Agus Lenyot

Pekerjaan Ideal itu ya Jadi Anggota DPR

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on Mei 16, 2013

korupsi-banggar-DPR

Kenapa? Karena bisa isa kerja tanpa target dengan gaji besar plus tunjangan macam-macam.

Beberapa waktu lalu aku ngobrol santai dengan seorang teman wartawan. Sore-sore sambil ngopi sembari melihat staf ahli yang kece-kece lewat di Nusantara I Sebagai wartawan DPR, obrolan kami tak lepas dari korupsi, perilaku anggota Dewan dan staf-stafnya yang, ya itu tadi kece dan seksi-seksi abis.

“Pekerjaan itu ideal itu ya menjadi anggota DPR,” kata teman saya itu.

Lho, kok?

“Iya, target kerja nggak ada, gaji gede, staf cantik-cantik. Dibayarin negara pula!”

Aku manggut-manggut membenarkan.

“Coba apa susahnya menjadi anggota DPR?” dia bertanya.

“Yang susah adalah cara memperoleh kursinya!” Aku langsung nyamber.

Karena setiap hari berada di Gedung DPR dan melihat perilaku orang-orangnya, aku merasa republik ini tidak memiliki masa depan. Bagaimana sebagian dari mereka ‘yang duduk sambil diskusi dan biasa bersafari’ nggak semua ikhlas memperjuangkan kepentingan rakyat. Kacrut!

Beberapa waktu lalu, ada survei yang menyebutkan, sebagian besar ngga pengen anaknya menjadi anggota DPR. Hahaha. Aku sih ketawa. Toh nyatanya, banyak orang terutama adek-adek aktivis kampus dan kepemudaan ngiler jadi anggota DPR. Mereka berharap suatu ketika mengisi posisi yang sama seperti abang-abangnya dan senior-seniornya di Senayan.

Politikus ini tiap hari nongol di televisi karena tugasnya ngomentarin apa saja. Populer dan banyak duit. Ah, impian banyak orang bukan. Sebulan paling tidak membawa uang Rp 50 juta. Belum termasuk potongan ke partai sih. Tapi ini juga belum termasuk uang reses dan tetek bengek uang lain. Aku terus terang tidak hafal apa saja bentuknya. Aku juga tidak menafikan, ada sebagian kecil, sangat kecil yang mungkin tulus ingin berjuang untuk kepentingan rakyat.

Mereka datang dengan beragam motivasi. Entah finansial, kehormatan, niat tulus memperbaiki kehidupan rakyat atau untuk mengisi hari tua saja setelah pensiun sebagai PNS. Tapi ya itu menjadi anggota DPR itu susah minta ampun. Turun ke masyarakat, dicemooh, dikritik dan dihujat habis-habisan. Pokoknya mesti pol-polan dah. “Situ datang sekali selama lima tahun, apa yang bisa situ kasih pada kami,” begitu kira-kira yang diucapkan masyarakat. Dana yang dikeluarkan tidak sedikit.

Jangan heran banyak anggota Dewan akhirnya menyumbang dana perbaikan rumah ibadah, bikin lapangan olahraga, perbaikan jalan atau bantuan dana ke kelompok masyarakat. Padahal bukan itu tugas dan wewenang mereka sebagai anggota Dewan nanti! Tapi demi menarik simpati masyarakat, apa aja bakal dijabanin. Demi suara dan satu kursi di Senayan!

Lalu kalau sudah duduk di DPR, kerjaannya ngapain saja? Percayalah sebenarnya pekerjaan Dewan Perwakilan Rakyat itu mulia. Merekalah yang mewakili kita dalam tugas pemerintahan. Sekali lagi, jabatan itu MULIA. Benar kata Iwan Fals, yang bisa menjadi anggota Dewan adalah Manusia Setengah Dewa.

Menurut konstitusi, fungsi Dewan itu ada tiga, legislasi, anggaran dan pengawasan. Mereka menjadi penyeimbang pemerintahan. Mari kita jabarkan satu persatu bagaimana itu pelaksanaan tiga fungsi itu.

Kita mulai dengan fungsi legislasi alias pembuatan undang-undang. Kalau kita bekerja sebagai sales, pasti ada target penjualan dong. Jika target minimal tak terpenuhi, bisa jadi tak akan mendapatkan bonus. Jika menjadi wartawan, pasti ada target berita. Setiap hari minimal bikin sekian berita. Jika gagal penuhi target, pangkat dan gaji tidak naik. Jika bekerja sebagai marketing, setiap tahun penerimaan perusahaan harus sekian. Jika gagal, bukan hanya nggak dapat bonus, tetapi bisa pengurangan gaji hingga pemutusan hubungan kerja.

Lalu bagaimana dengan anggota DPR? Coba ketik deh di Google dengan kata kunci, ‘DPR+gagal+legislasi’ Hmmm. Sudah lihat kan hasilnya? Padahal mereka kalau bikin undang-undang pakai jalan-jalan ke luar negeri pulak. Ini berarti dapat uang saku. Perkara undang-undangnya selesai atau tidak, itu urusan belakanganlah.

Di sinilah enaknya jadi anggota DPR. Ada target legislasi, tapi kalau nggak terpenuhi ya nggak apa-apa. Target 70 undang-undang, kalau yang jadi cuma 20 ya nggak masalah. Lucu kan? Iya, itulah wakil rakyat kita. Gaji tetap dibayar, tunjangan jalan terus, uang reses nggak mungkin dipotong. Enak kan jadi anggota DPR. Sekarang hampir 90 persen dari mereka mencalonkan diri pula. Hebat kan? Eh, ini hebat atau nggak tahu malu sih.

Itu tugas pertama. Sekarang masuk ke tugas kedua, anggaran. Naaaah, agar lebih gampang memahami kita ilustrasikan begini untuk soal anggaran: Pemerintah, melalui Dirjen Pajak memiliki kewenangan untuk memungut pajak. Itu konsekuensi hidup bernegara. Karena sistem pemerintahan kita adalah presidensial, maka eksekutiflah yang bertugas menjalankan pemerintahan. Untuk menjalankan pemerintahan negara perlu duit dong untuk menggaji pegawai dan menjalankan program itu-itu. Duitnya darimana? Ya dari pajak yang kita bayarlah.

Tapi karena kita nggak mungkin membagi duit itu langsung ke pemerintah, kita punya wakil rakyat yang kita pilih saat pemilu. Kita percayakan duit kita kepada WAKIL RAKYAT di Senayan. Nah, pemerintah mengajukan proposal ke Parlemen Senayan. Di DPR, ada yang Badan Anggaran. Inilah yang bertugas mengecek apakah program pemerintah bisa disetujui atau tidak. Apakah rakyat cukup uang atau tidak. Mereka membahas bersama Menteri Keuangan, panjaga stabilitas fiscal. Kelihatannya ideal kan ya? Ada fungsi cek dan balances. Tapi nyatanya, kadang pembahasan anggaran cuma tipu-tipu saja.

Beberapa waktu lalu, aku ngopi sore-sore dengan seorang anggota DPR di Pacific Place. Politikus ini mantan anggota Banggar dari sebuah fraksi besar. Dia bercerita banyak soal partainya maupun setoran-setoran anggota DPR untuk menghidupi partai.

“Kewenangan DPR terlalu besar. Siapa saja yang jadi anggota Banggar, sewaktu-waktu tinggal nunggu terpleset,” dia berujar.

Aku manggut-manggut.

Politikus ini bercerita, anggaran kementerian itu sebenarnya hanya diutak-atik oleh lima orang anggota Banggar di masing-masing Komisi.

“Bayangkan kami harus mengatur anggaran Rp 100 triliun berlima. Siapa yang tidak tergoda,” kata dia.

Jadi, dia melanjutkan, debat panas di rapat komisi sebenarnya hanya ilusi belaka. Pada akhirnya, kebanyakan anggota DPR belum tentu mengerti angka-angka perencanaan, nilai taksiran proyek dan akhirnya pembahasan diserahkan kepada anggota Badan Anggaran di Komisi tersebut. Makanya, politikus ini menuturkan, banyak anggota DPR yang tidak tahu jika mata anggaran bisa berubah.

Dia melanjutkan, penelikungan mata anggaran oleh Kelompok Kerja Anggaran ini terjadi pada kasus Hambalang. Yang tahu proyek ini, ya cuma anggota Pokja Anggaran. Dia mencurigai proyek-proyek yang janggal dan diblokir oleh Kementerian Keuangan juga modusnya seperti itu. Ditikung oleh rekan mereka sendiri yang duduk di Banggar. Yang kritis di rapat-rapat malah kadang nggak tahu apa-apa.

Politikus ini bercerita, karena takut masuk KPK, dia akhirnya memilih mundur sebagai anggota Banggar. “Bang, pindahkanlah aku dari Banggar,” dia menirukan permintaannya pada sang ketua umum.

Namun dia mengingatkan, modus pencurian uang negara ini tidak bisa hanya dilakukan oleh anggota Dewan. Harus ada kolaborasi antara pemerintah dan pelaksana proyek (swasta). Persis seperti kasus Hambalang dan korupsi lain di DPR. Jadi, APBN yang besarnya di atas Rp 1.000 triliun diotak-atik oleh puluhan orang. Gimana rekening mereka nggak gendut dengan harta melimpah ruah?

Betapa banyak uang yang akhirnya bisa digunakan untuk pembangunan dan menghidupkan usaha rakyat akhirnya ditilep untuk kepentingan pribadi dan partainya. Jangan percaya deh jika ada partai yang mengaku bersih. Mereka itu sekumpulan manusia, terdiri darah dan daging. Bisa tergoda pada uang yang tersaji di depan mata.

Politikus lain bercerita, partai-partai umumnya sudah paham jatah proyek-proyek di DPR. Proyek Hambalang jatah partai A, PON atau dana bencana jatah partai B, daging partai C, atau proyek pengadaan pupuk jatah partai D. Semua merata. Sesama partai dilarang saling salip. Lalu kenapa korupsi bisa ada yang terbongkar? “Berarti salah satu diantara penjahat itu ada yang nggak puas,” kata dia.

Aku misuh-misuh denger politikus ini cerita. Jancuk!

Fungsi yang paling disenengin oleh anggota Dewan ya pengawasan. Pengawasan pelaksanaan undang-undang dan pemerintahan. Biasanya ini menjadi ajang pamer kepada media untuk mengkritik pemerintah. Pengawasan juga berarti jalan-jalan keliling Indonesia. Ada kerusuhan di Sulawesi, mereka datang. Ada kerusuhan di Madura, mereka datang. Apakah masalah selesai atau itu, itu urusan belakangan. Pokoknya datang dulu. Pengawasan ini jangan salah, ada uangnya juga. Uang transport sekian, hotel sekian dan uang saku sekian. Emang situ mau kerja nggak ada honornya?

Lalu bagaimana kerja anggota Dewan? Hmmm. Memang sih kadang kerjanya sampai malam. Tapi itu cuma untuk kasus-kasus tertentu atau undang-undang yang benar-benar urgen. Sisanya, ya datang ke DPR jam 10, absen, duduk sebentar lalu pulang. Atau setelah itu naik ke ruangan, terima tamu ini itu. Ya, jam 6 sore biasanya DPR sudah sepi rapat kok. Makanya nggak usah marahlah, anggota Dewan itu bolos. Mereka kerja pun cuma dari Senin sampai Kamis. Jumat? Katanya sih rapat fraksi. Sebaiknya kita percaya saja daripada berprasangka terlalu jauh.

Berminat nggak jadi anggota DPR?

Iklan

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Cahya said, on Mei 19, 2013 at 4:27

    Heran, kok ya belum dibubarkan :D.

  2. a! said, on Mei 21, 2013 at 4:27

    ayo daftar, nyot. kita rebut wilayah2 lokal. hahaha. gedeg gen basang kalau liat para anggota DPR(D) yg kacrut sementara para aktivis gak mau masuk gelanggang. memang sah sih. tp sepertinya lebih bagus kalau ada yg masuk jg biar ada yg berjuang dr dalam.

    sekalian nanti duitnya kan bisa dibagi2 buat kita. ya toh? toyiiiiib. 😀

  3. pandebaik said, on Juni 17, 2013 at 4:27

    bisa naik sekali, syukur… untuk yang kedua kali dan selanjutnya, membutuhkan keseriusan… kalo tidak ? siap siap saja jadi pesuruh lagi :p


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: