Agus Lenyot

Menunggu Partai Demokrat Menjadi Dewasa

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on Maret 31, 2013
Foto ini hanya untuk menyegarkan tulisan.

Foto ini hanya untuk menyegarkan tulisan.

Aku mengikuti dinamika Demokrat dalam jarak dekat.

Sebagai sebuah partai, Demokrat terlalu cepat menjadi besar. Akibatnya, partai ini gagap menghadapi serangan politik dari kiri kanan, gugup kala berhadapan dengan kritik publik dan gagal menyelesaikan konflik internal akibat belum matang berpolitik. Ibarat manusia, Demokrat seperti seorang anak yang berusia sepuluh tahun tetapi disuruh menjadi kepala keluarga dan menyelesaikan persoalan yang belum semestinya ada. Gugup dan terseok-seoklah jadinya.

Bagi Demokrat, memiliki tokoh seperti SBY adalah keuntungan di satu sisi dan kerugian di sisi lain. Beruntung karena SBY, diakui atau tidak adalah magnet bagi partai ini. Melambungnya popularitas Demokrat sebagian besar juka karena kesukaan publik kepada SBY. Aku pernah terpukau pada sosok ini pada Pemilu Presiden 2004. Sebagai pemilih pemula kala itu, aku gampang terlena oleh citra yang dibuatnya. Aku menjadi salah satu pemilih pemula yang membuat SBY menempati kursi presiden pada 2004. Pemilu 2009, aku tidak memilih orang yang sama.

Di sisi lain, bergantung pada sosok SBY membuat partai akan gagal menjalankan salah satu fungsinya kaderisasi politik. SBY seakan-akan menjadi Tuhan di Demokrat. Selalu manggut-manggut atas ucapan SBY tidak baik untuk demokrasi. Tsah! Aku sih berkaca pada Soeharto pada masa Orde Baru. Orang yang dininabobokan pada kekuasaan gampang lupa daratan. Apalagi orang-orang disekeliling tuan yang punya kuasa adalah tipikal penjilat tanpa rasa malu. Inilah yang aku rasakan pada SBY hari ini. Aku melihat orang-orang yang berada di lingkaran dekat SBY seperti anjing yang manggut-manggut pada tuannya.

Aku sepakat dengan ucapan Tri Dianto, orang yang secara terbuka berani menantang SBY berkompetisi. Mereka yang manggut-manggut kepada ucapan SBY hanya mematikan proses demokrasi di partai ini. Secara tidak langsung mengarahkan partai ini, salah satu pilar demokrasi, pada sistem feodalis karena bertumpu pada Keluarga Cikeas. Lama-lama, relasi SBY dengan Demokrat akan mirip Soehatrto dengan Golkar pada masa Orde Baru. Soeharto saja tidak pernah menjadi Ketua Umum Golkar.

Aku sih nggak berharap sebuah organisasi hanya bertumpu pada satu figur untuk menyelesaikan masalahnya. Aku merasa partai yang seperti ini adalah lembaga bocah dan kekanak-kanakan. Aku menunjuk Demokrat. Dalam kongres di Bali kemarin misalnya, semua manggut-manggut atas apa yang menjadi rencana SBY. SBY mau jadi ketua umum, mau bikin ketua harian atau ngotak-atik AD/ART nggak ada yang menggugat. Padahal, di lembaga mahasiswa saja, dinamika berjalan dengan jauh lebih dinamis dan sehat. Ini ya kok partai kayak gini. Tidak ada yang menyuarakan nada kritis. Bahkan, sebelum SBY membuka mulut untuk bersuara, orang-orang sudah meneriakkan kata setuju. Bah!

Partai politik adalah pilar demokrasi. Inilah satu-satunya lembaga yang mengisi dan menentukan begitu banyak posisi strategis di republik. Presiden, menteri, anggota DPR, DPRD dan memilih berbagai jabatan lembaga tingngi negara. Betapa vitalnya sebenarnya peran partai politik. Lembaga yang menentukan bagaimana laju republik, apakah akan terseok-seok, melesat cepat atau justru berhenti melanjutkan perjalanan. Partai politik yang sehat akan menghasilkan demokrasi dan pemimpin yang sehat pula.

Aku tidak mempermasalahkan SBY menjadi ketua umum. SBY jadi presiden juga karena partai politik kok. Tidak haram menurutku. Hanya saja, aku mempersoalkan bagaimana dia memperoleh jabatan ini. Dia menerima jabatan seakan-akan tidak butuh dan mempersepsikan diri sebagai dewa penyelamat. Karena itulah, aku masgyul ketika Demokrat hanya mengandalkan satu figur untuk menyelesaikan kisruh. Seharusnya, mereka belajar menjadi dewasa.

Aku berharap, Demokrat kembali ke titik awal. Menjadi partai menengah yang pelan-pelan membesar. Bukan seperti sekarang, partai kecil yang mengembang tiba-tiba. Seperti balon, ditusuk dengan jarum kecil, langsung hancur berantakan. Berkeping tanpa sisa. Aku tidak paham, apakah Demokrat akan seperti ini. Aku sangat ingin, partai politik diisi anak muda cerdas, kritis dan egaliter. Bukan mereka yang kalah bersaing di dunia profesional.

Kini SBY sudah menjadi Ketua Umum Demokrat, meneguhkan diri sebagai partai Keluarga Cikeas karena dipimpin bersama sang anak, Ibas. Sekarang, tinggal menunggu akal sehat publik apakah akan memilih bocak kanak-kanak pada Pemilu 2014.

Iklan

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Cahya said, on Maret 31, 2013 at 4:27

    trust me, bagian penyegarnya yang paling menarik dari semua ini :D.

    Kalau masalah partai, cuma bisa menjadi penonton saja.

  2. Agung Pushandaka said, on Maret 31, 2013 at 4:27

    5 menit di halaman ini cuma untuk lihat fotonya saja. Untuk Partai Demokrat, selamat menjadi PDIP, yang sedikit-sedikit Mega, sedikit-sedikit Mega..

  3. viavia maheswari said, on Maret 31, 2013 at 4:27

    Setuju sama mas cakra dan bli gung, yg plg lama kuperhatikan dr tulisan ini bagian fotonya. Sy aja seger apa lg dua mas sebelumnya heheh…

  4. imadewira said, on April 2, 2013 at 4:27

    Saya ndak terlalu ngerti politik. Dan sebagai orang awam, saya memang melihat rasanya SBY begitu didewakan di Demokrat, seperti Soeharto di Golkar dulu, juga seperti Megawati di PDIP sampai sekarang.

    Katanya partai politik itu demokratis, tapi rasanya kok kental sekali dengan unsur kekeluargaan.

  5. anak bumi said, on Juni 18, 2013 at 4:27

    dulu gw pilih demokrat, tapi mulai 2014 nanti…bye bye demokrat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: