Agus Lenyot

Amplop, Wartawan dan Independensi Media

Posted in Jurnalisme by Wayan Agus Purnomo on Juli 3, 2013

Jurnalis Tolak

Tidak semua wartawan menolak amplop. Tapi banyak wartawan yang permisif pada pemberian. Kriteria amplop seharusnya diperjelas, sekaligus dipertegas.

Menurutku, ada beberapa kategori relasi wartawan dengan amplop.

Pertama, ada wartawan yang terang-terangan memang meminta uang kepada narasumber. Wartawan ini bisa berasal dari media arus utama atau media abal-abal. Yang medianya tidak jelas dan kadang memplesetkan media-media besar. Modusnya, bergerombol usai konferensi pers atau rilis lalu menodong narasumber untuk meminta ‘uang transport’ atau uang apalah namanya.

Kedua, wartawan yang berprinsip, ‘tidak meminta tapi jika diberi amplop tidak menolak. Rezeki kok ditolak’. Begitulah mazhab wartawan jenis ini. Bagi tipe ini, menolak pemberian orang lain berarti melanggar etika, tidak sopan dan tidak menghargai orang lain. Umumnya media tempat wartawan bekerja tutup mata jika ada wartawannya menerima amplop. Inilah tipikal yang mungkin paling sering ditemui.

Kode Etik Aliansi Jurnalis Independen misalnya berbunyi, “Jurnalis tidak dibenarkan menerima sogokan.” Ada catatan tambahan, yakni yang dimaksud dengan sogokan adalah semua bentuk pemberian berupa uang, barang dan fasilitas lainnya, yang secara langsung atau tidak langsung, dapat mempengaruhi jurnalis dalam membuat kerja jurnalistik. Seorang wartawan pernah berujar seperti ini, “Amplop ya diterima saja. Toh nggak berpengaruh pada berita, kalau mau kritis dan menghantam, ya hantam saja.” Hmmmm….

Ketiga, wartawan yang menerima pemberian dalam bentuk barang tertentu tapi menolak pemberian uang tunai. Lumrah kan wartawan menghadiri acara kemudian memperoleh goodibag. Isinya macam-macam. Ada flasdisk, power bank atau sekadar botol minuman. Isinya diambil, tapi kalau uangnya ya dikembalikan.

Keempat, wartawan yang benar-benar menolak pemberian dalam bentuk apapun dari narasumber.

Tentu saja, dalam prakteknya penerimaan dan penolakan amplop tidak sesederhana kategori di atas. Tidak ada wartawan yang benar-benar bebas dari pemberian dari narasumber. Karena relasi narasumber dan wartawan masih dijembatani lembaga lain: perusahaan media.

Aku tak menampik, nyaris semua lembaga permisif dengan terhadap pemberian kepada wartawan, lembaga swasta hingga pemerintah. Bahkan, kata seorang kawan di kantor, Kantor Wakil Presiden pun memberi amplop dalam bentuk uang perjalanan dinas! Edaan…

Kita belum lupa kehebohan oleh para pemred media massa di Bali beberapa waktu. Jika pemred saja, yang kesejahteraannya jauh di atas reporter pemula permisif, gimana kelakuan di level yang lebih rendah? Menurutku, ini bukan soal terima duit atau tidak. Tapi bagaimana independensi media dan masa depan jurnalisme di Indonesia. Oh tidak, jangan berbicara soal independen media. Bagaimana wartawan bisa independen terhadap dirinya sendiri deh. Rasanya kok utopia banget ya.

Oke, balik ke soal amplop. Pemberian narasumber tentu saja bukan hanya uang tunai atau barang yang nilainya ‘ecek-ecek’. Tapi bisa saja fasilitas lain seperti tiket pesawat, hotel atau akomodasi lain. Inilah yang sempat menjadi diskusi dengan beberapa kawan. Betapa kriteria amplop dan ‘pemberian’ sangat bias. Tak hanya wartawan yang permisif menerimanya, perusahaan media pun kadang tutup mata pada kondisi ini. Apa ada media di Indonesia yang benar-benar membiayai seluruh perjalanan wartawananya dengan biaya sendiri?

Korporasi, perusahaan swasta, dan instansi pemerintah ketika ingin membangun citra sangat royal kepada wartawan. Saat launching produk misalnya, mereka tak segan-segan membawa wartawan ke luar kota dan ke luar negeri. Siapa yang bayar? Tentu saja sang pengundang. Akomodasi dan hotel dijamin. Mewah pasti. Tanya deh ke wartawan yang sering ikut undangan macam beginian. Jika dinominalkan, nilainya pasti jutaan rupiah. Apakah yang beginian tidak masuk suap, jale atau amplop?

Aku berpikir, apa bedanya fasilitas macam begini dengan uang amplop dari Polsek atau Polres yang nilainya hanya ratusan ribu? Toh, keduanya sering dinamakan dengan ‘uang transport’. Kadang aku berpikir, ini juga menjadi pembeda stratifikasi wartawan. Antara wartawan kriminal yang memburu peristiwa dengan wartawan yang liputannya di ruangan berpendingin terus.

Apa bedanya? Bedanya tentu saja, terima uang tunai recehan adalah terlarang. Sebab itu pemberian yang bentuknya konkret. Sementara menikmati akomodasi ke luar negeri bukan larangan karena ada perintah kantor. Ruwet kan? Iya, memang.

Itu baru satu soal. Soal lain adalah wartawan yang membentuk forum ini itu, tergantung pos liputan. Ya Forum Pemred itu salah satunya. Forum ini itu mengadakan gathering ke luar kota. Siapa yang mendanai? Tentu saja lembaga yang terkait dengan bidang wartawan tersebut. Kalau perdagangan, ya asosiasi dagang. Kalau perhubungan, ya maskapai atau agen-agen tiket atau perjalanan. Jika energi, ya perusahaan di bidang energi. Kalau politik, ya politikus atau mereka-mereka yang terkait dengan aktivitas politik itu. Apakah ini termasuk jale? Kusut kan.

Aku melihat sendiri bagaimana media digunakan untuk membangun opini dan menyerang lawan atau memanipulasi citra kepada publik. Sebagai wartawan pemula, aku juga pernah terkecoh. Pada titik inilah pemberian dalam bentuk apapun, bahkan makan siang akan berpengaruh pada independensi wartawan. Apalagi di tengah budaya kita yang serba permisif, nggak enakan dan kekeluargaan. Bagaimana mungkin kalian yang periuk nasinya diisi oleh si A akan tega menghantam si A?

Ini lingkaran setan yang tidak akan selesai. Pada titik inilah perusahaan media berperan untuk meningkatkan kesejahteraan wartawan dan membuat aturan tegas soal perjalean ini. Panjang memang, tapi bukan berarti mustahil dan tak akan berhasil.

Kolaborasi antara politikus busuk, birokrat tai kucing atau korporasi brengsek dengan wartawan pemeras akan menghasilkan Indonesia yang seperti sekarang. Ya, seperti SEKARANG!

Iklan

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Made Wirautama said, on Juli 4, 2013 at 4:27

    Waduh… berarti di dunia media juga tidak kalah kusutnya ya. Rasanya sekarang ini sulit mencari media yang 100% independen.

  2. harry said, on Juli 12, 2013 at 4:27

    Thanks Lenyot atas sharingnya. Kalau kamu sendiri bagaimana? Apakah menerima uang, fasilitas tiket pesawat/hotel/makan, goodibag, voucher atau jenis jale lainnya?

    Salam.

  3. mita said, on September 30, 2013 at 4:27

    Ada juga lho wartawan yang menjadi makelar kasus….
    http://poskomalut.com/2013/09/30/ijti-sesalkan-oknum-wartawan-pemeras/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: