Agus Lenyot

Selamat Hari Ibu, Mbah….

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on Desember 22, 2012

aku dan mbah

Nenekku, aku biasa memanggilnya dengan nama Mbah, adalah ibu sesungguhnya sejak aku masih kecil, sekolah, kuliah hingga bekerja kini. Menelepon Mbah, adalah pekerjaan yang relatif rutin aku lakukan belakangan ini. Hanya untuk menanyakan kabar keluarga di rumah dan memastikan dia sehat-sehat saja, apa lauk yang dimakan hari ini hingga bagaimana kondisi kebun di rumah. Entah mengapa, menanyakan lauk adalah tradisi yang lumrah kami tanyakan setelah sekian lama tidak ketemu. Meskipun tidak lebih dari lima menit, memastikan dia tetap sehat adalah anugerah yang sangat kusyukuri hingga hari ini.

Mbahku adalah wanita terhebat yang pernah aku kenal. Dialah yang membesarkanku sejak aku masih orok hingga sekarang sudah ganti pacar beberapa kali. Hahaha. Seseorang yang menyekolahkanku hingga tamat sarjana hanya dengan bermodalkan menjual jajanan Bali. Selain kakekku, Mbah adalah orang yang benar-benar berharga bagi hidupku.

Aku ingin bercerita tentang pengalaman buruk dan membuatku kangen dengan Mbah hari ini.

Suatu ketika dulu saat kelas satu SMP, salah satu mata pelajaran di sekolah adalah Industri Rumah Tangga. Ujian untuk mata pelajaran ini adalah membuat telor asin. Kebetulan Mbah memelihara beberapa ekor bebek. Biasanya bebek-bebek ini rajin bertelor. Tetapi entah mengapa, saat mendekati ujian IRT ini bebek-bebek sialan tidak ada yang menetaskan telor. Aku sudah harap-harap cemas waktu itu. Bingung mesti cari telor bebek sebagai bahan baku telor asin dimana.

Syukurlah, sehari menjelang ujian dilaksanakan, seekor bebek akhirnya mengeluarkan telor meski cuma sebiji. Puji Tuhan. Sore itu juga segera aku mempraktekkan cara-cara membuat telor asin seperti pelajaran industri rumah tangga itu (aku lupa prosesnya, tapi yang pasti mesti diinapkan semalam). Aku berpesan kepada Mbah agar subuh-subuh telor asin ini direbus sehingga bisa langsung disajikan kepada guru industri rumah tangga. Maklum, aku agak ketinggalan di pelajaran beginian. Aku tidur dengan lumayan tenang.

Keesokan harinya, aku sudah bangun sejak subuh. Mbah juga kulihat sudah menyalakan api di dapur. Kebiasaan yang tetap dia lakukan hingga hari ini. Aku mengingatkan dia sekali lagi untuk merebus telor asin yang sudah kuolah kemarin. Dia mengiyakan. Tiba-tiba aku mendengar dia terpekik. Ya, ampun telor asinnya jatuh. Satu-satunya telor yang akan menjadi bahan ujian sudah hancur di lantai dijatuhkan sama Mbah. Aku masih ingat, betapa pucatnya mukaku dan juga muka Mbah saat itu.

Aku langsung ngamuk. Pokoknya, aku meminta Mbah segera mencarikan pengganti telor asin itu. Damn, kalau mengingat momen-momen ini, pengen rasanya aku mencium kaki Mbah sekarang juga. Dengan wajah pilu, aku masih ingat waktu itu, Mbah membangunkan tetanggaku agar mengantarkan dia ke Pasar Melaya, sekitar 12 kilometer dari rumahku. Entah dimana kewarasanku saat hingga tega berbuat seperti itu kepada Mbah. Kami tidak punya motor waktu itu. Mbah bilang kepadaku, aku masih ingat wajahnya yang merasa bersalah, “Nanti ketemu di depan pasar Melaya ya..”

Aku merasa benar-benar egois saat itu. Pokoknya yang ada di benakku adalah bagaimana agar nilaiku tidak hancur. Aku langsung bergegas mandi dan naik sepeda motor tuaku (Suzuki 60 Cekutruk Batu Nangka) ke Tuwed. Dari sana aku menumpang angkot ke Pasar Melaya. Aku celingukan mencari Mbah. Tidak ketemu. Aku marah menjadi-jadi. Khawatir dan kemarahanku memuncak menjadi satu. Dengan langkah gontai karena frustasi aku melangkahkan kaki ke sekolah.

Saat tiba di sekolah, seorang teman sekelasku Tunggul Herwanto menghampiri. Dia memberi telor asin padaku. Kata dia, ada seorang nenek yang menitipkan telor itu padanya dan berpesan agar diberikan kepadaku. Pada saat itulah aku membayangkan wajah lelah Mbah yang berusaha memenuhi permintaanku pagi itu. Aku bisa membayangkan wajah Mbah yang ikut panik karena merasa bersalah padaku. Maafkan aku ya Mbah.

Sejak kematian Pekak, praktis akulah satu-satunya teman Mbah. Waktu SD, nyaris tiap purnama aku tangkil ke pura Jayaprana di Teluk Terima. Aku tahu Mbah tidak punya banyak uang. Mbah juga pernah mengajakku merayakan tahun baru di atas kapal laut ke Banyuwangi. Mbah tahu aku sangat menggemari onde-onde. Aku dibelikan dua bungkus onde-onde besar (pacarku sekarang benci onde-onde) plus Majalah Bobo. Waktu itu aku masih kela empat SD. Jadi, jalan-jalan dan menginjak Banyuwangi adalah pengorbanan besar Mbah buatku.

Saat aku tertarik dengan olahraga voli, Mbah juga selalu menyertaiku kemana-mana. Mbah selalu ikut kemanapun aku bertanding dan memberi dukungan. Sejak SMA, praktis aku sudah jarang bertemu Mbah. Aku mulai belajar hidup mandiri dengan indekos di Negara, kota kabupaten tempatku tinggal, sekitar 20 kilometer dari rumahku. Mbah pula yang mengantarku berkeliling mencari tempat kos.

Pertemuan dengan Mbah hanya terjadi seminggu sekali saat Sabtu dan Minggu. Aku mulai menyibukkan diri dan membangun dunia sendiri. Selain itu kondisi ekonomi benar-benar morat marit. Sepeda motor tidak punya. Apalagi hape. Mau dapat duit darimana, buat biaya sekolah saja susahnya minta ampun. Tapi Mbah tetap rutin memberiku uang untuk bekal selama seminggu dari hasil berjualan jajan Bali.

Ketika kuliah, aku semakin jarang bertemu Mbah. Aku harus merantau ke Denpasar. Pertemuan kadang-kadang hanya terjadi dua bulan sekali. Jarak ratusan kilometer, plus trauma karena aku pernah kecelakaan membuatku semakin jarang pulang bertemu Mbah. Apalagi aku juga mulai sibuk di organisasi mahasiswa. Mbah mulai jarang melintas di pikiranku. Karena rindu, sesekali Mbah datang ke Denpasar.

Satu-satunya yang membuatku kesel kepada Mbah adalah dia selalu rewel menanyakan kapan aku akan lulus. Aku sudah kuliah hampir enam tahun. Adikku sudah tamat SD, aku nggak menyelesaikan kuliah. Ini memotivasiku untuk segera menamatkan kuliah. Aku tahu, Mbah pasti sangat bangga cucunya menjadi sarjana. Sekali lagi, karena berjualan kue Bali. Foto wisuda bareng Mbah kucetak besar-besar. Mbah datang ke wisudaku. Di keluargaku, akulah satu-satunya manusia yang bergelar sarjana. Aku senang sudah membuat Mbah bangga.

Semakin hari pertemuan dengan Mbah makin jarang. Aku bekerja di Jakarta, sedangkan Mbah tetap tinggal di kampung yang berjarak seribu kilometer dari tempatku sekarang. Beruntung Mbah rajin meneleponku. Sekadar bertanya aku sudah makan atau belum. Apa lauk makanku. Pertanyaan yang selalu ada dalam setiap obrolan kami. Mbah juga terus menanyakan pacarku sekarang. Hahaha. Mbah selalu menganggap aku seperti anak kecil yang dia asuh 20 tahun yang lalu. Tapi aku merindukan kerewelan-kerewelan seperti itu.

Terakhir kali aku bertemu dengan pada bulan Februari tahun lalu. Saat itu aku metatah, pertanda aku sudah beranjak dewasa. Aku tahu, Mbah bangga melihat aku tumbuh sehat tanpa air susu ibu. Mbah pernah bercerita, sebagai pengganti ASI, dia memberiku yeh klungah. Dia wanita hebat yang pernah aku temui. Dia juga berpesan, masih bisa menunggu beberapa tahun lagi untuk memomong cucu. Oke, Mbah, calon sudah ada. Cuma duit buat kawin yang belum ada. Hehehe. Sabar dulu ya.

Bulan Februari ini rencananya aku bakalan pulang ke Bali. Ke kampung, ke Moding. Kampung yang membesarkanku. Kampung tempat aku melewati masa kanak-kanak, kenakalan khas bocah desa dan kampung dengan keramahan yang hangat. Aku merindukan tempat itu. Aku rindu dengan adik-adikku dan rindu menelusuri kenangan di sana. Aku kangen Mbah….

Selamat Hari Ibu…

Iklan
Tagged with: , ,

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Esha Satrya said, on Desember 22, 2012 at 4:27

    Selamat hari ibu, mbah.
    😀

  2. imadewira said, on Desember 23, 2012 at 4:27

    Saya pun kalau diingat-ingat, ada begitu banyak perilaku durhaka yg saya lakukan kepada Ibu saya. Hebatnya, beliau sampai skg tidak pernah dendam atau pun mengurangi kasih sayangnya.

    Tapi, sampai detik ini saya tidak pernah mengucapkan selamat hari ibu kepada beliau.

  3. SIge said, on Desember 24, 2012 at 4:27

    Hi, saya bisa merasakan setiap moment yg di post. Sungguh pengalaman yang berkesan.

    Semoga mbh nya senantiaa dalam keadaan sehat.

  4. Jefry said, on Desember 25, 2012 at 4:27

    beruntung sekali anda bisa mengucapkan selamat hari ibu bagi nenek anda,
    hmm.. beda dengan saya beberapa bulan lalu nenek saya meninggal, saya jadi teringat sama beliau..

  5. indah said, on Januari 2, 2013 at 4:27

    (y)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: