Agus Lenyot

Seharusnya Kita Mengawasi Partai Politik

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on November 25, 2012

Aku membaca beberapa kicauan dari Coen Hasan Pontoh hari ini.

Kicauan itu, entah sebuah gugatan atau keprihatinan, soal partai politik. Coen mengatakan, partai politik muncul hanya jelang pemilu. Bahkan, parpol sekarang lebih mundur ketimbang era demokrasi liberal pada 1950-an. Pada masa itu, parpol hadir di masyarakat, bikin sekolah, acara budaya, ngajarin bertani, punya media dan sebagai. Kata Coen, ketika partai melakukan politics of everyday life. Sekarang, partai politik hanya jadi mesin electora.

Tempatku liputan sekarang, DPR adalah salah satu muara dari partai politik. Artinya salah bagaimana gambaran partai politik seharusnya terbaca dari bagaimana kualitas DPR kita. Publik pasti memiliki persepsi sendiri bagaimana wajah DPR kita. Dihujat jalan terus, dicaci tak peduli, diabaikan malah ngelunjak.

Kita memang sudah kadung antipati dengan partai politik. Bisa jadi karena kita muak dengan perilaku elit. Gaya hidup mewah, koruptif dan jauh dari rakyat. Gambaran itu menjadikan partai politik menjadi seolah-olah haram dan harus dijauhi. Tanya deh kepada kawan terdekatmu, yang biasa kamu ajak bergaul sehari-hari, bagaimana persepsi mereka terhadap partai politik.

Aku tidak akan menggunakan beragam teori tentang demokrasi tentang fungsi partai politik. Sudahlah, buku macam begitu bisa dibeli dan dibaca sendiri. Tetapi, aku merasa, apa yang dikataan Coen dan mungkin pengamat politik lain bahwa partai politik kita memang hanya hadir saat pemilu. Seorang dosenku dulu, ketika aku mengambil mata kuliah pemilu mengatakan, rakyat hanya memiliki kedaulatan selama lima menit di bilik suara. Begitu keluar dari bilik suara, kedaulatan sudah diserahkan secara sukarela kepada elit yang berkuasa.

Sebenarnya, masyarakat kita membutuhkan kerja-kerja politik secara nyata. Nggak usah terlalu makro menyangkut kebijakan. Tetapi dalam keseharian kita deh di lingkungan sekitar. Apakah kemudian seseorang yang menjadi pengurus partai politik (dan tentu saja partai politik itu sendiri) sudah bisa dirasakan kehadirannya? Aku rasa belum. Jikapun ada, itu biasanya lebih banyak kerja-kerja jelang pemilu.

Sebenarnya, seorang calon legislasi dan partai politik tidak perlu menebar uang ketika mencalonkan diri menjadi angggota Parlemen. Investasi sosial seharusnya bisa dilakukan sejak jauh-jauh hari. Misalnya, partai politik punya menyediakan transportasi gratis ketika ada orang sakit. Cara lain, bikin petani pelatihan bertani yang baik. Jika lingkungannya peternak, ajari mereka beternak. Jika nelayan, ajarin mereka menaikkan posisi tawar dengan bikin koperasi dan pelatihan. Aku merasa, nyaris jarang partai politik yang melakukan peran ini.

Cara yang ditempuh oleh sebagian dari politikus kita, ya hanya mendekatkan diri jelang pemilu. Saat pemilu berbondong-bondong memasang baliho dan menempel stiker atau poster. Padahal jika kerja politik dilakukan sejak dini, orang akan tahu dengan sendiri bahwa partai bekerja. Masyarakat akan percaya bahwa partai bukan sekadar mesin jelang pemilu.

Kita tentu akan lebih mudah menentukan pilihan ketika pemilu berlangsung. Karena kita kita seharusnya peduli dengan partai politik.

Iklan

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. imadewira said, on November 26, 2012 at 4:27

    Setuju sekali Gus. Saya sendiri merasa parpol itu benar-benar dijauhi karena lebih banyak ndak enaknya. Citra parpol sudah sedemikian buruknya di masyarakat.

    Tapi saya juga berpikiran, andaikan partai politik bisa dibikin lebih sehat, seperti organisasi sosial lain yang profesional dan tidak hanya main uang dan kekuasaan, mungkin saya sendiri punya rasa tertarik untuk bergabung dan belajar tentang politik secara langsung, ya walaupun hanya menjadi pengurus tingkat desa. Tapi kenyataannya sekarang, parpol tidak ada yang bagus, semua hanya bertujuan mencari massa dengan cara instan, dengan uang, dengan kekuasaan atau bahkan preman.

    • Agus Lenyot said, on November 26, 2012 at 4:27

      Bli, kalau status PNS nggak bisa lho jadi pengurus partai politik :D.

      Sebenarnya kalau partai politik dekat dengan kita, bisa menjawab kebutuhan kita ketika menghadapi masalah (katakanlah butuh kendaraan ke rumah sakit atau apa), tanpa dikasih uang pun, kita akan pilih mereka. Lagian, kita juga nggak akan sinis meskipun mereka kaya raya asallkan mereka juga peduli pada kita. Itung-itung penghargaan kepada mereka setelah bekerja keras.

  2. yomamen said, on November 30, 2012 at 4:27

    Watu itu baca di media kompas tentang partai politik yang isinya anak muda semua dan sistemnya menggunakan sosial media untuk pengawasan. Sepertinya ini bentuk yang paling ideal untuk saat ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: