Agus Lenyot

Antipluralisme dan Sinisme Rocket Rockers di Bali

Posted in Bali by Wayan Agus Purnomo on September 27, 2012

Tulisan ini bukan tentang JIL atau Anti JIL. Tetapi tulisan ini adalah pilihan untuk hidup di tengah kebhinekaan.

Sinisme ini berawal dari Surat Terbuka untuk Rocket Rockers yang ditulis oleh Rudolh Dethu, mantan manajer band sejuta umat, Superman is Dead. Surat terbuka ini kemudian mendapat tanggapan dari manajer band yang bersangkutan. Balasan surat terbuka bisa dibaca sini. Ucay , sang biduan sudah menuliskan tanggapan atas tulisan Dethu dan bisa dibaca di blognya.

Ringkas tulisan Dethu, dia gelisah karena tulisan, Pluralisme? Injak Saja! yang menjadi jargon gerakan yang diikuti oleh Ucay, sag vokalis. Mereka yang pro keberagaman resah karena tulisan itu berarti yang berbeda dari golongannya, boleh diinjak. Apalagi, jargon memiliki makna yang amat ofensif, agresif dan menyerang kelompok yang berbeda pandangan.

Dalam perjalanannnya, ada semacam klarifikasi bahwa pluralisme yang dimaksud bukan keberagaman. Tetapi pluralisme versi Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan semua agama adalah sama. Si biduan sendiri, mengakui, dia amat toleran dengan pemeluk agama lain, dalam masalah bisnis. Well, ternyata toleransi bisa muncul ketika masuk urusan perut.

Eko Endarmoko, kutip Dethu, penyusun Kamus Tesaurus Bahasa Indonesia menyatakan, “Buat saya, ‘pluralitas’ itu fakta, yaitu keberagaman, kebinekaan. Sedang ‘pluralisme’ itu sikap mengakui pluralitas. Saya kira banyak orang rada keliru—termasuk MUI ketika menyatakan bahwa pluralisme menganggap semua agama benar. Itu, kita tahu, namanya monisme.”

Intinya kurang lebih seperti itulah. Kebetulan, akhir bulan ini Rocket Rockers diundang menjadi bintang tamu BEM Unud dalam acara puncak Dies Natalis Unud yang ke-50. Rocket Rockers, termasuk vokalis tentu saja akan menerima uang dari para kafir, berjingkrak-jingkrak dan menghibur para kafir. Lagi-lagi, toleransi muncul ketika masuk urusan perut.

Perdebatan ini menjadi menarik karena, Rocket Rockers sendiri melepaskan tanggung jawab terhadap aktivitas sang vokalis. Artinya, secara tegas dia menarik jarak: apa yang dilakukan oleh sang vokalis menjadi tanggung jawab pribadi dan tidak ada sangkut pautnya dengan institusi. Ini adalah model pengelakan yang pertama. Mereka jujur terkesan naif dan memilih cari aman.

Kita tentu tidak boleh lupa, musik, musisi dan karyanya (album dan lagu) tidak berada di ruang hampa. Mereka berkelindan dan saling mengikat bahkan ketika sang musisi sudah turun dari panggung. Mereka menjadi bagian yang tidak terpisahkan, menjadi identitas dan mempengaruhi satu sama lain. Itulah kenapa, model ngeles ala (manajer) Rocket Rockers patut dipertanyakan.

Identitas yang selalu melekat, contoh saja Ucay Rocket Rockers, inilah yang seharusnya tidak boleh dilupakan seorang pesohor. Apalagi kegiatan yang dilakukan di depan publik, disorot media dan mendapat publikasi seperti yang dilakukan sang vokalis di Indonesia Tanpa JIL-nya itu. Melekatnya identitas personal dan institusi kita juga rasakan saat ngomongi Ariel dengan Peterpan (dulu) atau NOAH (sekarang), Kaka dan Bimbim dengan Slank-nya, Jerinx dengan SID-nya, Arian dengan Seringai-nya dan sederet pesohor lain yang menjadi identik dengan kelompoknya. Sebuah konsekuensi yang seharusnya disadari sejak dini.

Lihat video ini. Apakah strategi ngeles ala Rocket Rockers begitu saja bisa kita percaya sementara nama band selalu dilekatkan di belakang nama sang vokalis. Pertanyaan sederhana, pernahkah Rocket Rocker, secara institusi memprotes penayangan video ini? Bukankah ini bisa saja disebut klaim secara sepihak, jika mereka mengatakan, “Kami nggak ada hubungannya dengan gerakan itu.” Itulah yang alpa diingat dari jawaban manajer Rocket Rockers.

Catatan kami: mereka pesohor yang namanya bisa dijual dan laku di depan publik. Pesohor, apalagi dengan jutaan penggemar, tentu saja punya pengaruh kuat untuk memberi pengaruh kepada fans mereka. Karena kami percaya Rocket Rockers bukan band kacangan dan penggemar kacangan pula, maka keprihatinan ini kami sampaikan.

Penggemar, atau kami sebagai pendengar tidak hanya peduli pada karya tetapi juga pada attitude yang dilakukan oleh (personel) band. Aktivitas di luar musik penting bagi kami yang menggilai musisi. Karena teladan positif menjadi penting bagi semua pesohor. Aktivitas mereka akan mudah diikuti oleh mereka yang mengidolakan sang pesohor. Kecuali, Rocket Rockers menganggap penggemar hanya obyek mati. Obyek yang hanya menjadi sasaran penjualan karya musisi tanpa peduli attitude dan aktivitas di luar itu.

Kebhinekaan yang Kita Punya

Baiklah, pada akhirnya, kami juga akan menyinggung bagaimana kami bersikap kepada Indonesia Tanpa JIL, gerakan yang diikuti oleh Ucay. Tentu saja kami tidak akan bersikap dalam perspektif agama. Biarlah itu urusan mereka, Jaringan Islam Liberal dengan penentangnya, kaum yang saling klaim tafsir paling benar terhadap kitab suci. Kami menarik jarak soal itu.

Kami tidak memiliki masalah dengan perbedaan karena kami sadar kita (ya kami dan kalian) hidup Indonesia, di tengah kebudayaan, suku dan agama yang berbeda. Pluralisme atau pluralitas (persetan dengan istilah yang mereka gunakan), sikap menghargai perbedaan inilah yang seharusnya kita junjung tinggi. Kami menghargai setiap orang yang berekspresi melalui organisasi sesuai keyakinan masing-masing. Kami menghormati kebebasan berbicara dan berekspresi. Bukankah ini hakikat manusia? Bebas tetapi bertanggung jawab.

Namun, semua itu menjadi masalah bagi kami, ketika kebebasan berekspresi sudah menjadi agresif sekaligus represif dengan menyerang dan menistakan orang yang berbeda keyakinan. Pada konteks inilah, organisasi yang diikuti oleh Ucay Rocket Rockers ingin kami kritik. Sederhana saja, salah satu jargon yang dipakai, “Pluralisme? Injak Saja!” menunjukkan kepada kita bagaimana orang yang tidak sealiran, sepaham, atau sekeyakinan harus diinjak. Apakah sikap seperti ini yang disebut sebagai sikap toleran?

Apakah kemudian orang yang berbeda pandangan, lantas dicap kafir dan sesat sehingga harus dilawan dan dimusnahkan? Injak saja, bukankah maknanya membunuh, seperti layaknya kita menginjak kecoak. Duh, kami tidak habis mengerti mengapa orang yang sedang memperjuangkan nilai agama bisa seberingas itu.

Kritik kami yang lain, gerakan Indonesia Tanpa JIL didukung oleh ormas-ormas yang selama ini anti keberagaman, intoleransi dan kerap memakai kekerasan untuk mencapai tujuan. Gamblang saja deh. Front Pembela Islam. Sangat mudah menemukan bagaimana gambar Rizieq Shihab ditemukan dalam setiap aksi gerakan ini. Kami dengan jujur berkata, sang vokalis menjadi bagian dari kelompok yang toleran terhadap kekerasan.

Tentang Jaringan Islam Liberal, sekali lagi kami menarik jarak dalam perdebatan agama. Jadikan saja itu perdebatan diantara kalian. Yang kami tahu, JIL lebih berpihak pada mereka yang termarjinalkan, termasuk kaum lesbian, biseks, dan transgender. Karena kerap berpihak pada yang lemah, kami kemudian lebih bersimpati kepada mereka. Mereka menampilkan wajah Muslim yang teduh, betapapun kerap dituduh sesat oleh Indonesia Tanpa JIL.

Bukan berarti kami membela yang sesat (jika itu JIL sesat dalam versi kalian). Tetapi berdialektika tidak seharusnya menggunakan parang atau takbir yang diteriakkan penuh amarah dan kebencian. Sederhana. Teramat sederhana. Tunjukkan kepada kami, bahwa perdebatan itu beradab dan mengesampingkan cara-cara biadab seperti yang kerap kalian tunjukkan kepada kita.

Bali dan Indahnya Pluralisme

Kenapa kami kemudian lantang bersuara? Tentu saja karena Rocket Rockers akan manggung di Bali. Mereka akan menikmati duit dari mereka yang mayoritas “tidak bernaung dalam hukum Allah”. Tetapi kami menegaskan, Bali adalah wilayah yang terbuka. Siapa saja bebas datang ke sini dengan bertanggung jawab. Toleransi adalah sikap diri.

Kami akui, perlakuan rasis terhadap pendatang masih kerap terjadi. Tragedi Bom Bali telah meluluhlantakkan denyut nadi ekonomi Bali. Ini menyisakan trauma mendalam bagi semua pelaku ekonomi di Bali. Hal ini sangat kami sadari sebagai bagian dari generasi muda.

Apalagi, pelaku yang tertangkap dan dihukum mati berasal dari suku Jawa dan Islam. Kami tidak mengatakan, semua orang Jawa dan Islam jahat. Tidak. Sama sekali tidak. Tetapi, sentimen SARA ini muncul dan menjadi nyata seusai tragedi terjadi bahkan hingga jauh-jauh hari. Apalagi kemudian ada gerakan Ajeg Bali yang membuat sentimen etnis terhadap pendatang dan berbau rasis menguat.

Tentu saja kami menolak perlakuan rasis ini. Tidak ada tempat bagi orang yang menghembuskan sentimen negatif terhadap SARA di republik ini. Syukurnya, hingga hari ini Bali tetap harmoni di tengah berbagai perbedaan. Apakah sentimen rasis ini hilang begitu saja? Tentu tidak. Tetapi, sentimen ini pelan-pelan kami kikis dengan memunculkan bagaimana umat Hindu dan umat Islam bisa hidup dalam toleransi. Bagaimana orang Bali dan orang Jawa bisa tetap damai meskipun ada perbedaan yang nyata.

Kami tidak ingin harmoni ini diusik dengan berbagai gerakan yang sifatnya ofensif. Apalagi, oleh orang-orang yang dengan mudah mencap orang lain kafir atau sesat hanya karena perbedaan keyakinan. Di Bali, masih banyak pribumi, baik Islam, Hindu, Bali atau Jawa yang menampilkan wajah agama dengan damai dan teduh. Tidak beringas dan menakutkan seperti yang ormas-ormas Islam pendukung Indonesia Tanpa JIL tunjukkan.

Bagi kami, pernyataan ini jelas dan gamblang. Tidak usahlah kita terjebak pada pemaknaan kata, apakah pluralism atau pluaritas namun nihil implementasi di lapangan. Kami harap kita tidak terjebak dengan mulut manis tetapi tangan berlumur darah. Bagi kami, itu adalah omong kosong belaka. Penghormataan terhadap kebhinekaan suku, agama, ras dan keyakinan harus mendapat tempat terhormat di republik. Tabik.

Tulisan diambil dari Gdubrak.com

Iklan

8 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. madewirautama said, on September 27, 2012 at 4:27

    Kalau benar mereka anti keberagaman, maka layak untuk kita tentang pula.

    Kalau benar mereka sukanya yang sama, ga kebayang gimana kalau muka pacar-pacar kita semua sama, gimana dong bedainnya? Hahaha..

  2. Gung Ws said, on September 28, 2012 at 4:27

    ternyata emang isu yang renyah ya..sampe sini juga yang paling banyak dilihat

  3. a! said, on Oktober 8, 2012 at 4:27

    sori kalo komentarnya nyaplir. kamu belum memasukkan tautan ke dalam tulisan. jadi tak bisa lihat mana2 yg kamu maksud.

    soal topiknya, gerakan Indonesia Tanpa JIL itu justru membesarkan JIL. aneh saja sih. bukan melawan idenya tapi organisasinya. mereka lupa, ide tak pernah mati. keberagaman itu keniscayaan di mana saja, bahkan dalam islam sekalipun. piss!

    • Agus Lenyot said, on Oktober 10, 2012 at 4:27

      Yang ada link di gdubrak, Mas #nyaplir

      • gek mirah said, on Oktober 24, 2012 at 4:27

        maunya komentar ttg itu juga.. hhe.. Indonesia Harus Becanda 😀

  4. modern classic furniture said, on Oktober 10, 2012 at 4:27

    nice info…thank u

  5. angga wira buana (@ankga_rawk) said, on Oktober 22, 2012 at 4:27

    Tungkul nguyutan “keprcayaan” pidan kaden MAju..*logat negara…
    Salam Puspawarna Merdeka menjadi Bianglala…

  6. hanfatsal said, on Oktober 25, 2012 at 4:27

    Yang mendukung pluralisme boleh tengok kejadian di Bali. Di Bali, saat golongan Hindu, merayakan hari raya Nyepi, tanpa kecuali, umat Islam, dilarang melakukan aktifitas apapun, dan melarang rumah-rumah Muslim,menyalakan lampu, dan melakukan aktifitas apapun.

    Di Bali, warga Muslim, tidak boleh menggunakan pengeras suara, sebagai panggilan shalat. Kini, menghadapi Idul Qurban ternyata umat Islam masih juga dilarang untuk tidak menyembelih sapi…. Begitulah golongan Hindu Bali, membatasi umat Islam di Bali. Adakah yang mengatakan golongan Hindu tidak toleran?

    Adakah golongan Hindu di pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, yang harus dipaksa mengikuti upacara hari-hari besar Muslim? Mereka bebas sebebasnya melakukan apa saja yang mereka ingin.Tidak ada yang dibatasi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: