Agus Lenyot

Uji Ketahanan Jantung di Wisata Bandung

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on November 8, 2012

Mega Card

Jika ingin melatih seberapa kuat jantung kita, datanglah ke Trans Studio Bandung.

Sebenarnya hadiah ke Bandung sudah aku janjikan kepada pacarku, Kadek Doi sebagai hadiah wisuda. Tetapi karena belum kecocokan waktu dan uang, akhirnya liburan bareng ini baru terealisasi akhir pekan kemarin. Karena nggak ada duit sih lebih tepatnya. *nyengir*

Kebetulan pacarku itu juga ada dua kegiatan di Jakarta. Pertama dia lomba Duta Bahasa Nasional. Acara kedua adalah menemani kakaknya wisuda S2. Dia memperpanjang waktu tinggalnya di Jakarta selama beberapa hari. Dua hari terakhir, di akhir pekan kemarin kami gunakan untuk jalan-jalan ke Bandung.

Tanggal 3 November subuh, aku menjemput Kadek Doi di kos tempat kerjaku di Palmerah. Dari sana, kami lalu berangkat ke kantorku di daerah Kebayoran Lama untuk menitipkan motor. Dari Kebayoran Lama kami naik angkot ke Terminal Lebak Bulus dengan menumpang angkutan ke DO1 arah Ciputat. Dari Lebak Bulus kami naik Primajasa ke Bandung. Tiketnya Rp 45 ribu per orang.

Perjalanan ke Bandung sebenarnya lumayan menyenangkan. Aku selalu suka dengan pemandangan di sepanjang Tol Cipularang. Tetapi karena kondisi badan sudah lelah dan tidak memungkinkan untuk begadang, jadilah kami tertidur sepanjang perjalanan selama tiga jam itu. Dua hari sebelumnya, kami kebanyakan begadang karena alasan teknis. Bangun-bangun, kami sudah berada di sekitar Terminal Leuwi Panjang. Di Terminal Leuwi Panjang kami sempat isi perut dulu. Makan pindang yang keasinan. *hueek*

Baiklah, perut sudah terisi, tenaga sudah pulih kembali, kini waktunya untuk bersenang hati.

Yang kami pikirkan pertama adalah mencari tempat menginap. Sempat bertanya kepada seorang di warung nasi, kami akhirnya diantar dengan mobil carteran. Si sopir, yang kami nggak sempat tanyakan namanya, bersedia membantu mencarikan penginapan. Awalnya dia menyebut suatu hotel, tetapi setelah sempat googling beberapa saat kami merasa tidak sreg dengan tempat tersebut. Selain fotonya kusam, harga yang ditawarkan juga tidak terlalu menarik.

Kami lalu meminta diantar ke Hotel Bali Indah di Jalan BKR. Aku tidak terlalu hafal posisi hotel ini di kota Bandung karena kehilangan orientasi arah. Di hotel ini kamar yang tersedia menurut kami lumayan bagus. Karena kelas standar sudah habis kami akhirnya mendapatkan kamar deluxe dengan harga Rp 275ribu per malam. Sepadanlah antara harga dengan fasilitas yang ditawarkan.

Setelah membayar, kami meminta kepada sopir tadi untuk mengantar ke Trans Studio. Rupanya, karena terburu-buru setelah membayar hotel kami terlupa mengambil kunci kamar. Kami juga nggak sempat meminta kuitansi. Sempat was-was dan merasa bodoh juga atas keteledoran kami waktu itu. Hahaha.

Oia, dari Terminal Leuwi Panjang ke Trans Studio kami bayar Rp 70 ribu untuk mobil carteran. Lumayan mahal sih menurutku. Tetapi karena suasana liburan dan dalam rangka menyenangkan diri, harga segitu nggak masalah. “Uang bisa dicari lagi,” kata Kadek Doi.

Mobil yang kami tumpangi itu tipe MPV yang muat hingga 9 penumpang. Jadi kalau dengan harga segitu dan 9 penumpang, rasanya harga tersebut menjadi wajar.

Ide liburan ke Trans Studio muncul dari pacarku. Aku sempat menawarkan beberapa alternatif liburan, tapi melihat beberapa faktor, akhirnya Bandung menjadi pilihan utama. Karena sudah janji, ya aku ngikut saja. Menurut Kadek Doi, Trans Studio mirip dengan Ancol, cuma lokasinya di dalam ruangan. Jadi nggak perlu kepanasan kalau antre wahana seperti di Ancol.

Trans Studio terletak di Bandung Supermal. Di depannya juga ada Trans Hotel. Awalnya, Bandung Supermal ini menjadi lokasi pemberhentian terakhir Primajasa dari Bandara Soekarno Hatta. Tetapi sekarang terminal ini sudah dipindah entah kemana. Dari Hotel Bali Indah sih sebenarnya nggak terlalu jauh. Angkot juga gampang kemana-mana. Bertanya kepada orang Bandung juga enak.

Trans Studio adalah Trans Corp, milik konglomerat Chaerul Tanjung. Itu lho, miliarder termasuk yang punya Detik, Trans TV dan Bank Mega. Miliarder yang terkenal dengan nama si Anak Singkong.

Untuk masuk ke Trans Studio kita perlu beli yang namanya Mega Card. Pembayaran tiket dilakukan setelah kita memiliki kartu seharga Rp 10 ribu ini. Setelah membeli kartu, kita harus mengisi kartu ini dengan uang sesuai kebutuhan kita. Mirip dengan BCA Flash.

Harga tiket Trans Studio di akhir pekan lebih mahal dibandingkan dengan hari biasa yaitu Rp 200 ribu per orang. Jika mau beli tiket VIP, harus menambah kocek sebesar Rp 200 ribu. Tiket VIP membuat pengunjung tidak perlu antre untuk masuk ke wahana. Semacam jalur bebas hambatan karena di beberapa wahana pengunjungnya membludak. Menurutku sih, jika tidak terlalu diburu waktu, nggak perlulah buang uang sebanyak itu. Apalagi mengantre adalah kenikmatan tersendiri dalam suasana macam begini.

Setelah mengisi Mega Card dengan uang Rp 400 ribu, kami langsung membayar harga tiket masuk. Isi kartu itu langsung kembali ke Rp 0. Hahaha. Nah, ternyata di dalam Trans Studio kita tidak boleh membawa makanan dan minuman. Trik lumrah tempat hiburan yang ingin mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Pokoknya menguras kocek-kocek pengunjung sebanyak-banyaknya.

Di dalam Trans Studio juga tidak ada transaksi tunai, semuanya menggunakan Mega Card tadi. Tetapi kita tetap harus menyiapkan uang tunai karena di dalam terdapat banyak tempat isi ulang kartu.

Setelah berembug dengan Kadek Doi, kami akhirnya sepakat untuk mengisi kartu dengan nominal Rp 100ribu. Persiapan kalau haus dan lapar di dalam makanan. Soalnya, kalau kita keluar lagi dari Trans Studio kita mesti membeli tiket ulang. Artinya keluar Rp 200 ribu lagi. Jadi sebaiknya manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dan mencoba semua wahana yang ada. Itulah alasan kenapa kami datang ke Trans Studio sepagi-paginya.

Tiket beres, voucher sudah terisi dan sekarang saatnya kita mencoba wahana.

Karena kami minim informasi, kami langsung mencoba wahana nonton video 4D SuperHeroes. Wahana ini merupakan salah satu wahana favorit. Terbukti sejak pagi hingga sore hari, wahana ini selalu penuh antrean. Berbeda dengan bioskop tiga dimensi, wahana ini membuat kita seperti terlibat dalam film yang ditayangkan.

Aku tidak terlalu memperhatikan alur filmnya karena lebih berkonsentrasi pada posisi menonton. Selain memakai kacamata, kita juga diharuskan memakai sabuk pengaman. Menurut salah satu petugas, film otomatis berhenti jika sabuk pengaman ini dilepas.

Wahana ini menurutku asyik. Kita bergerak ke kiri dan kanan, mengikuti arah kamera seolah-olah kita menjadi bagian dari film yang ditayangkan. Tak jarang teriakan muncul dari penonton. Saat layar menampilkan cipratan air, kursi yang duduki juga menyipratkan cairan. Benar-benar seperti nyata. Adik sepupuku yang penggemar kartun pasti senang dengan wahana ini.

Sayang, film harus terhenti di tengah jalan saat baru berlangsung selama 10 menit. “Ada penonton yang melepas sabuk pengaman,” kata petugas jaga. Agak sedikit kecewa juga sih. Tapi ya sudahlah, yang penting sudah tahu seperti itulah film 4 dimensi.

Kami akhirnya melanjutkan ke wahana lain. Agar tidak buta informasi, kami mengambil peta dari pusat informasi. Baca-baca wahana macam apa yang ada di pusat hiburan ini. Hampir semua wahana kami coba. Ada yang memuaskan dan ada yang tidak sesuai ekspektasi.

Menurut kami, ada beberapa wahana yang patut untuk dicoba sekaligus menguji nyali dan ketahanan jantung kita. Oia, satu hal yang menjadi kekhawatiran kami tentang wahana-wahana mendebarkan ini adalah soal keselamatan. Makanya, sebelum naik ke wahana, kami memastikan betul bahwa pengaman sudah terpasang dengan baik. Selain itu, pastikan kondisi fisik, mental dan perut sudah terisi dengan baik.

Wahana lain yang menarik kami adalah Vertigo yaitu kincir raksasa. Wahana ini mirip dengan kicir-kicir di Dufan Ancol. Karena tidak pernah mencoba dan tidak memiliki ekpektasi apapun, kami tidak menyiapkan mental dengan baik. Kami menaiki wahana ini dengan perasaan enteng saja. Dan ini sedikit blunder jadinya.

Walhasil, begitu permainan dimulai, jantung serasa dikoyak-koyak. Awalnya sih kincirnya berputar pelan-pelan. Tapi lama-lama kok kincirnya makin kencang dan nggak tentu arah. Kami diputar ke samping, ke atas ke bawah dan segala arah. Jantung serasa mau copot dan kepala diobok-obok nggak jelas mau kemana. Aku memaksakan membuka mata dan melihat bagaimana kita diputar-putar dari ketinggian 15 meter selama hampir tiga menit. Wahana ini sukses membuat lutut kami lemes dan perlu waktu untuk memulihkan kondisi kepala.

Setidaknya, wahana ini memberikan pelajaran, pelajari wahana yang mau dinaiki, siapkan jantung dan mental.

Wahana menegangkan berikutnya yang kami coba adalah Negeri Raksasa. Wahana ini menghempaskan kita dari ketinggian 15 meter. Aku tidak pernah merasakan turbulensi di pesawat udara, tetapi aku yakin permainan ini adalah simulasi dari turbulensi pesawat. Kami menyiapkan mental dengan lebih baik. Begitu naik, mesin menaikkan kami secara perlahan-lahan hingga ketinggian 15 meter.

Setelah itu, mulailah kita diturunkan dengan cepat beberapa kali. Saat turun dengan cepat, aku selalu menarik nafas. Takut mesinnya lepas kontrol, rusak dan kita terjerembab ke bawah. Lalu mati. Hahaha. Untunglah tidak ada sesuatu yang aneh terjadi. Naik turun dengan cepat ini terjadi beberapa kali. Aku tidak sempat menghitungnya. Mungkin ada sekitar 15 kali naik turun. Menahan nafas, tangan keringetan hingga jantung berdebar nggak karuan. Begitu permainan berakhir, kami sempat tertawa-tawa. Seneng karena selamat dan berhasil melawan ketakutan diri sendiri.

Permainan berikutnya adalah Giant Swing, yah semacam ayunan masa kecil. Cuma panjang talinya sekitar 15 meter dan kita berputar-putar. Nah, ayunan ini membuat kita terlontar hingga sejajar hampir 180 derajat. Kami sudah pasrah dan mati rasa dengan apa yang terjadi. Meskipun kami tertawa-tawa, kami tahu sebenarnya dalam hati kami cemas. Lagi-lagi faktor keamanan benar-benar menjadi perhatian kami.

Dan permainan terakhir sekaligus yang paling menebarkan diantara semua wahana adalah Yamaha Racing Coaster. Inilah mainan paling membuat jantung kami copot dan paling menegangkan. Setidaknya menurut kami. Diantara semua permainan, inilah yang paling memberi kesan.

Konon, Coaster ini merupakan yang tercepat di dunia. Berbeda dengan roller coaster lain yang bergerak maju, Yamaha Racing menawarkan gerak mundur. Kami memilih tempat dudut paling depan (dan kami tidak tahu apakah ini kesalahan atau keberanian). Begitu duduk, kami memastikan sekali lagi bahwa sabuk pengaman terpasang dengan erat.

Begitu semua dipastikan aman, mulailah petugas menghitung mundur. Begitu hitungan 0, roller coaster langsung melaju cepat tak terkendali dan membuat kami hanya berteriak sekencang-kencangnya. Mata sengaja aku buka lebar-lebar karena yakin tidak akan pernah mencoba mainan ini lagi di masa datang. Roller coaster melaju kencang dan sampailah di puncak setinggi 50 meter. Oh Damn. Kami bisa melihat dengan jelas puncak menara selama beberapa detik.

Sensasi tak hanya berhenti sampai di situ. Setelah berhenti beberapa detik, roller coaster langsung meluncur mundur dengan deras. Daaaaaan, kami tidak menyiapkan mental dengan baik. Sensasi mundur dengan kecepatan tak terduga ini membuat kami bingung menyiapkan jantung. Roller coaster selama sekitar 40an detik menjadi saat-saat terlama yang pernah aku rasakan. Begitu roller coaster berhenti, kami hanya tertawa. Seorang bapak-bapak di belakang kami hanya bisa terdiam sambil tersender di dinding wahana. Kami masih tertawa-tertawa.

Menurut kami, ada wahana yang memuaskan dan ada juga yang tidak. Harga Rp 200 ribu menurutku terlalu mahal. Tetapi mencoba sesekali tidak ada salahnya.

Begitulah. Tertarik mencoba? Siapkan jantung dengan sebaik-baiknya.

Tulisan ini sedikit berbau promosi ya. *tarik nafas dulu*

Ini wahana Vertigo. Fotonya jelek…

Iklan
Tagged with: ,

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. rahmaregina said, on November 10, 2012 at 4:27

    Ini tulisan kaya advertorial..jadi kepengen ke trans studio..mana seruan ama dufan?

  2. imadewira said, on November 10, 2012 at 4:27

    Saya baca aja udah ngeri. Baru kemarin mengalami turbulensi beberapa detik di pesawat, jantung mau copot rasanya. Semoga besok pas pulang ke bali semua lancar dan selamat.

  3. SIge said, on November 15, 2012 at 4:27

    Hi Bli…pengennn test ketahanan jantung jadinya..kapan yah?!..*sambil garuk2 kepala


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: