Agus Lenyot

Selamat Jalan Tahun 2012

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Desember 28, 2012

Gambar Ucapan Selamat Tahun Baru 2013 bv

Jika kamu orang Bali, percayalah melihat gedung 30 lantai adalah sebuah kemewahan.

Tentu saja, karena di Bali tidak ada gedung setinggi itu. Di Bali, satu-satunya gedung tinggi adalah Hotel Bali Beach. Aku pun tidak pernah naik ke lantai teratas hotel ini. Jadi, berada di Jakarta melihat bumi dari ketinggian adalah kemewahan yang bisa aku nikmati. Percayalah, tidak semua orang Bali bisa merasakan kemewahan ini.

Tahun ini, aku resmi menjadi bagian dari penduduk Jakarta. Kota yang tak pernah mati, yang nyaris selalu dikepung kemacetan. Kota yang penuh dengan klakson di lampu lalu lintas. Sumpah, rasanya tidak ada kota yang lebih berisik dari Jakarta soal bunyi klakson. Tapi sejauh ini aku menikmati kota ini. Barangkali karena aku lama menghabiskan masa kecil di desa. Keriuhan dan pertemuan dengan banyak orang adalah sesuatu yang istimewa. Meskipun pada suatu ketika, aku akan lelah juga. Mungkin.

Tulisan ini semacam refleksi. Bukan mau pamer. Bukan mau sombong. Tapi semacam penanda ada sebuah masa yang sudah dilewati.

Setahun ini sudah beberapa kali pindah pos liputan. Sempat di desk politik, berlanjut ke industri, terdampar di metropolitan hingga akhirnya terdampar kembali di desk politik. Awalnya nongkrong di DPR saat ngetem di pos politik. Setiap hari berkawan dengan isu, berkutat melihat politisi busuk dan pemerintahan yang tak kalah busuknya.

Setelah pindah ke ekonomi, wilayah liputan berpindah dari hotel ke kotel. Dari makanan enak ke makanan enak, dari wangi mbak-mbak SPG hingga klimisnya eksekutif muda. Sementara aku, ya tetap setiap dengan jins butut dan sesekali kemeja yang disetrika rapi jali.

Ketika rotasi pos liputan dari ekonomi ke metropolitan, pos liputan pun berubah menjadi dari polsek ke polsek. Blusukan dari kampung ke kampung. Liputan kebakaran, bertemu dengan banyak orang dan tentu saja merasa dekat. Persoalan mereka, orang yang saya liput di pos ini adalah persoalan saya. Barangkali kemewahan pekerjaan ini adalah kami kadang bertemu dengan banyak orang berbeda setiap hari. Nyaris setiap hari aku harus belajar.

Kini, aku kembali terdampar di DPR lagi. Pos metro sebenarnya menyenangkan karena diantara semua pos liputan, soliditas antara rekan di lapangan sangat erat. Sesekali, aku masih main ke Palmerah, tempat anak-anak nongkrong di Jakarta Barat. Tetapi, pindah ke desk politik mesti disyukuri juga. Saat kuliah dulu, bidang ini pernah kuminati dan tetap kuminati hingga saat ini. Paling tidak, aku bisa menyaksikan suhu politik jelang 2014 yang semakin memanas. Aku bersyukur saja, tidak semua orang mendapatkan kesempatan ini.

Itu tentang pekerjaan.

Tahun ini, tepatnya Februari lalu, menjadi istimewa karena aku sudah metatah, upacara adat Hindu Bali simbol melepas Sad Ripu sekaligus menuju lambang kita memasuki tahap dewasa. Februari tahun lalu pula aku terakhir kali pergi ke Moding. Kangen juga dengan tempat itu.

Tahun depan, aku juga berencana akan pulang kembali ke sana. Sudah kangen dengan kampung, mbah, adik-adik dan teman-teman lama. Kangen juga main ceki. Februari depan rencananya juga otonan. Liberal-liberal begini, kalau sudah ngasih perintah, aku harus nurut juga. Tiket pesawat sudah ditangan, tinggal bagaimana mengatur cuti dan libur dari kantor.

Beberapa target memang meleset (tidal perlulah saya jelaskan itu apa). Tetapi sebagian besar, tahap-tahap kehidupan sudah terlaksana dengan baik. Hidup rasanya berada di jalan yang benar, setidaknya hingga saat ini. Tidak ada penyeselan dengan pilihan profesi sekarang. Bersyukur juga, tempatku bekerja sekarang, setidaknya masih menjadi tempat terbaik untuk menempa diri di bidang yang kutekuni.

Rencana bikin buku? Hmmm. Nantilah. Masih kurang riset. Beberapa buku bahan riset sudah di tangan. Belum sempat dibaca juga. Soal apa? Nantilah. Sketsa pendek sih ada. Tapi namanya manusia selalu ingin yang sempurna. Masa sih sketsa pendek dibukukan? Lihat saja, siapa tahu bisa jadi kado untuk sesuatu yang istimewa. Tahun depan? Ah, nggak juga. Buku bagus nggak perlu kejar targetlah. *sombong*

Soal asmara?

Hmm. Setahun lebih menjalani hubungan jarak jauh. Suka duka tentu ada. Tapi ya dijalanin saja. Godaan pasti datang dan syukurnya semua hingga sejauh ini bisa terlewati. Tahun depan mudah-mudahan jadi lebih baik. Btw, kami tetap bisa melewatkan pergantian bareng kok. Ini juga berkat kegigihan pacarku untuk mendapatkan tiket murah. Yeay!

Tahun depan, semoga semuanya akan jadi lebih baik.

Gambar pinjam dari sini

Iklan
Tagged with: ,

11 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Piracetam said, on Desember 29, 2012 at 4:27

    Pada 28 September, amarah Hendra kembali meledak. Muka Yati ditampar. Setelah marah-marah, ia minta dipijat. Saat suaminya telungkup, Yati mengambil batu dan menghajar kepala. “Badannya gede, bingung mau dibuang ke mana, ya sudah saya potong-potong saja,” kenangnya datar.

  2. imadewira said, on Desember 31, 2012 at 4:27

    Selamat menyambut tahun baru mas bro… Semoga tambah sukses selalu..

    *btw, ajahin saya meceki pok neh, hehehe

  3. SIge said, on Januari 1, 2013 at 4:27

    Hi Gus, selamt tahun baru 2013, semoga sukses ditahun yang baru.

  4. Cahya said, on Januari 1, 2013 at 4:27

    Selamat tahun baru Bli Gus :).

  5. carnosine eye drops said, on Januari 2, 2013 at 4:27

    “Di Medan tadinya ada Medan Ekspres. Bentrok sama pemiliknya, kita tinggalkan. Watak orang Batak mungkin sulit ikut gaya Dahlan. Kini kita coba bikin sendiri. Mau bikin Medan Pos sudah ada yang duluan, maka kita pakai nama Radar Medan saja. Begitu pula di Sibolga,” tutur Rida K. Liamsi.

  6. jtxtop said, on Januari 3, 2013 at 4:27

    Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

  7. Ngurah Adis said, on Januari 5, 2013 at 4:27

    Selamat tahun baru ssameton sami

  8. idebenone said, on Januari 8, 2013 at 4:27

    Manfaat dari konsep itu antara lain telah dirasakan oleh Lombok yang menjadi tuan rumah pelaksanaan TIME 2010 dan TIME 2009. Kini, popularitas Lombok sebagai destinasi wisata meningkat, jumlah kunjungan turis naik, dan investasi di sektor pariwisata pun tumbuh. Itu karena Lombok melakukan dengan baik dan benar, terutama ketika tuan rumah memfasilitasi para buyers dalam kegiatan post tour di sejumlah destinasi di Lombok.

  9. cataract eye drops said, on Januari 15, 2013 at 4:27

    When Islam surpassed Hinduism in Java (16th century), Bali became a refuge for many Hindus. Balinese Hinduism is an amalgam in which gods and demigods are worshipped together with Buddhist heroes, the spirits of ancestors, indigenous agricultural deities and sacred places. Religion as it is practiced in Bali is a composite belief system that embraces not only theology, philosophy, and mythology, but ancestor worship, animism and magic. It pervades nearly every aspect of traditional life. Caste is observed, though less strictly than in India. With an estimated 20,000 puras (temples) and shrines, Bali is known as the “Island of a Thousand Puras”, or “Island of the Gods”.

  10. pushandaka said, on Januari 20, 2013 at 4:27

    Selamat tahun baru. Semoga sukses di Jakarta.

  11. kata bijak said, on April 24, 2013 at 4:27

    trims atas sharing infonya 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: