Agus Lenyot

Tidak Merayakan Hari Galungan

Posted in Bali by Wayan Agus Purnomo on Maret 26, 2013

Menurutku, tidak semua ajaran agama harus dipercayai dan dilaksanakan.

Besok Galungan. Simbol kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan). Hari raya, semua agama aku rasa, pasti didahului basa-basi dengan ucapan selamat merayakan, lengkap dengan embel-embel doa dan ucapan manis. Dulu disampaikan dengan kartu ucapan. Masih ada kesan romantis, tulus dan pengorbanan. Tapi teknologi mengubah semuanya.

Ucapan selamat hari raya disampaikan melalui pesan singkat, ketik teks lalu send all. Komodifikasi ini terus berkembang. Zaman Facebook, kita tinggal cari foto, ilustrasi dengan gambar penjor atau pura (paling sering sih Pura Danau Beratan), tag atau tandai kawan di Facebook. Beres. Di zaman Twitter, tinggal mention atau sebut kawan-kawan. Selemah-lemahnya iman, menurutku, adalah tinggal RT tweet menarik tentang ucapan hari raya. Simpel. Bermodalkan ibu jari.

Kini ada juga cara murah(an), broadcast pesan ucapan selamat hari raya lewat Blackberry. Beres. Aku sih merasa, mengucapkan selamat hari raya (Hindu saking banyaknya punya hari raya), bukan semacam doa yang tulus ikhlas, tetapi semacam ritual yang tak boleh dilewatkan. Aku, mungkin saja salah.

Tapi memang sejak lama aku tidak merayakan hari raya agama dengan tulus. Tulus dalam arti, aku melakukan itu karena memang keinginan sendiri dan untuk kepentingan sendiri. Bukan untuk menyenangkan orang lain atau membuat kita terlihat beriman di mata orang lain. Konsep beragama, menurutku adalah tulus ikhlas. Bukannya justru beribadah untuk menyempurnakan penilaian orang lain pada kita. Enggak deh. Tidak salah sih, tapi aku juga tidak menjadikan itu sebagai pembenaran. Konsep agama atau Ketuhanan adalah lurus ke atas, bukan relasi horizontal.

Makanya aku sering berpikir, tidak semua ajaran agama mesti kita percaya dan dilaksanakan. Ibadah yang menyusahkan orang lain, misalnya sudah selayaknya ditinggalkan. Bagaimana mungkin doa nyampe ke atas kalau misalnya membuat orang lain terganggu? Kadang ini menjadi salah satu alasan mengapa aku menghindari sembahyang ramai-ramai dan dalam suasana keriuhan. Sembahyang yang merusak dan mengotori lingkungan juga sudah selayaknya kita ubah, termasuk menciptakan polusi suara.

Ihwal lain masalah agama yang agak sedikit tidak kupercayai adalah kehidupan setelah mati alias konsep surga dan neraka. Begitu pula awatara atau pahlawan penyelamat bumi ketika nanti bumi tertimpa musibah. Dalam agama yang aku anut, setidaknya untuk saat ini, awatara terakhir adalah seorang ksatria dengan menggunakan kuda putih. Aku sih rasional saja, mana ada pahlawan dengan ksatria berkuda putih sekarang. Orang berperang sudah menggunakan teknologi nuklir kok. Hehehehe.

Aku nggak percaya-percaya amat dengan surga dan neraka. Percaya sih tapi ada catatan kritis. Di neraka katanya ada titi ugal-agil dan pohon berdaun tajam. Tapi ya itu kan kata kitab suci. Di surga katanya ada bidadari cantik. Lha, yang cantik-cantik mah di kampus banyak. Di tempat karaoke juga banyak. Padahal bisa saja kita dibohongin sama pembuat kitab suci. Tujuannya agar kita berbuat baik. Imbalannya ya itu, ketemu orang cantik.

Siapa sih yang nggak senang deket-deket orang cantik? Padahal di neraka mungkin nggak ada apa-apa. Hanya hamparan tanah kosong. Lha wong di sana isinya hanya orang baik kok. Nggak bolehlah kita ngebir, gitaran sambil nyanyi-nyanyi di sana. Hehehe. Kalau kata anak sekarang, soal surga dan neraka kamu percaya aja atau percaya banget? Aku lebih memilih PERCAYA AJA. Bagiku, kehidupan sesudah mati adalah misteri. Belum terpecahkan. Jadi percaya aja deh. Sekali lagi, aku bisa saja salah.

Aku tidak mengelompokkan diri sebagai seorang yang liberal dan sekuler. Kalaupun aku sering ngetweet mengenai Jaringan Hindu Liberal, itu hanya semacam lelucon. Joke. Aku tahu, banyak yang sensitif soal joke soal agama. Tapi ya sudahlah, biarlah yang sensitif itu menjadi alat tes kehamilan. *nyengir*

Diantara sekian banyak ajaran Hindu yang pernah kupelajari, aku paling suka dengan ajaran Rwa Bhineda dan Karma Pala. Eh ada juga konsep Tat Twam Asi. Alasan aku suka pada keduanya rasional saja. Rwa Bhineda maksudnya adalah setiap zat di dunia diciptakan berpasang-pasangan dan sesekali berhadap-hadapan. Cina mengenal konsep Yin dan Yang. Baik buruk. Kiri kanan. Depan belakang. Laki-laki perempuan. Hitam putih. Gelap terang. Aku percaya. Tidak pernah ada kebaikan yang abadi dan tidak pernah ada kejahatan yang abadi.

Dalam lakon Calon Arang misalnya, pertarungan sifat baik dan sifat jahat tidak pernah dituntaskan. Aku percaya, pertarungan antara kebaikan dan kejahatan adalah pertarungan yang terus menerus dan tak berkesudahan. Ini salah satu alasan, kenapa aku tidak terlalu percaya konsep kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan, konsep Hari Galungan. Aku lebih suka, keduanya adalah pertarungan abadi dan sesekali akan saling mengalahkan. Makanya, tidak ada orang yang benar-benar baik dan benar-benar jahat, menurutku. Yang ada adalah orang baik yang sesekali jahat atau orang jahat yang sesekali baik. Sekali, pandanganku bisa saja salah.

Aku juga senang dengan konsep Karmapala dan Tat Twam Asi. Tat Twam Asi secara sederhana berarti aku adalah kamu. Kalau diterjemahkan secara liar adalah bagaimana memperlakukan orang lain selayaknya kita memperlakukan diri kita sendiri. Kalau kita baik ke orang lain, ya itu artinya kita baik kepada diri kita sendiri. Begitu pula jika sebaliknya. Aku suka dengan konsep ini. Dialog Dini Hari, band idolaku, pernah membuat lagu tentang ajaran ini. Aku Adalah Kamu.

Aku juga suka dengan ajaran karmapala, tetapi bukan soal konsep surga dan nerakanya. Karma adalah perbuatan dan pala adalah buah perbuatan. Kalau diterjemahkan secara asal, karmapala adalah perbuatan apa yang kita lakukan sekarang akan berbalas di comedian hari. Tidak hanya terbalas pada kita, tetapi juga orang-orang yang punya ikatan emosional pada kita.

Misalnya, kalau kita pernah jahat sama seorang perempuan, bisa jadi akan ada seorang perempuan yang menjahati kita. Atau, perempuan-perempuan di sekitar kita, misalnya ibu, kakak, sahabat atau pacar yang dijahati oleh orang lain. Bukankah melihat orang yang kita sayangi disakiti akan menimbulkan rasa sakit yang sama kepada kita. Balasannya mungkin tidak sekarang, tetapi nanti. Apa yang kita petik adalah apa yang kita tanam. Aku sependapat dengan konsep ini karena rasional. Makin keras kita berusaha, makin besar peluang kita untuk memperoleh keberhasilan.

Tapi, kalau umat Hindu di Bali sih sebenarnya lebih takut dengan hukum adat ketimbang hukum agama. Hukum agama kan sanksinya imajinatif, ilusi dan imajiner. Hukum adat, sanksinya nyata. Orang Bali paling takut kalau mati nggak dapat kuburan. Keluargaku pernah merasakan itu. Jadi, karena itulah perpaduan hukum adat dan agama kupikir bisa meningkatkan ketaatan orang Hindu di Bali pada ajaran agamanya.

Aku sendiri sudah lama tidak merayakan hari raya Hindu. Galungan, Nyepi, Siwaratri, Kuningan, Saraswati, Purnama Tilem dan sebagainya aku lewatkan begitu saja. Tidak kurayakan seperti umat lain pada umumnya. Ya itu tadi, tidak semua tentang agama mesti dilaksanakan. Sekali lagi, pandanganku bisa saja salah. Tetapi mempercayai apa yang kita yakini adalah sah dan tidak melanggar apapun.

Suatu ketika pandangan seseorang bisa saja berubah…

Iklan

11 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kadekdoi said, on Maret 26, 2013 at 4:27

    Selamat hari raya galungan yah *ini tulus dan sekadar mengingatkan*
    ((peluk sayang))

  2. imadewira said, on Maret 27, 2013 at 4:27

    Sebentar bro, saya mau tanya, yang dimaksud tidak merayakan atau sebaliknya itu yang mana? Apakah tidak sembahyang di hari raya Galungan bisa dikatakan tidak merayakan. Kalau cuma begitu, di Bali sih pasti banyak yang tidak merayakan. Saya dulu pernah begitu, dari awal ikut buat penjor, ikut membantu ortu ngelawar dan seterusnya, di pas di hari Galungan saya tidak ada sembahyang sama sekali.

    Menurut saya, hari raya Galungan pada dasarnya mungkin sama saja dengan hari lainnya. Toh setiap hari kita juga seharusnya sembahyang bukan. Sama seperti makan, sesekali ada kalanya kita makan enak (besar) ada kalanya juga kita makan seadanya.

    Btw, saya juga bisa salah.

    Oya, selamat Galungan mas bro 🙂

  3. viavia maheswari said, on Maret 27, 2013 at 4:27

    I got the point, tp aku pikir ada satu hal yg mungkin bs kt pahami scr berbeda. Galungan sbg kemenangan dharma atas adharma, secara filosofi berarti bagaimana kt bs senantiasa memenangkan dharma dlm diri. Krn kt jg pasti tw tiap org py adharma dlm dirinya sendiri, jd bagaimana agar dharma itu lbh memegang kendali atas diri, scr tdk lgs kt belajar utk melalukan hal yg lbh baik. Walau memang di bali filosofi ini mungkin tdk dipahami secara personal, tetapi lbh secara umum bahwa kebaikan akan selalu menang.
    Aku sepakat utk agama itu soal vertikal bkn horizontal, itu sebabnya aku g suka menerima ucapan hari raya via bc qiqiqi. Tp soal tdk sembahyang pd hari hari raya, menurutku itu jg bs berarti pembelajaran disiplin. Hari hari biasa aja kita malas sembahyang (mungkin dgn alasan bahwa ketemu tuhan itu hrs dr hati/nunggu mood), lalu apa salahnya jika pd saat hr raya yg hy beberapa dlm setahun kt tdk meluangkan waktu utk refleksi diri hal hal buruk apa yg sdh kt lakukan. Jd kl aku sih memandangnya scr sederhana, selama itu bs bermanfaat pdku scr pribadi dan tdk mengganggu org lain aku akan ttp melaksanakannya krn aku sdg belajar di sekolah 🙂

  4. viavia maheswari said, on Maret 27, 2013 at 4:27

    Ahhh ketinggalan kehidupannya, maksudnya lg belajar di sekolah kehidupan hehe

  5. nakbalibelog said, on Maret 28, 2013 at 4:27

    Salam Kenal ya Bli, Abang atau Mas…
    Urain kata dalam blog ruangkata pas untuk umat dalam kehidupan modern (bagi saya). Konsep tatwa (pengetahuan) sangat diperlukan untuk memahami sebuah perayaan, seperti halnya hormat kepada bendera merah putih, hanya selembar kain warna merah dan putih, kita bela-belain menghormat. Demikian pula sebuah perayaan agama, sudah semestinya tatwa (pengetahuan) dibalik sebuah perayaan dipahami dengan benar.

  6. Putu Suardiana Utama said, on April 13, 2013 at 4:27

    Mantap… setiap orang bebas memeluk agama dan kepercayaannya. HUbungan manusia dengan tuhan sifatnya pribadi. Saya sangat menghargai pendapat dan pemikiran agus, satu hal yang saya suka dari artikel ini ” Bagaimana mungkin doa nyampe ke atas kalau misalnya membuat orang lain terganggu?”
    Suksma dan salam kenal

  7. Nyoman Saptanyana said, on April 14, 2013 at 4:27

    Mengikuti ajaran Agama apapun dasarnya adalah kepercayaan. Setiap orang yg percaya dengan agamanya wajib mengikuti ajaran yang ada pada agama tersebut. Misalnya dasar percaya dengan agama Hindhu di Bali adalah Panca Srada. Pelaksanaannya dilakukan dengan Tri Marga, Tat Twan Asi, Tri Kaya Parisudha, Rwa Binedha dan sebagainya. Kalau anda tidak berkenan melaksanakannya, anda tidak diwajibkan untuk percaya dengan agama dimaksud, dan boleh meninggalkannya untuk percaya dengan kepercayaan anda yang lain. Itu mungkin yang bisa kasi komentar tentang tulisan di atas. Semoga anda bisa menemukan apa yang anda percayai. Semoga!

  8. Made S said, on April 15, 2013 at 4:27

    ” mempercayai apa yang kita yakini adalah sah dan tidak melanggar apapun ” kalimat ini benar selama mempercayai apa yang kita yakini itu tidak di implemtasikan kepada perbuatan atau perkataan, namun jika mempercayai apa yang kita yakini sudah di implemtasikan dengan perbuatan atau perkataan itu jelas itu jelas akan melanggar segala aspek yang ada. contoh yang ektrim : kita percaya dan yakin norkoba walau sebanyak apapun kita komsumsi tidak akan menjadi ketergantungan (padahal literatur/kitab/kitab suci mengatakan narkoba apa lagi konsumsi dalam jumlah banyak bisa menyebabkan ketergantungan), namun begitu dilaksankan untuk minum narkoba sedikit saja sudah banyak yng ketergantungan apalagi banyak pasti ketergantungan, untuk mengehui kebenran tentu dengan mencobanya (menggunkan Tripramana)

  9. Putu Suekantara said, on April 16, 2013 at 4:27

    Ha ha ha Agus Lenyot, senang saya membaca artikel anda dan memang benar adanya. Benar sekali apa yang anda pikir, tetapi sesuai dengan tulisan anda sangat berkesan dengan rwa bhineda dan saya sendiri memang senang sekali dengan konsep Hindu yang memakai rwa bhineda/ dualitas ini. Dan saya menyebutnya dengan istilah proton dan elektron biar semua orang bisa mengerti. Tetapi anda harus sadari bentuk – bentuk rwa bhinida ( proton dan elektron ) yang lain seperti : melaksanakan hari raya- tidak melaksanakan hari raya, makan daging-tidak makan daging, pakai caru-tidak pakai caru, tidak percaya sama Tuhan-Percaya sama Tuhan, percaya sama Panca Sradha-Tidak Percaya sama Panca Sradha, Percaya sama Weda-Tidak percaya sama Weda, ini adalah bentuk – bentuk rwa bhineda ( proton dan elektron ). Ajaran Hindu adalah menyatukan rwa bhineda ( proton dan elektron ) agar menjadi netral ( NETRON ). Artinya apa ? Yang pasti anda benar, tetapi saudara – saudara yang lain yang melaksanakan hari raya dan rwa bhineda yang lain juga benar,. Sekarang supaya kita tidak bertengkar mempertahankan kebenaran masing – masing, maka satukanlah semua kebenaran itu, baik kebenaran proton dan kebenaran elektron agar menjadi NETRON.

  10. Putu Suekantara said, on April 16, 2013 at 4:27

    Kemudian alah sorga dan neraka, itu tidak menjadi keyakinan Hindu. Keyakinan Hindu adalah yakin dengan keberadaan 1. Tuhan 2. Atman 3. Hukum Karma 4. Reinkarnasi dan 5. Moksah. Inilah keyakinan Hindu, artinya sorga dan neraka bukan menjadi keyakinan Hindu, sehingga dengan demikian tidak usahlah Hindu membicarakan sorga dan neraka. Kalaupun ada cerita – cerita seperti itu, itu diperlukan untuk nasehat – nasehat agama yang tujuan atau intinya adalah : AGAR KITA BERBUAT BAIK DAN BENAR.

  11. Putu Suekantara said, on April 16, 2013 at 4:27

    Artinya pula, tidak ada keyakinan Hindu yang ke 6 yaitu yakin dengan adanya sorga dan neraka. Hindu tidak ada menyebutkan itu, sehingga dengan demikian, mau percaya atau tidak tentang keberadaan sorga dan neraka, Hindu EGP karena tidak merupakan keyakinan Hindu karena keyakinan Hindu adalah Panca Sradha, bukan Sad Sradha ( yakin dengan adanya sorga dan neraka )


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: