Agus Lenyot

Memanjakan Minat Baca di Ibukota

Posted in Buku, Film dan Lagu by Wayan Agus Purnomo on Desember 4, 2012

perpustakaan freedom

Jakarta tak hanya pusat belanja dengan segala hingar bingarnya. Mari kita sejenak mengasingkan diri menuju keheningan perpustakaan, wisata alternatif bagi mereka yang ada di ibukota.

Sekelompok anak muda asyik dengan keheningan masing-masing. Tumpukan buku dibiarkan berserakan di meja. Pandangan mereka berganti sesekali tertuju pada buku yang sedang dibaca. Tetapi sekali waktu ke layar monitor komputer jinjing yang menyala. Jemari mereka lincah menari di atas keybor. Ketukannya memecah keheningan siang itu.

Di sudut yang berbeda, sekelompok remaja terlihat berdiskusi dengan santai. Beberapa buku sastra terhampar di depan mereka. Tak melulu serius, sesekali senyum sumringah muncul dari sudut bibir mereka. Masing-masing dari mereka juga membawa komputer jinjing yang rupanya masih menyala.

Itulah sekilas pemandangan yang ditemui saat berkunjung ke perpustakaan Freedom Institute.

Ya, perpustakaan Freedom Institute bisa menjadi alternatif bagi mereka yang ingin menepi sejenak dari rutinitas Jakarta. Perpustakaan bukan melulu soal tugas kuliah, diktat dan tumpukan buku. Perpustakaan adalah media untuk mencari kesegaran, keheningan dan menepi dari hiruk pikuk kota. Juga menepi dari stres dan deru kemacetan yang mengiringi tanpa henti.

Perpustakaan ini berlokasi di Jalan Proklamasi Nomor 41, Menteng, persis di seberang Taman Proklamasi. Untuk informasi mengenai koleksi buku, jam berkunjung dan fasilitas yang ditawarkan, pengunjung tinggal klik laman http://www.freedom-institue.org.

Pertengahan November lalu saya menyempatkan diri datang ke perpustakaan ini. Cerita mengenai perpustakaan ini sebenarnya sudah saya dapat dari beberapa kawan. Cuma, karena terbentur waktu dan pekerjaan baru kali ini saya datang ke perpustakaan ini. Dari prasasti yang terpacak, perpustakaan ini diresmikan oleh Wakil Presiden Boediono pada 29 Oktober 2010. Tetapi perpustakaan ini konon sudah dirintis sejak tahun 2002.

Sengaja saya berkunjung ketika hari kerja. Begitu datang, suasana kegaduhan jalanan rasanya langsung lenyap digantikan aroma taman dan pepohonan yang langsung menyambut.

Secara garis besar, perpustakaan ini terbagi menjadi beberapa area. Area utama adalah ruang baca yang berada di bagian dalam perpustakaan. Pada ruangan utama ini ada koleksi buku ekonomi, sastra, filsafat hingga koleksi jurnal. Ada pula delapan komputer yang disediakan untuk pengunjung. Waktu saya datang, dua diantaranya bertuliskan sedang dalam perbaikan. Tetapi itu bukan masalah sebab ruangan ini dibekali dengan jaringan internet yang bisa diakses cuma-cuma.

Saya duduk persis di meja utama, berhadapa dengan resepsionis. Rasanya posisi duduk saya menjadi tempat paling strategis karena bisa memandang ke segala penjuru. Di sisi kiri, saya bisa memandang dengan leluasa koleksi ribuan perpustakaan ini. Sementara, ketika pandangan diarahkan ke sisi kanan, mata akan tertumbuk pada jendela kaca dengan pemandangan hijaunya taman di bagian luar perpustakaan.

Di bagian belakang, ada tiga meja memanjang yang bisa dipakai untuk belajar kelompok. Ada pula sofa berwarna hitam yang dilengkapi dengan lampu baca. Ruangan ini lebih kecil dibandingkan dengan ruang utama. Koleksi buku di ruangan ini antara tentang politik di berbagai belahan dunia. Mayoritas dalam bahasa Inggris.

Di sisi yang paling depan, paling dekat parkir kendaraan ada ruangan non pendingin hampir seluas lapangan bulutangkis. Ruangan ini dikhususkan bagi pengunjung yang merokok. Biasanya ruangan ini digunakan untuk diskusi.

Di sisi luar perpustakaan, ada taman yang bisa digunakan untuk diskusi. Disediakan pula sejumlah tempat duduk yang dilindungi sejumlah pohon seperti Kamboja Bali dan pohon lain. Saya tidak tahu jenisnya. Antara taman dan ruangan utama perpustakaan dipisahkan oleh jendela kaca, seperti yang saya ceritakan tadi. Jadi, pengunjung di dalam dan di luar sebenarnya bisa saling memandang. Oia, di samping taman juga ada kafe yang asyik dipakai untuk nongkrong.

Desain perpustakaan ini seakan mendobrak pakem perpustakaan yang selama ini terkesan tua, klasik dan dipenuhi dahi-dahi mengkerut alias pemikir. Desainnya modern minimalis dengan tata letak yang menurut saya mengedepankan aspek fungsionalitas. Didominasi warna cokelat kayu, konsep minimalis ini diperkuat dengan ornamen lampu yang sengaja dibuat temaram.

Di satu sisi, pilihan cokelat berlamput redup memang mengesankan suasananya ‘perpustakaan banget’. Namun karena ruangannya berpendingin, suasana ini memudahkan kantuk datang menyerang. Setidaknya, itu yang saya lihat ketika datang ke perpustakaan ini awal November lalu. Beberapa pengunjung justru tertidur lelap di sofa dengan buku terpegang di tangan.

Di perpustakaan Freedom Institute juga kerap diadakan kegiatan berbasis komunitas. Pada 24 November misalnya ada workshop dan pertemuan tentang musik jazz. Selain itu ada pula diskusi dengan topik tertentu dan peluncuran buku. Biasanya acara di tempat diselenggarakan gratis dan terbuka untuk umum. Oia, untuk datang ke perpustakaan ini juga tidak perlu biaya. Kita juga bisa mendaftarkan diri untuk menjadi anggota. Jika memerlukan buku yang diperlukan, kita hanya bisa memfotokopinya di dalam perpustakaan.

reading-room05

Alternatif lain bagi penikmat dan pecinta buku adalah Reading Room di Kemang. Berbeda dengan Perpustakaan Freedom yang memang mengkhususkan diri sebagai perpustakaan, Reading Room merupakan perpustakaan dengan nuansa kafe atau sebaliknya, kafe berkonsep perpustakaan. Bagi pecinta buku, Reading Room bolehlah serupa surga. Konsepnya anak muda banget. Apalagi lokasinya yang terletak Jalan Kemang Timur No. 57 A-B, Jakarta Selatan, pusat gaya hidup anak muda Jakarta. Tempat ini buka sejak jam 9 pagi hingga tengah malam. Tak heran Reading Room nyaris tak pernah sepi.

Reading Room juga menjadi tempat nongkrong sineas dan penulis terkenal tanah air. Misalnya, sutradara Joko Anwar yang sering menjadikan tempat ini sebagai tongkrongan. Selain itu ada pula Ayu Utami, Eka Kurniawan dan masih banyak lagi. Pemilik tempat ini adalah Richard Oh, sutradara sekaligus penulis buku lulusan University of Wisconsin di Madison, Amerika dengan gelar sarjana di bidang Sastra Inggris dan Penulisan Kreatif. Siapa tahu datang ke tempat ini bisa memberi inspirasi untuk menjadi penulis kreatif keren seperti nama-nama di atas.

Reading Room seperti yang saya bilang tak cuma menawarkan buku. Makanan dan minuman yang dihidangkan juga ciamik. Selain itu, ada banyak klub buku dan kegiatan literasi serta kreatif di tempat ini. Misalnya pagelaran musik, puisi hingga diskusi film.

Karena menjadi tongkrongan anak muda, jangan heran tempat ini tak pernah sepi, apalagi di akhir pekan. Jika ingin mencari inspirasi dan bekerja, datanglah di hari kerja. Jangan khawatir, ada banyak colokan dan koneksi internet gratis kok di tempat ini. Oia, buku-buku koleksi pribadi Richard Oh terletak di lantai dua. Kita bisa menikmati suasana Kemang dengan duduk dan menatap jendela ke luar ruangan. Tetapi buku koleksi pribadi ini hanya bisa dibaca di tempat dengan menitipkan kartu identitas. Rasanya, cafe ini menjadi tempat paling layak direkomendasikan bagi mereka yang gila baca dan mencari inspirasi untuk menulis puisi.

Sebenarnya, masih ada sejumlah tempat lain yang bisa dijadikan referensi menepi sejenak dari hiruk pikuk ibukota seperti Rujak Center atau Perpustakaan Daniel S Lev. Tetapi dua tempat ini mendapatkan nilai tertinggi bagi mereka yang mencintai bacaan berkualitas.

Mari kita menepi sejenak dari hiruk pikuk Jakarta. Dan menerapi diri dengan suasana yang tenang dan bersahabat, membuat kita menjadi segar kembali menjalani rutinitas.

Gambar diambil dari sini dan sini

Iklan

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Gung Ws said, on Desember 4, 2012 at 4:27

    kleee…keren gati nok! *ngeces*

  2. SIge said, on Desember 5, 2012 at 4:27

    wow bagus yah perpus nya….bisa relaxing tuh…

  3. kutukamus said, on Juli 26, 2014 at 4:27

    Wah, belum pernah dua-duanya nih. Sepertinya boleh juga. 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: