Agus Lenyot

Memaknai Nyepi untuk Diri Sendiri

Posted in Bali by Wayan Agus Purnomo on Maret 13, 2013

Kita lebih sering merayakan Nyepi untuk orang lain.

Setidaknya, itulah yang aku rasakan. Kita lebih sering merayakan Nyepi bukan untuk instropeksi diri, tetapi bagaimana agar kita terlihat-lihat seolah-olah di depan orang lain. Seolah-olah umat Hindu di Bali sepenuhnya taat pada agama. Seolah-olah perayaan Nyepi dilangsungkan dengan hikmat. Padahal, bisa jadi yang sebenarnya kita lebih banyak terpaksa dengan Nyepi.

Nyepi itu adalah pergantian tahun Caka, tahun penanggalan umat Hindu. Mirip dengan Imlek untuk orang Cina. Selisih tahun baru Caka (atau ada yang menulisnya Saka) adalah 78 tahun dengan tahun Masehi. Berbeda dengan perayaan tahun baru lain yang identik dengan keramaian, Nyepi justru sebaliknya. Makanya, aku sebenarnya merasa kurang tepat jika Nyepi disebut hari raya. Raya, yang berarti besar, pasti diidentikan dengan keramaian, keriuhan, dan pesta pora. Nyepi, seperti kata dasarnya Sepi, Sipeng, justru momen untuk berkontemplasi.

Ada empat pantangan yang wajib dilakukan umat Hindu, disebut Catur Brata Penyepian. Pertama, Amati Geni yang artinya tidak menyalakan api. Kedua, Amati Karya yang artinya tidak bekerja. Ketiga, Amati Lelanguan tidak berfoya-foya. Terakhir adalah Amati Lelungan yang berarti dilarang bepergian. Di era modern, barangkali Catur Brata Penyepian ini perlu komodifikasi. Misalnya, apakah Twitteran dan internetan termasuk berfoya-foya. Atau, apakah menyalakan komputer termasuk melanggar Amati Geni. Ini bakalan menjadi panjang untuk diperdebatkan.

Seperti yang aku bilang, Nyepi adalah momen untuk merenung. Jika empat pantangan itu benar-benar dilakukan, barangkali kita tidak boleh melakukan apa-apa. Jika diterjemahkan dengan sebenar-benarnya, yang seharusnya dilakukan saat Nyepi adalah meditasi, puasa sehari semalam penuh dan tidak melakukan aktivitas apapun.

Aku bukan orang yang taat pada Catur Brata Penyepian. Sejak lahir hingga sebesar sekarang, aku nyaris tidak pernah serius mengamalkan Catur Brata ini. Pantangan pasti ketika Nyepi adalah tidak naik sepeda motor dan tidak bepergian (terlalu jauh) dari rumah. Aku rasa kebanyakan umat Hindu di Bali juga berperilaku serupa. Artinya yang diamalkan ketika Nyepi hanya satu Brata yaitu tidak bepergian.

Amati yang lain? Sudahlah, itu urusan personal masing-masing orang. Lihat saja, beberapa hari sebelum Nyepi pasti pasar dan supermarket dipenuhi oleh orang Bali yang berbelanja kebutuhan untuk Nyepi. Maklum, pas Nyepi kan tidak mungkin kemana-mana dan memang tidak ada toko buka. Stok bahan makanan disiapkan sedini mungkin. Pas Nyepi, siap-siap makan-makanan enak. Masak pasti memerlukan api. Memasak juga berarti bekerja. Dan menikmati hasil masakan adalah pesta pora dan foya-foya. Hehehe. Aku rasa sebagian dari kita pasti seperti ini.

Toh, meskipun tidak termasuk taat, aku senang dengan Nyepi. Ada sejumlah alasan sih. Pertama, karena ada ogoh-ogoh. Kedua, bisa nonton televisi sepuasnya. Ketiga, bisa main ceki (kartu Cina). Keempat, main meriam bambu. Hahaha.

Ogoh-ogoh itu wajib ada saat Nyepi, kecuali jelang pemilu biasanya. Maklum, pemerintah takut kerusuhan. Lagian, kadang-kadang kreativitas orang Bali berlebihan. Bisa saja, wujud ogoh-ogoh digambarkan dengan lawan politik. Nah, ogoh-ogoh kan dibakar, jadi tafsirannya macam-macam. Tahun ini misalnya, ada ogoh-ogoh dengan wujud Anas digantung di Monas. Ogoh-ogoh itu simbol buta kala, setan yang akan dibakar sehari jelang Nyepi. Jadi? Silakan ditafsirkan sendiri. Jika ada waktu, sesekali mainlah ke Bali untuk melihat pawai ogoh-ogoh. Seru kok. Itu pertama.

Enaknya Nyepi yang lain adalah kesempatan main ceki dengan aman. Aku penggemar berat permainan ini. Lelaki Bali biasanya secara naluri senang judi. Nah, sedikit-sedikit aku punya naluri ini. Judi yang kugemari adalah ceki, bola adil dan tajen. Tajen sih nggak terlalu doyan. Kasian aja liat ayam bertarung dengan taji. Bola adil itu permainan yang selalu ada dalam tajen. Tapi karena judi Tajen begitu populer, aku sering datang ke sana sekadar untuk menikmati keramaian.

Balik lagi ke Ceki. Biasanya, sebelum Nyepi kami, penggemar ceki, sudah janjian bakal main di rumah siapa. Beberapa orang menjadikan judi sebagai pekerjaan. Kalau aku sih menjadikan ceki hiburan. Taruhannya paling banyak 10ribu sekali game. Ini sudah masih kategori sedang-sedang saja. Tidak mahal dan tidak murah. Lalah manis, kalau kata orang Bali.

Permainan ceki ini wajib dilakukan lima orang. Ada juga yang menyebut permainan ceki sebagai Pancasila. Maksudnya, ada lima orang yang duduk bersila lama-lama. Permainan ini memakai kartu Cina dengan jumlah kartu sebanyak 120 lembar. Aturannya permainnya sederhana, tetapi agak ribet dijelaskan dengan kata-kata.

Yang bikin orang susah memahami ceki karena jumlah kartunya terlalu banyak dan namanya aneh-aneh. Padahal, untuk bisa main ceki kita tidak perlu menghafal nama-nama kartu. Ceki, menurutku bukan hanya soal judi. Tetapi ini permainan psikologis, membaca strategi lawan dan pilihan-pilihan yang akan kita pilih. Sekali salah menentukan pilihan kartu, maka kita akan kalah pada game tersebut. Biasanya sih pas Nyepi, kami main kartu Ceki tidak sampai malam. Kalau matahari sudah turun, dan gelap biasanya langsung bubaran. Kan tidak boleh menyalakan lampu saat Nyepi.

Nyepi di desa sangat bermakna. Waktu kecil saat malam-malam, aku selalu diajak pekak tidur di jineng (semacam tempat menyimpan padi zaman dulu). Malam-malam dikasih nasihat-nasihat tentang kehidupan. Dulu sih aku masih bisa melihat kunang-kunang danmelihat terangnya bintang. Nyepi jatuh sehari setelah tilem. Jadi langit pasti penuh dengan kilauan bintang. Yang sedang menikmati Nyepi di Bali pasti bisa menikmati pemandangan ini.

Dinihari setelah Nyepi, kami biasanya akan bermain meriam bambu. Cara bikinnya gampang. Potong bambu di bagian bawah sebanyak empat sampai lima ruas/buku. Hancurkan pembatas bukunya dengan linggis dan lubangi dekat ekornya. Setelah itu isi air dan karbit. Tinggal sulut dengan api, terjadilah ledakan hebat. Hehehe. Biasanya, kami suka balapan, meriam siapa yang paling kencang suaranya. Nanti juga biasanya saling sahut-sahutan dengan meriam dari kampung sebelah.

Nyepi memang istimewa. Tetapi, aku sedikit khawatir dengan masuknya negara dan desa adat ke dalam ruang privat warganya. Misalnya, kehadiran pecalang yang berlebihan. Atau dimatikannya saluran televisi. Menurutku, kebijakan ini terlalu berlebihan. Pilihan untuk melaksanakan Nyepi adalah hak setiap orang. Negara tidak bisa memaksa seseorang taat memeluk agama. Yang perlu dilarang adalah menimbulkan cahaya di kala malam hari, menimbulkan keributan, dan bepergian keluar tanpa alasan yang jelas.

Toh, tanpa televisi orang Bali masih bisa menghibur diri dengan bermain internet. Apakah suatu ketika negara juga akan masuk ke ranah ini? Pada akhirnya, menurutku, masyarakat Bali akan sadar sendiri bahwa Nyepi itu adalah sebuah mukjizat yang diturunkan Tuhan yang harus dijaga. Keistimewaan dan ciri khas ini pasti akan dijaga oleh kita semua, tentu saja dengan caranya masing-masing. Aku yakin masyarakat Bali tidak sebodoh itu untuk berlaku tidak tertib. Ah, sudahlah…

Tetapi yang pasti aku senang dengan Nyepi. Semakin dewasa, aku semakin sadar beban yang ditanggung bumi semakin besar. Menurutku, sangat adil kita membiarkan bumi beristirahat selama 24 jam penuh. Sesekali rasanya sangat layak kita tidak membebani bumi dengan berbagai aktivitas yang merugikan mereka. Jika tidak percaya, googling saja, berapa penghematan karbon yang dihasilkan saat perayaan Nyepi.

Terinspirasi Nyepi inilah muncul gagasan perayaan World Silent Day. Basisnya bukan agama tentu saja, seperti yang dituduhkan banyak orang. World Silent Day lebih menekankan pada persoalan lingkungan. Bagaimana kita menginstirahatkan bumi barang sejenak. Sekaligus menjadi ruang bagi umat manusia untuk merenung.

Bumi sudah memberikan banyak hal bagi kita. Masa sih kita tidak mau memberikan waktu sehari saja untuk dia. Namun, dunia kapitalistik yang berorientasi materi rasanya tidak akan mengerti soal ini. Bagi mereka, waktu adalah uang. Mengistirahatkan bumi sejenak adalah menghentikan perputaran uang dan itu artinya kerugian finansial. Ah, kita memang terlalu menghamba pada kehidupan duniawi.

Kini, setelah sudah kali aku melewati Nyepi di luar Bali. Rasanya aku merindukan bunyi jangkrik di tengah kegelapan desa. Atau berbincang dengan adik-adik di tengah halaman sambil main petak umpet. Atau menghitung bintang sambil bercanda berapa banyak tahi lalat yang akan bertambah di tubuh kita.

Tahun lalu, aku melewatkannya karena ada kegiatan kantor di Puncak. Tahun ini, karena memang libur dan tidak ada kegiatan apa-apa. Jadi seharian bengong di kosa. Bali memang terlalu gampang untuk bikin rindu. Mudah-mudahan tahun depan bisa kembali me-Nyepi di kampung halaman…

Iklan

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. pulau tidung said, on Maret 14, 2013 at 4:27

    sangat menyentuh ruang jiwa… i like this
    http://pulauparipulautidung.com from Indonesia with love

  2. imadewira said, on Maret 27, 2013 at 4:27

    Semua sudah diceritakan dengan lengkap. Ada tambahan sedikit, sejak kecil sampai saya SMA, saya dan beberapa teman dan kakak pas Nyepi biasanya akan berkeliling di sawah pinggir sungai di sebelah barat rumah saya. Dengan membawa sebilah golok kami akan berkeliling menikmati kesunyian Nyepi di persawahan, rasanya kembali ke kehidupan jaman bahula. Goloknya buat apa? Tentunya untuk membelah kelapa muda yang kami curi, hahaha


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: