Agus Lenyot

Kecelakaan Adalah Sebuah Kejutan

Posted in Kontemplasi by Wayan Agus Purnomo on Maret 15, 2013

Mbah tidak akan menelepon sepagi ini jika bukan karena sesuatu yang penting.

‘Penting’ sepagi ini adalah musibah. Aku selalu paham itu. Tidak mungkin Mbah meneleponku sepagi ini jika bukan karena sesuatu hal yang mendesak. Mendesak adalah sebuah kabar buruk. Waktu telepon dengan Mbah selalu dilakukan siang atau malam menjelang tidur.

Aku sudah menunggu kalimat apa yang meluncur dari bibir Mbah, lebih dari seribu kilometer dari tempat aku merebahkan badan. Suara Mbah terdengar lelah. Mungkin dia tidur larut kemarin malam.

“Adik baru saja kecelakaan.”

Mendengark kalimat itu, aku yang terbangun dengan terburu-buru, langsung menegakkan badan. Menembus batas kesadaran pada ketika sepagi ini bukan sesuatu yang mudah. Telinga kupasang sebaik-baiknya. Wajahku menegang. Kupaksa untuk mencerna setiap kata-kata meski terdengar samar-samar.

“Kecelakaan tadi malam, katanya dibawa ke rumah sakit.”

Aku mendengarkan dengan rasa cemas. Aku menahan nafas menunggu kelanjutan cerita Mbah.

“Tadi tengok ke rumah sebelah, sepi.”

Sepi, berarti kecelakaannya serius. Butir keringat membasahi dahiku. Ini masih pagi.

“Katanya, semua berangkat ke rumah sakit.”

Cemas. Kakiku gemetar. Rumah sakit bukan tempat yang menyenangkan. Di situ ada aroma kematian dan kesedihan. Aku berkata dengan tak sabar. Mbah berbicara terlalu lama.

“Lalu?”

Kalimat terakhir membuatku berpikir agak tenang.

“Tidak meninggal, cuma luka-luka.”

Aku lega. Orang Bali selalu punya rasa syukur atas musibah. Seburuk apapun itu. Aku lalu menanyakan kabar Mbah dan lauk apa saja yang dimakan hari ini. Tak lupa aku berpesan agar makan makanan yang sehat. Pada Mbah aku mengingatkan adikku yang lain agar berhati-hati di jalan raya. Telepon ditutup. Aku merenung. Setidaknya adikku ‘baik-baik saja’.

Aku beringsut bangun, melirik angka digital di ponsel: 05.45. Di Bali sejam lebih awal dan aku yakin aktivitas mulai bergerak ramai. Aku segera menghubungi kakakku, Kadek, menanyakan kondisi adikku, Putu, yang baru saja kecelakaan. Kadek pasti lebih paham. Syukurlah, semuanya masih dalam tahap, ‘Tidak apa-apa. Cuma luka-luka’.

Aku anak tunggal. Tidak mudah menjelaskan terminologi ‘adik’ dan ‘kakak’ dalam keluargaku. Keluarga besar yang hubungan antara penghuni yang satu dengan yang lain sangat dinamis.

Ah, itu hal lain.

Aku serendah-rendah hati mengakui trauma dengan kecelakaan. Pengalaman mengajarkan, berita tentang celaka adalah sesuatu yang tidak bisa diterima logika. Kerap berakhir dengan kematian. Kematian adalah perpisahan, suatu keniscayaan dalam sebuah perjumpaan. Ironisnya sering kita siap karenanya.

Ingatanku kembali pada kakakku, yang lain tentu saja. Sekali lagi aku ulangi, sulit menjelaskan terminologi ‘kakak adik’ dalam keluargaku.

Hampir dua puluh tahun yang lalu, petaka tentang celaka masih terekam di benakku. Sedikit samar-samar tapi masih berbekas. Aku ingin bercerita sedikit saja.

Begini ceritanya.

Kakakku, seorang laki-laki yang berbudi, kelahiran 1980. Kami lahir di bulan yang sama. Tanggalnya berbeda. Dia tanggal 20. Aku tanggal enam. Konon, waktu lahir Bapak, bukan ayahku, memberi nama I Putu Anton Surya Negara. Karena sakit-sakitan atau entah karena apa, nama Kakak diubah: I Putu Anton Satria Negara. Seorang matahari diubah menjadi seorang pahlawan. Keluargaku sangat percaya pada tanda-tanda alam. Aku memanggil kakakku: Wik Anton.

Dia seorang lelaki yang baik dan bertanggung jawab terhadap adik-adiknya. Paling tidak kepadaku. Dalam ingatanku yang samar-samar banyak cerita yang berbekas dan tak lekas pergi dari ingatanku tentangnya.

Kakakku sering membelikan mainan padaku. Usiaku mungkin mungkin belum genap 4 tahun. Aku lupa. Itu terlampau lama untuk diingat. Aku dilahirkan dengan rasa ingin tahu berlebihan, rewel dan menjengkelkan. Pertanyaan tak pernah habis dari bibirku. Merepet seperti mercon Cina. Wik Anton tahu itu.

Wik Anton beberapa kali menghadiahkan mainan robot, mobil-mobilan atau pesawat terbang yang digerakkan dengan baterai. Aku heran dengan alat itu. Kenapa mereka bisa bergerak sendiri hanya dengan menekan sebuah tombol. Takjub ada benda semodern itu. Listrik belum masuk kampungku kala itu. Sumber energi ketika malam berasal dari aki yang harus diisi setiap siang. Sumber informasi hanya sebuah televisi tua yang hanya hidup di malam hari.

Suatu ketika aku mencoba memasukkan mainan yang diberikan Wik Anton ke air. Aku lupa kenapa aku melakukannya. Mungkin karena rasa heran saja. Aku merendamnya beberapa lama lengkap dengan baterainya. Begitu diangkat dan aku menghidupkannya, mainan itu tidak bergerak. Mati. Aku mencoba untuk mainan yang lain. Sama. Semuanya mati dan tak berfungsi. Aku paham, mainan berenergi listrik akan rusak ketika direndam kepada air. Wik Anton marah mengetahui tindakanku. Setelah peristiwa itu, dia tidak pernah membelikanku mainan. Sebagai gantinya dia membelikan buku.

Itu satu cerita. Ada juga cerita yang lain.

Suatu ketika, ketika hari pertama masuk SD, usai aku lulus taman kanak-kanak, Wik Anton membekaliku dengan buku. Lazimnya, kegiatan hari pertama sekolah di kampung adalah kerja bakti setelah liburan panjang. Seseorang menegurku kakakku, dalam bahasa Bali tentu saja. “Wah, orang lain bawa sabit, kok Agus bawa buku.” Agus, itu namaku. Kalimat itu ditujukan sambil mengejek Wik Anton. Orang lain membawa sabit, cuma aku yang membawa buku. Aku berbeda sendiri. Aku malu.

Wik Anton menyelamatkan harga diriku.

“Sekolah itu untuk belajar, bukan nyabit. ” Kakakku menjawab. Dia melanjutkan, kalau pengen nyabit nggak usah sekolah pergi saja ke sawah. Kira-kira itu lanjutan kalimatnya. Aku tidak ingat persis. Kata-kata ini tertanam begitu kuat dalam benakku. Inilah yang menyadarkan hingga dewasa kelak, betapa pentingnya buku bagiku. Betapa aku mencintai ilmu pengetahuan. Darinya aku tahu, tidak apa-apa berbeda dari orang kebanyakan asal kita benar. Wik Anton usianya belum 13 tahun ketika itu.

Masih ada cerita yang lain. Aku bercerita singkat-singkat saja.

Saat kelas 2 SD, aku masuk siang. Entah jam 9 pagi atau jam 10 pagi, aku lupa. Wik Anton sering mengajakku ke pantai, sekitar lima kilometer dari rumahku. Wik Anton minta izin sama Pekak dan Mbah. Syaratnya, aku harus bangun pagi dan tidak rewel. Aku menyanggupi. Aku senang jalan-jalan dengannya. Sebab Wik Anton sering membelikan es potong. Aku tidak tahu dimana dia mendapatkan duit lebih. Kami bukan keluarga kaya. Tapi dari Mbah dan Pekak kelak aku tahu, Wik Anton selalu menyisihkan uang sakunya untuk membelikanku mainan dan jajan. Aku terharu.

Sebenarnya alasan Wik Anton ke pantai, namanya Candikusuma, adalah mencoba sepeda baru. Kami menyebutnya sepeda mini. Mungkin mengajakku adalah alasan agar dia bisa mencoba sepeda barunya. Aku anteng dibonceng dengan sepeda mini. Tak lupa dia mengikat kakiku pada tiang sadel dengan selendang. Risiko membonceng bocah tak bisa diam sepertiku adalah kaki terselip pada jari-jari sepeda. Aku punya pengalaman buruk soal ini sehingga kakiku luka dan berdarah. Aku tahu, Wik Anton tidak ingin membuatku mengalami kesakitan serupa.

Dia sayang sama aku.

Sepanjang jalan aku selalu bertanya ini itu kepada Wik Anton. Ini pohon apa. Rumah ini milik siapa. Kalau ada orang lewat itu siapa. Dia hanya menjawab “Hoh, Hah saja.” Aku juga tidak butuh jawaban. Dia tahu itu. Jalan-jalan ke pantai beberapa kali kami lakukan. Aku senang. Dia kakak yang baik.

Wik Anton menyenangi petualangan di alam. Sejak di SMP dia masuk ke klub pecinta alam. Aku pernah melihat dia sedang mengikuti pelatihan pecinta alam, tiduran di aspal. Aku tidak mengerti apa tujuannya. Aku tidak berminat.

Aku justru sebaliknya, lebih senang mengurung diri di dalam ruangan. Membaca buku dan bereksplorasi tentang apa saja dalam fantasi masa kecil. Aku sejak kecil tidak suka pekerjaan kasar. Lebih baik memakai otak daripada memakai otot.

Kakakku bercita-cita menjadi tentara. Dari buku biodata dan harapan yang kubaca kemudian, aku tahu dia bercita-cita masuk AKABRI. Pada masa Orde Baru, menjadi tentara adalah profesi yang keren. Bapak sering memakai baju loreng-loreng ketika ke kebun. Kelihatannya gagah. Ketika dewasa, aku merasa beruntung cita-cita Wik Anton tidak pernah terlaksana. Sebagian tentara ternyata begitu kejam. Aku bersyukur Wik Anton tidak menjadi bagian dari kekejaman itu. Setidaknya, fantasiku tentang kakakku tidak pernah berubah.

Ada Wik Anton, aku memiliki tempat berlindung dan bertanya. Sampai akhirnya petaka itu datang.

Aku lupa tanggal dan hari apa itu. Yang pasti, hari itu sudah jelang kenaikan kelas III. Ulangan umum sudah selesai, menunggu penilaian guru dan rapor yang kami terima. Murid-murid di sekolahku masuk kerja, bersih kelas dan bebas melakukan apa saja. Aku malas dan kurang suka dengan situasi macam begini, Bersekolah tapi tak ada aktivitas belajar. Hari itu aku memutuskan masuk agak siang. Atau bolos saja sekalian.

Sampai jelang naik ke kelas III SD, aku masih tidur dengan Pekak dan Mbah. Wik Anton tidak suka dengan sifat manjaku ini. Sejak kecil dia ingin aku tidur terpisah dan belajar mandiri. Aku masih malas-malasan di tempat tidur. Matahari, yang sinarnya mengintip dari jendela, terlihat sudah tinggi.

Tiba-tiba Wik Anton datang. Dia merampas kemerdekaan yang aku punya. Dia menarik selimutku dan memintaku segera bangun. Arrrgh, aku benci kalau Wik Anton mulai rese. Meskipun dia baik, sesekali sifat bandelnya keluar. Rupanya dia sedang mengibarkan bendera peperangan. Aku mengomel dan bersungut-sungut. Tahu kan, akhir dari kemarahan seorang bocah dari usia 7 tahun adalah tangisan panjang. Wik Anton tertawa-tawa mendengarnya. Aku semakin jengkel. Dia langsung berlari meninggalkanku yang siap dengan batu sebesar kepalan tangan.

Aku menyesal dengan niatku ini.

Tetapi aku merasa beruntung batu ini akhirnya tidak melayang dari tanganku.

Itulah tawa terakhir yang aku dengar dari Wik Anton.

Aku sungguh-sungguh lupa tanggal berapa hari itu.

Siang hari usai sekolah seseorang memberi kabar. Wik Anton kecelakaan. Ah, aku tidak tahu bagaimana ceritanya. Samar-samar aku mendengar, seorang sopir mobil penumpang menyetir dengan mengantuk dating dari arah barat, Gilimanuk menuju Denpasar. Mobil oleng ke kiri, melewati jalur berlawanan dan menabrak kakakku yang berjalan di sisi kiri. Sebenarnya kakakku tidak sendiri. Dia berjalan, katanya sambil tertawa-tawa bersama dua temannya. Dua temannya selamat. Kakakku gagal menghindar. Kepalanya terbentur dan meninggal dunia.

Aku masih belum mengerti apa yang terjadi. Bersama kakakku yang lain, aku masih bermain ‘gebyar’, permainan dengan menggunakan batu untuk menghitung poin. Permainan terhenti karena hiruk pikuk di rumahku. Tetangga berdatangan. Keluarga yang lain berkumpul di rumahku. Aku melihat ibu menangis menjerit-jerit. Bapak duduk termenung. Aku tahu dia sedih. Kakakku yang lain, Kadek dan Komang juga menangis.

Tak lama kemudian, ambulan datang dengan sirine menjerit-jerit, tak kalah dengan tangisan ibu yang makin meraung-raung. Aku masih ingat Pekak juga terguncang. Semua dirundung kesedihan. Semua menangis. Aku menghindari kerumunan dan hiruk pikuk. Orang-orang membopong tubuh kakakku dan meletakkannya di ruang tengah.

Aku takut pada mayat, sampai sekarang.

Aku mengintip dengan hati-hati di celah kerumunan orang-orang. Aku melihat Wik Anton terbujur kaku. Ada beberapa luka lecet. Tidak seberapa. Wik Anton terlihat begitu tenang. Semua orang mengerubungi Wik Anton. Semua menangis. Aku takut mendekat. Tadi pagi aku hampir melemparnya dengan batu.

Aku tahu, nyawa sudah terpisah dari raga. Aku tidak tahu kemana roh Wik Anton pergi. Mungkin dia juga menangis di suatu tempat yang tidak bisa kami lihat. Kesedihan yang pergi tidak pernah kita tahu. Wik Anton pergi tanpa menoleh lagi. Dia mati muda. Sangat muda. Dosanya mungkin hanya kenakalan-kenakalan anak kecil yang masih bisa ditoleransi. Setelah dewasa aku membenarkan apa yang diucapkan Soe Hok Gie: beruntunglah mereka yang mati muda.

Sejak itu aku tahu, aku tidak akan bisa lagi berbincang dengan kakakku. Akulah lelaki tertua di keluarga, cucu Pekak. Aku harus menjadi contoh untuk adik-adikku.

Aku menangis atas kepergian Wik Anton.

Itulah kenapa aku trauma dengan kecelakaan di jalan raya.

Wik Anton akhirnya dibakar. Kehidupan berjalan seperti biasa meskipun aku tahu, ada sesuatu sudah hilang. Tidak ada lagi yang aku ajak bertengkar. Tidak ada lagi yang membelikanku sesuatu. Wik Anton tidak lagi bisa melindungiku kalau aku takut di tengah kebun sendirian atau malam-malam ketika keluar rumah.

Namun kehidupan harus dan terus berjalan tanpa Wik Anton. Waktu pelan-pelan menyembuhkan luka kami semua. Ibu sudah bisa tertawa. Bapak juga sudah merelakan kepergian Wik Anton. Pekak kembali ke aktivitasnya. Luka itu pelan-pelan menutup seiring kelahiran adikku, Putu.

Kecelakaan Putu inilah yang diceritakan Mbah pagi-pagi kemarin.

Luka trauma sudah sembuh. Sampai kemudian ada yang membukanya. Dengan cara yang nyaris sama. Tiga tahun kemudian.

Ayah kecelakaan. Dia bernasib serupa dengan Wik Anton. Pokoknya dia tabrakan dan mati di tempat yang jauh. Aku menangis atas kematian ayah. Bukan karena sedih, tetapi lebih karena tiba-tiba.

Semua yang datang tiba-tiba selalu memiliki daya kejut dan daya ledak.

Aku tidak tahu dimana batas kematian dan kehidupan. Kita kerap bersinggungan padanya tetapi tidak pernah tahu dimana batasnya. Batas ini seperti selaput tipis tak terlihat. Kita yang ada di dunia tidak bisa melihat apa yang terjadi di balik selaput ini, batas kematian. Sekali melewatinya kita tak pernah kembali. Kita akan berjalan jauh. Sejauh-sejauhnya dan tidak bisa menoleh lagi.

Karena itu aku membenci kecelakaan, juga kematian. Kita menghindari kematian dengan cara kita masing-masing. Karena kita tak pernah menghendaki perpisahan.

Aku hanya beruntung adikku, Putu tidak kenapa-kenapa. Dia masih muda. Itu saja.

Iklan

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. a.bang.tam.pan said, on Maret 17, 2013 at 4:27

    euh…i feel u, blibro 😐
    *tiada sanggup berkata-kata yang lain


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: