangan meskipun harus kredit lama. Hingga saat ini, inilah kendaraan yang aku miliki, mungkin salah satu barang berharga yang aku miliki. Aku berharap, si Beracun akan menjadi cinta terakhirku untuk kendaraan roda dua. Hehehe.

Aku nggak inget persis sejak kapan Supra berwarna biru kombinasi hitam ini menyandang gelar si Beracun. Bisa jadi waktu aku masih aktif di organisasi mahasiswa. Kala aku menjadi salah satu pimpinan di organisasi mahasiswa, banyak pengurusku yang cowok-cowok dan masih jomblo. Kadang ada saling sikut antara satu pengurus dengan pengurus yang lain.

Tikung menikung pun menjadi istilah populer untuk mengasosiasikan bagaimana ketatnya persaingan merebut hati perempuan. Mungkin istilah si Beracun karen motorku kerap bonceng cewek. Hehehe. Padahal untuk jadi playboy modal pun tak ada. Tampang pas-pasan, otak nggak encer-encer amat dan duit juga nggak banyak. Hehe. Tapi, banyak cewek kok yang pernah dibonceng si Beracun. Hebat kamu, Nak!

Aku sempat berpisah dengan si Beracun ketika aku mencoba peruntungan kerja di Jakarta. Si Beracun akhirnya dititipkan sama Kadek Doi. Dialah yang merawat. Awalnya, aku tidak berniat membawa motor di Jakarta. Selain karena biayanya mahal, aku kasian saja melihat Beracun harus diajak menjelalajahi jalanan ibukota yang tak selalu ramah. Lagipula, di Jakarta, angkutan umum lumayan ramah untuk pendatang sepertiku. Tapi, karena tuntutan pekerjaan, dengan terpaksa akhirnya si Beracun diberangkatkan ke Jakarta.

Oia, si Beracun sejak tiga tahun terakhir lupa aku Samsat. Sebelumnya, aku membayar pajak kendaraan sebesar Rp 750 ribu, untuk pembayaran pajak selama tiga tahun plus denda. Lumayan menguras kantong. Nggak apa-apalah, demi si Beracun.

Sejak 2003, si Beracun juga tak pernah menyusahkan. Seingatku, aku hanya dua kali kecelakaan saat mengendarai Beracun. Kedua-duanya karena aku ketiduran di atas sepeda motor. beruntung, kecelakaan ini nggak parah-parah amat. Si Beracun juga nggak kenapa-kenapa.

Balik lagi soal pengiriman motorku ini.

Karena tak punya uang untuk mempaketkan, aku menitipkan motor sama pamanku. Dengan mengendarai truk pamanku, si Beracun harus dibongkar di sisi kiri. Bersama sapi-sapi berangkatlah dia ke Jakarta selama dua hari dua malam. Minggu lalu, aku mengambil dia di sekitaran daerah Ujung Aspal, Bekasi.

Pengambilan ini pun tak mulus. Aku sama sekali nggak tahu daerah Ujung Aspal ini dimana. Buta arah. Apalagi, pamanku mewanti-wanti, aku harus ambil jam 5 pagi. Aku, yang baru piket malam, hanya punya waktu tidur selama dua jam. Hari Minggu jam 3 pagi, aku sudah berangkat dari kos di Kebayoran Lama ke Kampung Rambutan. Dari Kampung Rambutan, naik angkot sekali lagi ke daerah Jalan Hankam, Ujung Aspal. Gelap, ngantuk dan nggak tahu jalan.

Untuk mencapai lokasi bongkaran sapi, aku harus berjalan sejauh 500 meter lagi. Dan di sanalah si Beracun sudah menunggu. Sempat diotak atik, akhirnya si Beracun bisa hidup kembali. Hampir sembilan bulan aku tak melihatnya. Tentu saja ada perasaan kangen. Yah, jelek-jelek gini, tuh motor banyak berjasa sejak susahnya nyari kuliah hingga berhasil wisuda.

Besoknya, aku membawa dia ke bengkel. Service, ganti ban, dan segala macam peralatan yang membuat dia bersaing di jalanan ibukota. Praktis sejak Senin, si Beracun sudah menemani hari-hariku di Jakarta.

Selamat datang di Jakarta, Cun!

ps: Terima kasih buat Kadek Doi yang sudah disusahkan dan oleh-olehnya. Juga buat adikku yang direpotkan. Hehehe.

Iklan
Tagged with: ,

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kadekdoi said, on Agustus 31, 2012 at 4:27

    heh cun aku bantu ga gratis yaaa… minggu depan anter aku keliling ibu kota :*

  2. madewirautamaimadewira said, on September 6, 2012 at 4:27

    Waktu kuliah di Surabaya tahun 2001-2005, saya juga ditemani sama motor saya yang dijuluki Kereta Senja sama temen2.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: