Agus Lenyot

Tentang Kamu yang Tak Terjamah

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Oktober 28, 2012

Blog ini rasanya sudah lama sekali sudah tidak mendapatkan sentuhan kasih sayang. Hahaha. Seperti kamu. Ups.

Setiap kelalaian pasti selalu ada yang disebut dengan kambing hitam. Kali ini aku menamakannya kesibukan pekerjaan dan kemalasan.Alasan kenapa blog ini terjamah adalah karena rutinitas pekerjaan dan kemalasan. Kombinasi dua hal ini cukup sempurna membuat kita malas ngeblog.

Perasaan berdosa ini tentu saja bukan karena ada banyak pembaca yang menantikan tulisanku. Hahaha. Asu! Tentu tidak. Aku bukan golongan selebtitit yang kehadirannya dirindukan. Aku juga tidak mungkin kegeeran sendiri dengan menganggap ada banyak orang yang membaca. Hahaha. Perasaan berdosa ini hanya karena aku sudah mengingkari komitmen diri sendiri. Komitmen untuk lebih rajin mengisi blog ini.

Tentu saja ada banyak peristiwa yang istimewa buatku akhir-akhir ini. Istimewa buatku tentu saja belum tentu istimewa bagi orang lain.

Yang pertama tentu saja kedatangan si Beracun ke Jakarta. Si Beracun paling tidak menolong mobilisasi di ibukota. Maklum, sebagai bagian dari keluarga besar PKI (mengutip istilah rekan kerja di kantor) alias Pekerja Keras Ibukota, mobilitas adalah kunci bertahan dari pekerjaanku ini. Si Beracun berperan besar dalam hal ini. Paling tidak dia sudah menghemat waktu, energi dan biaya yang harus kukeluarkan.

Kedua, sejak beberapa bulan terakhir, aku sudah mengalami beberapa kali pos liputan. Hingga akhir Juni, aku masih menyandang status wartawan bisnis, ngepos di Kementerian Perindustrian. Liputannya ya soal pertumbuhan industri, otomotif dan sesekali bersinggungan dengan pos perdagangan. Ekonomi adalah hal yang paling kuhindari sejak masih SMA. Di kantor tempatku bekerja, liputan di pos ekonomi adalah keniscayaan. Makanya, waktu selama tiga bulan di pos ekonomi terasa sangat lama.

Tetapi banyak hal yang bisa kupelajari dan menginspirasi di pos ekonomi. Aku jadi tahu, kita, Indonesia adalah negara yang memiliki prospek ekonomi cerah. Sumber daya alam kita punya. Orang yang siap mengkonsumsi sumber daya itu alias pasar kita besar. Penduduk kita banyak dan over konsumtif pula. Yang belum kita punya adalah bagaimana kita mengolah sumber daya itu agar menjadi langsung bisa diolah di dalam negeri. Kita harus sadar betul dengan potensi ini. Saat negara lain berjuang mengatasi krisis, ekonomi kita justru tumbuh di atas rata-rata dunia.

Aku beberapa kali berbincang dengan Menteri Perindustrian, MS Hidayat. Dari sejumlah menteri di kabinet Indonesia Bersatu, Pak Hi (begitu kami biasa memanggilnya), adalah menteri idola. Orangnya kebapakan, bersedia menjawab pertanyaan wartawan dengan detail dan visinya jelas. Pak Hi juga bisa diganggu malam-malam. Kalau pertanyaan kita penting, cukup kirim sms dan dia akan menelepon balik. Aku beberapa kali mengalami kejadian ini. Dialah yang selalu berulangkali mengatakan, ubahlah barang mentah di Indonesia menjadi barang jadi. Nggak usahlah dikirim ke luar negeri kemudian kita beli dengan harga mahal. Aku mendukung sepenuhnya yang dilakukan Pak Hi.

Aku salut dengan semangatnya meskipun kadang aku tidak sepakat dengan pemikiran dia beberapa hal. Misalnya pemikiran soal mobil di Indonesia. Bagi Pak Hi, maraknya mobil jangan hanya dilihat dari perspektif negatif. Beliau mengatakan, tingginya penjualan mobil berarti ekonomi sedang tumbuh. Aku berbeda pendapat. Tingginya penjualan mobil, selain indikator ekonomi juga menjadi indikasi kegagalan pemerintah dalam menyediakan transportasi publik. Dua pemikiran ini bisa diperdebatkanlah.

Pelajaran kedua yang bisa aku dapat dari pos ekonomi adalah aku jadi tahu banyak cara untuk mendapatkan uang. Hahahaha. Setidaknya, bergaul dengan wartawan ekonomi dan pelaku ekonomi membuka mata bahwa ada banyak cara halal untuk menambah pundi-pundi kekayaan. Sederhananya, pos di ekonomi membuatku cepet-cepet pengen punya usaha sendiri. Nggak perlulah kita menggunakan berbagai cara licik untuk menguras anggaran negara. Belajar ekonomi akan membuat kita kreatif mengubah lumpur menjadi emas.

Asyiknya liputan di pos ekonomi adalah liputannya dari hotel ke hotel. Hehehe. Aku sudah mencicipi makanan dari hampir semua hotel bergengsi di Jakarta. Dan yang terpenting, aku jadi tahu bagaimana kualitas toilet mereka. Entahlah, setiap datang ke hotel baru hal pertama yang sering aku lakukan adalah mencoba toilet. Kebetulan, setiap mampir ke hotel perutku selalu mules. Gejala yang tidak aku mengerti hingga sekarang.

Setelah liputan di pos ekonomi, per akhir Juni aku akhirnya pindah ke desk Metropolitan. Buatku, desk inilah sesungguhnya ujian kemampuan navigasi dan kewilayahan seorang wartawan. Pos inilah yang akhirnya memaksa si Beracun datang ke Jakarta. Tapi sebelum si Beracun ke Jakarta, selama dua bulan di pos ini aku meminjam motor temanku yang sedang ikut kursus di Jerman.

Di desk Metropolitan, redaktur pelaksana adalah salah seorang idola di bidang jurnalistik. Hahaha. Kebetulan kami berasal dari daerah yang sama dan ini sebenarnya sedikit membebani. Takut hasil kerjaan tidak sesuai yang dia harapkan. Hehehe. Mengecewakan sebagai sesama orang Bali. *ciyus!*

Di desk ini, aku mendapat wilayah liputan di Jakarta Barat. Selama tiga bulan, aku hampir tiap hari berkeliling di wilayah ini (mudah-mudahan ini dibaca redaktur (bahasa lain: aku rajin lhooo). Dari Kalideres hingga Glodok. Dari Palmerah hingga Kebon Jeruk. Tantangan di desk ini ya fisik harus kuat. Apalagi untuk aku yang mengendarai sepeda motor, menelusuk dari kampung ke kampung dan bertemu dengan rang yang nyaris berbeda setiap hari. Kebetulan pula, masa waktu aku bertugas di desk Metro bersamaan dengan liputan Pilkada DKI. Meskipun tidak menjadi sentra liputan, tetap saja teman yang di wilayah kebagian repot, meskipun tidak sesibuk teman yang bertugas di Balaikota.

Pengalaman paling menakjubkan di desk ini adalah liputan kebakaran. Di Bali, aku nyaris tidak pernah liputan kebakaran. Tetapi, Jakarta Barat menyediakan liputan kebakaran yang datang terus menerus. Pertama kali menghadapi kebakaran di Jembatan Besi, belakang Season City aku hanya bengong. Bingung mesti ngapain. Sumpah, waktu itu aku merasa seperti orang bego. Hahaha.

Tetapi, seperti kata pepatah, pengalaman adalah guru yang terbaik. Frekuensi kebakaran yang terlalu sering akhirnya membuatku dengan gampang menyesuaikan diri dengan peristiwa kebakaran. Tidak hanya mencari peristiwa, tetapi juga bagaimana membuat feature yang bagus (menurutku). Bahkan, selama Lebaran, Tambora, kecamatan terpadat di Asia Tenggara frekuensi kebakarannya nyaris tipa hari. Gimana nggak bosan dengan kejadian macam begini. Tidak heran, kalau ada kebakaran yang cuma menghanguskan tiga rumah di wilayah ini, aku abaikan saja. Jahat ya wartawan itu. *cubit*

Masa tiga bulan di desk Metro berlalu begitu cepat. Dibandingkan dengan pos liputan lain, inilah pos dengan rekan-rekan wartawan (yang sebenarnya adalah saingan) yang asyik. Barangkali karena senasib sepenanggungan. Seharian di jalanan, dekil dan menelusup dari kampung ke kampung. Lupakan deh liputan di hotel. Makanya, kalau ada anak Metro ketemu makanan enak pasti langsung disikat habis. Hahaha.

Dan sekarang, jadilah aku terdampar di deks Nasional. Desk yang menantang dan selalu memicu adrenalin setiap malam. Takut kebobolan oleh media lain. Takut tidak mendapatkan berita baik. Tetapi berusaha melakukan yang terbaik apa yang kita bisa adalah jalan keluar dan motivasi yang aku canangkan setiap hari.

Aku mendapatkan pos liputan di DPR. Pos liputan yang penuh kepalsuan. Tingkah laku anggota Dewan yang memuakkan. Aku kadang merasa sedih, betapa tahu kebobrokan yang dilakukan oleh DPR dan Pemerintah tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau kalian ada di DPR setiap hari, yakinlah hati kita akan selalu berkata; Indonesia tidak punya masa depan di sini.

Begitulah….

Iklan

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. imadewira said, on November 10, 2012 at 4:27

    Saya merasa dejavu, seperti sudah pernah membaca tulisan seperti ini disini.

    • Agus Lenyot said, on November 10, 2012 at 4:27

      beberapa waktu pernah nulis kayak gini. tulisan ini sebagai pengingat lagi bli 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: