Agus Lenyot

Terjebak di Toilet Perempuan

Posted in Senayan Punya Cerita by Wayan Agus Purnomo on Mei 31, 2013

+cewe-curang3

Bayangkan jika kamu adalah seorang lelaki, terjebak di toilet perempuan? Sampai sekarang aku bergidik trauma setiap mengingat peristiwa itu.

Kejadian ini terjadi sudah lebih dari dua bulan. Tapi menghapus trauma dan menghilangkan bayang-bayang kejadian itu, aku perlu waktu lama. Sesekali, peristiwa itu kerap-kerap datang malam-malam dan mengganggu tidur. Model trauma ini sama seperti saat aku kecelakaan lalu lintas dulu. Kerap menghantui dan menimbulkan ketakutan sendiri.

Jadi ceritanya begini. Sore itu, lupa persis tanggalnya, aku sedang duduk di gedung Nusantara I Komplek DPR, persisnya di depan ruang Komisi X. Sore-sore, lokasi ini menjadi tempat nongkrong favorit beberapa wartawan DPR. Setidaknya untuk dua alasan. Pertama, karena bisa mencegat beberapa anggota DPR yang keluar dari ruangannya. Lumayan, bisa nambah produktivitas berita dan lobi-lobi ke narasumber. Kedua, bisa ngeliat staf-staf DPR yang kece-kece, bening dan seksi abis. Cewek-cewek cakep ini biasanya selalu pulang melewati gedung ini. Jika harus memilih, aku sih lebih percaya, wartawan nongkrong di sini karena alasan kedua.

Sore itu, aku juga duduk di depan Komisi X, bareng beberapa wartawan lain. Kondisi di luar sudah agak gelap. Biasalah sembari lesehan, kami ngobrol, ngopi sambil buka-buka youtube. Obrolan tak jauh dari perilaku anggota DPR. Karena kerap berhadapan dengan mereka dan banyak punya cerita miring soal anggota ini, kami merasa punya legitimasi untuk mengkritik dan membicarakan mereka.

Di tengah obrolan yang asyik inilah perutku tiba-tibamules. Mulesnya tidak biasa, karena kotoran dari dalam perut rasanya turun begitu cepat dan sudah sampai dekat celana. Padahal aku merasa tidak ada makanan salah yang masuk ke dalam perutku. Bah!

Aku langsung berlari ke toilet Komisi X. Lari sekencang-kencang karena sudah sepi.

Untuk informasi saja, inilah kali pertama aku masuk ke toilet di ruangan Komisi X!

Perlu aku ceritakan sodara. Kalau kalian pernah ke gedung DPR ini, umumnya toilet cewek dan cowok posisinya berhadap-hadapan. Lihat saja toilet antara Komisi I dengan Komisi VIII. Komisi III dengan Ruang Badan Anggaran juga berhadap-hadapan. Antara Ruang Badan Legislasi dengan Ruang Komisi IX juga berhadap-hadapan. Ketiga toilet inilah yang paling sering aku gunakan untuk pipis atau buang hajat .

Dan aku pun berpikir sama untuk toilet di Komisi X. Tapi rupanya, aku tidak sadar toilet di Komisi X berbeda dengan toilet yang biasa aku gunakan. Toilet perempuan dan laki-laki posisinya tidak berhadap-hadapan, melainkan berdampingan alias bersebelahan. Damn!

Dari sinilah kesialan itu muncul!

Aku yang sudah tak tahan menahan boker langsung masuk ke pintu toilet pertama. Karena sudah sore, tidak ada office boy yang menunggui toilet ini. Mereka biasanya pulangjam 5 sore. Aku sebenarnya sempat merasa aneh saat masuk ke dalam toilet. Selain di wastafel, di toilet ini juga ada kaca besar yang menempel di dinding. Tapi karena hasrat ingin boker, aku tidak terlalu memperhatikan keganjilan ini. Aku langsung masuk ke salah satu bilik dan mengeluarkan sampah-sampah dalam perut.

Satu menit berlalu.

Dua menit berlalu.

Tiga menit berlalu. Tuntas sudah. Aku membersihkan diri.

Tiba-tiba….

“Kok tidak ada urinoir ya?” aku bergumam dalam hati. Keringat dingin langsung menetes. Tidak ada urinoir, ada cermin dan kondisi toilet yang sangat bersih. Keringat makin banyak menetes. Perutku mules meskipun baru saja mengeluarkan isinya. YANG KUMASUKI ADALAH TOILET PEREMPUAN. Cermin besar yang menempel di dinding pasti digunakan cewek-cewek untuk mematut diri setelah di pipis atau boker.

Belum habis kecemasanku, tiba-tiba aku mendengar pintu toilet dibuka.

“Bu Euis… Bu Euis…” suara ibu-ibu.

Aku gemetaran dalam bilik. Sumpah, aku bukan Bu Euis dan tidak kenal yang namanya Bue Euis.

“Ada siapa di dalam. Bu Euis ya?”

Sumpah, aku bukan Bu Euis.

“Perasaan tadi semuanya sudah pulang deh. Kok tadi kedengeran suara air ya.” Ibu yang tadi masih terdengar berbicara sendiri.

Aku semakin menggigil ketakutan.

Beberapa rencana taktis langsung muncul di kepalaku. Pertama, diam saja sembari menunggu si ibu pergi. Kedua, keluar dan ngaku salah masuk ke toilet. Otakku bekerja cepat sambil menghitung risiko. Aku menarik nafas dalam-dalam. Arrrrrghhhhh. Aku memilih opsi pertama.

Aku tidak berani bergerak. Pikiranku berkecamuk. Bagaimana kalau si ibu yang tidak aku ketahui namanya itu memanggil security karena mendengar aliran air dalam bilik. Oooh, aku akan dikira penjahat kelamin yang suka mengintip ibu-ibu di toilet. Aku membayangkan diriku akan diseret keluar, disumpah serapahi oleh seantero orang di parlemen.

Belum cukup, orang-orang akan meminta identitasku. Begitu ketahuan aku dari mana, orang-orang ini akan menelepon kantorku dan menuduhku berbuat cabul. Damn, penjahat kelamin adalah predikat yang benar-benar tidak mengenakkan. Lalu besok, media-media online akan mengeluarkan berita dengan judul begini:

Seorang Wartawan Dituding Suka Mengintip Toilet Perempuan.

Seorang Wartawan Diduga Menderita Kelainan Seksual.

Seorang Wartawan Disebut-sebut Menjadi Penjahat Kelamin.

Arrrrrrrrgh, tidak!!!

Sumpah, inilah salah satu momen terburuk dalam hidupku. Cemas, gelisah, mules dan anjing, pokoknya susah dideskripkan. Aku berharap, ibu tadi percaya cerita-cerita hantu di gedung DPR. Sehingga dia mengira air dari bekas cebokku yang terdengar hingga keluar merupakan pekerjaan seorang penjahat kelamin, eh seekor, eh sebatang, eh, seorang hantu. Aku berharap ibu tadi adalah seorang penakut.

Aku tidak tahu berapa lama diam di dalam toilet. Yang pasti aku merasa sangat lama. Aku menenangkan diri. Menyiapkan alasan jika skenario buruk terjadi. Tidak ada suara lagi di luar. Sepi.

Aku menarik nafas dalam-dalam.

Setelah merasa waktunya cukup, aku segera keluar. Aku melangkah tanpa bunyi, secepat mungkin agar tidak ada yang melihat dan bergerak bak kilat dan berpindah ke toilet laki-laki di sebelahnya.

Dan itulah yang kulakukan.

Aku bergerak sangat cepat, berpindah ruangan dan menyalakan air di wastafel. Aku membasuh muka yang langsung bercampur dengan keringat dingin. Sekali lagi aku menarik nafas dalam-dalam. Saat aku keluar dari toilet laki-laki, seorang ibu berjilbab menyapaku.

“Mas, tadi liat ada yang masuk ke toilet cewek nggak?”

“Nggak Bu. Kayaknya nggak ada siapa-siapa deh.” Aku memasang wajah tak berdosa dan langsung berlalu dari si ibu tadi. Begitu belok ke luar dari lorong Komisi X dan tiba di lobby Nusantara I, aku merasa bernafas lega. Rasanya baru saat itu aku menghirup oksigen setelah sekian lama terjebak.

Seorang kawan bertanya, “Kok lama amat sih di toilet?”

Aku cuma cengar-cengir..

-gambar sudah ada yang punya. Tuh, liat aja di pojokan-

Iklan

10 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kadekdoi said, on Mei 31, 2013 at 4:27

    Hahahaha Lengeh! Siap2 dikeroyok :p

  2. Gadi said, on Juni 2, 2013 at 4:27

    OOO…JADI INI ALASANNYA KENAPA BLI WAYAN BEGITU PEDULI UNTUK MENGINGATKAN SAYA: “TOILET YANG COWOK DI YANG PALING PINGGIR LHO, JANGAN SALAH MASUK KE YANG CEWEK”

  3. Cahya said, on Juni 2, 2013 at 4:27

    Yah, padahal seharusnya ada “headline” segar :D.

  4. Made Wirautama said, on Juni 10, 2013 at 4:27

    entar dulu, saya boleh ketawa kan? boleh kan? boleh ya…? ya udah saya ketawa deh, wakakakaka….

    😀

  5. pandebaik said, on Juni 17, 2013 at 4:27

    Selamat… kalo kami di Puspem Badung itu sudah biasa… hehehe…

  6. jaya ratha (@jayaratha) said, on Juli 3, 2013 at 4:27

    wkwkwk…nyot…nyot… 🙂

  7. Gung Ws said, on Juli 31, 2013 at 4:27

    bwahahahaha :)))

  8. Rusta Adijaya said, on April 21, 2014 at 4:27

    Buih ngakak sekali kak Le. Untung sudah di post, jadi bisa menetralisir pengulangan terjadinya kejadian ini 😀

  9. Agus Lenyot said, on April 22, 2014 at 4:27

    Apa kabar Rusta? Heheheh.

  10. Bisa Grosir said, on Agustus 6, 2015 at 4:27

    wkwkwkwk judulnya sangat menyentil sekali gan.. hehe,, untung sembunyi.. 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: