Agus Lenyot

Mengapa Kita (Tidak) Harus Selalu Percaya Dahlan Iskan?

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on November 30, 2012

dahlan-vs-dpr

Aku termasuk orang yang tidak selalu percaya dengan sepak terjang Dahlan Iskan.

Dahlan punya segalanya untuk menjadi sumber berita. Sebagai bos media terbesar di Indonesia, dia pintar membaca psikologis wartawan. Dia tahu apa yang dibutuhkan wartawan untuk diberitakan. Terlepas kemudian memang itu sudah menjadi ciri khas Dahlan jauh sebelum dia jadi menteri.

Tetapi, aku bukan orang yang gampang percaya dengan semua tindak tanduk Dahlan. Aksinya di beberapa hal memang mengundang simpati. Tetapi, dalam pandanganku, justru lebih banyak tingkah lakunya yang mengundang antipati. Dalam pandanganku tentu saja.

Aku simpati dengan gaya kasualnya. Saat pejabat tinggi pakai beragam busana dengan harga mahal, Dahlan justru memakai sepatu kets. Kalau satu stel busana pejabat bisa puluhan juta, aku memperkirakan nilai pakaian yang melekat dalam keseharian si menteri sekitaran Rp 1 juta. Aku sering memperhatikan sepatu kets merk New Balanced yang kerap dia pakai. Ini menurutku unik untuk pejabat tingkat menteri. Bahkan, ada yang menjadikan ini sebagai judul novel. Luar biasa magnet seorang Dahlan.

Begitu pula tingkah lakunya saat dilantik sebagai Menteri BUMN setahun silam. Saat pelantikan, Dahlan tidak ragu berjalan kaki dan menyetir sendiri mobilnya seusai pelantikan. Menurutku, gaya nyentrik macam begini jarang dimiliki oleh seorang pejabat. Tahulah tingkah pejabat kita yang lebih sering menuntut dilayani ketimbang melayani. Yang kerap bangga ditunggu berjam-jam ketika menghadiri suatu acara. Beberapa kali aku datang ke acara Dahlan, dia selalu datang lebih awal dari jadwal. Ini luar biasa, menurutku, bagi seorang menteri.

Jangan heran, berita dengan kata kunci Dahlan Iskan selalu diburu. Ibaratnya, Dahlan mau kencing dimana saja, bisa jadi berita. Pada taraf tertentu, pemberitaan tentang Dahlan (dan juga Jokowi kini) sekarang menjadi sangat memuakkan. Sudah over ekspose.

Di luar itu semua dan dalam jabatan dan wewenang yang melekat padanya sebagai menteri, aksinya justru kerap tidak mengundang simpati. Tingkah lakunya kebanyakan pencitraan busuk yang sedihnya menuai puja-puji dari media dan (sebagian besar) pembacanya tentu saja.

Lihat saja aksinya membuka paksa pintu tol di Jalan Gatot Subroto. Aksi ini menuai pujian karena (katanya) spontan dan bisa menjadi tamparan bagi Jasa Marga sebagai pengelola jalan tol. Padahal menurutku, kelakukan model begini cuma aksi teatrikal dan artifisial tanpa substansi.

Apalagi setelah aku tahu, yang Dahlan sendiri yang meminta agar aksinya diberitakan. Kelihatan banget ini dimuat aksi koboinya ini. Beruntung akhirnya Dahlan kena batunya ketika membuka paksa pintu tol di Ancol. Ternyata, tol itu dikelola swasta dan tidak dibawah naungan salah satu perusahaan BUMN.

Kalau memang serius, Dahlan ya mbok perbaiki itu perusahaan BUMN dengan lebih serius. Toh kita alami sendiri, tol yang konon bebas hambatan justru hampir setiap saat terhambat kemacetan. Coba deh lewat jalan tol dalam kota atau dari dan menuju bandara pada sore hari. Dikit lagi nyampe dah ke pintu neraka. *nyengir*

Soal lain lagi adalah ketika heboh mobil listrik. Dahlan, menurutku terlalu sok-sokan mengendarai mobil listrik dan akhirnya mogok di tengah jalan. Jika memang serius punya perhatian terhadap mobil listrik ya siapkan peta jalan perusahaan mobil listrik. Bikin BUMN yang bisa memproduksi mobil listrik. Menurutku itu lebih berguna ketimbang bikin aksi pencitraan yang sekarang nggak kedengeran lagi bagaimana nasib mobil yang dikendarai Dahlan. Ah, ingatan kita memang sangat pendek.

Begitu pula saat nginep di rumah penduduk atau mandi Stasiun Gambir. Ya, tugas Menteri BUMN bukan itu bos. Undanglah simpati kami dengan cara elegan, menyelesaikan pekerjaan dengan benar.

Masih banyaklah menurutku aksi-aksi Dahlan yang menurutku teatrikal. Kasus terakhir yang akhirnya bisa menjadi batu sandungan Dahlan adalah dugaan kongkalikong anggaran dengan DPR.

Konsep pengawasan dan pembahasan anggaran ini sebenarnya konsep luar biasa dalam teori check and balances ketatanegaraan. Selama puluhan tahun sistem anggaran kita hanya dikuasai oleh eksekutif (pemerintah). Akibatnya, sistem ini melahirkan raja-raja kecil di masing-masing departemen. Korupsi dan permainan anggaran berlangsung telanjang tanpa bisa diawasi penggunaannya. Sedangkan DPR (waktu itu) hanya lembaga stempel.

Usai reformasi, ada perubahan signifikan. DPR bukan cuma lembaga stempeln tetapi memiliki fungsi legislasi, pengawasan dan anggaran. Tujuannya tentu saja agar pemerintah nggak main-main dengan uang rakyat sehingga perlu diawasi. DPR, yang anggotanya, dipilih langsung (padahal sebenarnya tugas partai untuk menempatkan mereka) dibebani dengan tugas itu.

Sedihnya, orang-orang DPR mentalnya nggak kalah buruk dengan pemerintah. Harapan yang begitu tinggi kepada DPR dihempaskan begitu saja oleh mereka. Tak heran hampir tiap hari caci makin dialamatkan kepada mereka. Jomplangnya harapan dengan realita menimbulkan kekecewaan yang begitu besar bagi kita, rakyat pembayar pajak.

Inilah yang dituding Dahlan Iskan.

Tetapi aku menyayangkan kecerobohan Dahlan dalam kasus ini. Beberapa orang yang disebut Dahlan dan sudah tersebar luas di media, ternyata hanya kambing congek di beberapa pertemuan. Bahkan ada anggota DPR yang mengakui ‘tidak pernah ngapa-ngapain di DPR’. Nama mereka disebut Dahlan, media menyambutnya dan ditulis besar-besar di halaman depan. Pada titik ini, sebenarnya kita sudah berlaku tidak adil pada anggota Dewan (yang tidak bersalah dalam kasus ini).

Sebagai mantan wartawan, Dahlan seharusnya tidak prcaya begitu saja terhadap laporan bawahannya. Kritik ini juga aku alamatkan ke media, wilayah tempat aku bekerja kini. Ketika mendengar ada dugaan pemerasan, Dahlan seharus klarifikasi, cek dan ricek terhadap informasi yang dia terima. Bukan langsung berkoar-koar adanya anggota DPR yang memeras.

Tentu sebagai menteri Dahlan dianggap kredibel menyampaikan informasi. Media tanpa pikir panjang menyambut dan mengutip ucapan Dahlan (yang ternyata banyak salah). Apalagi dengan sombong mengatakan sudah mengantongi nama-nama. Ternyata, apa yang dikatakan Dahlan tidak semua benar.

Kini, laporan Dahlan di Badan Kehormatan sudah memasuki babak akhir. Aku menduga, setelah ngobrol dengan Ketua BK, ada yang terindikasi melanggar etika. Tapi koar-koar Dahlan lebih banyak yang tidak terbuktinya. Bahkan ketika konfrontasi kemarin, Dirut Merpati si Rudy Setyopurnomo langsung ngacir. Katanya sih si Rudy mati kutu karena nggak bisa menjelaskan tuduhannya.

Begitulah, ada banyak hal yang membuat kita seharusnya tidak percaya kepada Dahlan Iskan, kepada pejabat republik ini.

Semuanya hanya tipu-tipu.

Gambar diambil dari merdeka.com

Iklan
Tagged with:

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. a! said, on November 30, 2012 at 4:27

    cara lain melihat DIS adalah dg melihat kesejahteraan wartawannya. hehe..

    • Agus Lenyot said, on November 30, 2012 at 4:27

      yang deket sama DIS itu sejahtera lho, Mas. Bisa jadi direksi BUMN malah 😀

  2. imadewira said, on Desember 6, 2012 at 4:27

    Wah, tengkyu pencerahannya. Artinya saya sebagai rakyat jangan terlalu percaya pada pejabat yang diberitakan hebat oleh media kan?

  3. cataract eye drops said, on Desember 9, 2012 at 4:27

    Tepat di hari Kebangkitan Nasional (20 Mei 2010) beliau secara resmi sudah ‘dipaksa’ meletakkan jabatan sebagai menteri Keuangan, menuju jabatan yang prestisius yang baru sebagai salah satu Direktur World Bank di Washington DC.. Dipaksa oleh siapa? DPR? Presiden? World Bank? Atau?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: