Agus Lenyot

Sepakbola Penegak Harga Diri Bangsa

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Desember 2, 2012

timnas Indonesia

Sepakbola adalah penegak harga diri bangsa. Pada pundaknya dibebankan kebanggaan kita.

“Nanti malam Indonesia mesti menang, Mas.” Seorang sopir bajaj berkata seperti itu padaku kemarin. Aku yang sedang makan di Warung Tegal langsung menoleh dan tersenyum. Aku mengiyakan. Si sopir bajaj ini langsung bercerocos betapa bangganya dia dengan gol Andik Vermansyah. Dia juga menyatakan kekagumannya pada Bambang Pamungkas yang rela bergabung ke Timnas meskipun sempat dilarang oleh klubnya. Aku hanya diam mendengarkan dia bercerita.

Tak puas hanya mengomentari Timnas, si sopir bajaj ini lalu bercerita betapa kesalnya dengan dualisme liga sepakbola di Indonesia. Dia nggak tahu siapa yang bertikai, tetapi dia tahu, perpecahan di tubuh PSSI dan KPSI membuat sepakbola kita mengalami kemunduran luar biasa. “Seharusnya mereka-mereka yang sedang berebut kekuasaan tahu, sepakbola adalah kebanggaan kami,” dia menutup pembicaraan sambil berlalu pergi.

Aku terdiam.

Aku teringat dengan ucapan Andik Vermansyah seusai mencetak gol melawan Singapura. Dia mempersembahkan gol indahnya kepada supporter Indonesia yang tak pernah lelah mendukung Timnas. Dia langsung menyebut, TKI yang bekerja di Malaysia. “Gol ini terutama untuk mereka yang selalu merendahkan timnas,” kata Andik. Di sejumlah media, Andik menyebutkan gol itu dia persembahkan kepada mereka yang membenci Timnas.

Suara Andik bisa jadi mewakili suara kita semua. Andik tentu saja geram, perpecahan di tubuh petinggi organisasi sepakbola merugikan Indonesia. Pemain terbaik yang berlaga di luar kompetisi PSSI tidak menjadi bagian dari Timnas. Mereka dilarang tampil oleh klubnya. Akibatnya, persiapan Timnas jelang AFF pincang dan nyaris tidak ada yang berharap tim ini bisa menjadi juara.

Timnas yang dikirim ke Malaysia harus diakui memang bukan yang terbaik. Banyak pemain yang lebih berpengalaman harus diparkir karena perseteruan petinggi sepakbola. Pengalaman adalah kunci lain untuk menjadi juara selain kualitas dan kekompakan tim. Hasil di Piala AFF bisa kita saksikan sendiri. Ditahan imbang oleh Laos, negara yang sebenarnya beberapa level di bawah kita. Syukur, kita bisa memenangkan pertandingan melawan Singapura dengan susah payah. Di pertandingan penentu, kita akhirnya kembali keok melawan musuh bebuyutan, Malaysia.

Tentu Andik tahu, sepakbola adalah wajah sekaligus penegas harga diri bangsa. Karena itu, dia mempersembahkan gol itu kepada tenaga kerja Indonesia di Malaysia yang kerap menerima perlakuan tidak adil. Kemenangan, bahkan jika bisa juara, paling tidak bisa membuat saudara kita yang bekerja di Malaysia berjalan dengan kepala tegak. Tidak lagi dipandang sebelah mata seperti selama ini. Seharusnya, bapak-bapak kita yang sedang berseteru demi kekuasaan sadar betul dengan harapan ini. Harapan Andik adalah harapan kita semua.

Aku merasakan euforia betapa masyarakat kta begitu mengharapkan gelar juara atau setidaknya mengalahkan Malaysia. Sebagai saudara serumpun dan bertetangga, hubungan kita dengan Malaysia memang tak mulus-mulus amat. Apalagi dengan berbagai perseteruan kebudayaan yang kerap terjadi antara kita dengan Malaysia. Sepakbola adalah penawar untuk menegakkan kepala kita.

Tahun lalu, aku hadir di final Sea Games melawan Malaysia. Aku merasakan betul, betapa kita sangat rindu dengan juara sekaligus ingin meneguhkan dominasi atas Malaysia. Aku rela berdesakan, menerobos pagar dan mendobrak pintu stadion bersama ribuan supporter lain. Kami ingin menjadi saksi, kita bisa menang melawan Malaysia. Kemenangan atas Malaysia akan membuat kita bisa berbicara dengan lantang dengan dada membusung kepada negara tetangga itu: “Hey, kamilah negara penguasa di Asia Tenggara.” Tetapi kita belum berani berbicara seperti itu karena kita sering menjadi pecundang saat bertemu Malaysia.

Sepakbola adalah bagian dari hidup masyarakat kita. Seperti si sopir bajaj yang aku temui kemarin, obrolan tentang bola gampang kita temui di berbagai sudut negeri ini. Di warung padang, tukang rokok hingga warung tegal Semuanya dengan fasih bercerita tentang sepakbola. Orang Malang yang bekerja di Jakarta masih setia menjadi Aremania. Begitu juga dengan mereka yang berasal dari daerah lain. Menjadi pendukung fanatik adalah keharusa. Menurutku, sepakbola punya masa depan cerah gemilang di negeri ini. Klub kita punya, pendukung kita punya, atmosfer komeptisi ada. Tinggal bagaimana bapak-bapak pembuat kebijakan di atas sana, bijak melihat ini.

Kita sudah terlalu banyak melewatkan momentum. Kita sudah lelah dengan pertikaian tak berkesudahan dan nyaris tanpa hasil. Aku berharap, kita semua sadar, pada sepakbola disandarkan begitu besar harapan. Bangkitkan dan tetap hidupkan harapan kami. Mudah-mudahan bapak-bapak pemangku kebijakan di atas sana sadar dengan hal ini.

Aku apresiasi dengan semangat Andik dan kawan-kawan yang berjuang sekuat tenaga. Meskipun harus pulang dengan tangan hampa, perjuangan mereka wajib kita hargai. Yang pasti, kita semua kecewa. Termasuk bapak sopir bajaj yang aku temui di Warung Tegal kemarin.

Kita (seharusnya) sudah lelah menjadi pecundang….

Gambar diambil dari sini

Iklan

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. SIge said, on Desember 4, 2012 at 4:27

    Hi Bli, sampai kapanpun saya tidak akan pernh menganggap sepak Bola itu bagian bangsa Indonesia…Selalu berakhir ironi… (facepalm)

  2. imadewira said, on Desember 6, 2012 at 4:27

    Waktu kalah lawan Malaysia terakhir kemarin, saya cuma nonton via timeline di twitter karena pas ngayah megambel di odalan. Rasanya benar-benar kesal dan kecewa, dan yang saya jadikan kambing hitam kekesalan bukanlah para pemain, tapi mereka yang sedang berebut kekuasaan di organisasi tertinggi sepakbola di Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: