Agus Lenyot

Jurnalisme Itu Verifikasi Tanpa Henti

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on Mei 26, 2013
Tintin juga wartawan lhooo...

Tintin juga wartawan lhooo…

Aku tergelitik dengan pertanyaan seorang wartawan kepada politikus di DPR beberapa hari lalu. Pertanyaannya begini, “Apa perlu ada tindakan tegas kepada pejabat yang membocorkan dokumen rahasia?”

Konteksnya tentu saja adalah bocornya nama aliran dana Ahmad Fathanah kepada 45 perempuan. Aku tidak perlu jelaskan siapa Ahmad Fathanah. Tetapi 45 perempuan yang menerima dana ini menjadi fenomenal karena cantik, seksi dan beberapa diantaranya pesohor publik. Secara hukum, PPATK dilarang menyebutkan aliran dana seseorang kepada publik, termasuk jurnalis. Namun, selalu saja ada wartawan yang berusaha dengan lebih gigih untuk mendapatkan data seperti ini.

Maksud pertanyaan rekan wartawan tadi tentu saja termasuk bocornya berita acara pemeriksaan kepada media massa. Padahal seandainya mereka tahu, dokumen penting bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Perlu pendekatan, lobi dan kepercayaan tingkat tinggi untuk meyakinkan narasumber. Seperti kebenaran, dokumen berharga seperti perlu perjuangan untuk mendapatkannya.

Aku bisa membaca apa yang ditanyakan wartawan ini adalah sebuah kegundahan. Aku lebih senang menyebutkan kekalahan atau merasa pecundang karena dibobol rekan media lain. Sebabnya, mengapa dokumen rahasia bisa bocor kepada media massa, bukan kepada saya. Tentu, arah pertanyaan wartawan ini adalah agar sang politikus mengeluarkan pernyataan agar pembocor dokumen rahasia dihukum sehingga bisa digoreng menjadi isu baru. Seperti yang bisa kita lihat dalam kultwit ini

Aku belum bisa menerka dengan jelas, apakah rekan ini ingin jurnalis hanya memperoleh informasi dari sumber resmi, seperti juru bicara atau pemimpin institusi. Lebih tepatnya, semua informasi hanya diperoleh dari konferensi pers atau rilis. Padahal, aku sendiri, ketika ada rekan jurnalis lain yang memperoleh dokumen penting, aku tidak akan mempersoalkannya. Ini justru memotivasiku untuk mendapatkan data yang jauh lebih dahsyat. Ah, barangkali setiap jurnalis punya pemikiran yang berbeda.

Jurnalis yang baik, tentu tidak akan puas dengan informasi dari rilis, konferensi pers atau wawancara tabrak lari. Informasi dengan model seperti ini sudah terfilter sedemikian rupa sehingga tak lagi komprehensif. Seorang wartawan tak akan bisa memahami logika peristiwa hanya dengan mendengarkan keterangan sepihak. Jika wartawan saja tak bisa, bagaimana dengan publik berada jauh dari episentrum peristiwa? Seorang senior pernah berujar, “Jurnalis harus memperoleh story behind the news.” Ada apa dibalik sebuah peristiwa. Karenanya, kegigihan jurnalis untuk memperoleh informasi secara menyeluruh menjadi sangat penting untuk bersikap obyektif.

Karena itulah, mendapatkan informasi rahasia menjadi sangat berharga sekaligus tantangan bagi seorang jurnalis. Informasi berharga tentu yang harus menyangkut kepentingan masyarakat. Media diberikan amanah oleh publik untuk menjadi pengamat pemegang kebijakan. Itulah yang menyebabkan pekerjaan wartawan menjadi istimewa. Dia memiliki keleluasaan akses untuk mencari informasi dimanapun. Tentu dengan catatan, sejauh informasi itu menyangkut kepentingan publik dan digunakan dalam kapasitas anjing penjaga. Bukan untuk memeras narasumber.

Wartawan yang baik tentu akan berusaha mencari pembocor informasi rahasia. Aku percaya, orang baik ada di semua institusi. Termasuk institusi yang dianggap korup seperti partai politik, kepolisian, kejaksaan, pemerintahan hingga pengadilan. Aku percaya, pasti ada orang baik yang bersedia berbagi informasi untuk memperbaiki institusi mereka. Di institusi yang korup seperti ini, konspirasi untuk menutupi kebenaran pasti akan selalu ada.

Adalah tugas jurnalis untuk menemukan orang baik yang mau berbagi informasi. Informasi atau data tentu tak serta merta ditelan mentah-mentah oleh jurnalis. Apalagi yang sifatnya rahasia dan minta namanya dirahasiakan. Tugas jurnalis adalah melakukan verifikasi tanpa henti. Ketika informasi bisa dipercaya, jurnalis wajib melindungi narasumbernya. Dalam kode etik jurnalistik, ini disebut hak tolak. Wartawan berhak menyembunyikan identitas narasumbernya dengan alasan tertentu.

Informasi inilah yang harus diuji. Apakah kekuasaan sudah menjalankan amanah sesuai dengan undang-undang atau tidak. Apakah informasi resmi yang disampaikan suatu institusi sudah sesuai dengan kebenaran yang sesungguhnya. Aku membaca soal informasi rahasia ini dalam skandal Watergate. Yakni kegigihan Carl Bernstein dan Bob Wobward untuk menelusuri setiap kepingan informasi. Dalam kasus mutakhir di Indonesia, aku melihat dalam pengusutan kasus Simulator SIM yang melibatkan jenderal kepolisian.

Kebenaran jurnalisme tentu berbeda dengan kebenaran hukum pidana. Sepertu tujuan dalam hukum pidana, kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran materiil. Artinya mencari peristiwa yang sesungguhnya. Kebenaran dicari setelah seluruh rangkaian peristiwa diurai melalui proses penyelidikan, penyidikan, penuntutan, pengadilan hingga ada vonis berkekuatan hukum tetap. Dalam vonis berkekuatan hukum tetap inilah, kebenaran materiil itu akan ditemukan.

Hal ini tentu saja berbeda dengan jurnalisme. Kebenaran jurnalisme adalah kebenaran yang terjadi hari ini. Menurutku media tidak perlu menunggu hingga ada vonis berkekuatan hukum tetap baru kemudian mengabarkan sebuah peristiwa. Media mengabarkan sejak proses penyelidikan, terlepas apakah seseorang misalnya belum divonis bersalah atau tidak. Media juga sekaligus apakah sebuah proses pengambilan keputusan berlangsung fair terhadap seseorang dan kepentingan publik. Karena itulah, kebenaran dalam jurnalisme adalah kebenaran relatif yang perlu diuji tanpa henti. Kuncinya, verifikasi tanpa lelah.

“Jurnalisme adalah ikhtiar yang terus menerus,” seorang senior di tempatku bekerja berkata padaku. Karena itu, kata dia, jurnalis mesti sudah jujur sejak dalam proses pencarian berita. Terpenting, mekanisme pencarian data itu bisa diuji secara transparan.

Aku mengangguk-angguk.

Gambar diambil dari sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: