Agus Lenyot

Pendidikan dan Cita-Cita Sederhana

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Oktober 9, 2012

Aku memikirkan (kembali) soal cita-cita sederhana ini Minggu kemarin. Di tengah angkot dan jalan berlubang selepas pintu keluar tol Citeureup hingga Wanaherang.

Di tengah angkot nomor 38 yang aku tumpangi, tertidurlah seorang bocah berusia sekitar 8 hingga 10 tahun. Sang bocah ini tertidur begitu lelap diantara guncangan kendaraan yang menginjak jalan berlubang.

Sang bocah ini tentu saja anak sang sopir. “Dia merengek minta diajak jalan sedangkan saya tetap harus nyari uang,” kata sang sopir. Aku lupa menanyakan namanya. Tidak begitu penting juga.

Aku terdiam. Apa yang dilakukan oleh sopir tadi persis yang dilakukan oleh pamanku 20 tahun yang lalu. Tidak punya ongkos ngajak aku jalan-jalan, pamanku ngajak aku ngikut dia menjadi sopir. Awalnya hanya ke Denpasar. Maklum, sebagai anak yang lahir di desa, Denpasar adalah kemewahan bagiku. Melihat Terminal Ubung mungkin seperti melihat Menara Eiffel bagiku kala itu.

Beberapa tahun kemudian, aku penasaran ingin diajak jalan-jalan ke tempat yang lebih jauh lagi. Tak ingin melihat keponakannya merengek, diajaklah aku jadi kernet truk Jakarta-Bali. Pengalaman ini aku dapatkan pada saat aku beranjak ke usia 11 tahun, saat aku kelas 6 SD awal tahun ajaran.

Jadilah sejak saat itu aku sudah cukup kenyang merasakan perjalanan Pantura nyaris setiap empat bulan sekali, pada libur caturwulan (iye, sistem waktu masih caturwulan, bukan semester seperti sekarang).

Tidak heran, aku sudah cukup kenyang dengan pelacuran kelas tengik di sepanjang jalan pantai utara Jawa. Dari Asembagus, Alas Roban, Indramayu hingga pelacuran kelas tengik di sepanjang bantaran rel kereta api dekat Pelabuhan Sunda Kelapa. Tatap saja mata penjaja kenikmatan, kalian akan dihampiri dan disodori tawaran murah meriah. Cukup bayar Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu kala itu. Lumayan buat latihan.

Pada saat itu, cita-citaku sederhana. Karena menjadi kernet truk, cita-citaku yang terpikir saat itu adalah bagaimana menjadi sopir. Waktu itu aku sudah membayangkan, betapa enaknya menjadi sopir truk. Bisa nyuruh-nyuruh kernet. Bisa ini itu. Uang bisa ngatur sendiri. Dan segala macam kemewahan yang kurasakan saat itu.

Beruntung, pamanku selalu menekankan agar aku sekolah tinggi-tinggi. Fase menjadi kernet, dia bilang, hanya fase yang melatihku untuk hidup susah.

“Jika nanti besar kamu susah, kamu nggak kaget-kaget bangetlah,” kata dia. Tetapi, “Kalo kamu besar nanti sukses, menjadi kernet adalah pengalaman terbaik dalam hidupmu.”

Kata itulah yang sering aku kenang dan menjadi motivasi untuk menjalani hidup.

Tiba-tiba aku teringat dengan bocah kecil yang berada di samping angkot yang aku tumpangi.

Pada titik itulah aku merasakan betapa pentingnya pendidikan mengubah hidup seseorang. Hidupku tentu saja.

Orang bisa saja beranggapan, kuliah itu adalah untuk mencari gelar, syarat menjadi pegawai negeri atau mas kawin melamar pacar di depan calon mertua. Buatku, itu hanya sebagian kecil dari manfaat pendidikan yang aku peroleh.

Pendidikan, atau kuliah setidaknya bagiku membuka mata terhadap dunia yang tertutup saat aku remaja. Aku mengenal idealism. Mengenal menjadi pecundang. Mengenal penjilat-penjilat yang ambisius dan haus kekuasaan. Aku mengenal lebih banyak pilihan pekerjaan.

Aku jadi tahu bahwa aku bisa menikmati pendidikan karena disubsidi pemerintah. Aku (pernah) merasa terpanggil untuk berdemonstrasi demi membela rakyat kecil. Buatku, pendidikan mengubah segala-galanya. Termasuk hidupku hari ini.

Aku percaya, pendidikan akan memutus lingkaran setan yang bernama kemiskinan. Aku terlahir dari keluarga petani. Bukan berarti aku tidak suka menjadi petani. Tetapi dengan bersekolah tinggi-tinggi, aku jadi tahu bagaimana caranya berpihak kepada petani agar mereka miskin.

Bayangkan seandainya aku tidak bersekolah, bisa jadi aku akan menikah muda di usia belasan, menjadi petani dan bahagia tertindas dalam kemiskinan yang (nyaris) abadi.

Karena itulah, aku percaya, pendidikan adalah pemutus mata rantai lingkaran setan yang bernama keterbelakangan.

Setidaknya, pendidikan membuat keluargaku bisa membanggakan diri.

Tidak ada yang sesederhana itu. Membahagiakan orang yang kita sayangi.

Iklan
Tagged with: ,

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kadekdoi said, on Oktober 9, 2012 at 4:27

    kalimat kelima dari bawah perlu direvisi tuh, apa maksudnya ditambah kata ‘tidak’ 🙂
    selamat menjalani kehidupan, tentunya dengan pilihan mu sendiri 🙂 *peluk sayang*

    • imadewira said, on Oktober 12, 2012 at 4:27

      Saya juga melihat yang itu, kayaknya lupa nambah kata “tidak”.

  2. imadewira said, on Oktober 12, 2012 at 4:27

    Cita-cita memang harusnya sederhana, secara bertahap dan ketika satu cita2 tercapai maka cita2 lainnya harus segera ada.

  3. Eva said, on Oktober 18, 2012 at 4:27

    Have a good day yah …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: